1. PROBLEMATIKA TEORI
Sosiologi sastra mempunyai
perspektif jika di dalam karya sastra terdapat kenyataan yang merujuk pada
dunia di luar sastra. Sehingga penelitian sosiologi melibatkan dua disiplin
ilmu yakni ilmu sosiologi (ilmu yang mempelajari hubungan manusia sesama
manusia) dan ilmu sastra. Kuncinya terletak pada sejauh mana kenyataan yang
terdapat pada kenyataan digambarkan oleh karya sastra. Hal ini senada dengan
pendapat Teeuw yang menyatakan jika sastra tak lahir dari kekosongan budaya.
Sastra lahir dari imajinasi
pengarang terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Sehingga mustahil tanpa
adanya konteks sosial maka sebuah sastra akan lahir. Sehingga agak bijak bila
kita kemudian tak mengabaikan konteks sosial ini. Tapi sebelum itu kita harus
menyadari jika sastra merupakan salah satu jenis seni yang bermedium bahasa.
Sehingga kita terlebih dulu menghadapi bahasa ketika berhadapan dengan sastra.
Bahasa sastra menurut Lotman adalah bahasa tingkat kedua. Yang berarti jika
bahasa sastra mempunyai konvensi berbeda dengan bahasa sehari hari yang
digunakan. Kita tak akan mengartikan ”aku ini binatang jalang” sebagaimana arti
sesungguhnya bila menhadapi sajak Charil Anwar. Keambiguan inilah merupakan
ciri khas bahasa sastra.
Namun demikian, ada konsep awal yang
perlu kita pahami untuk mengkontrusi cara berpikir kita bila berhadapan dengan
sastra, yakni konvensi kesastraan itu sendiri. Bila kita memegang novel, kita
pasti tahu bila apa yang akan kita baca merupakan kejadian yang tak pernah
terjadi atau setidaknya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum apa yang
terjadi di dalamnya (kevalidannya). Hal ini berbeda bila memegang buku sejarah,
sains dan sebagainya. Inilah konvensi kesastraan, karena seperti di awal, jika
sastra merupakan imajinasi, pergulatan batin pengarang dengan permasalahn yang
dihadapinya. Oleh karena itu Luxemberg dkk, berbicara perihal fiksionalitis
sebagai ciri sastra.
ketiga konvensi itulah yang menjadi
problematik penelitian sosiologi sastra. Karena kenyataan yang ada dalam karya
sastra merupakan kenyataan yang berdiri sendiri dengan konteks soialnya
2. SEJARAH
TEORI
Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa
karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a
salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan
empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh
masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam
masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki
keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan
sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan
masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi
sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan
istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat
sebagai 'cermin'.
Pengertian mimesis (Yunani:
perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang
seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari
abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa
(Van Luxemburg, 1986:15).
Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan
suatu ide pasti (semacam gambar induk). Jika seorang tukang membuat sebuah
kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia Ide-ide.
Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyataan yang
kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni pada umumnya
hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang 'kenyataan' (yang juga hanya
tiruan dari 'Kenyataan Yang Sebenarnya') sehingga tetap jauh dari 'kebenaran'.
Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman karena
seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.
Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni
menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata
menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang baru karena
'kenyataan' itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang
kenyataan. Jadi sastra bukan lagi copy (jiblakan) atas copy (kenyataan)
melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai
"universalia" (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang wujudnya
kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun suatu gambaran yang dapat
kita pahami, karena menampilkan kodrat manusia dan kebenaran universal yang
berlaku pada segala jaman.
Levin
(1973:56-60) mengungkapkan bahwa konsep 'mimesis' itu mulai dihidupkan kembali
pada zaman humanisme Renaissance dan nasionalisme Romantik. Humanisme
Renaissance sudah berupaya menghilangkan perdebatan prinsipial antara
sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa masing-masing
kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis
dalam jamannya. Dasar pembayangan historis ini telah dikembangkan pula dalam
zaman nasionalisme Romantik, yang secara khusus meneliti dan
menghidupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai negara dengan suatu
perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada
zaman berikutnya, yakni positivisme ilmiah.
Pada zaman positivisme ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra
terpenting: Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus
naturalis Perancis, yang sering dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi
sastra modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang
sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam
ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya History of English Literature (1863)
dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga faktor,
yakni ras, saat (momen), dan lingkungan (milieu). Bila kita
mengetahui fakta tentang ras, lingkungan dan momen, maka kita dapat memahami
iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta
karyanya. Menurut dia faktor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental
(pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni. Adapun ras itu
apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya. Saat (momen) ialah
situasi sosial-politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan
alam, iklim, dan sosial. Konsep Taine mengenai milieu inilah yang kemudian
menjadi mata rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu sosial.
Pandangan Taine, terutama yang dituangkannya dalam buku Sejarah
Kesusastraan Inggris, oleh pembaca kontemporer asal Swiss, Amiel, dianggap
membuka cakrawala pemahaman baru yang berbeda dan cakrawala anatomis kaku (strukruralisme)
yang berkembang waktu itu. Bagi Amiel, buku Taine ini membawa aroma baru yang
segar bagi model kesusastraan Amerika di masa depan. Sambutan yang hangat
terutama datang dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara khusus
telah menyerang anggapan yang berlaku pada masa itu bahwa karya sastra
seolah-olah merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert,
sekalipun segi-segi sosial tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar
bagi kita untuk mengingkari keberadaannya. Faktor lingkungan historis ini
sering kali mendapat kritik dari golongan yang percaya pada 'misteri' (ilham).
Menurut Taine, hal-hal yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat dijelaskan
dari lingkungan sosial asal misteri itu. Sekalipun penjelasan Taine ini
memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang
sangat positivistik, namun telah menjadi pemicu perkembangan pemikiran
intelektual di kemudian hari dalam merumuskan disiplin sosiologi sastra.
3.
KONSEP SOSIOLOGI SASTRA
Dalam wacana
studi sastra, sosiologi
sastra sering kali didefinisikan
sebagai salah satu pendekatan dalam
kajian sastra yang
memahami dan menilai karya
sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan (sosial)
(Damono, 1979:1).
Kalau
bertolak pada pemikiran Damono (2002:8-9). Swingewood (1972) menuraikan bahwa
sosiologi adalah studi
objektif dan ilmiah
tentang manusia dalam masyarakat;
telaah tetang lembaga dan proses sosial.
Demikian
juga yang dikemukakan oleh Pitirim Sorokin (Soerjono Sukanto,1969:24), sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh
timbal balik antara
aneka macam gejala sosial (misalnya
gejala ekonomi, gejala
keluarga, dan gejala
moral), sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari hubungan
dan pengaruh timbal balik
antara gejala sosial dengan
gejala nonsosial, dan yang terakhir, sosiologi
adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua
jenis gejala-gejala sosial lain.
Johan
Gottfried von Herder di samping dikenal
sebagai seorang kritikus, Herder juga dikenal sebagai
seorang penyair, yang termasuk dalam periode klasik sastra
Jerman (Damono, 1979:19). Gagasan pentingnya mengenai sastra yang mendasari
perkembangan sosiologi sastra adalah
pendapatnya bahwa setiap
karya sastra berakar pada suatu lingkungan sosial dan
geografis tertentu.
Perbedaan yang
ada antara keduanya
adalah bahwa sosiologi
melakukan analisis ilmiah yang
objektif, sedangkan sastra
menyusup menembus permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan
cara-cara manusia menghayati masyarakat serta perasaannya. Seandainya ada dua
orang novelis menulis tentang suatu masyarakat yang sama, hasilnya cenderung
berbeda sebab cara manusia menghayati masyarakat dengan perasaannya
itu berbeda-beda menurut pandangan orang-seorang. Kondisi ini tentu akan menantang sosiologi
sastra, agar mampu meramu sekian
perbedaan menjadi temuan yang relevan.
Karena persamaan
objek yang digarap,
wajarlah kalau ada
pengamat yang meramalkan bahwa
pada akhirnya nanti sosiologi akan menggeser kedudukan sastra. Pandangan ini,
tentu saja tidak selalu tepat. Pandangan serupa itu rupanya didorong oleh
pesatnya perkembangan sosiologi sebagai disiplin ilmu di abad ini, di samping
adanya ramalan kematian
novel sebagai bentuk
sastra. Ramalan, menurut
hemat saya silakan saja, namun yang terpenting, dari keterkaitan sastra
dan sosiologi paling tidak dapat dipetik
manfaat: (1) sosiolog dapat memanfaatkan
data sastra, sebagai kelengkapan studi
tentang manusia, terutama
manusia imajinatif, (2) sastra
dapat menyerap gagasan sosial,
untuk menelusuri liku-liku
hidup bermasyarakat, yang dibayangkan sastrawan.
Sosiologi
sastra, yang memahami fenomena sastra
dalam hubungannya dengan
aspek sosial, merupakan pendekatan
atau cara membaca
dan memahami sastra yang
bersifat interdisipliner. Swingewood (1972)
menguraikan bahwa sosiologi merupakan
studi yang ilmiah
dan objektif mengenai manusia
dalam masyarakat, studi
mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial. Sosiologi berusaha menjawab
pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat
dimungkinkan, bagaimana cara
kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup.
Apa yang
diuraikan oleh Swingewood
tersebut tidak jauh berbeda
dengan definisi mengenai sosiologi yang dikemukakan oleh Soerjono
Sukanto (1970), bahwa sosiologi adalah
ilmu yang memusatkan
perhatian pada segi-segi
kemasyarakatan yang bersifat umum
dan berusaha untuk
mendapatkan pola-pola umum kehidupan
masyarakat. Demikian juga yang dikemukakan oleh
Pitirim Sorokin (Soerjono
Sukanto,1969:24), sosiologi
adalah ilmu yang
mempelajari hubungan dan pengaruh
timbal balik antara
aneka macam gejala sosial
(misalnya gejala ekonomi,
gejala keluarga, dan gejala
moral), sosiologi adalah
ilmu yang mempelajari hubungan
dan pengaruh timbal balik
antara gejala sosial
dengan gejala nonsosial,dan
yang terakhir, sosiologi
adalah ilmu yang
mempelajari ciri-ciri umum
semua jenis gejala-gejala sosial lain.
Baik sosiologi
maupun sastra memiliki
objek kajian yang sama, yaitu
manusia dalam masyarakat, memahami hubungan-hubungan antarmanusia
dan proses yang timbul
dari hubungan-hubungan tersebut
di dalam masyarakat.
Bedanya, kalau sosiologi melakukan telaah
objektif dan ilmiah tentang manusia
dan masyarakat, telaah
tentang lembaga dan proses
sosial, mencari tahu
bagaimana masyarakat
dimungkinkan, bagaimana ia
berlangsung, dan bagaimana
ia tetap ada;
maka sastra menyusup,
menembus permukaan kehidupan
sosial dan menunjukkan
cara-cara manusia menghayati
masyarakat dengan
perasaannya, melakukan telaah
secara subjektif dan personal (Damono,1979).
Swingewood (1972)
memandang adanya dua corak
penyelidikan sosiologi yang
mengunakan data sastra. Yang
pertama, penyelidikan yang
bermula dari lingkungan sosial untuk masuk kepada hubungan sastra dengan
faktor di luar sastra yang terbayang dalam
karya sastra. Oleh
Swingewood, cara seperti ini
disebut sociology of
literature (sosiologi sastra).
Penyelidikan ini melihat
faktor-faktor sosial yang menghasilkan karya
sastra pada masa
dan masyarakat tertentu.
Kedua, penyelidikan yang menghubungkan
struktur karya sastra
kepada genre dan masyarakat tertentu.
Cara kedua ini
dinamakan literary of sociology(sosiologi sastra).
Dalam paradigma
studi sastra, sosiologi
sastra, terutama sosiologi karya
sastra, dianggap sebagai perkembangan dari
pendekatan mimetik, yang dikemukakan Plato,
yang memahami karya
sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Pandangan
tersebut dilatarbelakangi oleh
fakta bahwa keberadaan karya sastra tidak
dapat terlepas dari
realitas sosial yang
terjadi dalam masyarakat. Seperti yang
pernah dikemukakan oleh
Sapardi Djoko Damono
(1979), salah seorang ilmuwan
yang mengembangkan pendekatan sosiologi sastra
di Indonesia, bahwa
karya sastra tidak jatuh
begitu saja dari
langit, tetapi selalu
ada hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat.
Menurut Ratna (2003 : 2) ada sejumlah
definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka
menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain:
1.
Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek kemasyarakatannya.
2.
Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan
yang terkandung didalamnya.
3.
Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang
melatar belakanginya.
4.
Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan
masyarakat.
5.
Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdependensi antara sastra
dengan masyarakat.
Pendekatan
sosiologi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai berapa jauh
nilai sastra berkaita dengan nilai sosial?”, dan “Sampai berapa jauh nilai
sastra dipengaruhi nilai sosial?”, ada tiga hal yang harus diperhatikan.
a. Sudut
pandang yang menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau
nabi.
b. Sudut pandang
lain yang menganggap bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka.
c. Sudut
pandang kompromistis. (Damono, 1978).
Secara
epitesmologis dapat dikatakan tidak mungkin untuk membangun suatu sosiologi
sastra secara general yang meliputi pendekatan yang dikemukakan itu. Dalam
penelitian tentang puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono, konsep
sosiologi sastra sendiri menggunakan pendekatan sastra sebagai cermin
masyarakat. Hal ini akan digunakan untuk menjelaskan sejauh mana pengarang
dapat mewakili dan menggambarkan seluruh masyarakat dalam karyanya.
Karya sastra
menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh
terhadapa masyarakat (Semi, 1990: 73). Sastra dapat dikatakan sebagai cerminan
masyarakat, tetapi tidak berarti masyarakat seluruhnya tergambarkan dalam
sastra, yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum
ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai
mikrokosmos sosial, seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat
jelata, dan sebagainya.
Sastra
sebagai cerminan kehidupan masyarakat, sebenarnya erat kaitannya dengan
kedudukan pengarang sebagai anggota masyarakat. Sehingga secara langsung atau
tidak langsung daya khayalnya dipengaruhi oleh pengalaman manusiawinya dalam
lingkungan hidup. Pengarang hidup dan berelasi dengan orang lain di dalam
komunitas masyarakatnya, maka tidaklah heran apabila terjadi interaksi dan
interelasi antara pengarang dan masyarakat.
Lebih lanjut
dikatakan bahwa hubungan antara sastra dan masyarakat dapat diteliti dengan
cara:
1.
Faktor – faktor di luar teks, gejala kontek sastra,
teks itu tidak ditinjau. Penelitian ini menfokuskan pada kedudukan pengarang
dalam masyarakat, pembaca, penerbitan dan seterusnya. Faktor-faktor konteks ini
dipelajari oleh sosiologi sastra empiris yang tidak dipelajari, yang tidak
menggunakan pendekatan ilmu sastra.
2.
Hal-hal yang bersangkutan dengan sastra diberi aturan
dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu sosiologi. Tentu
saja ilmu sastra dapat mempergunakan hasil sosiologi sastra, khususnya bila
ingin meniti persepsi para pembaca.
3.
Hubungan antara (aspek-aspek ) teks sastra dan
susunan masyarakat sejauh mana system masyarakat serta jaringan sosial dan
karyanya, melainkan juga menilai pandangan pengarang.
Menurut Ratna (2003: 332) ada beberapa hal yang harus
dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan
dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai
berikut:
1.
Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh
tukang cerita, disalin oleh penyalin, dan ketiganya adalah anggota masyarakat.
2.
Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap
aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga
di fungsikan oleh masyarakat.
3.
Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam
melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah
kemasyarakatan.
4.
Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat
dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan
juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek
tersebut.
5.
Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat
intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat
dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif. Pertama,
perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah
refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif
biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan
berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga,
perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap
teks sastra.
Tiga Sudut Pandang Perspektif
1.
Perspektif karya sastra, artinya peneliti menganalisi
karya sastra sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya.
2.
Perspektif pengarang yakni, peneliti menganalisis
pengarang, persoalan-persoalan yang berhubungan dengan sejarah kehidupan
pengarang dan latar belakang sosialnya yang bisa mempengaruhi pengarang dan isi
karya sastranya.
3.
Perspektif pembaca, yakni penelitian menganalisis
penerimaan masyarakat terhadap teks sastra dan pengaruh sosial karya sastra.
6.
SOSIOLOGI SASTRA SEBAGAI SUATU PENDEKATAN
Pengantar
Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki
paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang
telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.
Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya
sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki
keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam
masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56). Sebagai suatu bidang
teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan
dalam menangani objek sasarannya.
Istilah
"sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para
kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara
pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi
ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang
bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi
oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178).
Sekalipun teori sosiologis sastra sudah diketengahkan orang sejak sebelum
Masehi, dalam disiplin ilmu sastra, teori sosiologi sastra merupakan suatu
bidang ilmu yang tergolong masih cukup muda (Damono, 1977:3) berkaitan dengan
kemantapan dan kemapanan teori ini dalam mengembangkan alat-alat analisis
sastra yang relatif masih lahil dibandingkan dengan teori sastra berdasarkan
prinsip otonomi sastra.
7.
OBJEK KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
Dalam
sebuah kajian, hal penting yang harus diperhatikan adanya wujud karya sastra
sebagai teks yang dikaji. Oleh karena itu dalam sosiologi sastra ini perlu
untuk dikemukakan wujud karya sastra yang dapat dijadikan sebagai objek kajian.
Objek kajian sosiologi sastra mencakup
tiga bidang kajian, yakni (1) sastra tulis, (2) sastra lisan, dan (3) kesenian.
Wujud sastra tulis dapat berupa (a) puisi, (b) cerpen, (c) novel, (d) drama.
Sastra lisan adalah karya sastra yang terekspresikan lewat bahasa lisan. Wujud
sastra lisan dapat berupa (a) nyayian rakyat, (b) legenda, (c) fabel, (d)
mite/mitos, (e) sage/epos, (f) pujian. Bidang kesenian merupakan bidang sastra
yang mengacu pada sebuah pertunjukan kesenian. Oleh karena itu, yang termasuk
dalam bidang kajian kesenian mencakup (a) wayang kulit, (b) wayang jemblung,
(c) wayang wong, (d) wayang krucil, (e) wayang beber, (f) ketoprak, (g) hadrah,
(i) kesenian khas daerah, (j) sandiwara TV, (k) film TV.
8. BIDANG KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA
8.1 Wellek & Werren
1. Sosiologi
pengarang adalah memasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain
yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra, atau menjadikan latar
sosial kemasyarakatan pengarang sebagai salah satu faktor yang dipergunakan
untuk menilai karya sastra
2. Sosiologi
karya sastra adalah memasalahkan apa yang tersirat dan apa yang menjadi tujuan
karya sastra
3. Sosiologi
pembaca dan pengaruh sosial karya sastra adalah memasalahkan seberapa jauh
karya sastra itu memiliki pengaruh terhadap masyarakat, khususnya pembacanya,
dan seberapa jauh pembaca, masyarakat itu, terpengaruh oleh karya sastra yang
dibacanya.
Penjelasan Wellek dan Warren (1956:
84, 1990: 111) sosiologi sastra sebagai berikut :
1) Sosiologi pengarang, profesi
pengarang, dan institusi sastra, masalah yang berkaitan disini adalah dasar
ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial status pengarang, dan idiologi
pengarang yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang diluar karya sastra,
karena setiap pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai
makhluk sosial. Biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi studi ini juga
dapat meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi
tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki peran
dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang (Wellek dan Warren, 1990: 112)
2) Sosiologi karya sastra yang
memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa
yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan
yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial
sebagai potret kenyataan sosial. (Wellek dan Warren, 1990: 122) Beranggapan
dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi
Inggris yang pertama) bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri
zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat,
buku sumber sejarah peradaban.
3) Sosiologi sastra yang memasalahkan
pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi
masyarakat, seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak
orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkan dalam
kehidupannya.
8.2
Ian Watt
1. Konteks
sosial pengarang adalah berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dan
kaitannya dengan masyarakat pembaca
2. Sastra
sebagai cermin masyarakat adalah sampai sejauh mana sastra dapat dianggap
mencerminkan keadaan masyarakat
3. Fungsi
sosial sastra adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai
sosial dan sampai seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi oleh nilai sosial
Penjelasan Klasifikasi Wellek dan
Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989 : 3-4) yang
meliputi hal-hal berikut:
1) Konteks
Sosial Pengarang
Ada kaitannya dengan posisi sosial
sastrawan dalam masyarakat, dan kaitannya dengan masyarakat, pembaca termasuk
juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya, yang
terutama harus diteliti yang berkaitan dengan:
a. Bagaimana pengarang mendapat mata
pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari penganyoman masyarakat secara
langsung, atau pekerjaan yang lainnya;
b. Profesionalisme dalam
kepengaragannya; dan
c. Masyarakat apa yang dituju oleh
pengarang.
2) Sastra Sebagai Cermin Masyarakat
Maksudnya seberapa jauh sastra dapat
dianggap cermin keadaan masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih
kabur, karena itu, banyak disalah tafsirkan dan disalah gunakan. Yang harus
diperhatikan dalam klasifikasi sastra sebagai cermin masyarakat adalah :
a. Sastra mungkin tidak dapat dikatakan
mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat
ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis;
b. Sifat “lain dari yang lain” seorang
pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam
karyanya;
c. Genre sastra sering merupakan sikap
sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh mayarakat;
d. Sastra yang berusaha untuk
menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat
dipercaya sebagai cermin masyarakat. Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak
dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan
sebagai bahan untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan
demikian, pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra
sebagai cermin masyarakat.
3) Fungsi Sosial Sastra
Maksudnya seberapa jauh nilai sastra
berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus
diperhatikan, yaitu sebagai berikut:
a. Sudut pandang ekstrim kaum Romantik
yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena
itu, sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak;
b. Sastra sebagai penghibur saja;
c. Sastra harus mengajarkan sesuatu
dengan cara menghibur.
Sosiologi
pengarang berhubungan dengan profesi pengarang dan institusi sastra.
Masalah yang dikaji antara lain dasar
ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi
pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra.
Sosiologi karya sastra mengkaji isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain
yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Sosiologi pembaca mengkaji
permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya
sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan
sosial.
Dengan fokus agak
berbeda, Ian Watt (via Damono, 1979),
juga merumuskan wilayah kajian sosiologi
sastra yang berorientasi pada pengarang, yaitu pada posisi sosial sastrawan
dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca.
Sosiologi
pengarang dapat dimaknai sebagai salah satu kajian sosiologi sastra yang
memfokuskan perhatian pada pengarang sebagai pencipta karya sastra. Dalam
sosiologi pengarang, pengarang sebagai
pencipta karya sastra dianggap merupakan makhluk sosial yang keberadaannya terikat oleh status
sosialnya dalam masyarakat, ideologi yang
dianutnya, posisinya dalam masyarakat, juga hubungannya dengan pembaca.
Dalam
penciptaan karya sastra, campur tangan penulis sangat menentukan. Realitas
yang digambarkan dalam karya sastra
ditentukan oleh pikiran penulisnya (Caute, via Junus, 1986:8). Realitas yang
digambarkan dalam karya sastra sering kali bukanlah realitas apa adanya, tetapi
realitas seperti yang diidealkan pengarang. Dalam penelitian Junus (1986:8-9)
mengenai novel-novel Indonesia, seperti
Belenggu dan Telegram, ditemukan bahwa kedua novel tersebut telah
mencampuradukkan antara imajinasi dengan
realitas. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra melalui
sosiologi pengarang membutuhkan data dan interpretasi sejumlah hal yang berhubungan
dengan pengarang.
Dari
yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren, serta Watt, di atas, maka wilayah yang
menjadi kajian sosiologi pengarang antara lain adalah meliputi:
1. status
sosial pengarang,
2. ideologi
sosial pengarang,
3. latar
belakang sosial budaya pengarang,
4. posisi
sosial pengarang dalam masyarakat,
5. masyarakat
pembaca yang dituju,
6. mata
pencaharian sastrawan (dasar ekonomi produksi sastra)
7. profesionalisme
dalam kepengarangan.
9.
Batasan Wilayah Kajian Sosiologi Sastra
Sosiologi
karya sastra adalah kajian sosiologi sastra yang mengkaji karya sastra
dalam hubungannya dengan masalah-masalah
sosial yang ada dalam masyarakat. Sosiologi sastra ini berangkat dari teori
mimesis Plato, yang menganggap sastra sebagai tiruan dari kenyataan.
Fokus
perhatian sosiologi karya sastra adalah pada isi karya sastra, tujuan, serta
hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan
dengan masalah sosial (Wellek dan Warren, 1994). Oleh Watt (via Damono, 1979:4)
sosiologi karya sastra mengkaji sastra
sebagai cermin masyarakat. Apa yang tersirat dalam karya sastra dianggap
mencerminkan atau menggambarkan kembali
realitas yang terdapat dalam masyarakat.
Beberapa
masalah yang menjadi wilayah kajian sosiologi karya sastra adalah: isi
karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain
yang tersirat dalam karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial. Di samping itu, sosiologi
karya sastra juga mengkaji sastra sebagai cermin masyarakat, sastra sebagai dokumen sosial
budaya yang mencatat kenyataan sosiobudaya
suatu masyarakat pada masa tertentu (Junus, 1986), mengkaji sastra
sebagai bias (refract) dari realitas (Harry Levin, via Junus, 1986).
Isi
karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial, dalam hal ini sering kali
dipandang sebagai dokumen sosial, atau
sebagai potret kenyataan sosial (Wellek dan Warren, 1994). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thomas
Warton (via Wellek dan Warren, 1994)
terhadap sastra Inggris, dibuktikan bahwa sastra mempunyai kemampuan
merekam ciri-ciri zamannya. Sastra menurut Warton, mampu menjadi gudang adat
istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah bangkit dan runtuhnya
semangat kesatriaan.
9.1
Sosiologi Pembaca dan Dampak Sosial Karya Sastra
Sosiologi
pembaca merupakan salah satu model kajian sosiologi sastra yang
memfokuskan perhatian kepada hubungan
antara karya sastra dengan pembaca. Hal-hal yang menjadi wilayah kajiannya
antara lain adalah permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya sastra ditentukan
atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial (Wellek dan Warren,
1994). Di samping itu, juga mengkaji fungsi sosial sastra, mengkaji sampai
berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial (Watt, via Damono,
1979).
Pembaca
merupakan audiens yang dituju oleh pengarang dalam menciptakan karya
sastranya. Dalam hubungannya dengan
masyarakat pembaca atau publiknya, menurut Wellek dan Warren (1994), seorang
sastrawan tidak hanya mengikuti selera publiknya atau pelindungnya, tetapi juga dapat menciptakan publiknya.
Menurutnya, banyak sastrawan yang melakukan
hal tersebut, misalnya penyair Coleridge. Sastrawan baru, harus
menciptakan cita rasa baru untuk dinikmati oleh publiknya.
Beberapa
sastrawan Indonesia, juga memiliki
publik yang berbeda-beda, sesuai dengan aliran sastra, gaya bahasa, serta isi
karya sastranya. Iwan Simatupang, Budi Darma, dan Putu Wijaya memiliki publik
pembaca yang berbeda dengan Umar Kayam, Ahmat Tohari, atau pun Pramudya Ananta
Toer. Karya-karya Iwan Simatupang, Budi Darma, dan Putu Wijaya yang
berkecenderungan beraliran surealistis, inkonvensional, dan penuh dengan
renungan filosofi mengenai hidup manusia
lebih sesuai untuk publik yang memiliki latar belakang intelektual perguruan tinggi dan kompetensi
sastra yang relatif tinggi. Sementara karya-karya Umar Kayam dan Ahmat Tohari yang cenderung
beraliran realisme, konvensional, bicara
mengenai masalah-masalah sosial budaya
memiliki publik lebih luas, hampir sebagian
masyarakat pembaca Indonesia dapat menikmati karya-karya mereka.
Setelah
sampai kepada pembaca, karya sastra akan dibaca, dihayati, dan dinikmati
pembaca. Dalam bukunya, Ars Poetica (tahun 14 SM), Horatius (via Teeuw,
1988:183) telah mengemukakan tugas dan fungsi seorang penyair dalam masyarakat,
yaitu dulce et utile (berguna dan
memberi nikmat atau sekaligus mengatakan hal-hal yang enak dan
berfaedah untuk kehidupan. Apa yang
dikemukakan oleh Horatius tersebut kemudian menjadi dasar perkembangan teori
pragmatik, sosiologi pembaca, dan resepsi sastra.
Dalam
hubungannya dengan fungsi sosial sastra, Ian Watt (via Damono, 1979) membedakan
adanya tiga pandangan yang berhubungan dengan fungsi sosial sastra, yaitu (1)
pandangan kaum romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya
pendeta atau nabi, sehingga sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan
perombak; (2) pandangan “seni untuk seni”, yang melihat sastra sebagai
penghibur belaka; dan (3) pandangan yang bersifat kompromis, di satu sisi sastra harus
mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.
Dalam
kajian sosiologi pembaca menurut Junus (1986:19), yang dipentingkan adalah
reaksi dan penerimaan pembaca terhadap
karya sastra tertentu, sedangkan karya
sastranya sendiri diabaikan, menjadi
periferal. Untuk melihat reaksi dan penerimaan pembaca terhadap suatu karya sastra, menurut Lowental (via Junus, 1986:19) perlu diperhatikan iklim
sosiobudaya masyarakatnya. Hal ini karena latar belakang sosial budaya
masyarakatlah yang membentuk cita rasa dan norma-norma yang digunakan pembaca
dalam menanggapi karya sastra tertentu
10.PENERAPAN TEORI SOSIOLOGI SASTRA
Langkah-langkah
dalam menganalisis menggunakan metode sosiologi sastra pertama yaitu
menganalisis unsur intrinsiknya. Analisis karya sastra dengan pendekatan apapun
tidak boleh melupakan analisis unsure intrinsiknya. Setelah dijabarkan
unsure-unsur intrinsiknya, dikaitkan permasalahan dengan menggunakan teori
sosiologi, misalnya hubungan antar individu, perubahan social dan kondisi
masyarakat sosial.
Pendekatan
sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang
besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa
sastra merupakan cermin zamannya. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah
menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu
dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya.
Pedekatan
yang dilakukan terhadap karya sastra pada dasarnya ada dua, yaitu
pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Unsur-unsur merupakan
unsur-unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra, seperti tema, alur atau
plot, perwatakan, gaya bahasa dan penokohan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik
berupa pengaruh dari luar yang terdapat dalam karya sastra itu diantaranya
sosiologi, politik, filsafat, antropologi dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini
merupakan pendukung dalam pengembangan karya sastra, dengan demikian ilmu-ilmu
tersebut erat hubungannya dengan karya sastra. Analisis aspek ekstrinsik karya
sastra ialah analisis karya sastra itu sendiri dari segi isinya, dan sepanjang
mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan dari luar karya sastra itu
sendiri.
Pendekatan
sosiologis atau pendekatan ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu
diseputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal. Yang
dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu,
sistem ekonomi, sosial, adat istiadat, dan politik. Dapat dipahami bahwa
bilamana seseorang ingin mengetahui keadaan sosiologis dari suatu masa
karya tertentu ditulis, kita memang belum tentu dapat mengenal tata
kemasyarakatan yang ada pada waktu itu, tetapi setidak-tidaknya kita dapat
mengenal tema mana yang kira-kira dominan pada waktu itu melalui pendekatan
sosiologis.
Suatu
hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologi ini adalah bahwa
walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada di
lingkungannya, namun ia belum tentu menyuarakan keinginan masyarakatnya. Dari
arti ia tidaklah mewakili atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok
masyarakat tertentu, yang pasti pengarang menyalurkan atau mewakili hati
nuraninya sendiri, dan bila ia kebetulan mengucapkan sesuatu yang bergejolak
dimasyarakat, hal ini merupakan suatu kebetulan ketajaman batinnya dapat
menangkap isyarat-isyarat tersebut. Dari berbagai pandangan di atas dapat
disimpulkan bahwa analisis sosiologi sastra bertujuan untuk memaparkan dengan
cermat fungsi dan keterkaitan antarunsur yang membangun sebuah karya sastra
dari aspek kemasyarakatan pengarang, pembaca, dan gejala sosial yang ada.
11.KAJIAN
SOSIOLOGI SASTRA DALAM ANALISIS PUISI HUJAN BULAN JUNI
Hujan Bulan Juni
tak ada
yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada
yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada
yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
1989
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Hujan dalam puisi tersebut seolah menjelma menjadi
tokoh yang begitu dekat dengan pembaca, bahkan dapat mewakili diri pembaca
sendiri, karena mungkin pembaca memiliki rasa yang sama dengan apa yang
dirasakan oleh hujan bulan Juni dalam puisi tersebut, yaitu :
1. Hujan
bulan Juni yang tabah, yang menahan dirinya (cintanya) untuk tidak turun ke
bumi karena belum waktunya. Ini
bisa diartikan sebagai seseorang yang menahan perasaannya (rindu atau cintanya)
kepada seseorang karena belum waktunya untuk
disampaikan.
2.
Hujan bulan Juni yang bijaksana, karena mampu
menahan diri dan rindunya untuk bertemu dengan bunga-bunga (yang dicintainya).
3.
Hujan bulan Juni yang arif, karena dibiarkannnya
(cintanya) yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga.
Puisi tersebut juga menggambarkan seseorang yang
memiliki rasa rindu atau cinta kepada orang lain, tetapi karena suatu hal
seseorang tersebut menjadi ragu-ragu atau merasa tidak mungkin untuk
menyampaikannya, dan mencoba untuk menghilangkan atau menghapuskan rasa yang
dimilikinya itu dan membiarkannya untuk tetap tak tersampaikan.
Bila dikaitkan dengan kenyataan sehari-hari, dari judulnya saja itu
sudah merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin. Karena bulan Juni termasuk
dalam musim kemarau, hujan tidak mungkin turun. Dan jika dilihat dari tahun
penciptaan puisinya yaitu tahun 1989, yang pada saat itu musim kemarau dan
musim hujan masih berjalan secara teratur, tidak seperti sekarang. Karena
itulah hujan harus menahan diri untuk tidak turun ke bumi. Jadi, dapat
ditafsirkan bahwa hujan bulan Juni merupakan gambaran atau pengistilahan dari
perasaan rindu atau cinta sang penyair kepada seseorang yang ditahan, yang tak
mungkin untuk disampaikan, dan membiarkannya untuk tetap tak tersampaikan.
Jika dilihat dari sisi penyairnya mungkin pada waktu itu si penyair
ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang, tetapi tidak dapat disampaikan
karena mungkin ada suatu hal yang menghalanginya untuk menyampaikan sesuatu
itu, si penyair juga berusaha untuk menghapuskan jejak-jejak perasaannya yang
ragu-ragu untuk disampaikan, dan si penyair hanya bisa menyampaikannya lewat
sebuah puisi.
Disini penyair menyampaikan sebuah pesan kepada pembaca atau masyrakat
yaitu beberapa aspek etika agar pembaca atau masyrakat diharapkan memiliki
sifat-sifat yang di ibaratkan pada puisi hujan bulan juni, yaitu sifat tabah,
bijak, dan arif dalam menghadapi segala sesuatu atau dalam mengambil suatu
keputusan.
Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 72 tahun) ialah seorang
pujangga Indonesia yang terkemuka, yang termasuk dalam sastrawan angkatan
70’an. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata yang
sederhana tapi mampu untuk membawa pembaca dalam dunianya dan seolah-olah
merasakan apa yang dirasakan olehnya, sehingga beberapa di antaranya sangat
populer.
Beberapa puisinya sangat populer dan
banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku
Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni,
Pada Suatu Hari Nanti, Akulah
si Telaga, dan Berjalan ke
Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian
disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda
Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa
karya SDD (Sapardi Djoko Damono).
Sehingga banyak puisi Sapardi yang dijadikan musikalisasi puisi yang
kemudian melahirkan beberapa album musikalisasi, salah satunya yaitu album
“Hujan Bulan Juni” (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari
sajak-sajak Sapardi Djoko Damono.
12. SIMPULAN
Sosiologi
sastra mempunyai perspektif jika di dalam karya sastra terdapat kenyataan yang
merujuk pada dunia di luar sastra. Sehingga penelitian sosiologi melibatkan dua
disiplin ilmu yakni ilmu sosiologi (ilmu yang mempelajari hubungan manusia
sesama manusia) dan ilmu sastra. Kuncinya terletak pada sejauh mana kenyataan
yang terdapat pada kenyataan digambarkan oleh karya sastra. Hal ini senada
dengan pendapat Teeuw yang menyatakan jika sastra tak lahir dari kekosongan
budaya.
Menurut Plato, setiap benda
yang berwujud mencerminkan suatu ide pasti (semacam gambar induk). Jika seorang
tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam
dunia Ide-ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya;
kenyataan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni
pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang 'kenyataan' (yang
juga hanya tiruan dari 'Kenyataan Yang Sebenarnya') sehingga tetap jauh dari
'kebenaran'. Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman
karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.
Sosiologi
sastra, yang memahami fenomena sastra
dalam hubungannya dengan
aspek sosial, merupakan pendekatan
atau cara membaca
dan memahami sastra yang
bersifat interdisipliner. menguraikan bahwa sosiologi merupakan
studi yang ilmiah
dan objektif mengenai manusia
dalam masyarakat, studi
mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial. Sosiologi berusaha menjawab
pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat
dimungkinkan, bagaimana cara
kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup.
Pengantar
Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki
paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang
telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.
Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya
sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki
keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam
masyarakat tersebut
Sosiologi
pengarang berhubungan dengan profesi pengarang dan institusi sastra.
Masalah yang dikaji antara lain dasar
ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi
pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra.
Sosiologi karya sastra mengkaji isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain
yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial. Sosiologi pembaca mengkaji
permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya
sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan
sosial.
Pedekatan
yang dilakukan terhadap karya sastra pada dasarnya ada dua, yaitu
pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Unsur-unsur merupakan
unsur-unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra, seperti tema, alur atau
plot, perwatakan, gaya bahasa dan penokohan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik
berupa pengaruh dari luar yang terdapat dalam karya sastra itu diantaranya
sosiologi, politik, filsafat, antropologi dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini
merupakan pendukung dalam pengembangan karya sastra, dengan demikian ilmu-ilmu
tersebut erat hubungannya dengan karya sastra. Analisis aspek ekstrinsik karya
sastra ialah analisis karya sastra itu sendiri dari segi isinya, dan sepanjang
mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan dari luar karya sastra itu
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Abrams,
M.H. 1981. A
Glossary of Literary
Terms. Australia, Canada, Mexico,
Singapura, United Kingdom, United
States:Heinle & Heinle
Thomson Learning.
Allen,
Pamela. 2004. Membaca
dan Membaca Lagi: Reinterpretasi Fiksi
Indonesia 1980-1996.
Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh bakdi Soemanto. Magelang:
Indonesiatera.
Anderson,
Benedict. 1993. Komunitas-komunitas Imajiner: Renungan
tentang Asal-usul dan Penyebaran Nasionalisme. Edisi Bahasa Indonesia, diterjemahkan
oleh Omi Intan Naomi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
& Insist Press.
Damono,
Sapardi Djoko. 1979.
Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar
Singkat. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa.
Faruk.
1994. Pengantar Sosiologi
Sastra: dari Strukturalisme Genetik
sampai Postmodernisme. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Junus,
Umar. 1986. Sosiologi
Sastra: Persoalan Teori dan
Metode. Kualalumpur: Dewan
Bahasa dan Pustaka Kementerian
Pelajaran Malaysia.
Luxemburg,
Jan Van. dkk.
1984. Pengantar Ilmu Sastra.
Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh
Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Rosidi,
Ajip. 1969. Ikhtisar
Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Bina Cipta.
Teeuw,
A. 1984. Sastra
dan Ilmu Sastra:
Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Wellek,
Rene and Austin
Warren. 1994. Teori
Kesusastraan. Diterjemahkan
dalam Bahasa Indonesia oleh
Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.
http://pakshodiq.blogspot.co.id/2010/05/problematika sosiologi sastra.html#sthash.4dmV2xER.dpuf(diakses,
11 Desember 2015)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar