Rabu, 11 Agustus 2021

SOSIOLOGI SASTRA TERBARUAN

 

1.      PROBLEMATIKA  TEORI

Sosiologi sastra mempunyai perspektif jika di dalam karya sastra terdapat kenyataan yang merujuk pada dunia di luar sastra. Sehingga penelitian sosiologi melibatkan dua disiplin ilmu yakni ilmu sosiologi (ilmu yang mempelajari hubungan manusia sesama manusia) dan ilmu sastra. Kuncinya terletak pada sejauh mana kenyataan yang terdapat pada kenyataan digambarkan oleh karya sastra. Hal ini senada dengan pendapat Teeuw yang menyatakan jika sastra tak lahir dari kekosongan budaya.

Sastra lahir dari imajinasi pengarang terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Sehingga mustahil tanpa adanya konteks sosial maka sebuah sastra akan lahir. Sehingga agak bijak bila kita kemudian tak mengabaikan konteks sosial ini. Tapi sebelum itu kita harus menyadari jika sastra merupakan salah satu jenis seni yang bermedium bahasa. Sehingga kita terlebih dulu menghadapi bahasa ketika berhadapan dengan sastra. Bahasa sastra menurut Lotman adalah bahasa tingkat kedua. Yang berarti jika bahasa sastra mempunyai konvensi berbeda dengan bahasa sehari hari yang digunakan. Kita tak akan mengartikan ”aku ini binatang jalang” sebagaimana arti sesungguhnya bila menhadapi sajak Charil Anwar. Keambiguan inilah merupakan ciri khas bahasa sastra.

Namun demikian, ada konsep awal yang perlu kita pahami untuk mengkontrusi cara berpikir kita bila berhadapan dengan sastra, yakni konvensi kesastraan itu sendiri. Bila kita memegang novel, kita pasti tahu bila apa yang akan kita baca merupakan kejadian yang tak pernah terjadi atau setidaknya tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum apa yang terjadi di dalamnya (kevalidannya). Hal ini berbeda bila memegang buku sejarah, sains dan sebagainya. Inilah konvensi kesastraan, karena seperti di awal, jika sastra merupakan imajinasi, pergulatan batin pengarang dengan permasalahn yang dihadapinya. Oleh karena itu Luxemberg dkk, berbicara perihal fiksionalitis sebagai ciri sastra.

ketiga konvensi itulah yang menjadi problematik penelitian sosiologi sastra. Karena kenyataan yang ada dalam karya sastra merupakan kenyataan yang berdiri sendiri dengan konteks soialnya

 

2. SEJARAH TEORI

 Konsep sosiologi sastra didasarkan pada dalil bahwa karya sastra ditulis oleh seorang pengarang, dan pengarang merupakan a salient being, makhluk yang mengalami sensasi-sensasi dalam kehidupan empirik masyarakatnya. Dengan demikian, sastra juga dibentuk oleh masyarakatnya, sastra berada dalam jaringan sistem dan nilai dalam masyarakatnya. Dari kesadaran ini muncul pemahaman bahwa sastra memiliki keterkaitan timbal-balik dalam derajat tertentu dengan masyarakatnya; dan sosiologi sastra berupaya meneliti pertautan antara sastra dengan kenyataan masyarakat dalam berbagai dimensinya (Soemanto, 1993). Konsep dasar sosiologi sastra sebenarnya sudah dikembangkan oleh Plato dan Aristoteles yang mengajukan istilah 'mimesis', yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai 'cermin'.

    Pengertian mimesis (Yunani: perwujudan atau peniruan) pertama kali dipergunakan dalam teori-teori tentang seni seperti dikemukakan Plato (428-348) dan Aristoteles (384-322), dan dari abad ke abad sangat memengaruhi teori-teori mengenai seni dan sastra di Eropa (Van Luxemburg, 1986:15).

 Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide pasti (semacam gambar induk). Jika seorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia Ide-ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyataan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang 'kenyataan' (yang juga hanya tiruan dari 'Kenyataan Yang Sebenarnya') sehingga tetap jauh dari 'kebenaran'. Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.

Aristoteles juga mengambil teori mimesis Plato yakni seni menggambarkan kenyataan, tetapi dia berpendapat bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan melainkan juga menciptakan sesuatu yang baru karena 'kenyataan' itu tergantung pula pada sikap kreatif orang dalam memandang kenyataan. Jadi sastra bukan lagi copy (jiblakan) atas copy (kenyataan) melainkan sebagai suatu ungkapan atau perwujudan mengenai "universalia" (konsep-konsep umum). Dari kenyataan yang wujudnya kacau, penyair memilih beberapa unsur lalu menyusun suatu gambaran yang dapat kita pahami, karena menampilkan kodrat manusia dan kebenaran universal yang berlaku pada segala jaman.

 Levin (1973:56-60) mengungkapkan bahwa konsep 'mimesis' itu mulai dihidupkan kembali pada zaman humanisme Renaissance dan nasionalisme Romantik. Humanisme Renaissance sudah berupaya menghilangkan perdebatan prinsipial antara sastra modern dan sastra kuno dengan menggariskan paham bahwa masing-masing kesusastraan itu merupakan ciptaan unik yang memiliki pembayangan historis dalam jamannya. Dasar pembayangan historis ini telah dikembangkan pula dalam zaman nasionalisme Romantik, yang secara khusus meneliti dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi asli berbagai negara dengan suatu perbandingan geografis. Kedua pandangan tersebut kemudian diwariskan kepada zaman berikutnya, yakni positivisme ilmiah.

Pada zaman positivisme ilmiah, muncul tokoh sosiologi sastra terpenting: Hippolyte Taine (1766-1817). Dia adalah seorang sejarawan kritikus naturalis Perancis, yang sering dipandang sebagai peletak dasar bagi sosiologi sastra modern. Taine ingin merumuskan sebuah pendekatan sosiologi sastra yang sepenuhnya ilmiah dengan menggunakan metode-metode seperti yang digunakan dalam ilmu alam dan pasti. Dalam bukunya History of English Literature (1863) dia menyebutkan bahwa sebuah karya sastra dapat dijelaskan menurut tiga faktor, yakni ras, saat (momen), dan lingkungan (milieu). Bila kita mengetahui fakta tentang ras, lingkungan dan momen, maka kita dapat memahami iklim rohani suatu kebudayaan yang melahirkan seorang pengarang beserta karyanya. Menurut dia faktor-faktor inilah yang menghasilkan struktur mental (pengarang) yang selanjutnya diwujudkan dalam sastra dan seni. Adapun ras itu apa yang diwarisi manusia dalam jiwa dan raganya. Saat (momen) ialah situasi sosial-politik pada suatu periode tertentu. Lingkungan meliputi keadaan alam, iklim, dan sosial. Konsep Taine mengenai milieu inilah yang kemudian menjadi mata rantai yang menghubungkan kritik sastra dengan ilmu-ilmu sosial.

Pandangan Taine, terutama yang dituangkannya dalam buku Sejarah Kesusastraan Inggris, oleh pembaca kontemporer asal Swiss, Amiel, dianggap membuka cakrawala pemahaman baru yang berbeda dan cakrawala anatomis kaku (strukruralisme) yang berkembang waktu itu. Bagi Amiel, buku Taine ini membawa aroma baru yang segar bagi model kesusastraan Amerika di masa depan. Sambutan yang hangat terutama datang dari Flaubert (1864). Dia mencatat, bahwa Taine secara khusus telah menyerang anggapan yang berlaku pada masa itu bahwa karya sastra seolah-olah merupakan meteor yang jatuh dari langit. Menurut Flaubert, sekalipun segi-segi sosial tidak diperlukan dalam pencerapan estetik, sukar bagi kita untuk mengingkari keberadaannya. Faktor lingkungan historis ini sering kali mendapat kritik dari golongan yang percaya pada 'misteri' (ilham). Menurut Taine, hal-hal yang dianggap misteri itu sebenarnya dapat dijelaskan dari lingkungan sosial asal misteri itu. Sekalipun penjelasan Taine ini memiliki kelemahan-kelemahan tertentu, khususnya dalam penjelasannya yang sangat positivistik, namun telah menjadi pemicu perkembangan pemikiran intelektual di kemudian hari dalam merumuskan disiplin sosiologi sastra.

 

 

 

 

3. KONSEP SOSIOLOGI SASTRA

Dalam  wacana  studi  sastra,  sosiologi  sastra  sering kali didefinisikan sebagai salah satu pendekatan dalam  kajian  sastra  yang  memahami  dan  menilai karya  sastra  dengan  mempertimbangkan  segi-segi kemasyarakatan  (sosial)  (Damono,  1979:1).

Kalau bertolak pada pemikiran Damono (2002:8-9). Swingewood (1972) menuraikan  bahwa  sosiologi  adalah  studi  objektif  dan  ilmiah  tentang  manusia dalam masyarakat; telaah tetang lembaga dan proses sosial.

Demikian juga yang dikemukakan oleh Pitirim Sorokin (Soerjono Sukanto,1969:24),  sosiologi  adalah  ilmu yang  mempelajari hubungan  dan pengaruh  timbal  balik  antara  aneka macam gejala  sosial  (misalnya  gejala  ekonomi, gejala keluarga,  dan  gejala  moral),  sosiologi  adalah  ilmu yang  mempelajari  hubungan  dan  pengaruh  timbal balik  antara  gejala sosial  dengan  gejala  nonsosial, dan  yang  terakhir,  sosiologi  adalah  ilmu yang  mempelajari ciri-ciri umum  semua  jenis  gejala-gejala sosial lain.

Johan Gottfried von Herder di  samping  dikenal  sebagai  seorang  kritikus, Herder juga dikenal  sebagai  seorang  penyair,  yang termasuk dalam periode klasik sastra Jerman (Damono, 1979:19). Gagasan pentingnya mengenai sastra yang  mendasari  perkembangan sosiologi  sastra  adalah  pendapatnya  bahwa  setiap  karya  sastra  berakar pada suatu lingkungan sosial dan geografis tertentu.

Perbedaan  yang  ada  antara  keduanya  adalah  bahwa  sosiologi  melakukan analisis  ilmiah  yang  objektif,  sedangkan  sastra  menyusup  menembus  permukaan kehidupan sosial dan menunjukkan cara-cara manusia menghayati masyarakat serta perasaannya. Seandainya ada dua orang novelis menulis tentang suatu masyarakat yang sama, hasilnya cenderung berbeda sebab cara manusia menghayati masyarakat dengan  perasaannya  itu  berbeda-beda  menurut pandangan  orang-seorang.  Kondisi ini tentu akan menantang sosiologi sastra, agar mampu  meramu sekian perbedaan menjadi temuan yang relevan.

Karena  persamaan  objek  yang  digarap,  wajarlah  kalau  ada  pengamat  yang meramalkan bahwa pada akhirnya nanti sosiologi akan menggeser kedudukan sastra. Pandangan ini, tentu saja tidak selalu tepat. Pandangan serupa itu rupanya didorong oleh pesatnya perkembangan sosiologi sebagai disiplin ilmu di abad ini, di samping adanya  ramalan  kematian  novel  sebagai  bentuk  sastra.  Ramalan,  menurut  hemat saya silakan saja, namun yang terpenting, dari keterkaitan sastra dan sosiologi paling tidak  dapat  dipetik  manfaat: (1) sosiolog  dapat  memanfaatkan  data  sastra,  sebagai kelengkapan  studi  tentang  manusia,  terutama  manusia  imajinatif, (2) sastra dapat menyerap  gagasan  sosial,  untuk  menelusuri  liku-liku  hidup  bermasyarakat,  yang dibayangkan sastrawan.

Sosiologi sastra, yang memahami fenomena sastra  dalam  hubungannya  dengan  aspek  sosial, merupakan  pendekatan  atau  cara  membaca  dan memahami  sastra  yang  bersifat  interdisipliner. Swingewood  (1972)  menguraikan  bahwa sosiologi  merupakan  studi  yang  ilmiah  dan  objektif mengenai  manusia  dalam  masyarakat,  studi  mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial. Sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat  dimungkinkan,  bagaimana  cara  kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup.

Apa  yang  diuraikan  oleh  Swingewood  tersebut tidak  jauh  berbeda  dengan  definisi mengenai  sosiologi yang dikemukakan oleh Soerjono Sukanto (1970), bahwa sosiologi adalah  ilmu  yang  memusatkan  perhatian  pada  segi-segi  kemasyarakatan  yang  bersifat umum  dan  berusaha  untuk  mendapatkan  pola-pola umum  kehidupan  masyarakat. Demikian  juga  yang dikemukakan  oleh  Pitirim  Sorokin  (Soerjono  Sukanto,1969:24), sosiologi  adalah  ilmu  yang  mempelajari hubungan  dan  pengaruh  timbal  balik  antara  aneka macam  gejala  sosial  (misalnya  gejala  ekonomi,  gejala keluarga,  dan  gejala  moral),  sosiologi  adalah  ilmu yang  mempelajari  hubungan  dan  pengaruh  timbal balik  antara  gejala  sosial  dengan  gejala  nonsosial,dan  yang  terakhir,  sosiologi  adalah  ilmu  yang  mempelajari  ciri-ciri  umum  semua  jenis  gejala-gejala sosial lain.

Baik  sosiologi  maupun  sastra  memiliki  objek kajian  yang sama,  yaitu  manusia  dalam  masyarakat, memahami  hubungan-hubungan  antarmanusia  dan proses  yang  timbul  dari  hubungan-hubungan  tersebut  di  dalam  masyarakat.  Bedanya,  kalau  sosiologi melakukan  telaah  objektif  dan  ilmiah tentang  manusia  dan  masyarakat,  telaah  tentang  lembaga  dan proses  sosial,  mencari  tahu  bagaimana  masyarakat dimungkinkan,  bagaimana  ia  berlangsung,  dan  bagaimana  ia  tetap  ada;  maka  sastra  menyusup,  menembus  permukaan  kehidupan  sosial  dan  menunjukkan  cara-cara  manusia  menghayati  masyarakat dengan  perasaannya,  melakukan  telaah  secara subjektif dan personal (Damono,1979).

Swingewood  (1972)  memandang  adanya  dua corak  penyelidikan  sosiologi  yang  mengunakan  data sastra.  Yang   pertama,  penyelidikan  yang  bermula dari lingkungan sosial untuk masuk kepada hubungan sastra dengan faktor di luar sastra yang terbayang dalam  karya  sastra.  Oleh  Swingewood,  cara  seperti ini  disebut  sociology  of  literature (sosiologi  sastra). Penyelidikan  ini  melihat  faktor-faktor  sosial   yang menghasilkan  karya  sastra  pada  masa  dan  masyarakat  tertentu.  Kedua,  penyelidikan yang  menghubungkan  struktur  karya  sastra  kepada  genre  dan masyarakat  tertentu.  Cara  kedua  ini  dinamakan literary of sociology(sosiologi sastra).

Dalam  paradigma  studi  sastra,  sosiologi  sastra, terutama  sosiologi  karya  sastra,  dianggap  sebagai perkembangan  dari   pendekatan  mimetik,  yang dikemukakan  Plato,  yang  memahami  karya  sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan.  Pandangan  tersebut  dilatarbelakangi  oleh  fakta  bahwa  keberadaan karya  sastra tidak  dapat  terlepas  dari  realitas  sosial  yang  terjadi dalam   masyarakat.  Seperti yang  pernah  dikemukakan  oleh  Sapardi  Djoko  Damono  (1979),  salah seorang  ilmuwan  yang  mengembangkan  pendekatan sosiologi  sastra  di  Indonesia,  bahwa  karya  sastra tidak  jatuh  begitu  saja  dari  langit,  tetapi  selalu  ada hubungan antara sastrawan, sastra, dan masyarakat.

Menurut Ratna (2003 : 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat, antara lain:

1.    Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek kemasyarakatannya.

2.    Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung didalamnya.

3.    Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatar belakanginya.

4.    Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat.

5.    Sosiologi sastra berusaha menemukan kualitas interdependensi antara sastra dengan masyarakat.

Pendekatan sosiologi berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti “sampai berapa jauh nilai sastra berkaita dengan nilai sosial?”, dan “Sampai berapa jauh nilai sastra dipengaruhi nilai sosial?”, ada tiga hal yang harus diperhatikan.

a.      Sudut pandang yang menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi.

b.      Sudut pandang lain yang menganggap bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka.

c.       Sudut pandang kompromistis. (Damono, 1978).

Secara epitesmologis dapat dikatakan tidak mungkin untuk membangun suatu sosiologi sastra secara general yang meliputi pendekatan yang dikemukakan itu. Dalam penelitian tentang puisi Hujan Bulan Juni karya Sapardi Joko Damono, konsep sosiologi sastra sendiri menggunakan pendekatan sastra sebagai cermin masyarakat. Hal ini akan digunakan untuk menjelaskan sejauh mana pengarang dapat mewakili dan menggambarkan seluruh masyarakat dalam karyanya.

 

Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadapa masyarakat (Semi, 1990: 73). Sastra dapat dikatakan sebagai cerminan masyarakat, tetapi tidak berarti masyarakat seluruhnya tergambarkan dalam sastra, yang didapat di dalamnya adalah gambaran masalah masyarakat secara umum ditinjau dari sudut lingkungan tertentu yang terbatas dan berperan sebagai mikrokosmos sosial, seperti lingkungan bangsawan, penguasa, gelandangan, rakyat jelata, dan sebagainya.

Sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat, sebenarnya erat kaitannya dengan kedudukan pengarang sebagai anggota masyarakat. Sehingga secara langsung atau tidak langsung daya khayalnya dipengaruhi oleh pengalaman manusiawinya dalam lingkungan hidup. Pengarang hidup dan berelasi dengan orang lain di dalam komunitas masyarakatnya, maka tidaklah heran apabila terjadi interaksi dan interelasi antara pengarang dan masyarakat.

Lebih lanjut dikatakan bahwa hubungan antara sastra dan masyarakat dapat diteliti dengan cara:

1.      Faktor – faktor di luar teks, gejala kontek sastra, teks itu tidak ditinjau. Penelitian ini menfokuskan pada kedudukan pengarang dalam masyarakat, pembaca, penerbitan dan seterusnya. Faktor-faktor konteks ini dipelajari oleh sosiologi sastra empiris yang tidak dipelajari, yang tidak menggunakan pendekatan ilmu sastra.

2.      Hal-hal yang bersangkutan dengan sastra diberi aturan dengan jelas, tetapi diteliti dengan metode-metode dari ilmu sosiologi. Tentu saja ilmu sastra dapat mempergunakan hasil sosiologi sastra, khususnya bila ingin meniti persepsi para pembaca.

3.      Hubungan antara  (aspek-aspek ) teks sastra dan susunan masyarakat sejauh mana system masyarakat serta jaringan sosial dan karyanya, melainkan juga menilai pandangan pengarang.

Menurut Ratna (2003: 332) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:

1.        Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, dan ketiganya adalah anggota masyarakat.

2.        Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga di fungsikan oleh masyarakat.

3.        Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan.

4.        Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.

5.        Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dikatakan bahwa sosiologi sastra dapat meneliti melalui tiga perspektif. Pertama, perspektif teks sastra, artinya peneliti menganalisisnya sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Kedua, persepektif biologis yaitu peneliti menganalisis dari sisi pengarang. Perspektif ini akan berhubungan dengan kehidupan pengarang dan latar kehidupan sosial, budayanya. Ketiga, perspektif reseptif, yaitu peneliti menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra.

Tiga Sudut Pandang Perspektif

1.      Perspektif karya sastra, artinya peneliti menganalisi karya sastra sebagai sebuah refleksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya.

2.      Perspektif pengarang yakni, peneliti menganalisis pengarang, persoalan-persoalan yang berhubungan dengan sejarah kehidupan pengarang dan latar belakang sosialnya yang bisa mempengaruhi pengarang dan isi karya sastranya.

3.      Perspektif pembaca, yakni penelitian menganalisis penerimaan masyarakat terhadap teks sastra dan pengaruh sosial karya sastra.

 

6. SOSIOLOGI SASTRA SEBAGAI SUATU PENDEKATAN

Pengantar Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56). Sebagai suatu bidang teori, maka sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.

Istilah "sosiologi sastra" dalam ilmu sastra dimaksudkan untuk menyebut para kritikus dan ahli sejarah sastra yang terutama memperhatikan hubungan antara pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, dan model pembaca yang ditujunya. Mereka memandang bahwa karya sastra (baik aspek isi maupun bentuknya) secara mudak terkondisi oleh lingkungan dan kekuatan sosial suatu periode tertentu (Abrams, 1981:178). Sekalipun teori sosiologis sastra sudah diketengahkan orang sejak sebelum Masehi, dalam disiplin ilmu sastra, teori sosiologi sastra merupakan suatu bidang ilmu yang tergolong masih cukup muda (Damono, 1977:3) berkaitan dengan kemantapan dan kemapanan teori ini dalam mengembangkan alat-alat analisis sastra yang relatif masih lahil dibandingkan dengan teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra.

 

7.      OBJEK  KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

Dalam sebuah kajian, hal penting yang harus diperhatikan adanya wujud karya sastra sebagai teks yang dikaji. Oleh karena itu dalam sosiologi sastra ini perlu untuk dikemukakan wujud karya sastra yang dapat dijadikan sebagai objek kajian.

Objek kajian sosiologi sastra mencakup tiga bidang kajian, yakni (1) sastra tulis, (2) sastra lisan, dan (3) kesenian. Wujud sastra tulis dapat berupa (a) puisi, (b) cerpen, (c) novel, (d) drama. Sastra lisan adalah karya sastra yang terekspresikan lewat bahasa lisan. Wujud sastra lisan dapat berupa (a) nyayian rakyat, (b) legenda, (c) fabel, (d) mite/mitos, (e) sage/epos, (f) pujian. Bidang kesenian merupakan bidang sastra yang mengacu pada sebuah pertunjukan kesenian. Oleh karena itu, yang termasuk dalam bidang kajian kesenian mencakup (a) wayang kulit, (b) wayang jemblung, (c) wayang wong, (d) wayang krucil, (e) wayang beber, (f) ketoprak, (g) hadrah, (i) kesenian khas daerah, (j) sandiwara TV, (k) film TV.

 

 8. BIDANG KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

 8.1 Wellek & Werren

1.   Sosiologi pengarang adalah memasalahkan status sosial, ideologi sosial, dan lain-lain yang menyangkut pengarang sebagai penghasil sastra, atau menjadikan latar sosial kemasyarakatan pengarang sebagai salah satu faktor yang dipergunakan untuk menilai karya sastra

2.   Sosiologi karya sastra adalah memasalahkan apa yang tersirat dan apa yang menjadi tujuan karya sastra

3.   Sosiologi pembaca dan pengaruh sosial karya sastra adalah memasalahkan seberapa jauh karya sastra itu memiliki pengaruh terhadap masyarakat, khususnya pembacanya, dan seberapa jauh pembaca, masyarakat itu, terpengaruh oleh karya sastra yang dibacanya.

Penjelasan Wellek dan Warren (1956: 84, 1990: 111) sosiologi sastra sebagai berikut :

1)   Sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan institusi sastra, masalah yang berkaitan disini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial status pengarang, dan idiologi pengarang yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang diluar karya sastra, karena setiap pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk sosial. Biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi studi ini juga dapat meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang (Wellek dan Warren, 1990: 112)

2)   Sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial sebagai potret kenyataan sosial. (Wellek dan Warren, 1990: 122) Beranggapan dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama) bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya sastra adalah gudang adat-istiadat, buku sumber sejarah peradaban.

3)   Sosiologi sastra yang memasalahkan pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi masyarakat, seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkan dalam kehidupannya.

8.2  Ian Watt

1.   Konteks sosial pengarang adalah berhubungan dengan posisi sosial sastrawan dan kaitannya dengan masyarakat pembaca

2.   Sastra sebagai cermin masyarakat adalah sampai sejauh mana sastra dapat dianggap mencerminkan keadaan masyarakat

3.   Fungsi sosial sastra adalah sampai seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial dan sampai seberapa jauh nilai sastra dipengaruhi oleh nilai sosial

Penjelasan Klasifikasi Wellek dan Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989 : 3-4) yang meliputi hal-hal berikut:

1)  Konteks Sosial Pengarang

Ada kaitannya dengan posisi sosial sastrawan dalam masyarakat, dan kaitannya dengan masyarakat, pembaca termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti yang berkaitan dengan:

a.       Bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari penganyoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya;

b.      Profesionalisme dalam kepengaragannya; dan

c.       Masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.

2) Sastra Sebagai Cermin Masyarakat

Maksudnya seberapa jauh sastra dapat dianggap cermin keadaan masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih kabur, karena itu, banyak disalah tafsirkan dan disalah gunakan. Yang harus diperhatikan dalam klasifikasi sastra sebagai cermin masyarakat adalah :

a.       Sastra mungkin tidak dapat dikatakan mencerminkan masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis;

b.      Sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya;

c.       Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh mayarakat;

d.      Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya sebagai cermin masyarakat. Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan sebagai bahan untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian, pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai cermin masyarakat.

3) Fungsi Sosial Sastra

Maksudnya seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu sebagai berikut:

a.    Sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu, sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak;

b.   Sastra sebagai penghibur saja;

c.    Sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.

 

Sosiologi pengarang berhubungan dengan profesi pengarang dan institusi sastra. Masalah  yang dikaji antara lain dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Sosiologi karya sastra mengkaji isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam  karya sastra  itu sendiri dan yang berkaitan dengan  masalah sosial. Sosiologi pembaca mengkaji permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.

Dengan fokus agak berbeda, Ian Watt (via  Damono, 1979), juga merumuskan wilayah kajian  sosiologi sastra yang berorientasi pada pengarang, yaitu pada posisi sosial sastrawan dalam masyarakat dan kaitannya dengan masyarakat pembaca.

Sosiologi pengarang dapat dimaknai sebagai salah satu kajian sosiologi sastra yang memfokuskan perhatian pada pengarang sebagai pencipta karya sastra. Dalam sosiologi  pengarang, pengarang sebagai pencipta karya sastra dianggap merupakan makhluk sosial  yang keberadaannya terikat oleh status sosialnya dalam masyarakat, ideologi yang  dianutnya, posisinya dalam masyarakat, juga hubungannya dengan pembaca.

Dalam penciptaan karya sastra, campur tangan penulis sangat menentukan. Realitas yang  digambarkan dalam karya sastra ditentukan oleh pikiran penulisnya (Caute, via Junus, 1986:8). Realitas yang digambarkan dalam karya sastra sering kali bukanlah realitas apa adanya, tetapi realitas seperti yang diidealkan pengarang. Dalam penelitian Junus (1986:8-9) mengenai novel-novel Indonesia,  seperti Belenggu dan Telegram, ditemukan bahwa kedua novel tersebut telah mencampuradukkan antara imajinasi dengan  realitas. Oleh karena itu, pemahaman terhadap karya sastra melalui sosiologi pengarang membutuhkan data dan interpretasi sejumlah hal yang berhubungan dengan pengarang.

Dari yang dikemukakan oleh Wellek dan Warren, serta Watt, di atas, maka wilayah yang menjadi kajian sosiologi pengarang antara lain adalah meliputi:

1.      status sosial pengarang,

2.      ideologi sosial pengarang,

3.      latar belakang sosial budaya pengarang,

4.      posisi sosial pengarang dalam masyarakat,

5.      masyarakat pembaca yang dituju,

6.      mata pencaharian sastrawan (dasar ekonomi produksi sastra)

7.      profesionalisme dalam kepengarangan.

 

9. Batasan Wilayah Kajian Sosiologi Sastra

Sosiologi karya sastra adalah kajian sosiologi sastra yang mengkaji karya sastra dalam  hubungannya dengan masalah-masalah sosial yang ada dalam masyarakat. Sosiologi sastra ini berangkat dari teori mimesis Plato, yang menganggap sastra sebagai tiruan dari kenyataan.

Fokus perhatian sosiologi karya sastra adalah pada isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitan dengan masalah sosial (Wellek dan Warren, 1994). Oleh Watt (via Damono, 1979:4) sosiologi karya sastra mengkaji sastra  sebagai cermin masyarakat. Apa yang tersirat dalam karya sastra dianggap mencerminkan  atau menggambarkan kembali realitas yang terdapat dalam masyarakat.

Beberapa masalah yang menjadi wilayah kajian sosiologi karya sastra adalah: isi karya  sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam karya sastra yang berkaitan dengan  masalah sosial. Di samping itu, sosiologi karya sastra juga mengkaji sastra sebagai cermin  masyarakat, sastra sebagai dokumen sosial budaya yang mencatat kenyataan sosiobudaya  suatu masyarakat pada masa tertentu (Junus, 1986), mengkaji sastra sebagai bias (refract) dari realitas (Harry Levin, via Junus, 1986).

Isi karya sastra yang berkaitan dengan masalah sosial, dalam hal ini sering kali dipandang  sebagai dokumen sosial, atau sebagai potret kenyataan sosial (Wellek dan Warren, 1994).  Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thomas Warton (via Wellek dan Warren, 1994)  terhadap sastra Inggris, dibuktikan bahwa sastra mempunyai kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Sastra menurut Warton, mampu menjadi gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban, terutama sejarah bangkit dan runtuhnya semangat kesatriaan.

 

9.1 Sosiologi Pembaca dan Dampak Sosial Karya Sastra

Sosiologi pembaca merupakan salah satu model kajian sosiologi sastra yang memfokuskan  perhatian kepada hubungan antara karya sastra dengan pembaca. Hal-hal yang menjadi wilayah kajiannya antara lain adalah permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra,  serta sejauh mana karya sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan  perkembangan sosial (Wellek dan Warren, 1994). Di samping itu, juga mengkaji fungsi sosial sastra, mengkaji sampai berapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai sosial (Watt, via Damono, 1979).

Pembaca merupakan audiens yang dituju oleh pengarang dalam menciptakan karya sastranya.  Dalam hubungannya dengan masyarakat pembaca atau publiknya, menurut Wellek dan Warren (1994), seorang sastrawan tidak hanya mengikuti selera publiknya atau pelindungnya,  tetapi juga dapat menciptakan publiknya. Menurutnya, banyak sastrawan yang melakukan  hal tersebut, misalnya penyair Coleridge. Sastrawan baru, harus menciptakan cita rasa baru untuk dinikmati oleh publiknya.

Beberapa sastrawan Indonesia,  juga memiliki publik yang berbeda-beda, sesuai dengan aliran sastra, gaya bahasa, serta isi karya sastranya. Iwan Simatupang, Budi Darma, dan Putu Wijaya memiliki publik pembaca yang berbeda dengan Umar Kayam, Ahmat Tohari, atau pun Pramudya Ananta Toer. Karya-karya Iwan Simatupang, Budi Darma, dan Putu Wijaya yang berkecenderungan beraliran surealistis, inkonvensional, dan penuh dengan renungan filosofi  mengenai hidup manusia lebih sesuai untuk publik yang memiliki latar belakang  intelektual perguruan tinggi dan kompetensi sastra yang relatif tinggi. Sementara karya-karya  Umar Kayam dan Ahmat Tohari yang cenderung beraliran realisme, konvensional,  bicara mengenai  masalah-masalah sosial budaya memiliki publik lebih luas, hampir sebagian  masyarakat pembaca Indonesia dapat menikmati karya-karya mereka.

Setelah sampai kepada pembaca, karya sastra akan dibaca, dihayati, dan dinikmati pembaca. Dalam bukunya, Ars Poetica (tahun 14 SM), Horatius (via Teeuw, 1988:183) telah mengemukakan tugas dan fungsi seorang penyair dalam masyarakat, yaitu dulce et utile (berguna dan  memberi nikmat atau sekaligus mengatakan hal-hal yang enak dan berfaedah  untuk kehidupan. Apa yang dikemukakan oleh Horatius tersebut kemudian menjadi dasar perkembangan teori pragmatik, sosiologi pembaca, dan resepsi sastra.

Dalam hubungannya dengan fungsi sosial sastra, Ian Watt (via Damono, 1979) membedakan adanya tiga pandangan yang berhubungan dengan fungsi sosial sastra, yaitu (1) pandangan kaum romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi, sehingga sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak; (2) pandangan “seni untuk seni”, yang melihat sastra sebagai penghibur belaka; dan (3) pandangan yang bersifat  kompromis, di satu sisi sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.

Dalam kajian sosiologi pembaca menurut Junus (1986:19), yang dipentingkan adalah reaksi  dan penerimaan pembaca terhadap karya sastra tertentu, sedangkan  karya sastranya sendiri  diabaikan, menjadi periferal. Untuk melihat reaksi dan penerimaan pembaca terhadap suatu  karya sastra, menurut Lowental (via  Junus, 1986:19) perlu diperhatikan iklim sosiobudaya masyarakatnya. Hal ini karena latar belakang sosial budaya masyarakatlah yang membentuk cita rasa dan norma-norma yang digunakan pembaca dalam menanggapi karya sastra tertentu

 

 

10.PENERAPAN TEORI SOSIOLOGI SASTRA

Langkah-langkah dalam menganalisis menggunakan metode sosiologi sastra pertama yaitu menganalisis unsur intrinsiknya. Analisis karya sastra dengan pendekatan apapun tidak boleh melupakan analisis unsure intrinsiknya. Setelah dijabarkan unsure-unsur intrinsiknya, dikaitkan permasalahan dengan menggunakan teori sosiologi, misalnya hubungan antar individu, perubahan social dan kondisi masyarakat sosial.

Pendekatan sosiologi sastra yang paling banyak dilakukan saat ini menaruh perhatian yang besar terhadap aspek dokumenter sastra dan landasannya adalah gagasan bahwa sastra merupakan cermin zamannya. Dalam hal itu tugas sosiologi sastra adalah menghubungkan pengalaman tokoh-tokoh khayal dan situasi ciptaan pengarang itu dengan keadaan sejarah yang merupakan asal usulnya.

Pedekatan yang dilakukan terhadap karya  sastra pada dasarnya ada dua, yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Unsur-unsur merupakan unsur-unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra, seperti tema, alur atau plot, perwatakan, gaya bahasa dan penokohan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik berupa pengaruh dari luar yang terdapat dalam karya sastra itu diantaranya sosiologi, politik, filsafat, antropologi dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan pendukung dalam pengembangan karya sastra, dengan demikian ilmu-ilmu tersebut erat hubungannya dengan karya sastra. Analisis aspek ekstrinsik karya sastra ialah analisis karya sastra itu sendiri dari segi isinya, dan sepanjang mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan dari luar karya sastra itu sendiri.

Pendekatan sosiologis atau pendekatan ekstrinsik biasanya mempermasalahkan sesuatu diseputar sastra dan masyarakat bersifat sempit dan eksternal. Yang dipersoalkan biasanya mengenai hubungan sastra dan situasi sosial tertentu, sistem ekonomi, sosial, adat istiadat, dan politik. Dapat dipahami bahwa bilamana seseorang  ingin mengetahui keadaan sosiologis dari suatu masa karya tertentu ditulis, kita memang belum tentu dapat mengenal tata kemasyarakatan yang ada pada waktu itu, tetapi setidak-tidaknya kita dapat mengenal tema mana yang kira-kira dominan pada waktu itu melalui pendekatan sosiologis.

Suatu hal yang perlu dipahami dalam melakukan pendekatan sosiologi ini adalah bahwa walaupun seorang pengarang melukiskan kondisi sosial yang berada di lingkungannya, namun ia belum tentu menyuarakan keinginan masyarakatnya. Dari arti ia tidaklah mewakili  atau menyalurkan keinginan-keinginan kelompok masyarakat tertentu, yang pasti pengarang menyalurkan atau mewakili hati nuraninya sendiri, dan bila ia kebetulan mengucapkan sesuatu yang bergejolak dimasyarakat, hal ini merupakan suatu kebetulan ketajaman batinnya dapat menangkap isyarat-isyarat tersebut.  Dari berbagai pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis sosiologi sastra bertujuan untuk memaparkan dengan cermat fungsi dan keterkaitan antarunsur yang membangun sebuah karya sastra dari aspek kemasyarakatan pengarang, pembaca, dan gejala sosial yang ada.

 

11.KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA DALAM ANALISIS PUISI HUJAN BULAN JUNI

 

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

1989

Oleh : Sapardi Djoko Damono

 

Hujan dalam puisi tersebut seolah menjelma menjadi tokoh yang begitu dekat dengan pembaca, bahkan dapat mewakili diri pembaca sendiri, karena mungkin pembaca memiliki rasa yang sama dengan apa yang dirasakan oleh hujan bulan Juni dalam puisi tersebut,  yaitu :

1.      Hujan bulan Juni yang tabah, yang menahan dirinya (cintanya) untuk tidak turun ke bumi karena belum waktunya. Ini bisa diartikan sebagai seseorang yang menahan perasaannya (rindu atau cintanya) kepada seseorang karena belum waktunya untuk disampaikan.

2.      Hujan bulan Juni yang bijaksana, karena mampu menahan diri dan rindunya untuk bertemu dengan bunga-bunga (yang dicintainya).

3.      Hujan bulan Juni yang arif, karena dibiarkannnya (cintanya) yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga.

Puisi tersebut juga menggambarkan seseorang yang memiliki rasa rindu atau cinta kepada orang lain, tetapi karena suatu hal seseorang tersebut menjadi ragu-ragu atau merasa tidak mungkin untuk menyampaikannya, dan mencoba untuk menghilangkan atau menghapuskan rasa yang dimilikinya itu dan membiarkannya untuk tetap tak tersampaikan.

Bila dikaitkan dengan kenyataan sehari-hari, dari judulnya saja itu sudah merupakan sesuatu yang hampir tidak mungkin. Karena bulan Juni termasuk dalam musim kemarau, hujan tidak mungkin turun. Dan jika dilihat dari tahun penciptaan puisinya yaitu tahun 1989, yang pada saat itu musim kemarau dan musim hujan masih berjalan secara teratur, tidak seperti sekarang. Karena itulah hujan harus menahan diri untuk tidak turun ke bumi. Jadi, dapat ditafsirkan bahwa hujan bulan Juni merupakan gambaran atau pengistilahan dari perasaan rindu atau cinta sang penyair kepada seseorang yang ditahan, yang tak mungkin untuk disampaikan, dan membiarkannya untuk tetap tak tersampaikan.

Jika dilihat dari sisi penyairnya mungkin pada waktu itu si penyair ingin menyampaikan sesuatu kepada seseorang, tetapi tidak dapat disampaikan karena mungkin ada suatu hal yang menghalanginya untuk menyampaikan sesuatu itu, si penyair juga berusaha untuk menghapuskan jejak-jejak perasaannya yang ragu-ragu untuk disampaikan, dan si penyair hanya bisa menyampaikannya lewat sebuah  puisi.

Disini penyair menyampaikan sebuah pesan kepada pembaca atau masyrakat yaitu beberapa aspek etika agar pembaca atau masyrakat diharapkan memiliki sifat-sifat yang di ibaratkan pada puisi hujan bulan juni, yaitu sifat tabah, bijak, dan arif dalam menghadapi segala sesuatu atau dalam mengambil suatu keputusan.

Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 72 tahun) ialah seorang pujangga Indonesia yang terkemuka, yang termasuk dalam sastrawan angkatan 70’an. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisinya yang menggunakan kata-kata yang sederhana tapi mampu untuk membawa pembaca dalam dunianya dan seolah-olah merasakan apa yang dirasakan olehnya, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet “Dua Ibu”). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD (Sapardi Djoko Damono).

Sehingga banyak puisi Sapardi yang dijadikan musikalisasi puisi yang kemudian melahirkan beberapa album musikalisasi, salah satunya yaitu album “Hujan Bulan Juni” (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono.

 

 

12. SIMPULAN

Sosiologi sastra mempunyai perspektif jika di dalam karya sastra terdapat kenyataan yang merujuk pada dunia di luar sastra. Sehingga penelitian sosiologi melibatkan dua disiplin ilmu yakni ilmu sosiologi (ilmu yang mempelajari hubungan manusia sesama manusia) dan ilmu sastra. Kuncinya terletak pada sejauh mana kenyataan yang terdapat pada kenyataan digambarkan oleh karya sastra. Hal ini senada dengan pendapat Teeuw yang menyatakan jika sastra tak lahir dari kekosongan budaya.

 Menurut Plato, setiap benda yang berwujud mencerminkan suatu ide pasti (semacam gambar induk). Jika seorang tukang membuat sebuah kursi, maka ia hanya menjiplak kursi yang terdapat dalam dunia Ide-ide. Jiplakan atau copy itu selalu tidak memadai seperti aslinya; kenyataan yang kita amati dengan pancaindra selalu kalah dari dunia Ide. Seni pada umumnya hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang 'kenyataan' (yang juga hanya tiruan dari 'Kenyataan Yang Sebenarnya') sehingga tetap jauh dari 'kebenaran'. Oleh karena itu lebih berhargalah seorang tukang daripada seniman karena seniman menjiplak jiplakan, membuat copy dari copy.

Sosiologi sastra, yang memahami fenomena sastra  dalam  hubungannya  dengan  aspek  sosial, merupakan  pendekatan  atau  cara  membaca  dan memahami  sastra  yang  bersifat  interdisipliner. menguraikan  bahwa sosiologi  merupakan  studi  yang  ilmiah  dan  objektif mengenai  manusia  dalam  masyarakat,  studi  mengenai lembaga-lembaga dan proses sosial. Sosiologi berusaha menjawab pertanyaan mengenai bagaimana masyarakat  dimungkinkan,  bagaimana  cara  kerjanya, dan mengapa masyarakat itu bertahan hidup.

Pengantar Sosiologi sastra sebagai suatu jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda daripada yang telah digariskan oleh teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut

Sosiologi pengarang berhubungan dengan profesi pengarang dan institusi sastra. Masalah  yang dikaji antara lain dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial, status pengarang, dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra. Sosiologi karya sastra mengkaji isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal lain yang tersirat dalam  karya sastra  itu sendiri dan yang berkaitan dengan  masalah sosial. Sosiologi pembaca mengkaji permasalahan pembaca dan dampak sosial karya sastra, serta sejauh mana karya sastra ditentukan atau tergantung dari latar sosial, perubahan dan perkembangan sosial.

Pedekatan yang dilakukan terhadap karya  sastra pada dasarnya ada dua, yaitu pendekatan intrinsik dan pendekatan ekstrinsik. Unsur-unsur merupakan unsur-unsur dalam yang diangkat dari isi karya sastra, seperti tema, alur atau plot, perwatakan, gaya bahasa dan penokohan. Sedangkan unsur-unsur ekstrinsik berupa pengaruh dari luar yang terdapat dalam karya sastra itu diantaranya sosiologi, politik, filsafat, antropologi dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini merupakan pendukung dalam pengembangan karya sastra, dengan demikian ilmu-ilmu tersebut erat hubungannya dengan karya sastra. Analisis aspek ekstrinsik karya sastra ialah analisis karya sastra itu sendiri dari segi isinya, dan sepanjang mungkin melihat kaitannya dengan kenyataan-kenyataan dari luar karya sastra itu sendiri.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abrams,  M.H.  1981.  A  Glossary  of  Literary  Terms. Australia,  Canada,  Mexico,  Singapura, United  Kingdom,  United  States:Heinle  & Heinle Thomson Learning.

Allen,  Pamela.  2004.  Membaca  dan  Membaca  Lagi: Reinterpretasi  Fiksi  Indonesia  1980-1996. Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh bakdi Soemanto. Magelang: Indonesiatera.

Anderson,  Benedict.  1993.  Komunitas-komunitas Imajiner:  Renungan  tentang  Asal-usul  dan Penyebaran  Nasionalisme. Edisi  Bahasa Indonesia,  diterjemahkan  oleh  Omi  Intan Naomi.  Yogyakarta:  Pustaka  Pelajar  &  Insist Press.

Damono,  Sapardi  Djoko.  1979.  Sosiologi  Sastra: Sebuah  Pengantar  Singkat. Jakarta:  Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Faruk.  1994.  Pengantar  Sosiologi  Sastra:  dari Strukturalisme  Genetik  sampai Postmodernisme. Yogyakarta:  Pustaka Pelajar.

Junus,  Umar.  1986.  Sosiologi  Sastra:  Persoalan  Teori dan  Metode.  Kualalumpur:  Dewan  Bahasa dan  Pustaka  Kementerian  Pelajaran Malaysia.

Luxemburg,  Jan  Van.  dkk.  1984.  Pengantar  Ilmu Sastra.  Diterjemahkan  dalam  Bahasa Indonesia  oleh  Dick  Hartoko.  Jakarta: Gramedia.

Rosidi,  Ajip.  1969.  Ikhtisar  Sejarah  Sastra  Indonesia. Bandung: Bina Cipta.

Teeuw,  A.  1984.  Sastra  dan  Ilmu  Sastra:  Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Wellek,  Rene  and  Austin  Warren.  1994.  Teori

Kesusastraan.  Diterjemahkan  dalam  Bahasa Indonesia  oleh  Melani  Budianta.  Jakarta: Gramedia.

http://pakshodiq.blogspot.co.id/2010/05/problematika sosiologi sastra.html#sthash.4dmV2xER.dpuf(diakses, 11 Desember 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...