TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD
Teori psikoanalisis di kembangkan oleh sigmun freud
yang lahir pada tanggal 6 mei 1856 dan meninggal pada tanggal 23 september
1939. Pada usia 8 tahun freud bermimpi untuk mencapai kemashuran melalui
berbagai penemuan atau penelitian. Untuk maksud tersebut freud mencoba membedah
400 belut jantan, untuk meneliti apakah mereka mempunya testes, penelitian ini
belum membuat dia terkenal akhirnya dia mengalihkan perhatiannya pada manuasia.
Pada tahun 1873 freud masuk fakultas kedokteran di
Wina dan lulus pada tahun 1881 dengan yudisium excellent. Sebagai seorang ahli
neurologi dia sering membantu masalah-masalah pasiennya seperti rasa takut yang
irrasional, obsesi dan rasa cemas. Dalam membantu menyembuhkan masalah-masalah
mental freud menggunakan prosedur yang inovatif yang dinamakan psikoanalisis.
Penggunaan psikoanalisis memerlukan interaksi verbal yang cukup lama dengan
pasien untuk menggali pribadinya yang lebih dalam. Banyak buku yang telah di
tulis freud, dan dari teori freud ini memiliki beberapa kelemahan terutama
dalam hal-hal berikut :
1.
Ketidaksadaran
(uniconsciousness) amat berpengaruh terhadap prilaku manusia. Pendapat ini
menunjukan bahwa manusia menjadi budak dirinya sendiri.
2.
Pengalaman masa
kecil sangat menentukan atau berpengaruh terhadap kepribadian masa dewasa. Ini
menunjukan bahwa manusia dipandang tidak berdaya untuk mengubah nasibnya
sendiri.
3.
Kepribadian
manusia terbentuk berdasarkan cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi
dorongan-dorongan seksualnya. Ini menunjukan bahwa dorongan yang lain dari
individu kurang diperhatikan.
1. Struktur Kepribadian
Semua teori kepribadian
menyepakti bahwa manusia, seperti binatang lain, dilahirkan dengan sejumlah
insting dan motifasi. Insting yang paling dasar ialah tangisan. Ketika lahir
tentunya kekuatan motifasi dalam diri tentunya belum dipengaruhi oleh dunia
luar.kekuatan ini bersifat mendasar dan individual.
Frued membagi struktur
kepribadian kedalam tiga komponen, yaitu id, ego, dan superego. Prilaku
seseorang merupakan hasil dari interaksi antara ketiga komponen tersebut.
a.
Id (Das Es)
Id berisikan motifasi dan
energy positif dasar, yang sering disebut insting atau stimulus. Id
berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi
ketegangan, yang merupak sumber dari dorongan-dorongan biologis (makan, minum,
tidur, dll) Prinsip kesenangan merujuk pada pencapaian kepuasan yang segera,
dan id orientasinya bersifat fantasi (maya). Untuk memperoleh kesengan id
menempuh dua cara yaitu melalui reflex dan proses primer, proses primer yaitu
dalam mengurangi ketegangan dengan berkhayal.
b.
Ego (Das Ich)
Peran utama dari ego adalah
sebagai mediator (perantara) atau yang menjembatani anatar id dengan kondisi
lingkungan atau dunia luar dan berorintasi pada prinsip realita (reality principle).
Dalam mencapai kepuasan ego berdasar pada proses sekunder yaitu berfikir
realistic dan berfikir rasional. Dalam proses disebelumnya yaitu proses primer
hanya membawanya pada suatu titik, dimana ia mendapat gambaran dari benda yang
akan memuaskan keinginannya, langkah selanjutnya adalah mewujudkan apa yang ada
di das es dan langkah ini melalui proses sekunder. Dalam upaya memuaskan
dorongan, ego sering bersifat prakmatis, kurang memperhatikan nilai/norma, atau
bersifat hedonis. Hal yang perlu diperhatikan dari ego adalah :
1.
Ego merupakan
bagian dari id yang kehadirannya bertugas untuk memuaskan kebutuhan id.
2.
Seluruh energy
(daya) ego berasal dari id
3.
Peran utama
memenuhi kebutuhan id dan lingkungan sekitar
4.
Ego bertujuan
untuk mempertahankan kehidupan individu dan pengembanbiakannya.
c.
Super Ego (Das
Uber Ich)
Super ego merupak cabang dari
moril atau keadilan dari kepridadian, yang mewakili alam ideal daripada alam
nyata serta menuju kearah yang sempurna yang merupakan komponen kepribadian
terkait dengan sytandar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar
dan salah. Dengan terbentukny super ego berarti pada diri individu telah
terbentuk kemampuan untuk mengontrl dirinya sendiri (self control) menggantikan
control dari orang tua (out control). Fungsi super ego adalah sebagai berikut :
1.
Merintangi
dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif
2.
Mendorong ego
untuk mengantikan tujuan-tujuan relistik dengan tujuan-tujuan moralistic.
3.
Mengejar
kesempurnaan. (perfection)
Karakteristik
Sisitem Kepribadian Menurut Freud
|
ID |
EGO |
SUPEREGO |
|
Sistem asli (the true psychic), bersifat subjektif
(tidak mengenal dunia objektif), yang terdiri dari insting-insting dan
gudangnya (reservoir) energy psikis yang digunaka ketiga system kepribadian. |
Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait
dengan dunia nyata. Memperoleh energy dari id. Mengetahui dunia subjektif dan
objektif (dunia nyata). |
Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua
subsistem : kata hati (yang menghukum tingkahlaku yang salah) dan ego ideal
(yang mengganjar tingkahlaku yang baik). |
2. Dinamika Kepribadian
Freud memandang organisme
manusia sebagai sistem energi yang kompleks. Berdasarkan doktrin konservasi
energi bahwa energi berubah dari energy fisiologis ke energi psikis atau
sebaliknya. Freud berpendapat bahwa apabila energy digunakan dalam kegiatan
psikologis seperti berfikir, maka energi itu merupakan energi psikis. Titik
tumpu atau jembatan antara energi jasmaniah dengan energi kepribadian adalah id
dan instink-instinknya. Instink-instink ini meliputi seluruh energy yang
digunakan oleh ketiga struktur kepribadian (id, ego, dan superego) untuk
menjalankan fungsinya. Dinamika kepribadian terkait dengan proses pemuasan
instink, pendistribusian energy psikis dan dampak dari ketidakmampuan ego untuk
mereduksi ketegangan pada saat bertransaksi dengan dunia luar yaitu kecemasan
(anxiety).
a.
Instink
Instink merupakan kumpulan
hasrat atau keinginan (wishes). Tujuan dari instink-instink adalah mereduksi
ketegangan (tension reduction) yang dialami sebagai suatu kesenangan. Freud
mengklasifikasikan instink ke dalam dua kelompok, yaitu:
1.
Instink hidup
(life instink : eros). Instink hidup merupakan motif dasar manusia yang
mendorongnya untuk bertingkah laku secara positif atau konstruktif, berfungsi
untuk melayani tujuan manusia agar tetap hidup dan mengembangkan rasanya.
Energy yang bertanggung jawab bagi instink hidup adalah libido. Libido ini
bersumber dari erotogenic zones yaitu bagian-bagian tubuh yang sangat peka terhadap
rangasangan seperti: bibir/mulut, dubur dan organ seks).
2.
Instink mati
(death instink : thanatos). Instink ini merupakan motifasi dasar manusia yang
mendorongnya untuk bertingkah laku yang bersifat negative atau destruktif.
Freud meyakini bahwa manusia dilahirkan dengan mambawa dorongan untuk mati
(keadaan tak barnyawa = inanimate state). Pendapat ini didasarkan kepada
prinsip konstansi dari Fechner yaitu bahwa proses kehidupan itu cenderung
kembali kepada dunia yang anorganis. Kenyataan manusia akhirnya mati, oleh
karena itu tujuan hidup adalah mati. Hidup itu sendiri tiada lain hanya
perjalanan kea rah mati. Dia beranggapan bahwa instink ini merupakan sisi
gelap dari kehidupan manusia.
Instink mempunyai empat macam
karakteristik, yaitu : (a) sumber (source): kondisi rangsangan jasmaniah atau
needs, (b) tujuan (aim): menghilangkan rangsangan jasmaniah atau mereduksi
ketegangan, sehingga mencapai kesenangan dan terhindar dari rasa sakit, (c)
objek (object): meliputi benda atau keadaan yang berada di lingkungan yang
dapat memuaskan kebutuhan, termasuk kegiatan untuk memperoleh objek tersebut,
(d) mendorong/pergerakan (impetus): kekuatan yang bergantung pada intensitas
(besar-kecilnya) kebutuhan. Sumber dan tujuan instink bersifat tetap, sedangkan
objek dan penggerak sering berubah-berubah. Apabila energi instink digunakan
untuk mensubstitusi objek yang tidak asli, maka tingkah laku yang dihasilkannya
disebut instink derivative.
a.
Pendistribusian
dan penggunaan Energi Psikis.
Dinamika kepribadian merujuk
kepada cara kepribadian berubah atau berkembang melalui pendistribusian
dan penggunaan energi psikis, baik oleh id, ego, maupun superegoengha. Id
menggunakan energi ini untuk memperoleh kenikmatan (pleasure principle) melalui
(1) gerakan refleksi dan (2) proses primer (menghayal atau berfantasi).
Mekanisme atau proses pengalihan energi dari id ke ego atau dari id ke superego
disebut identifikasi. Ego menggunakan energi untuk keperluan (1) memuaskan
dorongan atau instink melalui proses sekunder, (2) meningkatkan perkembangan
aspek-aspek psikologi, (3) mengekang menangkal id agar tidak bertindak
impulsive atau irasional dan (4) menciptakan integrasi di antara ketiga sistem
kepribadian dengan tujuan terciptanya keharmonisan dalam kepribadian, sehingga
dapat melakukan transaksi dengan dunia luar secara efektif. Seperti halnya ego,
superego memperoleh energy itu melalui identifikasi.
Oleh karena itu dalam proses
pendistribusian energy itu terjadi persaingan antara ketiga komponen kepribadian,
maka suasana konflik diantara ketiganya tidak dapat dielakan lagi. Disamping
itu ada kemungkinan, ego mendapat tekanan yang begitu kuat, baik dari id maupun
superego.
1.
Konflik
Freud berasumsi bahwa tingkah
laku manusia merupakan hasil dari rentetan konflik internal yang terus menerus.
Konflik (peperangan) antara id, ego, superego adalah hal yang bisa (rutin).
Feurd menyakini bahwa konflik-konflik itu bersumber kepada dorongan-dorongan
seks dan agresif.
Konflik sering terjadi secara
tidak disadari. Walaupun tidak disadari, konflik tersebut dapat melahirkan
kecemasan (anxiety). Kecemasan ini dapat dilacak dari kekhawatiran ego akan
dorongan id yang tidak dapat di kontrol, sehingga melahirkan suasana yang
mencekam/mengerikan. Setiap orang berusaha untuk membebaskan diri dari
kecemasan ini yang dalam usahanya sering menggunakan mekanisme pertahanan ego.
2.
Kecemasan
Kecemasan mempunyai peranan
sentral dalam teori psikoanalisis, kecemasan digunakan oleh ego sebagai
isyarat adanya bahaya yang mengancam. Perasaan terjepit dan terancam disebut
kecemasan (anxiety). Perasaan ini berfungsi sebagai ego bahwa ketika dia
bertahan sambil tetap mempertimbangkan kelangsungan hidup organism, dia
sebenarnya sedang berada dalam bahaya.
Freud
mengklasifikasikan kecemasan dalam tiga tipe, yaitu sebagai berikut:
|
Tipe kecemasan |
Pengertian |
|
Kecemasan Realistik |
Resrpon terhadap ancaman dari dunia luar atau
perasaan takut terhadap bahaya-bahaya yang nyata(real) yang berada di
lingkungan. Contoh seorang merasa takut bila di depannya ada ular. Maka orang
tersebut mengalami kecemasan realistik. |
|
Kecemasan Neurotik |
Respon yang mengancam dari dorongan id ke dalam
kesadaran. Kecemasan ini berkembang berdasarkan pengalaman masa anak yang
terkait dengan hukuman yang maya (hayalan) dari orang tua atau orang lain
yang mempunyai otoritas secara maya pula untuk memuaskan dorongan instinknya.
Neurotik adalah kata latin dari perasaan gugup. |
|
Kecemasan moral |
Respon superego terhadap dorongan id yang mengancam
untuk memperoleh kepuasan secara “immoral”. Kecemasan ini di wujudkan dalam
bentuk perasaan bersalah (guilty feeling) atau rasa malu (shame). Seseorang
yang mengalami kecemasan ini, merasa takut akan dihukum oleh superegonya atau
katahatinya. |
3.
Mekanisme
Pertahanan Ego.
Mekanisme pertahanan ego
merupakan proses mental yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan dilakukan
melalui dua karakteristik khusus yaitu : (1) tidak disadari dan (2)
menolak, memalsukan atau mendistorsi (mengubah) kenyataan. Mekanisme pertahanan
ini dapat juga diartikan sebagai reaksi-reaksi yang tidak disadari dalam upaya
melindungi diri dari emosi atau perasaan yang menyakitkan seperti cemas dan
perasaan bersalah. Ego berusaha sekuat mungkin menjaga kestabilan hubungannya
dengan realitas, id dan superego. Namun kecemasan begitu menguasai, ego harus
berusahan mempertahankan diri. Secara tidak sadar, dia akan bertahan dengan
cara memblokir seluruh dorongan-dorongan atau menciutkan dorongan-dorongan
tersebut menjadi wujud yang lebih dapat diterima atau tidak terlalu mengancam. Jenis-jenis
mekanisme pertahanan ego itu adalah sebagai berikut.
a.
Represi
Represi merupakan proses
penekanan dorongan-dorongan ke alam tak sadar, orang atau karena mengancam
keamanan ego. Anna Freud mengartikan pula sebagai “melupakan yang bermotivasi”,
adalah ketidakmampuan untuk mengingat kembali situasi, orang atau peristiwa
yang menakutkan. Represi merupakan mekanisme pertahanan dasar yang terjadi
ketika memori, pikiran atau perasaan (kateksis objek = id) yang menimbulkan
kecemasan ditekan keluar dari kesadaran oleh antikateksis (ego). Orang
cenderung merepres keinginan atau hasrat yang apabila dilakukan dapat
menimbulkan perasaan bersalah (guilty feeling) dan konflik yang menimbulkan
rasa cemas atau merepres memori (ingatan) yang meyakitkan.
b.
Projeksi
Projeksi merupakan
pengendalian pikiran, perasaan, dorongan diri sendiri kepada orang lain. Dapat
juga diartikan sebagai mekanisme perubahan kecemasan neurotik dan moral dengan
kecemasan realistik. Anna freud mengatakan projeksi sebagai penggantian kea rah
luar atau kebalikan dari melawan diri sendiri, mekanisme ini meliputi
kecendrungan untuk melihat hasrat anda yang tidak bisa diterima oleh orang
lain. Projeksi memungkinkan orang untuk mengatakan dorongan yang mengancamnya
dengan menyamarkanya sebagai pertahanan diri. Projeksi bertujuan untuk
mengurangi pikiran atau perasaan yang menimbulkan kecemasan.
c.
Pembentukan
Reaksi (Reaction Formation).
Pembentukan reaksi atau
reaksi formasi ialah suatu mekanisme pertahanan ego yang mengantikan suatu
impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan lawan atau kebalikannya
dalam kesadarannya (Hall dan Gardner). Dapat juga di artikan pergantian sikap dan
tingka laku dengan sikap dan tingkah laku yang berlawanan.
Bertujuan untuk
menyembunyikan pikiran dan perasaan yang dapat menimbulkan kecemasan. Mekanisme
ini biasanya ditandai dengan sikap atau perilaku yang berlebihan atau bersifat
kompulsif, biasanya dari perasaan yang negatif ke positif meskipun
kadang-kadang terjadi dari negatif ke positif. Dalam hal ini Freud berpendapat
bahwa laki-laki yang suka mencemoohkan homoseksual merupakan ekspresi dari
perlawanannya akan dorongan-dorongan homoseksual dalam dirinya sendiri.
d.
Pemindahan Objek
(Displacement)
Displacement adalah suatu
mekanisme pertahanan ego yang mengarahkan energi kepada objek atau orang lain
apabila objek asal atau orang yang sesungguhnya, tidak bisa dijangkau,
Corey (2003:19). Menurut Poduska (2000:119) displacement ialah mekanisme
pertahanan ego dengan mana anda melepaskan gerak-gerik emosi yang asli, dan
sumber pemindahan ini dianggap sebagai suatu target yang aman. Mekanisme
pertahanan ego ini, melimpahkan kecemasan yang menimpa seseorang kepada orang
lain yang lebih rendahkedudukannya.lebih lanjut dikatakan pemindahan objek
ini merupakan proses pengalihan perasaan (biasanya rasa marah) dari objek
(target) asli ke objek pengganti. Contohnya: seorang pegawai yang dimarahi
atasannya di kantor, pada saat pulang dia membanting pintu dan marah-marah pada
anaknya.
e.
Faksasi
Faksasi ini
merupakan mekanisme yang memungkinkan orang mengalami kemandegan
dalam perkembangannya, karena cemas untuk melangkah ke perkembangan
berikutnya. Faksasi ini bertujuan untuk menghindari
dari situasi-situasi baru
yang dipandang berbahaya atau mengakibatkan
frustasi. Contohnya anak usia 7 tahun masih ngeisap jempol
dan belum berani berpergaian tanpa ibunya.
f.
Regresi
Regresi adalah kembali ke masa-masa
di mana seseorang mengalami tekanan psikologis. Kerika kita menghadapi
kesulitan atau ketakutan, perilaku kita
sering menjadi kekanak-kanakan atau primitif.
Dapat
dikatakan pula pengulangan
kembali tingkah laku yang cocok bagi tahap perkembangan atau
usia sebelumnya (perikaku kekanak-kanakan). Contohnya seorang yang baru
pensiun akan berlama-lama duduk
di kursi goyang dan bersikap seperti
anak-anak, serta menggantungkan hidupnya pada isntrinya.
g.
Rasionalisasi
Rasionalisasi merupakan
penciptaan kepalsuan (alas an-alasan) namun dapat masuk akal sebagai upaya
pembenaran tingkah laku yang tidak dapat diterima.
Menurut Berry (2001:82), rasionalisasi ialah mencari
pembenaran atau alasan bagi prilakunya, sehingga manjadi lebih bisa diterima
oleh ego daripada alasan yang sebenarnya. Rasionalisasi ini terjadi apabila
individu mengalami kegagalan dalam memenuhi kebutuhan, dorongan atau
keinginannya. Dia mempersepsikan kegagalan tersebut sebagai kekuatan yang
mengancam keseimbangan psikisnya (menimbulkan rasa cemas).
h.
Sublimasi
Sublimasi adalah mengubah
berbagai rangsangan yang tidak diterima, apakah itu dalam bentuk seks,
kemarahan, ketakutan atau bentuk lainnya, ke dalam bentuk-bentuk yang bisa
diterima secara sosial. Dengan kata lain sublimasi ini merupakan pembelotan
atau penyimpangan libido seksual kepada kegiatan yang secara sosial lebih dapat
diterima. Dalam banyak cara, sublimasi merupakan mekanisme yang sehat,
karena energi seksual berada di bawah kontrol sosial. Bagi Freud seluruh bentuk
aktivitas positif dan kreatif aadalah sublimasi, terutama sublimasi hasrat
seksual.
i.
Identifikasi
Identifikasi merupakan proses
memperkuat harga diri (self-esteem) dengan membentuk suatu persekutuan
(aliansi) nyata atau maya dengan orang lain, baik seseorang maupun kelompok.
Identifikasi ini juga merupakan satu cara untuk mereduksi ketegangan.
Identifikasi ini dilakukan kepada orang-orang yang dipandang sukses atau
berhasil dalam hidupnya. Identifikasi dengan penyerangan adalah bentuk
introjeksi yang terfokus pada pengadopsian, bukan dari segi umum atau positif,
tapi dari sisi negatif.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar