PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan
mortalitasnya yang masih tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO)
pada tahun 2013 di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan setiap 100.000 balita meninggal
karena diare. Prevalensi diare dalam Riskesdas 2013, diare tersebar di semua
kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun)
yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan
hampir sama yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Survei
morbiditas yang dilakukan Subdit Diare, Departemen Kesehatan RI tahun 2000 s/d
2013 terlihat kecenderungan insiden naik. Target nasional angka kematian Case Fatality Rate (CFR) pada KLB diare
pada tahun 2014 sebanyak 1,14%, sedangkan di Jawa Tengah Case Fatality Rate (CFR) yaitu < 1%. secara nasional belum
mencapai target. Diare juga merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua
usia (Kemenkes RI, 2014).
Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit
diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan,
perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang
meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Berdasarkan penyebabnya,
diare dikelompokkan menjadi diare spesifik dan diare non spesifik. Diare
spesifik disebabkan oleh Rotavirus (40-60%), bakteri Escherichia coli (20-30%), Shigella
sp. (1-2%) dan parasit Entamoeba
hystolitica (<1%). Diare non spesifik disebabkan oleh adanya iritan
lokal seperti makanan pedas, makanan berlemak, higiene dan sanitasi yang buruk,
malnutrisi, dan lingkungan padat (Widoyono, 2008).
Salah satu pengobatan diare yang dilakukan adalah
pengunaan kimia seperti loperamid, akan tetapi dapat menimbulkan efek
samping seperti nyeri abdominal, mual, muntah, mulut kering, mengantuk, dan
pusing. (Hanny, 2015). Pengobatan kimia lainnya sebagai antidiare yang banyak
dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik oral. Namun, membutuhkan biaya
yang relatif mahal dan dapat menyebabkan hal yang tidak dikehendaki apabila
pemakaian tidak terkontrol seperti gejala resistensi, alergi dan suprainfeksi
bagi penderita diare.
Dikarenakan efek samping
penggunaan obat kimia, maka dipilih alternatif pengobatan lain yaitu dari bahan
alam. Alternatif pengobatan berbahan alam mempunyai keuntungan yaitu mudah
diperoleh dan relatif murah. Alternatif pengobatan yang banyak digunakan di
kalangan masyarakat adalah dengan memanfaatkan tanaman herbal (Yolanda, 2015).
WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam
pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama
untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung
upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO,
2003). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada
penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki
efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern.
Banyak tanaman obat yang digunakan secara empiris oleh
masyarakat sebagai obat diare, salah satunya adalah buah pisang kayu mentah. Di
indonesia, buah pisang kayu mentah (Musa
paradisiaca L) adalah obat yang sering digunakan secara empiris oleh
masyarakat desa Senduro, Lumajang, Jawa Timur, untuk mengobati diare. Secara
empiris, penggunaan buah pisang ( Musa
paradisiaca L) mentah, di daerah Senduro ini digunakan dengan cara dibakar,
dikukus, dan direbus. Pada penelitian sebelumnya, buah pisang ini juga memiliki
efek antidiare pada mencit yang diinduksi oleh Oleum Ricini. Hasil penelitian
sebelumnya pada mencit yang telah dibuat diare dengan induksi minyak jarak
diperoleh bahwa ekstrak etanol buah pisang ( Musa paradisiaca L) mentah dosis 100 mg/KgBB dapat menurunkan
frekuensi defekasi, jumlah feses lembek/cair dan bobot feses selama 4 jam
pengamatan pada mencit jantan yang telah diinduksi minyak jarak. (Ningsih,
2019)
Menurut
Dalimartha (2005) buah pisang mengandung saponin, alkaloid, tanin, flavonoid,
glukosa, minyak menguap, vitamin dan mineral. Menurut Nerissa (2016) senyawa
fitokimia tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Senyawa alkaloid disintesis
oleh tanaman sebagai sistem pertahanan dalam responnnya terhadap infeksi oleh
mikroorganisme, sehingga senyawa ini efektif sebagai antimikroba terhadap
sejumlah mikroorganisme. Tanin mampu menghambat kerja protein pada dinding sel,
sehingga sel kehilangan aktivitas fisiologisnya dan lisis. Pada penelitian yang
telah dilakukan oleh Ningsih tahun 2019 tentang pengujian efek antidiare
ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa
paradisiaca L) mentah pada mencit jantan Balb B-C yang diinduksi oleh
bakteri Escherichia coli, didapatkan
hasil bahwa ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) mentah memiliki efek antidiare pada mencit
jantan Galur Balb-C yang diinduksi dengan bakteri Escherichia coli. Selain itu, ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) bisa mengurangi
bobot feses, pegurangan frekuensi defekasi, perubahan konsistensi feses dan
memberi daya hambat dan daya bunuh pada pertumbuhan media bakteri Escherichia coli dengan konsetrasi
ekstrak 50%.
Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan suatu
inovasi baru sediaan farmasi berupa eliksir untuk pengobatan diare dari ekstrak
etanol buah pisang kayu mentah (Musa
paradisiaca L). Eliksir merupakan larutan hidroalkohol jernih dan manis
yang digunakan untuk penggunaan vital dan biasanya diberi rasa untuk menambah
kelezatan. Eliksir bukan obat pembawa, tetapi eliksir adalah obat yang efek
terapinya digunakan dari senyawa obat yang terkandung. Eliksir sifatnya kurang
kental dan manis dibandingkan sirup, karena mengandung kadar gula lebih rendah
sehingga eliksir kurang efektif menutupi rasa senyawa obat. Sifat hidroalkohol
dari eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut
dalam air dan alkohol daripada sirup. Selain itu stabilitasnya yang khusus dan
kemudahan dalam pembuatannya eliksir lebih disukai daripada sirup (Ansel 2011).
Pada penelitian ini ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) dibuat dalam bentuk
sediaan eliksir untuk mengoptimalkan manfaatnya karena bentuk sediaan obat juga
dapat mempengaruhi khasiat suatu obat. Sediaan eliksir merupakan salah satu
sediaan cair dan memiliki stabilitas yang baik dibandingkan dengan sediaan
lainnya. Hal ini disebabkan karena sifat hidroalkohol dari pelarut etanol yang
dapat mempertahankan kestabilan obat di dalam cairan, sehingga menyebabkan
waktu penyimpanan dan kestabilan sediaan dapat lebih lama (Ansel 2011).
Dalam penelitian ini, sediaan eliksir esktrak etanol (Musa paradisiaca L.) akan diujikan pada hewan coba yaitu berupa
mencit jantan (Mus musculus).
Penggunaan mencit jantan (Mus musculus)
sebagai hewan uji memiliki banyak keuntungan diantaranya penanganannya yang
relatif mudah, harga yang murah, jumlah peranakan yang banyak, berukuran kecil,
serta memiliki kemiripan fisiologis dengan manusia (Marbawati dan Ikawati,
2009). Dari pernyataan diatas, diharapkan senyawa aktif yang di formulasikan
pada sediaan eliksir mendapat kestabilan yang cukup sehingga dapat memberikan
efek terapi antidiare pada hewan coba mencit.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
formulasi yang baik sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L)?
2.
Bagaimana
stabilitas fisik formulasi sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu
mentah (Musa paradisiaca L)?
3.
Apakah
sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) memiliki pengaruh antidiare pada mencit jantan
(Mus musculus) yang diinduksi Oleum
Ricini?
4.
Apakah
sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) memiliki pengaruh antibakteri pada bakteri Escherichia coli secara in vitro?
1.1
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui formulasi yang baik sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu
mentah (Musa paradisiaca L).
2.
Untuk
mengetahui stabilitas fisik formulasi sediaan eliksir ekstrak etanol buah
pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L).
3.
Untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh antidiare sediaan eliksir ekstrak etanol buah
pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L)
pada mencit jantan (Mus musculus)
yang diinduksi Oleum Ricini
4.
Untuk
mengetahui ada tidaknya pengaruh antibakteri sediaan eliksir ekstrak etanol
buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca
L) pada bakteri Escherichia coli
secara in vitro
4.1 Manfaat
Berdasarkan
tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan dapat diperoleh yaitu:
1.
Aspek
Akademik
Hasil penelitian diharapkan dapat
memberikan informasi terkait dengan penelitian bahan alam khususnya uji antidiare pada sediaan eliksir
2.
Aspek
Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan
masyarakat sebagai bahan obat dari bahan alam Indonesia dalam mengatasi diare
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Buah Pisang Kayu (Musa
paradisiaca, Linn)
2.1.1 Klasifikasi Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)
Pisang
kayu merupakan pisang lokal yang memiliki rasa buah yang enak, manis, bertekstur
empuk dan tidak berair, dengan aroma yang kuat. Pisang kayu merupakan pisang
meja yang popular. Selain untuk konsumsi, pisang kayu juga digunakan sebagai
bahan untuk upacara keagamaan bagi umah Hindu (Fitrahtunnisa, 2017).
Pisang adalah tanaman buah berupa
herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman
ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagascar), Amerika Selatan dan Tengah.
Tanaman pisang tumbuh di daerah tropis karena menyukai iklim panas dan
memerlukan matahari penuh. Tanaman ini dapat tumbuh di tanah yang cukup air
pada daerah dengan ketinggian sampai 2.000 mdpl (Dalimartha, 2005)
Klasifikasi tanaman pisang kayu
menurut LIPI Purwodadi (2019) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Subkelas : Zingiberidae
Orde : Zingiberales
Family : Musaceae
Genus : Musa
Species : Musa paradisiaca, Linn
Gambar
2.1 Buah Pisang Kayu
(Musa paradisiaca, Linn)
2.1.2 Kandungan
Senyawa Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)
Metabolit
sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) berdasarkan hasil
skrining fitokimia yaitu golongan senyawa tanin, alkaloid, saponon, dan
flavonoid (Ningsih, 2019).
Akar tanaman pisang mengandung
serotonin, norepinefrin, tanin, hidroksitriptamin, dopamine, vitamin A, B dan
C. Buah mengandung saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, glukosa, fruktosa,
sukrosa, tepung, protein, lemak minyak menguap, kaya akan vitamin (A, B, C dan
E), mineral (kalium, kalsium, fosfor, Fe), pectin, serotonin, 5-hidroksi
triptamin, dopamine, nonadrenaline. Kandungan kalium pada buah pisang cukup
tinggi yang kadarnya bervariasi tergantung jenis pisangnya. Buah muda
mengandung banyak tanin. Kulit batang mengandung alkaloid. Daun mengandung
alkaloid, flavonoid, steroid. Pelepah mengandung saponin, alkaloid, dan
polifenol (Dalimartha, 2005).
2.1.3 Penggolongan Skrining Buah Pisang Kayu
(Musa paradisiaca, Linn)
a. Alkaloid
Alkaloid adalah suatu
golongan senyawa organik yang banyak ditemukan dialam terutama didalam
tumbuh-tumbuhan. Senyawa alkaloid sebagai antibakteri mampu menghambat sintesis
dinding sel bakteri, jika dinding sel bakteri tidak terbentuk dengan sempurna
maka sel bakteri akan lisis dan hancur.
b. Saponin
Saponin merupakan senyawa
glikosia kompleks dengan berat molekul tingi yang dihasilkan oleh tanaman,
hewan laut tingkat rendah dan beberapa bakteri. Saponin larut dalam air tetapi
tidak larut dalam eter yang memiliki sifat yang khas berasa pahit,berbusa dalam
air dan beracun (Aswin,2008). Saponin juga merupakan senyawa aktif yang
mempunyai aktivitas antifungi. Mekanisme kerja saponin sebagai antijamur adalah
menurunkan tegangan permukaan sehingga mengakibatkan naiknya permeabilitas atau
kebocoran sel dan mengakibatkan senyawa intraseluler akan keluar. Senyawa ini
berdifusi melalui membran luar dan dinding sel yang rentan, lalu mengikat
membrane sitoplasma dan mengganggu dan mengurangi kestabilan itu. Hal ini menyebabkan
sitoplasma bocor keluar dari sel yang mengakibatkan kematian sel (Nuria dkk,
2009).
c. Tannin
Tannin merupakan zat
organik yang sangat kompleks dan terdiri dari senyawa fenolik. Tannin apabila
direaksikan dengan FeCL3 akan membentuk warna hijau. Terjadinya pembentukan
warna hijau ini karena terbentuknya senyawa kompleks antara logam Fe dan
tannin. Senyawa kompleks terbentu karena adanya ikatan kovalen koordinasi
antara ion atau atom logam dengan atom nonlogam
(Effendy,2007)
d. Flavonoid
Flavonoid mempunyai
kerangka dasar 15 atom karbon yang terdiri dari dua cincin benzene (C6) terikat
pada suatu rantai propane sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6.ekstrak
sampel senyawa flavonod terbentuk garam flavilium berwarna merah atau jingga setelah
penambahan logam Mg dan HCL (septyaningsih,2010). Flavonoid menyebabkan
perubahan komponen organik dan transport nutrisi yang akhirnya akan
mengakibatkan timbulnya efek toksik terhadap jamur.
e. Steroid
/ triterpenoid
Steroid atau sterol aalah
triterpenoid yang mempunyai bentuk dasar siklopentana perhidrofenantren yang
biasanya larut dalam pelarut yang kurang polar (Febriany,2015). Triterpenoid
adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6 satuan isoprene dan
secara biosintesis iturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu skualena.
2.1.4 Manfaat Kencur
Tanaman
pisang memiliki khasiat melumaskan (lubrikan) usus, penawar racun, penurun
panas (antipiretik), antiradang, peluruh kencing (diuretik). Akar berkhasiat
sebagai penawar racun, pereda demam (antipiretik), mendinginkan darah,
antiradang, dan peluruh kencing. Hati pisang berkhasiat sebagai penurun panas
dan untuk perawatan rambut. Cairan dari bonggol mengatasi infeksi saluran
kencing, menghentikan pendarahan (hemostatik), penurun panas (antipiretik),
serta penghitam dan mencegah rambut rontok. Buah muda dan akar berkhasiat
sebagai astrigen. Buah muda berkhasiat antidiare, antidisentri, dan untuk
pengobatan tukak lambung (Dalimartha, 2005).
2.2 Metode Ekstraksi
2.2.1 Pengertian
Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses penyarian
zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan bagian tumbuhan obat, hewan dan
beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif tersebut terdapat di
dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki perbedaan begitu pula
ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pelarut tertentu untuk
mengekstraksinya ( Tobo F, 2001).
Ekstraksi adalah pemurnian suatu
senyawa. Ekstraksi cairan-cairan merupakan suatu teknik dalam suatu larutan
(biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya
organik), yang pada dasarnya tidak saling bercampur dan menimbulkan perpindahan
satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Pemisahan itu
dapat dilakukan dengan mengocok-ngocok larutan dalam sebuah corong pemisah
selama beberapa menit (Shevla, 1985)
2.2.2
Metode Ekstraksi
Cara
a.
Maserasi
Metode maserasi merupakan cara
penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia
dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung
dari cahaya. Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung
komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan metode ini
misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada penggunaan pelarut eter
atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Ditjen POM, 1986)
Prinsip maserasi
adalah pengikatan/pelarutan zat aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam
suatu pelarut (like dissolved like). Langkah kerjanya adalah merendam simplisia
dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari tertentu selama beberapa hari
sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil beningannya. Selama ini
dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman
ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang
bersifat “bisa campur air” (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada
juga pelarut yang bersifat “tidak campur air” (contohnya aseton, etil asetat,
disebut pelarut non polar atau pelarut organik). (Afifah,2012)
Metode Maserasi
umumnya menggunakan pelarut non air atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika
simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih, maka
ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada pertemuan antara zat aktif dan
penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari)
sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat
aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat
aktif (0 %) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar
sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju
keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan
di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi
keseimbangan konsentrasi (istilahnya “jenuh”).
Kelebihan dari
ekstraksi dengan metode maserasi yaitu Unit alat yang dipakai sederhana, hanya
dibutuhkan bejana perendam, Biaya operasionalnya relatif rendah dan Prosesnya
relatif hemat penyari dan tanpa pemanasan sedangkan Kelemahan dari ekstraksi
dengan metode maserasi yaitu Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat
aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja dan Prosesnya lama, butuh waktu
beberapa hari.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah
cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui bahan yang telah dibasahi.
Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut mengalir
yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit sekunder
dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak tahan panas (Irawan,2010)
Perkolasi adalah cara penyarian
dengan mengalirkanpenyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip
ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu
bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari
dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan
melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan
jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan
tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang
cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM, 1986)
Cara perkolasi lebih baik
dibandingkan dengan cara maserasi karena (Ditjen POM, 1986) :
1. Aliran
cairan penyari menyebabkan adanya perga”ntian larutan yang terjadi dengan
larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat
perbedaan konsentrasi.
2. Ruangan diantara butir –
butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena
kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Pengaliran
meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti
terdorong untuk keluar dari sel) dan tidak terjadi kejenuhan Adapun kerugian dari
cara perkolasi ini adalah serbuk kina yang mengadung sejumlah besar zat aktif
yang larut, tidak baik bila diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit,
sebab perkolat akan segera menjadi pekat dan berhenti mengalir (Ditjen POM,
1986).
Alat yang digunakan untuk perkolasi
disebut perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari
disebut cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang
keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa
setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi (Ditjen
POM, 1986).
c.
Refluks
Metode refluks adalah termasuk
metode berkesinambungan dimana cairan secara kontinyu menyari komponen kimia
dalam simplisia cairan penyari penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut
dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi
molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil menyari
simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya
dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam (Ditjen POM, 1986).
Prinsip kerja pada
metode refluks yaitu penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel
dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu
dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi
molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat,
akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian
seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian
pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh
dikumpulkan dan dipekatkan (Akhyar,2010).
Kelebihan dari
metode refluks adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang
mempunyai tekstur kasar, dan tahan pemanasan langsung. (Anonim, 2011).
Kekurangan dari metode refluks adalah membutuhkan volume total pelarut yang
besar,dan Sejumlah manipulasi dari operator (Mandiri, 2013).
d. Soxhletasi
Soxhletasi
merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan
sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air
oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klonsong dan selanjutnya
masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon (Rene,2011).
Bahan yang akan
diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas, karton, dan
sebagainya) dibagian dalam alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu.
Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan antara labu penyulingan dengan
labu pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan labu melalui pipa. Labu
tersebut berisi bahan pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin
aliran balik melalui pipet, berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan
yang diekstraksi dan menarik keluar bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul
di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimalnya, secara otomatis
dipindahkan ke dalam labu. Dengan demikian zat yang terekstraksi terakumulasi
melalui penguapan bahan pelarut murni berikutnya. Pada cara ini diperlukan
bahan pelarut dalam jumlah kecil, juga simplisia selalu baru artinya suplai
bahan pelarut bebas bahan aktif berlangsung secara terus-menerus (pembaharuan
pendekatan konsentrasi secara kontinyu). Keburukannya adalah waktu yang
dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama (sampai beberapa jam) sehingga kebutuhan
energinya tinggi (listrik, gas). Selanjutnya, simplisia di bagian tengah alat
pemanas langsung berhubungan dengan labu, dimana pelarut menguap. Pemanasan
bergantung pada lama ekstraksi, khususnya titik didih bahan pelarut yang
digunakan, dapat berpengaruh negatif terhadap bahan tumbuhan yang peka suhu
(glikosida, alkaloida). Demikian pula bahan terekstraksi yang terakumulasi
dalam labu mengalami beban panas dalam waktu lama. Meskipun cara soxhlet sering
digunakan pada laboratorium penelitian untuk pengekstraksi tumbuhan, namun
peranannya dalam pembuatan sediaan tumbuhan kecil artinya (Anonim: 2011).
Keuntungan dari proses soxhletasi
ini adalah cara ini lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk
simplisia, tetapi melalui pipa samping, Dapat
digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap
pemanasan secara langsung, pemanasannya dapat diatur dan digunakan pelarut yang
lebih sedikit.
Kerugiannya adalah jumlah ekstrak yang diperoleh lebih
sedikit dibandingkan dengan metode maserasi, Karena
pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus
dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas, Jumlah total
senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut
tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut
yang lebih banyak untuk melarutkannya, dan Bila dilakukan dalam skala besar,
mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu
tinggi
(Ditjen POM, 1986).
2.3 Eliksir
2.3.1 Definisi Eliksir
Eliksir
adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan
vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan
obat yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek terapi dari
senyawa obat yang dikandungnya. Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya
kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah
dan akibatnya kurang efektif dibanding sirup dalam menutupi rasa senyawa obat.
Walaupun demikian, karena sifat hidroalkohol, eliksir lebih mampu
mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut dalam air dan yang larut
dalam alkohol daripada sirup. Juga karena stabilitasnya yang khusus dan
kemudahan dalam pembuatannya, dari sudut pembuatan eliksir lebih disukaidari
sirup(Ansel 1989).
Eliksir
adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan
vital dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan obat
yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek terapi dari
senyawa obat yang dikandungnya (Ansel, 2008).
Eliksir
adalah larutan oral yang mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven
(pelarut) dan untuk mempertinggi kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara
3% dan 4% dan biasanya eliksir mengandung etanol 5-10% (Syamsuni, 2006).
2.3.2 Kelebihan dan Kekurangan Eliksir
Keuntungan
dan kerugian eliksir menurut Syamsuni (2007), yaitu:
a.
Keuntungan
1.
Mudah
ditelan.
2.
Rasanya
enak.
3.
Absorbsi
obat lebih cepat karena telah berbentuk sediaan cair(tidak mengalami proses
penghancuran/disintegrasi maupunpelarutan seperti pada tablet,kapsul, pil, dll)
4.
Mengurangi
resiko terjadinya iritasi lambung
5.
Larutan
jernih dan tidak perlu dikocok lagi
b.
Kekurangan
1.
Alkohol
kurang baik untuk kesehatan anak
Mengandung
bahan mudah menguap sehingga harus disimpan dalam botol gelap dan jauh dari
sumber cahaya
2.3.4 Evaluasi Sediaan Krim
Evaluasi sediaan eliksir dapat dilakukan uji sebagai
berikut :
1.
Uji Keasaman
Sediaan larutan yang sudah jadi dalam beaker glass,
masukkan elektroda ph meter yang telah dikalibrasi dengan dapar standar
kemudian diamati Ph nya catat dan bandingkan dengan ph seharusnya.
2.
Uji Berat Jenis
Berat jenis diuji dengan menggunakan piknometer.
Piknometer diisi dengan air sampai penuh lalu renam dengan air es suhu kurang
lebih 200 C dibawah suhu percobaan lalu piknometer ditutup pipa kapiler
dibiarkan terbuka dan suhu naik sampai suhu percobaan lalu piknometer ditutup.
Biarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar, air yang menepel diusap
lalu timbang dengan sesama kemudian lihat dalam tabel kerapan air dan suhu
percobaan untuk menghitung volume air.
3.
Uji Kandungan Mikroba
Uji ini dilakukan dengan menggunakan media Plate Count
Agar (PCA) dan aquadest sampel yang di campurkan pada medium agar di biarkan
selama 24 jam kemudian diamati di Plate Count Agar alat menghitung mikroba.
4.
Uji Efek Mikrobiologi dan Toksisitas
Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan enzim
maupun mikroorganisme lainnya dengan mereaksikan sampel terhadap mediator yang
dipilih, kemudian diamati pada mikroskop.
5.
Uji Viskositas
Digunakan
viskometer yang sudah bersih, pipetkan cairan ke dalam viskometer dengan
menggunakan pipet. Lalu hisap cairan dengan menggunakan pushball sampai
melewati 2 batas. Disiapkan stopwatch, kendurkan cairan sampai batas pertama
lalu mulai penghitungan. Dicatat hasil, dan lakukan penghitungan dengan rumus.
Diusahakan saat melakukan penghitungan kita menggenggam di lengan yang tidak
berisi cairan (Anief, 1993)
2.4 Tinjauan tentang diare
Diare adalah defekasi encer lebih dari
tiga kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja sedangkan
gangguan gastrointestinal merupakan suatu keadan terjadinya inflamasi mukosa
lambung atau usus. Diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya
kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena
frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali pada bayi dan lebih dari tiga
kali pada anak dalam sehari, konsistensi feses cair, dapat berwarna hijau atau
dapat pula bercampur lendir atau darah atau lendir saja (Ngastiyah, 1997).
Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal
atau encer. Diare dapat bersifat akut (oleh infeksi dengan bakteri) atau kronis
(kemungkinan berkaitan dengan berbagai gangguan gastrointestinal). Disamping
itu, diare dapat terjadi akibat kelainan psikotomatik, kelainan pada sistem
endokrin dan metabolisme, alergi oleh makanan atau obat-obatan tertentu, serta
kekurangan vitamin sehingga tubuh akan kehilangan banyak energi dan elektrolit
tubuh
2.5 Uraian Bahan
Tambahan
2.5.1
Propilen Glikol (
Farmakope Indonesia IV hal. 712, Excipient edisi 6 hal. 592)
|
CH3CH(OH)CH2OH |
|
|
Berat
Molekul : |
76,
09 |
|
Pemerian : |
Cairan
kental, jernih,tidak berwarna ,rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air
pada udara lembab. |
|
Kelarutan : |
Dapat
bercampur dengan air, dengan aseton dan dengan kloroform, larut dalam eter
dan beberapa minyak essensial tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak
lemak. |
|
BJ : |
1,038
g/cm3 |
|
OTT : |
Dengan
zat pengoksidasi seperti Pottasium Permanganat |
|
Konsentrasi : |
10-25% |
|
Stabilitas : |
Higroskopis
dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, lindungi dari cahaya, ditempat
dingin dan kering. Pada suhu yang tinggi akan teroksidasi menjadi propionaldehid
asam laktat, asam piruvat& asam asetat. Stabil jika dicampur dengan
etanol, gliserin, atau air. |
|
Khasiat : |
Bersifat
antimikroba, desinfektan, pelembab, plastisazer, pelarut, stabilitas untuk vitamin. |
|
Penyimpanan : |
Disimpan
dalam wadah tertutup rapat, terlindung
dari cahaya, sejuk dan kering. |
2.5.2 Etanol
90%
|
C2H5OH |
|
|
Berat
Molekul : |
46,07 |
|
Pemerian : |
cairan
mudah menguap, jernih, tidak berwarna. |
|
Kelarutan : |
bercampur
dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut organik. |
|
Stabilitas : |
mudah
menguap di udara terbuka. |
|
Inkompabilitas : |
dengan
yang mengandung aluminium dan berinteraksi dengan beberapa obat tertentu. |
|
Konsentrasi : |
bervariasi |
|
Khasiat : |
antimikroba
preservative, disinfectant,solvent. |
|
Penyimpanan : |
dalam
wadah tertutup rapat |
2.3.4 Sirupus Simplek ( FI III hal.567 )
|
|
|
|
Berat
Molekul : |
1,587
gram/mol |
|
Pemerian : |
cairan
jernih tidak berwarna. |
|
Kelarutan : |
larut
dalam air, mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam eter. |
|
Stabilitas : |
di
tempat sejuk |
|
Konsentrasi : |
20-60%. |
|
Khasiat : |
pemanis,
zat tambahan. |
|
Penyimpanan : |
wadah
tertutup rapat, ditempat sejuk. |
2.3.5 Sorbitol (Farmakope
Indonesia IV hal 756 , Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 596 )
|
Rumus
Molekul : |
C6H12O6 |
|
Berat
Molekul : |
182,17 |
|
Pemerian : |
serbuk, granul atau
lempengan, higroskopis, warna putih, rasa manis. |
|
Kelarutan : |
sangat mudah larut
dalam air, sukar larut dalam etanol, metanol dan asam
asetat |
|
Stabilitas : |
Bersifat higroskopis |
|
Inkompabilitas : |
- |
|
Konsentrasi : |
|
|
Khasiat : |
zat
tambahan. |
|
Penyimpanan : |
dalam
wadah tertutup rapat. |
2.3.6 Na-Benzoat
(FI IV hal 584 , Pharmaceutical Excipient hal 433)
|
C6H5COONa |
|
|
Berat
Molekul : |
144,11 |
|
Pemerian : |
Granul
atau serbuk hablur, tidak berbau atau praktis tidak berbau. |
|
Kelarutan : |
Mudah
larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan lebih mudah larut dalam etanol 90 %. |
|
OTT : |
Inkompatibel
dan gelatin, garam besi, garam kalsium dan garam dari logam berat, termasuk
perak dan merkuri. |
|
Konsentrasi : |
0,02-0,5%
pada sediaan oral |
|
Stabilitas : |
Stabil
diudara |
|
Khasiat : |
Pengawet |
|
Penyimpanan : |
Dalam
wadah yang tertutup baik. |
2.3.7 Asam
Sitrat (Farmakope Indonesia Edisi III, hal 50)
|
Rumus
Molekul : |
C6H8O7H2O |
|
Berat
Molekul : |
210,14 |
|
Pemerian : |
Hablur tak berwarna atau serbuk putih, rasa asam kuat, agak higroskopis merapuh dalam udara kering dan panas. |
|
Kelarutan : |
Larut dalam
kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian etanol (95%) P, sukar larut dalam eter P. |
|
Konsentrasi : |
|
|
Stabilitas : |
|
|
Khasiat : |
sebagai pendapar. |
|
Penyimpanan : |
Dalam
wadah tertutup baik. |
2.3.8 Aquadest
(Farmakope Indonesia III halaman 96)
|
Rumus
Molekul : |
H2O |
|
Berat
Molekul : |
18,02 |
|
Pemerian : |
cairan
jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. |
|
Kelarutan : |
- |
|
OTT : |
Dalam
formula air dapat bereaksi dengan bahan eksipient lainya yang mudah
terhidrolisis. |
|
Stabilitas : |
Air
adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam bentuk Fisik (es , air , dan
uap). Air harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada saat penyimpanan dan
penggunaannya harus terlindungi dari kontaminasi partikel - pertikel ion dan
bahan organik yang dapat menaikan konduktivitas dan jumlah karbon organik.
Serta harus terlindungi dari partikel - partikel lain dan mikroorganisme yang
dapat tumbuh dan merusak fungsi air. |
|
Khasiat : |
bahan
tambahan, pelarut. |
|
Penyimpanan : |
dalam
wadah tertutup baik. |
METODE PENELITIAN
3.1
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian experimental laboratory.
3.2
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di Laboratorium Kimia Organik, Laboratorium Biologi dan Teknologi Farmasi STIKES Rumah Sakit Anwar Medika
pada bulan Januari – Juli 2019
Pada penelitian ini membutuhkan alat seperti : Timbangan
digital, Oven, kertas saring gelas ukur, beaker glass, pipet tetes, batang
pengaduk, cawan porselen, kertas perkamen, kaca arloji, mortar, stamper. Pada penelitian ini membutuhkan bahan seperti : Paracetamol 120 mg/5 ml,
Na-benzoat, propilen glikol, etanol 90%, sirupus simplex, sorbitol, asam
sitrat, , dan aquadest.
3.4.1
Formulasi Sedian Eliksir Buah Pisang Kayu
Mentah (Musa Paradisiaca L.)
|
Bahan |
Formulasi I |
Formulasi
II |
Formulasi
III |
Kegunaan |
|
|
1. |
Ekstak Buah Pisang Kayu
Mentah |
15% |
15% |
15% |
Zat Aktif |
|
2. |
Propilen Glikol |
20
% |
15% |
10% |
Pengawet |
|
3. |
Etanol 90 % |
5% |
10% |
15%
|
Pelarut |
|
4. |
Sir.Simpleks |
20
% |
20% |
20% |
Pemanis |
|
5. |
Sorbitol |
20% |
20% |
20% |
Pemanis |
|
5. |
Na-Benzoat |
0,5
% |
0,5% |
0,5% |
Pengawet |
|
6. |
Asam Sitrat |
1
% |
1% |
1% |
Dapar |
|
10.
|
Aquadest |
100
% |
100% |
100% |
Pelarut |
3.4.2 Cara Pembuatan Eliksir Ekstrak Etanol Buah Pisang
Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)
Dalam cara pembuatan skala laboratorium peratama disiapkan timbangan digital,
ditimbang esktrak buah pisang kayu mentah (Musa
Paradisiaca L.), diukur propilenglikol dan etanol 90% sesuai masing-masing
formulasi, kemudian esktrak etanil buah pisang kayu dan propilenglikol sedikit
demi sedikit di masukkan ke dalam beaker glass aduk ad homogen setelah homogen
ditambahkan etanol 90% aduk ad homogen. Ditimbang asam sitrat , Na-benzoat ,
diukur sirupus simplex dan sorbitol sesuai masing-masing formulasi. Asam sitrat
dan na-benzoat di gerus ad homogen di dalam mortir dan sisihkan ke dalam beaker
glass lalu campurkan sirupus simplex dan sorbitol aduk ad homegen. Pada
campuran ekstrak, propilenglikol, dan etanol 90% dicampurkan dengan campuran
asam sitrat, na-benzoat, sirupus simplex dan sorbitol aduk ad homogen.
3.4.3
Pemekatan Etanol Buah Pisang Kayu
Mentah (Musa Paradisiaca L.)
Destilasi
sederhana dilakukan bertujuan untuk memekatkan ekstrak. Langkah awal yang dilakukan
yaitu dengan merangkai alat destilasi sederhana. Setelah alat destilasi
terangkai masukan ekstrak kencur ke dalam labu alas bulat. Pasang selang yang
terhubung dengan kondensor. Panaskan dengan menggunaan heting mantle pada suhu
750C. langkah selanjutnya yaitu dilaukan destilasi hingga pelarut
terpisah semua. Disimpan dan dihitung rendemen hasil pemekatan ekstrak kencur
yang telah dilakukan.
3.4.5
Skrining
Fitokimia
a. Uji Alkaloid
Uji
alkaloid dilakukan dengan cara menyiapkan hasil ekstrak rimpang kencur yang
telah dipekatkan. Di ukur ekstrak sebanyak 1 ml dan dimasukan ke dalam tabung
reaksi. Ditambahkan 3 tetes kloroform dan 3 tetes reagen meyer. Jika terbentuk
endapan putuh maka menunjukan positif mengandung alkaloid.
b. Uji Fenol
Uji fenol dilakukan dengan cara menyiapkan hasil
ekstraksi rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan
dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes air panas dan 3 tetes
FeCl3 1 % ke dalam tabung reaksi. Jika terjadi perubahan warna
menjadi hijau atau biru maka menunjukan positif mengandung fenol.
c. Uji Flavonoid
Uji flavonoid dilaukan dengan cara menyiapkan hasil
ekstrak rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan
dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1 gram serbuk magnesium dan 1 ml
larutan asam klorida pekat. Jika perubahan warna menjadi kuning atau orange
maka menunjukan positif mengandung flavonoid.
d. Uji Saponin
Uji saponin dilakukan dengan cara menyiapkan hasil
ekstrak rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 2 ml ekstrak sampel dan
dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 10 ml air dan dikocok kuat selama
10 menit. Didiamkan selama 10 menit. Jika terbentuk buih atau busa stabil maka
menunjukan positif saponin.
e. Uji Tanin
Uji tannin dilakukan dengan cara menyiapkan hasil
ekstraksi rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan
dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes FeCl3 5%. Dilihat
perubahan yang terjadi, jika terbentuk warna hitam maka menunjukan positif
tannin.
3.4.5 Uji Sediaan Eliksir Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)
Pengujian sediaan Ekstrak Etanol Buah Pisang
Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)
yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Uji
organoleptik (penampilan sediaan)
Penentuan organoleptik menggunakan
pancaindera untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau/aroma dan rasa. Sediaan
eliksir ekstrak etanol daun pelawan diamati bentuk, warna, bau/aroma dan
rasanya. Penentuan organoleptis ini dilakukan setiap 1 kali dalam seminggu pada
rentang waktu selama 2 bulan yang disimpan pada suhu kamar (Depkes 2000).
2.
Uji Tingkat Keasaman
Diambil beberapa ml sediaan larutan yang sudah jadi dalam
beaker glass, masukkan elektroda ph meter yang lelah dikalibrasi dengan dapar
standar kemudian diamati Ph nya catat dan bandingkan dengan ph seharusnya.
3.
Uji Berat Jenis
Ditimbang piknometer yang bersih dan kering, diisi
piknometer dengan air sampai penuh lalu renam dengan air es suhu kurang lebih
200 C dibawah suhu percobaan
lalu piknometer ditutup pipa kapiler dibiarkan terbuka dan suhu naik sampai
suhu percobaan lalu piknometer ditutup. Biarkan suhu air dalam piknometer
mencapai suhu kamar, air yang menepel diusap lalu timbang dengan sesama
kemudian lihat dalam tabel kerapan air dan suhu percobaan untuk menghitung
volume air.
4.
Uji Kandungan Mikroba
Uji ini dilakukan dengan menggunakan media
Plate Count Agar (PCA) dan aquadest sampel yang di campurkan pada medium agar di biarkan selama 24
jam kemudian diamati di Plate Count Agar
alat menghitung mikroba.
5.
Uji Viskositas
Digunakan viskometer yang
sudah bersih, pipetkan cairan ke dalam viskometer dengan menggunakan
pipet. Lalu hisap cairan dengan menggunakan pushball sampai melewati 2
batas. Disiapkan
stopwatch , kendurkan cairan sampai batas pertama lalu mulai penghitungan. Dicatat hasil, dan lakukan
penghitungan dengan rumus. Diusahakan saat melakukan penghitungan kita
menggenggam di lengan yang tidak berisi cairan.
3.4.6 Uji Antidiare
Kelompok
I : diberikan larutan koloidal Na- CMC1%
sebagai kontrol 1 ml/30 gr BB mencit
Kelompok
II : diberikan suspensi Loperamid HCL sebagai pembanding 0,0052 mg/ 20 g bb
mencit
Kelompok
III : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb
Kelompok
IV : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb
Kelompok
V : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb
BIAYA DAN JADWAL
PENELITIAN
4.1 Anggaran
Biaya
Tabel 1
Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian
|
No. |
Jenis Pengeluaran |
Jumlah |
Satuan |
Harga satuan |
Biaya yang diusulkan (Rp) |
|
1 |
Mencit |
30 |
Ekor |
25,000.00 |
750,000.00 |
|
2 |
Buah pisang kayu mentah |
1 |
tundun |
100,000.00 |
100,000.00 |
|
3 |
Aluminium foil |
1 |
roll |
50,000.00 |
50,000.00 |
|
4 |
Plastik wrap |
2 |
roll |
25,000.00 |
50,000.00 |
|
5 |
fee mahasiswa I |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
6 |
fee mahasiswa II |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
7 |
fee laboran I |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
8 |
Fee laboran II |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
9 |
Uang transport ke Lumajang |
1 |
|
400,000.00 |
400,000.00 |
|
10 |
Uang makan Lumajang |
4 |
orang |
30,000.00 |
120,000.00 |
|
11 |
Uang makan penelitian |
20 |
kali |
20,000.00 |
400,000.00 |
|
12 |
Uang transportasi |
5 |
kali |
30,000.00 |
150,000.00 |
|
13 |
Etanol 96% |
8 |
L |
75,000.00 |
600,000.00 |
|
14 |
Pripilen glikol |
0.5 |
L |
120,000.00 |
60,000.00 |
|
15 |
Sir. Simplek |
0.5 |
L |
60,000.00 |
30,000.00 |
|
16 |
Sorbitol |
0.5 |
L |
50,000.00 |
25,000.00 |
|
17 |
Na-benzoat |
0.5 |
kg |
35,000.00 |
17,500.00 |
|
18 |
Asam sitrat |
0.5 |
kg |
40,000.00 |
20,000.00 |
|
19 |
Aquadest |
5 |
L |
20,000.00 |
100,000.00 |
|
20 |
Minyak jarak |
1 |
L |
90,500.00 |
90,500.00 |
|
21 |
Botol selai |
2 |
botol |
15,000.00 |
30,000.00 |
|
22 |
Masker |
1 |
box |
65,000.00 |
65,000.00 |
|
23 |
Sarung tangan |
1 |
box |
65,000.00 |
65,000.00 |
|
24 |
Kertas saring |
20 |
lbr |
8,000.00 |
160,000.00 |
|
25 |
Uang sewa alat dan bahan |
1 |
|
300,000.00 |
300,000.00 |
|
26 |
Toples Maserasi |
1 |
pcs |
50,000.00 |
50,000.00 |
|
27 |
Botol 120 ml |
4 |
pcs |
20,000.00 |
80,000.00 |
|
28 |
Kertas kue |
11 |
lbr |
5,000.00 |
55,000.00 |
|
29 |
Tisu |
3 |
pak |
10,000.00 |
30,000.00 |
|
30 |
Pakan mencit dan sekam |
6 |
pak |
17,000.00 |
102,000.00 |
|
Total |
|
|
|
4.500.000 |
|
4.2 Jadwal
Penelitian
Tabel 2
Jadwal Penelitian atau Kegiatan
|
No |
Nama Kegiatan |
Bulan, Tahun 2020 |
|||||||
|
1 |
2 |
3 |
4 |
5 |
6 |
7 |
8 |
||
|
1 |
Pemesanan
Bahan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Ekstraksi
Simplisia Ekstrak Buah Pisang Kayu |
|
|
||||||
|
4 |
Uji Skrinning
Fitokimia |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
Formulasi Eliksir Ekstrak Buah Pisang Kayu |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6 |
Uji Evaluasi
Fisik Ekstrak Buah Pisang Kayu |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7 |
Uji Aktivitas
Antidiare |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8 |
Analisa Hasil |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9 |
Penulisan
Laporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10 |
Pengumpulan
Laporan |
|
|
|
|
|
|
|
|
World Health Organitation. 2003. Traditional medicine. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs134/en/ . [diakses tanggal 3 oktober
2019]
Ansel
H.C. 2011. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia.
Widoyono. (2008). Penyakit Tropis
Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta :
Erlangga.
Nurhalimah, H., Wijayanto, N., dan
Widyaningsih, T.D. 2015. Efek Antidiare Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica L.) Terhadap Mencit
Jantan Yang Diinduksi Bakteri Salmonella Thypimurium. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Vol. 3 No 3 p.1083-1094.
Ningsih, A.W., 2019. Uji Efek Antidiare
Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa
paradisiaca L) pada Mencit Jantan Balb B-C yang Diinduksi Oleh Bakteri Escherichia coli. Skripsi. Surabaya :
Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar Jenjang Megister Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga.
Fratiwi, Y., 2015. The Potential Of Guava
Leaf (Psidium Guajava L.) For
Diarrhea. Majority Volume 4 Nomor 1 : 113-118.
Dalimartha, S. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3.
Jakarta : Trubus Agriwidya.
Nerrisa. 2016. Uji
Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Krisan (Chrysanthenum morifolium syn Dendrathema grandiflora) Terhadap
Stapylococcus aureus dan Escherichia coli. Skripsi.
Yogyakarta : Universitas Atmajaya Yogyakarta
Marbawati, D. dan B. Ikawati. 2009. Kolonisasi
Mus musculus Albino di Laboratorium Loka Litbang P2b2 Banjarnegara. Balaba. 5 (1): 1-5.
Lampiran 1 Justifikasi Anggaran Penelitian
|
No. |
Jenis Pengeluaran |
Jumlah |
Satuan |
Harga satuan |
Biaya yang diusulkan (Rp) |
|
1 |
Mencit |
30 |
Ekor |
25,000.00 |
750,000.00 |
|
2 |
Buah pisang kayu mentah |
1 |
tundun |
100,000.00 |
100,000.00 |
|
3 |
Aluminium foil |
1 |
roll |
50,000.00 |
50,000.00 |
|
4 |
Plastik wrap |
2 |
roll |
25,000.00 |
50,000.00 |
|
5 |
fee mahasiswa I |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
6 |
fee mahasiswa II |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
7 |
fee laboran I |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
8 |
Fee laboran II |
1 |
orang |
150,000.00 |
150,000.00 |
|
9 |
Uang transport ke Lumajang |
1 |
|
400,000.00 |
400,000.00 |
|
10 |
Uang makan Lumajang |
4 |
orang |
30,000.00 |
120,000.00 |
|
11 |
Uang makan penelitian |
20 |
kali |
20,000.00 |
400,000.00 |
|
12 |
Uang transportasi |
5 |
kali |
30,000.00 |
150,000.00 |
|
13 |
Etanol 96% |
8 |
L |
75,000.00 |
600,000.00 |
|
14 |
Pripilen glikol |
0.5 |
L |
120,000.00 |
60,000.00 |
|
15 |
Sir. Simplek |
0.5 |
L |
60,000.00 |
30,000.00 |
|
16 |
Sorbitol |
0.5 |
L |
50,000.00 |
25,000.00 |
|
17 |
Na-benzoat |
0.5 |
kg |
35,000.00 |
17,500.00 |
|
18 |
Asam sitrat |
0.5 |
kg |
40,000.00 |
20,000.00 |
|
19 |
Aquadest |
5 |
L |
20,000.00 |
100,000.00 |
|
20 |
Minyak jarak |
1 |
L |
90,500.00 |
90,500.00 |
|
21 |
Botol selai |
2 |
botol |
15,000.00 |
30,000.00 |
|
22 |
Masker |
1 |
box |
65,000.00 |
65,000.00 |
|
23 |
Sarung tangan |
1 |
box |
65,000.00 |
65,000.00 |
|
24 |
Kertas saring |
20 |
lbr |
8,000.00 |
160,000.00 |
|
25 |
Uang sewa alat dan bahan |
1 |
|
300,000.00 |
300,000.00 |
|
26 |
Toples Maserasi |
1 |
pcs |
50,000.00 |
50,000.00 |
|
27 |
Botol 120 ml |
4 |
pcs |
20,000.00 |
80,000.00 |
|
28 |
Kertas kue |
11 |
lbr |
5,000.00 |
55,000.00 |
|
29 |
Tisu |
3 |
pak |
10,000.00 |
30,000.00 |
|
30 |
Pakan mencit dan sekam |
6 |
pak |
17,000.00 |
102,000.00 |
|
Total |
|
|
|
4.500.000 |
|
Lampiran 2 Susunan Organisasi Penelitian dan
Pemberian Tugas
|
No. |
Nama |
NIDN |
Program Studi |
Bidang Keahlian |
Alokasi Waktu (jam/minggu) |
|
1 |
Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si.,Apt |
0727038805 |
S1 Farmasi |
Farmakologi |
10 jam/ minggu |
Lampiran 3 Biodata Ketua Tim Penyusun
A.
Identitas Diri
|
1 |
Nama Lengkap |
Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si., Apt |
|
2 |
Jenis Kelamin |
P |
|
3 |
Jabatan Fungsional |
- |
|
4 |
NIK |
- |
|
5 |
NIDN |
0727038805 |
|
6 |
Tempat dan Tanggal Lahir |
Surabaya, 27 Maret 1988 |
|
7 |
Email |
|
|
8 |
Nomor Telepon/ HP |
081334006809 |
|
9 |
Nama Institusi Tempat Kerja |
STIKES Rumah Sakit Anwar
Medika |
|
10 |
Alamat Kantor |
Jalan By Pass Krian Km 33
Sidoarjo |
|
11 |
Nomor Telepon/ Faks |
(031)
99890135 |
|
12 |
Lulusan yang Pernah
dihasilkan |
- |
|
13 |
Mata Kuliah yang Diampu |
1. Farmakologi 2. Biologi dasar 3. Farmakognosi 4. Fitokimia 5. Standarisasi bahan obat tradisional 6. Toksikologi 7. Farmasetika
Sediaan Steril |
B.
Riwayat Pendidikan
|
|
S1 |
S2 |
S3 |
|
Nama Perguruan Tinggi |
Universitas Negeri jember |
Universitas Airlangga |
- |
|
Bidang Ilmu |
Farmasi |
Farmakologi |
- |
|
Tahun Masuk-Lulus |
2006-2010 |
2017-2019 |
- |
|
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi |
|
Uji
efek antidiare ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada mencit jantan galur balb-c yang
diinduksi bakteri E.coli |
- |
|
Nama
Pembimbing/Promotor |
1.
Prof. Dr. H. Achmad Basori, MS., Apt |
1. Dr. Maftuchah Rochmanti,
dr., M. Kes |
- |
C.
Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir
|
No |
Tahun |
Judul
Penelitian |
Pendanaan |
|
|
Sumber |
Jumlah
(Juta Rp) |
|||
|
1 |
2019 |
Uji
efek antidiare ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada mencit jantan galur balb-c yang
diinduksi bakteri E.coli |
Pendanaan Mandiri |
Rp. 15.000.000,00 |
D.
Pengalaman Pengabdian kepada Masyarakat Dalam 5 Tahun Terakhir
|
No |
Tahun |
Judul
Pengabdian Masyarakat |
Pendanaan |
|
|
Sumber |
Jumlah
(Juta Rp) |
|||
|
2 |
2018 |
Pengenalan Profesi Apoteker kepada Siswa Sekolah Dasar
(SD) |
Mandiri |
Rp.
1.000.000,00 |
Semua data yang saya isikan dan
tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan
secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai ketidaksesuaian dengan
kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan
sebenarnya untuk memenuhi suatu persyaratan dalam pengajuan proposal penelitian dosen internal STIKES RSAM
tahun 2019-2020.
Sidoarjo, 1 Desember 2019
Pengusul,
Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si., Apt
NIDN. 0727038805
Lampiran 4 Surat Pernyataan Ketua
SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITIAN
Yang bertanda
tangan di bawah ini:
Nama :
Arista Wahyu
N,S.Farm.,M.Si.,Apt
NIDN :
0727038805
Program Studi : S1 Farmasi
Dengan ini
menyatakan bahwa proposal Penelitian saya dengan Judul Uji Efektivitas Formulasi Eliksir
Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa
paradisiaca L) Sebagai Antidiare pada Mencit Jantan (Mus musculus) yang Diinduksi Oleum Ricini yang diusulkan untuk tahun anggaran 2017/2018 bersifat orisinal dan
belum pernah dibiayai oleh lembaga atau sumber dana lain. Bilamana
di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya
mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas STIKES Rumah
Sakit Anwar Medika.
Demikian pernyataan
ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.
Sidoarjo, 1 Desember
2019
Mengetahui, Yang
menyatakan,
Ketua
Program Studi S1 Farmasi
(Yani
Ambari, S.Farm.,M.Farm.,Apt) (Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si.,Apt)
NIDN.
0703018705 NIDN.
0701048902