Selasa, 02 November 2021

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

 

 

                                                                  BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1         Latar Belakang

Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013 di Indonesia, diare adalah pembunuh balita nomor dua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan setiap 100.000 balita meninggal karena diare. Prevalensi diare dalam Riskesdas 2013, diare tersebar di semua kelompok umur dengan prevalensi tertinggi terdeteksi pada anak balita (1-4 tahun) yaitu 16,7%. Sedangkan menurut jenis kelamin prevalensi laki-laki dan perempuan hampir sama yaitu 8,9% pada laki-laki dan 9,1% pada perempuan. Survei morbiditas yang dilakukan Subdit Diare, Departemen Kesehatan RI tahun 2000 s/d 2013 terlihat kecenderungan insiden naik. Target nasional angka kematian Case Fatality Rate (CFR) pada KLB diare pada tahun 2014 sebanyak 1,14%, sedangkan di Jawa Tengah Case Fatality Rate (CFR) yaitu < 1%. secara nasional belum mencapai target. Diare juga merupakan penyebab kematian nomor tiga pada semua usia (Kemenkes RI, 2014).

Salah satu penyakit menular adalah diare. Penyakit diare dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keadaan lingkungan, perilaku masyarakat, pelayanan masyarakat, gizi, kependudukan, pendidikan yang meliputi pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi. Berdasarkan penyebabnya, diare dikelompokkan menjadi diare spesifik dan diare non spesifik. Diare spesifik disebabkan oleh Rotavirus (40-60%), bakteri Escherichia coli (20-30%), Shigella sp. (1-2%) dan parasit Entamoeba hystolitica (<1%). Diare non spesifik disebabkan oleh adanya iritan lokal seperti makanan pedas, makanan berlemak, higiene dan sanitasi yang buruk, malnutrisi, dan lingkungan padat (Widoyono, 2008).

Salah satu pengobatan diare yang dilakukan adalah pengunaan kimia seperti loperamid, akan tetapi dapat menimbulkan efek samping seperti nyeri abdominal, mual, muntah, mulut kering, mengantuk, dan pusing. (Hanny, 2015). Pengobatan kimia lainnya sebagai antidiare yang banyak dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik oral. Namun, membutuhkan biaya yang relatif mahal dan dapat menyebabkan hal yang tidak dikehendaki apabila pemakaian tidak terkontrol seperti gejala resistensi, alergi dan suprainfeksi bagi penderita diare. Dikarenakan efek samping penggunaan obat kimia, maka dipilih alternatif pengobatan lain yaitu dari bahan alam. Alternatif pengobatan berbahan alam mempunyai keuntungan yaitu mudah diperoleh dan relatif murah. Alternatif pengobatan yang banyak digunakan di kalangan masyarakat adalah dengan memanfaatkan tanaman herbal (Yolanda, 2015). WHO merekomendasi penggunaan obat tradisional termasuk herbal dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengobatan penyakit, terutama untuk penyakit kronis, penyakit degeneratif dan kanker. WHO juga mendukung upaya-upaya dalam peningkatan keamanan dan khasiat dari obat tradisional (WHO, 2003). Penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern.

Banyak tanaman obat yang digunakan secara empiris oleh masyarakat sebagai obat diare, salah satunya adalah buah pisang kayu mentah. Di indonesia, buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) adalah obat yang sering digunakan secara empiris oleh masyarakat desa Senduro, Lumajang, Jawa Timur, untuk mengobati diare. Secara empiris, penggunaan buah pisang ( Musa paradisiaca L) mentah, di daerah Senduro ini digunakan dengan cara dibakar, dikukus, dan direbus. Pada penelitian sebelumnya, buah pisang ini juga memiliki efek antidiare pada mencit yang diinduksi oleh Oleum Ricini. Hasil penelitian sebelumnya pada mencit yang telah dibuat diare dengan induksi minyak jarak diperoleh bahwa ekstrak etanol buah pisang ( Musa paradisiaca L) mentah dosis 100 mg/KgBB dapat menurunkan frekuensi defekasi, jumlah feses lembek/cair dan bobot feses selama 4 jam pengamatan pada mencit jantan yang telah diinduksi minyak jarak. (Ningsih, 2019)

Menurut Dalimartha (2005) buah pisang mengandung saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, glukosa, minyak menguap, vitamin dan mineral. Menurut Nerissa (2016) senyawa fitokimia tersebut memiliki aktivitas antibakteri. Senyawa alkaloid disintesis oleh tanaman sebagai sistem pertahanan dalam responnnya terhadap infeksi oleh mikroorganisme, sehingga senyawa ini efektif sebagai antimikroba terhadap sejumlah mikroorganisme. Tanin mampu menghambat kerja protein pada dinding sel, sehingga sel kehilangan aktivitas fisiologisnya dan lisis. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh Ningsih tahun 2019 tentang pengujian efek antidiare ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) mentah pada mencit jantan Balb B-C yang diinduksi oleh bakteri Escherichia coli, didapatkan hasil bahwa ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) mentah memiliki efek antidiare pada mencit jantan Galur Balb-C yang diinduksi dengan bakteri Escherichia coli. Selain itu, ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) bisa mengurangi bobot feses, pegurangan frekuensi defekasi, perubahan konsistensi feses dan memberi daya hambat dan daya bunuh pada pertumbuhan media bakteri Escherichia coli dengan konsetrasi ekstrak 50%.

Berdasarkan uraian diatas, maka dilakukan suatu inovasi baru sediaan farmasi berupa eliksir untuk pengobatan diare dari ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L). Eliksir merupakan larutan hidroalkohol jernih dan manis yang digunakan untuk penggunaan vital dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan obat pembawa, tetapi eliksir adalah obat yang efek terapinya digunakan dari senyawa obat yang terkandung. Eliksir sifatnya kurang kental dan manis dibandingkan sirup, karena mengandung kadar gula lebih rendah sehingga eliksir kurang efektif menutupi rasa senyawa obat. Sifat hidroalkohol dari eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut dalam air dan alkohol daripada sirup. Selain itu stabilitasnya yang khusus dan kemudahan dalam pembuatannya eliksir lebih disukai daripada sirup (Ansel 2011).

Pada penelitian ini ekstrak etanol buah pisang kayu (Musa paradisiaca L) dibuat dalam bentuk sediaan eliksir untuk mengoptimalkan manfaatnya karena bentuk sediaan obat juga dapat mempengaruhi khasiat suatu obat. Sediaan eliksir merupakan salah satu sediaan cair dan memiliki stabilitas yang baik dibandingkan dengan sediaan lainnya. Hal ini disebabkan karena sifat hidroalkohol dari pelarut etanol yang dapat mempertahankan kestabilan obat di dalam cairan, sehingga menyebabkan waktu penyimpanan dan kestabilan sediaan dapat lebih lama (Ansel 2011).

Dalam penelitian ini, sediaan eliksir  esktrak etanol (Musa paradisiaca L.) akan diujikan pada hewan coba yaitu berupa mencit jantan (Mus musculus). Penggunaan mencit jantan (Mus musculus) sebagai hewan uji memiliki banyak keuntungan diantaranya penanganannya yang relatif mudah, harga yang murah, jumlah peranakan yang banyak, berukuran kecil, serta memiliki kemiripan fisiologis dengan manusia (Marbawati dan Ikawati, 2009). Dari pernyataan diatas, diharapkan senyawa aktif yang di formulasikan pada sediaan eliksir mendapat kestabilan yang cukup sehingga dapat memberikan efek terapi antidiare pada hewan coba mencit.

 

1.2         Rumusan Masalah

1.      Bagaimana formulasi yang baik sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L)?

2.      Bagaimana stabilitas fisik formulasi sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L)?

3.      Apakah sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) memiliki pengaruh antidiare pada mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi Oleum Ricini?

4.      Apakah sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) memiliki pengaruh antibakteri pada bakteri Escherichia coli secara in vitro?

 

 

1.1         Tujuan

1.      Untuk mengetahui formulasi yang baik sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L).

2.      Untuk mengetahui stabilitas fisik formulasi sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L).

3.      Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antidiare sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada mencit jantan (Mus musculus) yang diinduksi Oleum Ricini

4.      Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antibakteri sediaan eliksir ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada bakteri Escherichia coli secara in vitro

 

 

4.1      Manfaat

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka manfaat yang diharapkan dapat diperoleh yaitu:

1.      Aspek Akademik

Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan informasi terkait dengan penelitian bahan alam khususnya uji antidiare pada sediaan eliksir

 

2.      Aspek Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan masyarakat sebagai bahan obat dari bahan alam Indonesia dalam mengatasi diare

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)

2.1.1 Klasifikasi Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)

Pisang kayu merupakan pisang lokal yang memiliki rasa buah yang enak, manis, bertekstur empuk dan tidak berair, dengan aroma yang kuat. Pisang kayu merupakan pisang meja yang popular. Selain untuk konsumsi, pisang kayu juga digunakan sebagai bahan untuk upacara keagamaan bagi umah Hindu (Fitrahtunnisa, 2017).

            Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagascar), Amerika Selatan dan Tengah. Tanaman pisang tumbuh di daerah tropis karena menyukai iklim panas dan memerlukan matahari penuh. Tanaman ini dapat tumbuh di tanah yang cukup air pada daerah dengan ketinggian sampai 2.000 mdpl (Dalimartha, 2005)

            Klasifikasi tanaman pisang kayu menurut LIPI Purwodadi (2019) adalah sebagai berikut :

Kingdom         : Plantae

Divisi               : Magnoliophyta

Kelas               : Liliopsida

Subkelas          : Zingiberidae

Orde                : Zingiberales

Family             : Musaceae

Genus              : Musa

Species            : Musa paradisiaca, Linn

 

Gambar 2.1  Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)

 

2.1.2  Kandungan Senyawa Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)

Metabolit sekunder yang terdapat pada ekstrak etanol pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) berdasarkan hasil skrining fitokimia yaitu golongan senyawa tanin, alkaloid, saponon, dan flavonoid (Ningsih, 2019).

            Akar tanaman pisang mengandung serotonin, norepinefrin, tanin, hidroksitriptamin, dopamine, vitamin A, B dan C. Buah mengandung saponin, alkaloid, tanin, flavonoid, glukosa, fruktosa, sukrosa, tepung, protein, lemak minyak menguap, kaya akan vitamin (A, B, C dan E), mineral (kalium, kalsium, fosfor, Fe), pectin, serotonin, 5-hidroksi triptamin, dopamine, nonadrenaline. Kandungan kalium pada buah pisang cukup tinggi yang kadarnya bervariasi tergantung jenis pisangnya. Buah muda mengandung banyak tanin. Kulit batang mengandung alkaloid. Daun mengandung alkaloid, flavonoid, steroid. Pelepah mengandung saponin, alkaloid, dan polifenol (Dalimartha, 2005).

 

2.1.3 Penggolongan Skrining Buah Pisang Kayu (Musa paradisiaca, Linn)

a.       Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang banyak ditemukan dialam terutama didalam tumbuh-tumbuhan. Senyawa alkaloid sebagai antibakteri mampu menghambat sintesis dinding sel bakteri, jika dinding sel bakteri tidak terbentuk dengan sempurna maka sel bakteri akan lisis dan hancur.

 

b.      Saponin

Saponin merupakan senyawa glikosia kompleks dengan berat molekul tingi yang dihasilkan oleh tanaman, hewan laut tingkat rendah dan beberapa bakteri. Saponin larut dalam air tetapi tidak larut dalam eter yang memiliki sifat yang khas berasa pahit,berbusa dalam air dan beracun (Aswin,2008). Saponin juga merupakan senyawa aktif yang mempunyai aktivitas antifungi. Mekanisme kerja saponin sebagai antijamur adalah menurunkan tegangan permukaan sehingga mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel dan mengakibatkan senyawa intraseluler akan keluar. Senyawa ini berdifusi melalui membran luar dan dinding sel yang rentan, lalu mengikat membrane sitoplasma dan mengganggu dan mengurangi kestabilan itu. Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor keluar dari sel yang mengakibatkan kematian sel (Nuria dkk, 2009).

c.       Tannin

Tannin merupakan zat organik yang sangat kompleks dan terdiri dari senyawa fenolik. Tannin apabila direaksikan dengan FeCL3 akan membentuk warna hijau. Terjadinya pembentukan warna hijau ini karena terbentuknya senyawa kompleks antara logam Fe dan tannin. Senyawa kompleks terbentu karena adanya ikatan kovalen koordinasi antara ion atau atom logam dengan atom nonlogam (Effendy,2007)

d.      Flavonoid

Flavonoid mempunyai kerangka dasar 15 atom karbon yang terdiri dari dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu rantai propane sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6.ekstrak sampel senyawa flavonod terbentuk garam flavilium berwarna merah atau jingga setelah penambahan logam Mg dan HCL (septyaningsih,2010). Flavonoid menyebabkan perubahan komponen organik dan transport nutrisi yang akhirnya akan mengakibatkan timbulnya efek toksik terhadap jamur.

e.       Steroid / triterpenoid

Steroid atau sterol aalah triterpenoid yang mempunyai bentuk dasar siklopentana perhidrofenantren yang biasanya larut dalam pelarut yang kurang polar (Febriany,2015). Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6 satuan isoprene dan secara biosintesis iturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik yaitu skualena.

 

2.1.4   Manfaat Kencur

Tanaman pisang memiliki khasiat melumaskan (lubrikan) usus, penawar racun, penurun panas (antipiretik), antiradang, peluruh kencing (diuretik). Akar berkhasiat sebagai penawar racun, pereda demam (antipiretik), mendinginkan darah, antiradang, dan peluruh kencing. Hati pisang berkhasiat sebagai penurun panas dan untuk perawatan rambut. Cairan dari bonggol mengatasi infeksi saluran kencing, menghentikan pendarahan (hemostatik), penurun panas (antipiretik), serta penghitam dan mencegah rambut rontok. Buah muda dan akar berkhasiat sebagai astrigen. Buah muda berkhasiat antidiare, antidisentri, dan untuk pengobatan tukak lambung (Dalimartha, 2005).

 

2.2  Metode Ekstraksi

2.2.1 Pengertian Ekstraksi

Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan bagian tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki perbedaan begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pelarut tertentu untuk mengekstraksinya ( Tobo F, 2001).

Ekstraksi adalah pemurnian suatu senyawa. Ekstraksi cairan-cairan merupakan suatu teknik dalam suatu larutan (biasanya dalam air) dibuat bersentuhan dengan suatu pelarut kedua (biasanya organik), yang pada dasarnya tidak saling bercampur dan menimbulkan perpindahan satu atau lebih zat terlarut (solut) ke dalam pelarut kedua itu. Pemisahan itu dapat dilakukan dengan mengocok-ngocok larutan dalam sebuah corong pemisah selama beberapa menit (Shevla, 1985)

 

2.2.2         Metode Ekstraksi Cara

a.        Maserasi

Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang seperti benzoin, stiraks dan lilin. Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid (Ditjen POM, 1986)

Prinsip maserasi adalah pengikatan/pelarutan zat aktif berdasarkan sifat kelarutannya dalam suatu pelarut (like dissolved like). Langkah kerjanya adalah merendam simplisia dalam suatu wadah menggunakan pelarut penyari tertentu selama beberapa hari sambil sesekali diaduk, lalu disaring dan diambil beningannya. Selama ini dikenal ada beberapa cara untuk mengekstraksi zat aktif dari suatu tanaman ataupun hewan menggunakan pelarut yang cocok. Pelarut-pelarut tersebut ada yang bersifat “bisa campur air” (contohnya air sendiri, disebut pelarut polar) ada juga pelarut yang bersifat “tidak campur air” (contohnya aseton, etil asetat, disebut pelarut non polar atau pelarut organik). (Afifah,2012)

Metode Maserasi umumnya menggunakan pelarut non air atau pelarut non-polar. Teorinya, ketika simplisia yang akan di maserasi direndam dalam pelarut yang dipilih, maka ketika direndam, cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam sel yang penuh dengan zat aktif dan karena ada pertemuan antara zat aktif dan penyari itu terjadi proses pelarutan (zat aktifnya larut dalam penyari) sehingga penyari yang masuk ke dalam sel tersebut akhirnya akan mengandung zat aktif, katakan 100%, sementara penyari yang berada di luar sel belum terisi zat aktif (0 %) akibat adanya perbedaan konsentrasi zat aktif di dalam dan di luar sel ini akan muncul gaya difusi, larutan yang terpekat akan didesak menuju keluar berusaha mencapai keseimbangan konsentrasi antara zat aktif di dalam dan di luar sel. Proses keseimbangan ini akan berhenti, setelah terjadi keseimbangan konsentrasi (istilahnya “jenuh”).

Kelebihan dari ekstraksi dengan metode maserasi yaitu Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam, Biaya operasionalnya relatif rendah dan Prosesnya relatif hemat penyari dan tanpa pemanasan sedangkan Kelemahan dari ekstraksi dengan metode maserasi yaitu Proses penyariannya tidak sempurna, karena zat aktif hanya mampu terekstraksi sebesar 50% saja dan Prosesnya lama, butuh waktu beberapa hari.

 

b.   Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkan penyari melalui bahan yang telah dibasahi. Perkolasi adalah metoda ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit sekunder dari bahan alam, terutama untuk senyawa yang tidak tahan panas (Irawan,2010)

Perkolasi adalah cara penyarian dengan mengalirkanpenyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Ditjen POM, 1986)

Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena (Ditjen POM, 1986) :

1.  Aliran cairan penyari menyebabkan adanya perga”ntian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.

2.  Ruangan diantara butir – butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

Pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk keluar dari sel)  dan tidak terjadi kejenuhan Adapun kerugian dari cara perkolasi ini adalah serbuk kina yang mengadung sejumlah besar zat aktif yang larut, tidak baik bila diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit, sebab perkolat akan segera menjadi pekat dan berhenti mengalir (Ditjen POM, 1986).

Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang digunakan untuk menyari disebut  cairan penyari atau menstrum, larutan zat aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa setelah dilakukannya penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi (Ditjen POM, 1986).

 

c.    Refluks

Metode refluks adalah termasuk metode berkesinambungan dimana cairan secara kontinyu menyari komponen kimia dalam simplisia cairan penyari penyari dipanaskan sehingga menguap dan uap tersebut dikondensasikan oleh pendingin balik, sehingga mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan dan jatuh kembali ke labu alas bulat sambil menyari simplisia. Proses ini berlangsung secara berkesinambungan dan biasanya dilakukan 3 kali dalam waktu 4 jam (Ditjen POM, 1986).

Prinsip kerja pada metode refluks yaitu penarikan komponen kimia yang dilakukan dengan cara sampel dimasukkan ke dalam labu alas bulat bersama-sama dengan cairan penyari lalu dipanaskan, uap-uap cairan penyari terkondensasi pada kondensor bola menjadi molekul-molekul cairan penyari yang akan turun kembali menuju labu alas bulat, akan menyari kembali sampel yang berada pada labu alas bulat, demikian seterusnya berlangsung secara berkesinambungan sampai penyarian sempurna, penggantian pelarut dilakukan sebanyak 3 kali setiap 3-4 jam. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan dan dipekatkan (Akhyar,2010).

Kelebihan dari metode refluks adalah digunakan untuk mengekstraksi sampel-sampel yang mempunyai tekstur kasar, dan tahan pemanasan langsung. (Anonim, 2011). Kekurangan dari metode refluks adalah membutuhkan volume total pelarut yang besar,dan Sejumlah manipulasi dari operator (Mandiri, 2013).

 

d.   Soxhletasi

Soxhletasi merupakan penyarian simplisia secara berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin balik dan turun menyari simplisia dalam klonsong dan selanjutnya masuk kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon (Rene,2011).

Bahan yang akan diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung ekstraksi (kertas, karton, dan sebagainya) dibagian dalam alat ekstraksi dari gelas yang bekerja kontinyu. Wadah gelas yang mengandung kantung diletakkan antara labu penyulingan dengan labu pendingin aliran balik dan dihubungkan dengan labu melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipet, berkondensasi di dalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi dan menarik keluar bahan yang diekstraksi. Larutan berkumpul di dalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimalnya, secara otomatis dipindahkan ke dalam labu. Dengan demikian zat yang terekstraksi terakumulasi melalui penguapan bahan pelarut murni berikutnya. Pada cara ini diperlukan bahan pelarut dalam jumlah kecil, juga simplisia selalu baru artinya suplai bahan pelarut bebas bahan aktif berlangsung secara terus-menerus (pembaharuan pendekatan konsentrasi secara kontinyu). Keburukannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk ekstraksi cukup lama (sampai beberapa jam) sehingga kebutuhan energinya tinggi (listrik, gas). Selanjutnya, simplisia di bagian tengah alat pemanas langsung berhubungan dengan labu, dimana pelarut menguap. Pemanasan bergantung pada lama ekstraksi, khususnya titik didih bahan pelarut yang digunakan, dapat berpengaruh negatif terhadap bahan tumbuhan yang peka suhu (glikosida, alkaloida). Demikian pula bahan terekstraksi yang terakumulasi dalam labu mengalami beban panas dalam waktu lama. Meskipun cara soxhlet sering digunakan pada laboratorium penelitian untuk pengekstraksi tumbuhan, namun peranannya dalam pembuatan sediaan tumbuhan kecil artinya (Anonim: 2011).

Keuntungan dari proses soxhletasi ini adalah cara ini lebih menguntungkan karena uap panas tidak melalui serbuk simplisia, tetapi melalui pipa samping, Dapat digunakan untuk sampel dengan tekstur yang lunak dan tidak tahan terhadap pemanasan secara langsung, pemanasannya dapat diatur dan digunakan pelarut yang lebih sedikit. 

Kerugiannya adalah jumlah ekstrak yang diperoleh lebih sedikit dibandingkan dengan metode maserasi, Karena pelarut didaur ulang, ekstrak yang terkumpul pada wadah di sebelah bawah terus-menerus dipanaskan sehingga dapat menyebabkan reaksi peruraian oleh panas, Jumlah total senyawa-senyawa yang diekstraksi akan melampaui kelarutannya dalam pelarut tertentu sehingga dapat mengendap dalam wadah dan membutuhkan volume pelarut yang lebih banyak untuk melarutkannya, dan Bila dilakukan dalam skala besar, mungkin tidak cocok untuk menggunakan pelarut dengan titik didih yang terlalu tinggi (Ditjen POM, 1986).

 

2.3 Eliksir

2.3.1 Definisi Eliksir

Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan obat yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek terapi dari senyawa obat yang dikandungnya. Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibanding sirup dalam menutupi rasa senyawa obat. Walaupun demikian, karena sifat hidroalkohol, eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut dalam air dan yang larut dalam alkohol daripada sirup. Juga karena stabilitasnya yang khusus dan kemudahan dalam pembuatannya, dari sudut pembuatan eliksir lebih disukaidari sirup(Ansel 1989).  

Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan vital dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan obat yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek terapi dari senyawa obat yang dikandungnya (Ansel, 2008).

Eliksir adalah larutan oral yang mengandung etanol 90% yang berfungsi sebagai kosolven (pelarut) dan untuk mempertinggi kelarutan obat. Kadar etanol berkisar antara 3% dan 4% dan biasanya eliksir mengandung etanol 5-10% (Syamsuni, 2006).

 

2.3.2  Kelebihan dan Kekurangan Eliksir

Keuntungan dan kerugian eliksir menurut Syamsuni (2007), yaitu:

a.       Keuntungan

1.      Mudah ditelan.

2.      Rasanya enak.

3.      Absorbsi obat lebih cepat karena telah berbentuk sediaan cair(tidak mengalami proses penghancuran/disintegrasi maupunpelarutan seperti pada tablet,kapsul, pil, dll)

4.      Mengurangi resiko terjadinya iritasi lambung

5.      Larutan jernih dan tidak perlu dikocok lagi

b.      Kekurangan

1.      Alkohol kurang baik untuk kesehatan anak

Mengandung bahan mudah menguap sehingga harus disimpan dalam botol gelap dan jauh dari sumber cahaya

 

 

2.3.4 Evaluasi Sediaan Krim

Evaluasi sediaan eliksir dapat dilakukan uji sebagai berikut :

1.      Uji Keasaman

Sediaan larutan yang sudah jadi dalam beaker glass, masukkan elektroda ph meter yang telah dikalibrasi dengan dapar standar kemudian diamati Ph nya catat dan bandingkan dengan ph seharusnya.

2.      Uji Berat Jenis

Berat jenis diuji dengan menggunakan piknometer. Piknometer diisi dengan air sampai penuh lalu renam dengan air es suhu kurang lebih 200 C dibawah suhu percobaan lalu piknometer ditutup pipa kapiler dibiarkan terbuka dan suhu naik sampai suhu percobaan lalu piknometer ditutup. Biarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar, air yang menepel diusap lalu timbang dengan sesama kemudian lihat dalam tabel kerapan air dan suhu percobaan untuk menghitung volume air.

 

3.      Uji Kandungan Mikroba

Uji ini dilakukan dengan menggunakan media Plate Count Agar (PCA) dan aquadest sampel yang di campurkan pada medium agar di biarkan selama 24 jam kemudian diamati di Plate Count Agar alat menghitung mikroba.

4.      Uji Efek Mikrobiologi dan Toksisitas

Uji ini dapat dilakukan dengan menggunakan enzim maupun mikroorganisme lainnya dengan mereaksikan sampel terhadap mediator yang dipilih, kemudian diamati pada mikroskop.

5.      Uji Viskositas

Digunakan viskometer yang sudah bersih, pipetkan cairan ke dalam viskometer dengan menggunakan pipet. Lalu hisap cairan dengan menggunakan pushball sampai melewati 2 batas. Disiapkan stopwatch, kendurkan cairan sampai batas pertama lalu mulai penghitungan. Dicatat hasil, dan lakukan penghitungan dengan rumus. Diusahakan saat melakukan penghitungan kita menggenggam di lengan yang tidak berisi cairan (Anief, 1993)

 

2.4 Tinjauan tentang diare

Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja sedangkan gangguan gastrointestinal merupakan suatu keadan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus. Diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi buang air besar lebih dari tiga kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak dalam sehari, konsistensi feses cair, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir atau darah atau lendir saja (Ngastiyah, 1997). Hipocrates mendefinisikan diare sebagai pengeluaran tinja yang tidak normal atau encer. Diare dapat bersifat akut (oleh infeksi dengan bakteri) atau kronis (kemungkinan berkaitan dengan berbagai gangguan gastrointestinal). Disamping itu, diare dapat terjadi akibat kelainan psikotomatik, kelainan pada sistem endokrin dan metabolisme, alergi oleh makanan atau obat-obatan tertentu, serta kekurangan vitamin sehingga tubuh akan kehilangan banyak energi dan elektrolit tubuh

2.5 Uraian Bahan Tambahan

2.5.1 Propilen Glikol ( Farmakope Indonesia IV hal. 712, Excipient edisi 6 hal. 592)

Rumus Molekul  :

CH3CH(OH)CH2OH

Berat Molekul    :

76, 09

Pemerian             :

Cairan kental, jernih,tidak berwarna ,rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab.

Kelarutan            :

Dapat bercampur dengan air, dengan aseton dan dengan kloroform, larut dalam eter dan beberapa minyak essensial tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.

BJ                        :

1,038 g/cm3

OTT                    :

Dengan zat pengoksidasi seperti Pottasium Permanganat

Konsentrasi         :

 10-25%

Stabilitas             :

Higroskopis dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, lindungi dari cahaya, ditempat dingin dan kering. Pada suhu yang tinggi akan teroksidasi menjadi propionaldehid asam laktat, asam piruvat& asam asetat. Stabil jika dicampur dengan etanol, gliserin, atau air.

Khasiat                :

Bersifat antimikroba, desinfektan, pelembab, plastisazer, pelarut, stabilitas   untuk vitamin.

Penyimpanan      :

Disimpan dalam wadah tertutup  rapat, terlindung dari cahaya, sejuk dan kering.

 

2.5.2 Etanol 90%

Rumus Molekul :

C2H5OH

Berat Molekul   :

46,07

Pemerian             :

cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna.

Kelarutan            :

bercampur dengan air dan praktis bercampur dengan semua pelarut organik.

Stabilitas             :

mudah menguap di udara terbuka.

Inkompabilitas    :

dengan yang mengandung aluminium dan berinteraksi dengan beberapa obat tertentu.

Konsentrasi         :

bervariasi

Khasiat                :

antimikroba preservative, disinfectant,solvent.

Penyimpanan      :

dalam wadah tertutup rapat

 

 

2.3.4 Sirupus Simplek  ( FI III hal.567 )

Rumus Molekul :

 

Berat Molekul   :

1,587 gram/mol

Pemerian             :

cairan jernih tidak berwarna.

Kelarutan            :

larut dalam air, mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam eter.

Stabilitas             :

di tempat sejuk

Konsentrasi         :

20-60%.

Khasiat                :

pemanis, zat tambahan.

Penyimpanan      :

wadah tertutup rapat, ditempat sejuk.

 

 

2.3.5 Sorbitol (Farmakope Indonesia IV hal 756 , Handbook of Pharmaceutical Excipients hal 596 )

Rumus Molekul :

C6H12O6

Berat Molekul   :

182,17

Pemerian             :

serbuk, granul atau lempengan, higroskopis, warna putih, rasa manis.

 

Kelarutan            :

sangat mudah larut dalam air, sukar larut dalam etanol, metanol dan asam asetat

Stabilitas             :

Bersifat higroskopis

Inkompabilitas    :

-

Konsentrasi         :

 

Khasiat                :

zat tambahan.

Penyimpanan      :

dalam wadah tertutup rapat.

 

2.3.6    Na-Benzoat (FI IV hal 584 , Pharmaceutical Excipient hal 433)

Rumus Molekul :

C6H5COONa

Berat Molekul   :

144,11

Pemerian             :

Granul atau serbuk hablur, tidak berbau atau praktis tidak berbau.

Kelarutan            :

Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dan  lebih mudah larut dalam etanol 90 %.

OTT                    :

Inkompatibel dan gelatin, garam besi, garam kalsium dan garam dari logam berat, termasuk perak dan merkuri.

Konsentrasi         :

0,02-0,5% pada sediaan oral

Stabilitas             :

Stabil diudara

Khasiat                :

Pengawet

Penyimpanan      :

Dalam wadah yang tertutup baik.

 

 

2.3.7 Asam Sitrat (Farmakope Indonesia Edisi III, hal 50)

Rumus Molekul :

C6H8O7H2O

Berat Molekul   :

210,14

Pemerian             :

Hablur  tak berwarna atau  serbuk putih, rasa asam  kuat, agak higroskopis  merapuh dalam udara kering dan panas.

Kelarutan            :

Larut  dalam  kurang dari 1 bagian air dan dalam 1,5 bagian  etanol (95%) P, sukar larut dalam eter P.

Konsentrasi         :

 

Stabilitas             :

 

Khasiat                :

sebagai  pendapar.

Penyimpanan      :

Dalam wadah tertutup baik.

 

2.3.8 Aquadest (Farmakope Indonesia III halaman 96)

Rumus Molekul :

H2O

Berat Molekul   :

18,02

Pemerian             :

cairan jernih tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.

Kelarutan            :

-

OTT                    :

Dalam formula air dapat bereaksi dengan bahan eksipient lainya yang mudah terhidrolisis.

Stabilitas             :

Air adalah salah satu bahan kimia yang stabil dalam bentuk Fisik (es , air , dan uap). Air harus disimpan dalam wadah yang sesuai. Pada saat penyimpanan dan penggunaannya harus terlindungi dari kontaminasi partikel - pertikel ion dan bahan organik yang dapat menaikan konduktivitas dan jumlah karbon organik. Serta harus terlindungi dari partikel - partikel lain dan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan merusak fungsi air.

Khasiat                :

bahan tambahan, pelarut.

Penyimpanan      :

dalam wadah tertutup baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

                                                 METODE PENELITIAN                                  

 

3.1    Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian experimental laboratory.

 

3.2    Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Organik, Laboratorium Biologi dan Teknologi Farmasi STIKES Rumah Sakit Anwar Medika pada bulan Januari – Juli 2019

 

3.3    Alat dan Bahan

Pada penelitian ini membutuhkan alat seperti : Timbangan digital, Oven, kertas saring gelas ukur, beaker glass, pipet tetes, batang pengaduk, cawan porselen, kertas perkamen, kaca arloji, mortar, stamper. Pada penelitian ini membutuhkan bahan seperti : Paracetamol 120 mg/5 ml, Na-benzoat, propilen glikol, etanol 90%, sirupus simplex, sorbitol, asam sitrat, , dan aquadest.

 

3.4    Prosedur Kerja 

3.4.1        Formulasi Sedian Eliksir Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)

No

Bahan

Formulasi I

Formulasi II

Formulasi III

Kegunaan

1.

Ekstak Buah Pisang Kayu Mentah   

15%

15%

15%

Zat Aktif

2.

Propilen Glikol

20 %

15%

10%

Pengawet

3.

Etanol 90 %

5%

10%

15%

Pelarut

4.

Sir.Simpleks

20 %

20%

20%

Pemanis

5.

Sorbitol

20%

20%

20%

Pemanis

5.

Na-Benzoat

0,5 %

0,5%

0,5%

Pengawet

6.

Asam Sitrat

1 %

1%

1%

Dapar

10.

Aquadest

100 %

100%

100%

Pelarut

 

3.4.2    Cara Pembuatan Eliksir Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)

            Dalam cara pembuatan skala laboratorium peratama disiapkan timbangan digital, ditimbang esktrak buah pisang kayu mentah (Musa Paradisiaca L.), diukur propilenglikol dan etanol 90% sesuai masing-masing formulasi, kemudian esktrak etanil buah pisang kayu dan propilenglikol sedikit demi sedikit di masukkan ke dalam beaker glass aduk ad homogen setelah homogen ditambahkan etanol 90% aduk ad homogen. Ditimbang asam sitrat , Na-benzoat , diukur sirupus simplex dan sorbitol sesuai masing-masing formulasi. Asam sitrat dan na-benzoat di gerus ad homogen di dalam mortir dan sisihkan ke dalam beaker glass lalu campurkan sirupus simplex dan sorbitol aduk ad homegen. Pada campuran ekstrak, propilenglikol, dan etanol 90% dicampurkan dengan campuran asam sitrat, na-benzoat, sirupus simplex dan sorbitol aduk ad homogen.

 

3.4.3   Pemekatan Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)

            Destilasi sederhana dilakukan bertujuan untuk memekatkan ekstrak. Langkah awal yang dilakukan yaitu dengan merangkai alat destilasi sederhana. Setelah alat destilasi terangkai masukan ekstrak kencur ke dalam labu alas bulat. Pasang selang yang terhubung dengan kondensor. Panaskan dengan menggunaan heting mantle pada suhu 750C. langkah selanjutnya yaitu dilaukan destilasi hingga pelarut terpisah semua. Disimpan dan dihitung rendemen hasil pemekatan ekstrak kencur yang telah dilakukan.

 

3.4.5        Skrining Fitokimia

a.    Uji Alkaloid

Uji alkaloid dilakukan dengan cara menyiapkan hasil ekstrak rimpang kencur yang telah dipekatkan. Di ukur ekstrak sebanyak 1 ml dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes kloroform dan 3 tetes reagen meyer. Jika terbentuk endapan putuh maka menunjukan positif mengandung alkaloid.

b.      Uji Fenol

Uji fenol dilakukan dengan cara menyiapkan hasil ekstraksi rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes air panas dan 3 tetes FeCl3 1 % ke dalam tabung reaksi. Jika terjadi perubahan warna menjadi hijau atau biru maka menunjukan positif mengandung fenol.

c.       Uji Flavonoid

Uji flavonoid dilaukan dengan cara menyiapkan hasil ekstrak rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 1 gram serbuk magnesium dan 1 ml larutan asam klorida pekat. Jika perubahan warna menjadi kuning atau orange maka menunjukan positif mengandung flavonoid.

d.      Uji Saponin

Uji saponin dilakukan dengan cara menyiapkan hasil ekstrak rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 2 ml ekstrak sampel dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 10 ml air dan dikocok kuat selama 10 menit. Didiamkan selama 10 menit. Jika terbentuk buih atau busa stabil maka menunjukan positif saponin.

e.       Uji Tanin

Uji tannin dilakukan dengan cara menyiapkan hasil ekstraksi rimpang kencur yang telah dipekatkan. Diukur 1 ml ekstrak sampel dan dimasukan ke dalam tabung reaksi. Ditambahkan 3 tetes FeCl3 5%. Dilihat perubahan yang terjadi, jika terbentuk warna hitam maka menunjukan positif tannin.

 

3.4.5 Uji Sediaan Eliksir Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.)

            Pengujian sediaan Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa Paradisiaca L.) yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1.      Uji organoleptik (penampilan sediaan)

Penentuan organoleptik menggunakan pancaindera untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau/aroma dan rasa. Sediaan eliksir ekstrak etanol daun pelawan diamati bentuk, warna, bau/aroma dan rasanya. Penentuan organoleptis ini dilakukan setiap 1 kali dalam seminggu pada rentang waktu selama 2 bulan yang disimpan pada suhu kamar (Depkes 2000).

2.      Uji Tingkat Keasaman

Diambil beberapa ml sediaan larutan yang sudah jadi dalam beaker glass, masukkan elektroda ph meter yang lelah dikalibrasi dengan dapar standar kemudian diamati Ph nya catat dan bandingkan dengan ph seharusnya.

3.      Uji Berat Jenis

Ditimbang piknometer yang bersih dan kering, diisi piknometer dengan air sampai penuh lalu renam dengan air es suhu kurang lebih 200  C dibawah suhu percobaan lalu piknometer ditutup pipa kapiler dibiarkan terbuka dan suhu naik sampai suhu percobaan lalu piknometer ditutup. Biarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar, air yang menepel diusap lalu timbang dengan sesama kemudian lihat dalam tabel kerapan air dan suhu percobaan untuk menghitung volume air.

4.      Uji Kandungan Mikroba

Uji ini dilakukan dengan menggunakan media Plate Count Agar (PCA) dan aquadest sampel yang di campurkan  pada medium agar di biarkan selama 24 jam  kemudian diamati di Plate Count Agar alat menghitung mikroba.

5.      Uji Viskositas

Digunakan viskometer yang sudah bersih, pipetkan cairan ke dalam viskometer dengan menggunakan pipet. Lalu hisap cairan dengan menggunakan pushball sampai melewati 2 batas. Disiapkan stopwatch , kendurkan cairan sampai batas pertama lalu mulai penghitungan. Dicatat hasil, dan lakukan penghitungan dengan rumus. Diusahakan saat melakukan penghitungan kita menggenggam di lengan yang tidak berisi cairan.

 

3.4.6 Uji Antidiare

Mencit diadaptasikan dengan lingkungan penelitian selama satu minggu, mencit dikelompokkan menjadi 5 kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor mencit. Mencit diberikan oleum ricini 0,75 ml secara oral, satu jam setelah pemberian oleum ricini, masing-masing kelompok diberi perlakuan, yaitu :

Kelompok I  : diberikan larutan koloidal Na- CMC1% sebagai kontrol 1 ml/30 gr BB mencit

Kelompok II : diberikan suspensi Loperamid HCL sebagai pembanding 0,0052 mg/ 20 g bb mencit

Kelompok III : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb

Kelompok IV : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb

Kelompok V : diberikan eliksir ekstrak buah pisang kayu mentah konsentrasi mg/ kgbb

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN

 

4.1    Anggaran Biaya

Tabel 1   Ringkasan Anggaran Biaya Penelitian

No.

Jenis Pengeluaran

Jumlah

Satuan

Harga satuan

Biaya yang diusulkan (Rp)

1

Mencit

30

Ekor

25,000.00

750,000.00

2

Buah pisang kayu mentah

1

tundun

100,000.00

100,000.00

3

Aluminium foil

1

roll

50,000.00

50,000.00

4

Plastik wrap

2

roll

25,000.00

50,000.00

5

fee mahasiswa I

1

orang

150,000.00

150,000.00

6

fee mahasiswa II

1

orang

150,000.00

150,000.00

7

fee laboran I

1

orang

150,000.00

150,000.00

8

Fee laboran II

1

orang

150,000.00

150,000.00

9

Uang transport ke Lumajang

1

 

400,000.00

400,000.00

10

Uang makan Lumajang

4

orang

30,000.00

120,000.00

11

Uang makan penelitian

20

kali

20,000.00

400,000.00

12

Uang transportasi

5

kali

30,000.00

150,000.00

13

Etanol 96%

8

L

75,000.00

600,000.00

14

Pripilen glikol

0.5

L

120,000.00

60,000.00

15

Sir. Simplek

0.5

L

60,000.00

30,000.00

16

Sorbitol

0.5

L

50,000.00

25,000.00

17

Na-benzoat

0.5

kg

35,000.00

17,500.00

18

Asam sitrat

0.5

kg

40,000.00

20,000.00

19

Aquadest

5

L

20,000.00

100,000.00

20

Minyak jarak

1

L

90,500.00

90,500.00

21

Botol selai

2

botol

15,000.00

30,000.00

22

Masker

1

box

65,000.00

65,000.00

23

Sarung tangan

1

box

65,000.00

65,000.00

24

Kertas saring

20

lbr

8,000.00

160,000.00

25

Uang sewa alat dan bahan

1

 

300,000.00

300,000.00

26

Toples Maserasi

1

pcs

50,000.00

50,000.00

27

Botol 120 ml

4

pcs

20,000.00

80,000.00

28

Kertas kue

11

lbr

5,000.00

55,000.00

29

Tisu

3

pak

10,000.00

30,000.00

30

Pakan mencit dan sekam

6

pak

17,000.00

102,000.00

Total

 

 

 

4.500.000

 

 

 

4.2    Jadwal Penelitian

Tabel 2   Jadwal Penelitian atau Kegiatan

No

Nama Kegiatan

Bulan, Tahun 2020

1

2

3

4

5

6

7

8

1

Pemesanan Bahan

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Ekstraksi Simplisia Ekstrak Buah Pisang Kayu

 

 

4

Uji Skrinning Fitokimia

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Formulasi Eliksir Ekstrak Buah Pisang Kayu

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Uji Evaluasi Fisik Ekstrak Buah Pisang Kayu

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Uji Aktivitas Antidiare

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Analisa Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Penulisan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

10

Pengumpulan Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

World Health Organitation. 2003. Traditional medicine. http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs134/en/ . [diakses tanggal 3 oktober 2019]

Ansel H.C. 2011. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi keempat. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

Widoyono. (2008). Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

Nurhalimah, H., Wijayanto, N., dan Widyaningsih, T.D. 2015. Efek Antidiare Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea Indica L.) Terhadap Mencit Jantan Yang Diinduksi Bakteri Salmonella Thypimurium. Jurnal Pangan dan Agroindustri. Vol. 3 No 3 p.1083-1094.

Ningsih, A.W., 2019. Uji Efek Antidiare Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa paradisiaca L) pada Mencit Jantan Balb B-C yang Diinduksi Oleh Bakteri Escherichia coli. Skripsi. Surabaya : Program Studi Ilmu Kedokteran Dasar Jenjang Megister Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Fratiwi, Y., 2015. The Potential Of Guava Leaf (Psidium Guajava L.) For Diarrhea. Majority Volume 4 Nomor 1 : 113-118.

Dalimartha, S. 2005. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid 3. Jakarta : Trubus Agriwidya.

Nerrisa. 2016. Uji Efektivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Krisan (Chrysanthenum morifolium syn Dendrathema grandiflora) Terhadap Stapylococcus aureus dan Escherichia coli. Skripsi. Yogyakarta : Universitas Atmajaya Yogyakarta

Marbawati, D. dan B. Ikawati. 2009. Kolonisasi Mus musculus Albino di Laboratorium Loka Litbang P2b2 Banjarnegara. Balaba. 5 (1): 1-5.

 

 

 

 

Lampiran 1     Justifikasi Anggaran Penelitian 

No.

Jenis Pengeluaran

Jumlah

Satuan

Harga satuan

Biaya yang diusulkan (Rp)

1

Mencit

30

Ekor

25,000.00

750,000.00

2

Buah pisang kayu mentah

1

tundun

100,000.00

100,000.00

3

Aluminium foil

1

roll

50,000.00

50,000.00

4

Plastik wrap

2

roll

25,000.00

50,000.00

5

fee mahasiswa I

1

orang

150,000.00

150,000.00

6

fee mahasiswa II

1

orang

150,000.00

150,000.00

7

fee laboran I

1

orang

150,000.00

150,000.00

8

Fee laboran II

1

orang

150,000.00

150,000.00

9

Uang transport ke Lumajang

1

 

400,000.00

400,000.00

10

Uang makan Lumajang

4

orang

30,000.00

120,000.00

11

Uang makan penelitian

20

kali

20,000.00

400,000.00

12

Uang transportasi

5

kali

30,000.00

150,000.00

13

Etanol 96%

8

L

75,000.00

600,000.00

14

Pripilen glikol

0.5

L

120,000.00

60,000.00

15

Sir. Simplek

0.5

L

60,000.00

30,000.00

16

Sorbitol

0.5

L

50,000.00

25,000.00

17

Na-benzoat

0.5

kg

35,000.00

17,500.00

18

Asam sitrat

0.5

kg

40,000.00

20,000.00

19

Aquadest

5

L

20,000.00

100,000.00

20

Minyak jarak

1

L

90,500.00

90,500.00

21

Botol selai

2

botol

15,000.00

30,000.00

22

Masker

1

box

65,000.00

65,000.00

23

Sarung tangan

1

box

65,000.00

65,000.00

24

Kertas saring

20

lbr

8,000.00

160,000.00

25

Uang sewa alat dan bahan

1

 

300,000.00

300,000.00

26

Toples Maserasi

1

pcs

50,000.00

50,000.00

27

Botol 120 ml

4

pcs

20,000.00

80,000.00

28

Kertas kue

11

lbr

5,000.00

55,000.00

29

Tisu

3

pak

10,000.00

30,000.00

30

Pakan mencit dan sekam

6

pak

17,000.00

102,000.00

Total

 

 

 

4.500.000

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2     Susunan Organisasi Penelitian dan Pemberian Tugas

No.

Nama

NIDN

Program Studi

Bidang Keahlian

Alokasi Waktu (jam/minggu)

1

Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si.,Apt

0727038805

S1 Farmasi

Farmakologi

10 jam/ minggu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3     Biodata Ketua Tim Penyusun

A. Identitas Diri

1

Nama Lengkap

Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si., Apt

2

Jenis Kelamin

P

3

Jabatan Fungsional

-

4

NIK

-

5

NIDN

0727038805

6

Tempat dan Tanggal Lahir

Surabaya, 27 Maret 1988

7

Email

ariessmkkes@gmail.com

8

Nomor Telepon/ HP

081334006809

9

Nama Institusi Tempat Kerja

STIKES Rumah Sakit Anwar Medika

10

Alamat Kantor

Jalan By Pass Krian Km 33 Sidoarjo

11

Nomor Telepon/ Faks

(031) 99890135

12

Lulusan yang Pernah dihasilkan

-

13

Mata Kuliah yang Diampu

1.      Farmakologi

2.      Biologi dasar

3.      Farmakognosi

4.      Fitokimia

5.      Standarisasi bahan obat tradisional

6.      Toksikologi

7.      Farmasetika Sediaan Steril

 

B. Riwayat Pendidikan

 

S1

S2

S3

Nama Perguruan Tinggi

Universitas Negeri jember

Universitas Airlangga

-

Bidang Ilmu

Farmasi

Farmakologi

-

Tahun Masuk-Lulus

2006-2010

2017-2019

-

Judul Skripsi/Tesis/Disertasi

 

Uji efek antidiare ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada mencit jantan galur balb-c yang diinduksi bakteri E.coli

-

Nama Pembimbing/Promotor

1.      Prof. Dr. H. Achmad Basori, MS., Apt

1.      Dr. Maftuchah Rochmanti, dr., M. Kes

-

 

C. Pengalaman Penelitian Dalam 5 Tahun Terakhir

No

Tahun

Judul Penelitian

Pendanaan

Sumber

Jumlah (Juta Rp)

1

2019

Uji efek antidiare ekstrak etanol buah pisang kayu mentah (Musa paradisiaca L) pada mencit jantan galur balb-c yang diinduksi bakteri E.coli

Pendanaan Mandiri

Rp.  15.000.000,00

 

D. Pengalaman Pengabdian kepada Masyarakat Dalam 5 Tahun Terakhir

No

Tahun

Judul Pengabdian Masyarakat

Pendanaan

Sumber

Jumlah (Juta Rp)

2

2018

Pengenalan Profesi Apoteker kepada Siswa Sekolah Dasar (SD)

Mandiri

Rp. 1.000.000,00

 

Semua data yang saya isikan dan tercantum dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Apabila dikemudian hari dijumpai ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya sanggup menerima sanksi. Demikian biodata ini saya buat dengan sebenarnya untuk memenuhi suatu persyaratan dalam pengajuan proposal penelitian dosen internal STIKES RSAM tahun 2019-2020.

    

         Sidoarjo, 1 Desember 2019

                                                                                 Pengusul,

 

 

         Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si., Apt

                                                                                 NIDN. 0727038805

 

Lampiran 4     Surat Pernyataan Ketua

 

SURAT PERNYATAAN KETUA PENELITIAN

 

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                           : Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si.,Apt

NIDN                          : 0727038805

Program Studi             : S1 Farmasi

 

Dengan ini menyatakan bahwa proposal Penelitian saya dengan Judul Uji Efektivitas Formulasi Eliksir Ekstrak Etanol Buah Pisang Kayu Mentah (Musa paradisiaca L) Sebagai Antidiare pada Mencit Jantan (Mus musculus) yang Diinduksi Oleum Ricini   yang diusulkan untuk tahun anggaran 2017/2018 bersifat orisinal dan belum pernah dibiayai oleh lembaga atau sumber dana lain. Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya mengembalikan seluruh biaya penelitian yang sudah diterima ke kas STIKES Rumah Sakit Anwar Medika.

 

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sesungguhnya dan dengan sebenar-benarnya.

 

Sidoarjo, 1 Desember 2019

Mengetahui,                                                                            Yang menyatakan,

Ketua Program Studi S1 Farmasi                                                       

 

 

(Yani Ambari, S.Farm.,M.Farm.,Apt)                        (Arista Wahyu N,S.Farm.,M.Si.,Apt)

NIDN. 0703018705                                                    NIDN. 0701048902

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...