KATA
PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa
yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya. Alhamdulillah kami ucapkan
atas limpahan rahmat serta karunianya sehingga makalah yang berjudul
“MENYUNTING NASKAH” dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
Kami sangat berharap agar makalah ini
dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang
menyunting naskah. Tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yng
telah membantu kami dalam penyelesaian makalah ini sehingga selesai tepat pada
waktunya.
Makalah ini kami akui masih banyak
kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu,
kami harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Surabaya,
25 November 2020
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
- JUDUL………………………………………………………………….…i
- KATA
PENGANTAR…………………………………………………....ii
- DAFTAR
ISI………………………………………………………….…..iii
- BAB I
PENDAHULUAN…………………………………………………1
A. Latar
Belakang………………………………………………..………..1
B. Rumusan
Masalah……………………………………………………...1
C. Tujuan
Penulisan………………………………………………….……1
- BAB II
PEMBAHASAN………………………………………….………2
A. Pengertian
Penyuntingan……………………………………….………2
B. Ketentuan
Penyuntingan Naskah……………………………………….2
C. Evaluasi
Naskah………………………………………………………..4
D. Hakikat
Menyunting……………………………………………………5
E. Strategi
Menyunting……………………………………………………6
F. Langlah-langkah
Menyunting………………………………………….7
- BAB III PENUTUP……………………………………………………….8
A. Kesimpulan…………………………………………………………….8
- DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………..9
iii
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar
Belakang
Penyuntingan telah ada
dalam dunia penerbitan buku di Indonesia sejak 1890 (dikerjakan oleh orang non
pribumi, yaitu oleh orang Belanda dan Tionghoa). Pendidikan
Editing/penyuntingan di Indonesia, setingkat D3 baru dimulai tahun 80 an yaitu,
program studi editing D3 di Universitas Padjajaran, Bandung dan Program Studi
penerbitan D3 di Politeknik Negeri Jakarta, dimulai tahun 1990 awal berdirinya
Poltek jurusan ini (dahulu bernama Politeknik Universitas Indonesia).
Dengan demikian,
editor-editor yang sampai saat ini menggeluti dunia penerbitan buku nasional,
mungkin berbekal pengalaman dan autodidak, karena memang belum memasyarakatnya
pendidikan tinggi editing (terutama sampai jenjang S1, S2, bahkan S3). Bekerja
menjadi editor, mungkin tidak dicita-citakan atau direncanakan sebelumnya,
selain itu profesi editor juga belum mendapatkan perhatian dari pihak penerbit buku.
Fungsi seorang
penyunting tidak berhenti pada perbaikan ejaan dan tata kalimat, tapi juga
berperan untuk memastikan apakah ide penulis sampai ke pembaca secara utuh,
tidak kurang tidak lebih. Dan benar, dalam arti bersesuaian dengan fakta.
- Rumusan
Masalah
1.
Apa
yang dimaksud dengan penyuntingan (editing)?
2.
Syarat
apa saja yang harus dimiliki untuk menjadi seorang penyunting?
3.
Mengapa
sebelum menyunting karangan perlu dilakukan evaluasi?
4.
Bagaimana
hakikat, strategi, dan langkah-langkah menyunting?
- Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui apa itu penyuntingan
2.
Untuk
mengetahui syarat-syarat menjadi seorang penyunting
3.
Untuk
mengetahui kenapa perlu dilakukan evaluasi sebelum menyunting
4.
Untuk
mengetahui hakikat, strategi, dan langkah-langkah menyunting
1
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian
Penyuntingan
Menurut KBBI (2007:1106)
definisi penyuntingan adalah proses, cara, perbuatan menyunting atau
sunting-menyunting. Sedangkan definisi menyunting adalah (1) menyiapkan naskah
siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi sistematika penyajian,
isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat). (2)
merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah). (3) menyusun
atau merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong- motong dan memasang
kembali.
Penyuntingan (editing)
pada dasarnya merupakan kegiatan untunk memperbaiki tulisan atau karangan agar
karangan yang disusun mejadi lebih baik. Kegiatan penyuntingan ini dilakukan
setelah kegiatan penulisan selesai. Kegiatan penyuntingan penting sekali dalam
kegiatan tulis-menulis khusunya untuk meningkatkan mutu tulisan.
- Ketentuan
Penyuntingan Naskah
Untuk menjadi
penyunting naskah ada
beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi oleh seseorang. Persyaratan itu meliputi penguasaan ejaan
bahasa Indonesia, penguasaan tata bahasa Indonesia, ketelitian dan kesabaran,
kemampuan menulis, keluwesan, penguasaan salah satu bidang keilmuan,
pengetahuan yang luas dan kepekaan bahasa.
1.
Menguasai
ejaan
Harus paham benar ejaan
bahasa Indonesia yang baku saat ini. Penggunaan huruf kecil dan huruf kapital,
pemenggalan kata, dan penggunaan tanda-tanda baca (titik, koma, dan lain-lain)
harus dipahami benar. Bagaimana bisa memperbaiki naskah orang lain jika tidak
memahami seluk beluk ejaan bahasa Indonesia.
2.
Menguasai
tata bahasa
Seorang editor harus
menguasai bahasa Indonesia dalam arti luas, tahu kalimat yang baik dan benar,
kalimat yang salah dan tidak benar, kata-kata yang baku, bentuk-bentuk yang
salah kaprah, pilihan kata yang pas, dan sebagainya.
2
3.
Bersahabat
dengan kamus
Seseorang yang malas
membuka kamus sebetulnya tidak cocok menjadi penyunting naskah karena ahli
bahasa sekalipun tidak mungkin menguasai semua kata ag ada dalam satu bahasa
tertentu, apalagi kalau berbicara mengenai bahasa asing.
4.
Memiliki
kepekaan bahasa
Penyunting naskah harus
tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus; harus tahu mana kata yang
perlu dihindari dan mana kata yang sebaiknya dipakai, harus tahu kapan kalimat
atau kata tertentu digunakan atau dihindari. Untuk itu seorang penyunting
naskah peru mengikuti tulisan-tulisan pakar bahasa atau kolom bahasa yang ada
di sejumlah media cetak.
5.
Memiliki
pengetahuan luas
Harus banyak membaca
buku, majalah, koran, dan menyerap informasi dari media audiovisual agar tidak
ketinggalan informasi.
6.
Memiliki
ketelitian dan kesabaran
Dalam kondisi apapun,
ketika menjalankan tugasnya seorang editor harus tetap teliti menyunting setiap
kalimat, setiap kata, dan setiap istilah yang digunakan penulis naskah. Ia juga
harus sabar menghadapi setiap naskah, karena proses editing itu memakan proses
yang berulang-ulang.
7.
Memiliki
kepekaan terhadap SARA dan Pornografi
Penyunting naskah harus
tahu kalimat yang layak cetak, kalimat yang perlu diubah konstruksinya, dan
kata yang perlu diganti dengan kata lain. Dalam hal ini seorang penyunting
harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan
(SARA).
8.
Memiliki
keluwesan
Sikap luwes dan supel
harus dimiliki seorang penyunting naskah karena akan sering berhubungan dengan
orang lain. Penyunting harus bersedia mendengarkan berbagai pertanyaan, saran,
dan keluhan. Dengan kata lain, seorang yang kaku tidaklah cocok menjadi
penyunting naskah.
9.
Memiliki
kemampuan menulis
Hal ini perlu dimiliki
seorang penyunting naskah karena kalau tidak tahu menulis kalimat yang benar
tentu kita pun akan sulit membetulkan atau
memperbaiki kalimat orang lain.
3
10.
Menguasai
bidang tertentu
Ada baiknya jika seorang
penyunting naskah menguasai salah satu bidang keilmuan tertentu karena akan
sangat membantu dalam tugasnya sehari-hari.
11.
Menguasai
bahasa asing
Dalam tugasnya, seorang
penyunting naskah akan berhadapan dengan istilah- istilah yang berasal dari
bahasa Inggris. Minimal, seorang penyunting naskah dapat menguasai bahasa
Inggris secara pasif. Artinya dapat membaca dan memahami teks bahasa Inggris.
12.
Memahami
kode etik penyuntingan naskah
Berikut beberapa kode
etik penyuntingan naskah yang ada dalam buku ini.
a. Editor wajib mencari
informasi mengenai penulis naskah.
b. Editor bukanlah
penulis naskah.
c. Wajib menghormati gaya
penulis naskah.
d. Wajib merahasiakan
informasi yang terdapat dalam naskah yang disuntingnya.
e. Wajib
mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubahnya dalam naskah.
f. Tidak bisa
menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah ditulisnya.
- Evaluasi
Naskah
Sebelum menyunting
karangan, seorang yang melakukan penyuntingan harus melakukan evalluasi
terhadap karangan. Evaluasi dilakukan untuk menetapkan atau memutuskan bagian
naskah yang perlu (1) dihilangkan, (2) ditambah, (3) diganti, (4) diubah, dan
(5) diatur kembali.
Secara umum, hasil
menyunting sangat ditentukan oleh ketajaman dalam mengadakan penilaian terhadap
naskah. Oleh sebab itu, penulis perlu memiliki kemampuan untuk melakukan
penilaian, baik pada tulisannya maupun pada tulisan orang lain.
Ada beberapa aspek
tulisan yang perlu dievaluasi antara lain :
1.
Aspek
bahasa yang digunakan dalam naskah antara lain:
a)
Diksi
(pemilihan kata)
b)
Tata
bentukan kata (kata-kata yang menyalahi aturan tata kata)
c)
Tata
istilah (perangkat peraturan pembentukan istilah dan kumpulan istilah yang
dihasilkannya).
4
d)
Penggunaan
tanda baca
e)
Penggunaan
huruf
f)
Efektivitas
kalimat yang digunakan
2.
Aspek
organisasi naskah yang meliputi :
a)
Penataan
ide
b)
Keutuhan
c)
Kesempurnaan
d)
Kelengkapan
ide
e)
Kebaruan
pengungkapan ide
f)
Koherensi
dan kohesi
g)
Daya
penulisan
3.
Aspek
isi yang perlu dievaluasi
a)
Catatan
Notes ide
b)
Kesesuaian
ide dengan tujuan,pembaca sasaran, dan media yang digunakan
c)
ketepatan
atau validitas ide
d)
Kesesuaian
bentuk-bentuk visual (misalnya grafik, gambar, dan bagan) yang digunakan
e)
Ketepatan,
kecukupan, ketelitihan, kepentingan ide penjelas
f)
Keluasan,
kedalaman, dan kebermanfaatan ide yang dikemukakan
4.
Hakikat
Menyunting
Menyunting karangan
dapat diartikan sebagai usaha untuk mengubah pikiran yang telah tertuang dalam
kertas. Pengubahan pikiran itu dilakukan berdasarkan pertimbangan atau
pandangan penulis saat itu. Perubahan yang dilakukan dapat bersifat menyeluruh
dan bersifat sebagian. Perubahan itu dilakukan dengan memikirkan kembali dan
menata kembali bagian-bagian tulisan.
Kegiatan penyunting pada
umumnya adalah mengevaluasi tulisan, kemudian diikuti dengan
pengubahan-pengubahan bagian tulisan. Namun, perlu diingat bahwa menggunakan
tenaga penyunting berarti menimbulkan ketergantungan pada orang lain.
Hendaknya, para penulis tidak tergantung pada orang lain. Orang yang mengetahui
seluk beluk tulisan itu adalah penulis.
5
Oleh sebab itu,
penulislah yang sebaiknya menyunting tulisannya. Penyuntingan yang dilakukan
oleh orang lain sering tidak sesuai dengan harapan penulisnya, khususnya untuk
tulisan fiksi. Suasana tulisan sering dapat rusak apabila penyunting tidak
memahami suasana batin penulis ketika menuangkan pikirannya dalam tulisannnya
tersebut.
5.
Strategi
Menyunting
Ada empat cara dalam
menyunting naskah.
1.
Revisi
yang dilakukan dengan menghilangkan bagian-bagian karangan yang tidak perlu
atau perlu.
2.
Revisi
yang dilakukan dengan menambah bagian-bagian karangan yang dirasakan kurang
memadai.
3.
Mengganti
bagian karangan yang dinilai kurang baik.
4.
Mengatur
kembali bagian-bagian karangan yang perlu diatur lagi.
Cara-cara itu dapat
menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada tulisan kasar.
Beberapa
penulis pada waktu penyuntingan didahului dengan membaca selintas tulisannya,
kemudian memberi tanda-tanda pada bagian yang terasa tidak memuaskan. Dengan
demikian, dapat dismpulkan bahwa menyunting merupakan bagian dari kiat menulis
dan setiap penulis mempunyai kiat yang berbeda-beda.
Para
penulis profesional biasanya melakukan penyuntingan dengan terencana, mereka
menyunting dengan dilakukan secara bertahap dan berulang-ulang. Biasanya,
mereka menyunting dengan menggunakan empat tahap. Tiap-tiap tahap itu
dibicarakan dibagian setelah pembahasan ini berakhir. Selanjutnya, banyaknya
pengulangan tergantung pada pertimbangan yang digunakan penulis.
Selanjutnya, cara yang
digunakan menyunting sangat bergantung pada penilaian terhadap karangan.
Seorang penulis hendaknya memilih strategi penyuntingan sesuai dengan hasil
penetapan dalam penilaian karangan. Akan tetapi, banyak sekali dijumpai perbedaan
cara dalam melakukan penyuntingan. Secara umum, penghilangan dilakukan apabila
dalam karangan ada bagian yang tidak penting dan tidak mempunyai manfaat dalam
membangun karangan. Selanjutnya, menambah dilakukan apabila paragraf tersebut
masih terasa kurang sempurna sehingga perlu mendapat penambahan. Penambahan
hendaknya tetap berdasarkan ide yang telah dinyatakan. Sedangkan, penggantian
dilakukan apabila, paragaraf yang disunting mengandung unsur-unsur yang sesuai
dengan yang diharapkan.
6
6.
Langkah-langkah
Menyunting
Tahap dalam menyunting
karangan ada lima langkah. Langkah-langkah itu diuraikan sebagai berikut:
1.
Menyunting
isi
Hal ini dilakukan karena
isi itu menentukan bahasa yang digunakan dalam karangan. Secara umum menyunting
isi ditujukan pada ide pokok dan penjelas.
2.
Menyunting
organisasi
Kegiataan penyuntingan
pada langkah ini untuk mengatur kembali ide agar membentuk paragraf yang baik.
3.
Menyunting
unsur bahasa
Kegiatan penyuntingan
ini dilakukan pada naskah yang telah disunting pada tahap pertama dan kedua.
4.
Pengecekan
akhir
Setelah aspek isi,
organisasi, dan kebahasaan disunting, penulis hendaknya memeriksa kembali aspek
itu untuk menemukan kemungkinan kekurangan atau kesalahan. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang telah disunting
sebelumnya.
5.
Penulisan
akhir
Penulisan akhir pada
dasarnya mengetik ulang hasil pengecekan akhir dengan mempertimbangkan berbagai
persyaratan yang dituntut, misalnya ukuran kertas, spasi, bentuk huruf.
7
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Menyunting pada
prinsipnya adalah proses memperbaiki naskah yang telah ditulis. Proses itu
didahului dengan kegiatan penilaian terhadap komponen karangan yang meliputi
isi, organisasi, dan bahasa. Dalam menyunting, ada empat strategi yang
dilakukan. Pertama, revisi yang dilakukan dengan menghilangkan bagian-bagian
karangan yang tidak penting. Kedua, revisi yang dilakukan dengan menambah
bagian-bagian karangan yang dirasakan kurang memadai. Ketiga, mngganti bagian
karangan yang dinilai kurang baik. Keempat, mengatur kembali bagian-bagian
karangan yang perlu diatur lagi.
8
DAFTAR
PUSTAKA
Rani, Abdul. dan
Martutik. 2013. Menulis Dasar dan Berbasis Tugas.Malang.: Surya Pena Gemilang
http: //adtyabisnisonline.blogspot.co.id/2013/06/penyutingan-naskah.html
\
http://abasawatawalla01.blogspot.co.id/2012/12/penyuntingan-naskah.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar