BAHASA DAN OTAK
Pendahuluan
Salah satu kelebihan manusia jika
dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya terletak pada bahasa yang
dimilikinya. Bahasa memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah system lambing bunyi yang dipergunakan oleh para
anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan
diri. Bahasa merupakan sebuah gabungan dari makna dan bunyi. Manusia
memiliki bagian-bagian tubuh yang sangat kompleks salah satunya adalah otak.
Otak terdapat di dalam kepala manusia yang berfungsi untuk mengendalikan
semua gerak dan fungsi tubuh, termasuk berbahasa.
Bahasa
dipelajari oleh tiap manusia secara berproses, yaitu sejak bayi antara usia 6-8
minggu anak mulai mendekut (coing), merupakan bunyi-bunyi yang tidak bisa
diidentifikasikan karena menyerupai bunyi vocal dan konsonan. Kemudian sekitar
umur 6 bulan anak mulai mampu berceloteh (babbling)dengan menuturkan bunyi yang
berupa suku kata; lalu pada umur 1 tahun anak mulai mampu menuturkan bunyi yang
sudah bisa diidentifikasi sebagai kata meskipun belum lengkap, misalnya untuk
kata ikan hanya akan dilafalkan dengan kan; perkembangan selanjutnya anak akan
mulai mampu berujar dengan ujaran satu kata (one
word utterance), mulai menjelang umur 2 tahunbarulah anak mulai mampu
berujar dengan ujaran dua kata (two word
utterance); hingga pada sekitar umur 4-5 tahun anak akan mampu
berkomunikasi dengan lancar. Kemampuan berujar anak dengan patokan-patokan di
atas bersifat relative karena perbedaan faktor biologi pada setiap manusia.
Gangguan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling
sering ditemukan pada anak. Gangguan berbahasa terdiri dari artikulasi, masalah
suara, masalah kelancaran berbicara yang biasa disebut dengan gagap; afasia,
yaitu kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata-kata, biasanya akibat
gangguan pmbuluh darah otak (stoke) dan keterlambatan berbicara atau berbahasa.
Untuk mengetahui hubungan
antara bahasa dengan otak maka penulis merumuskan permasalahan, yaitu pada
bagian manakah letak bahasa di dalam otak?. Pisau bedah untuk kajian ini adalah
Ilmu Neurolinguistik. Neurolinguistik adalah satu sains baru sebagai kerjasama
diantara Neurologi, Ilmu Kedokteran (perobatan) yang mengkaji sistem syaraf dan
penyakit-penyakitnya, dengan linguistik, ilmu yang mengkaji bahasa secara
alamiah. Kerjasama ini muncul karena ternyata penyakit bertutur adalah termasuk
bidang kajian neurologi dan juga linguistik. Jadi neurolinguistik, sebagai
sains baru, mengkaji struktur dalam bahasa dan ucapan dan mekanisme sereberum
(struktur otak) yang mendasarinya. (Simanjuntak 1990: 21).
Bahasa dan Otak
Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (2007:88) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang
arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama,
berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan
menurut Chaer (1998:1) bahasa merupakan suatu sistem
lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur
untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
Di sisi lain Keraf (1993:1)
berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat
berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Ketika
seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain, maka orang tersebut akan
menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Bahasa adalah suatu
sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat
bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada
budaya yang mereka miliki bersama. (Dardjowidjojo Soenjono, 2005: 16).
Dari beberapa pendapat diatas
dapat dikaitkan dengan Hipotesis Kenuranian Chomsky dalam (Simanjuntak,
2008:24) Hipotesis Kenuranian (”The innateness Hypothesis ”) satu hipotesis
dalaman yang dibawa lahir, yang diwariskan secara alamiah, yang mengatakan
bahwa manusia telah diperlengkapi secara alamiah dengan suatu fakultas yang
khusus yang nurani (”innate”) yang memungkinkan manusia melahirkan dan
memeroleh bahasa. Hipotesis ini menekankan bahwa setiap
manusia melahirkan
bahasa dari otaknya. Lieberman, dalam (Simanjuntak, 2008:25) mengatakan setiap
masyarakat manusia mempunyai bahasa yang mereka lahirkan sendiri secara evolusi.
Bahasa yang dilahirkan secara evolusi ini ialah bahasa linguistik, yaitu bahasa luaran. Dan
bahasa luaran tersebut (linguistik) berasal dari bahasa nurani (bahasa dalaman)
yang telah dimiliki manusia secara alami.
Menurut Whitaker, dalam (Cahyono, Bambang
Yudi, 1995: 258) penentuan daerah-daerah
tertentu dalam otak dalam hubungannya dengan bahasa itu didasarkan pada tiga bukti utama.
Bukti pertama ialah unsur-unsur keterampilan berbahasa tidak menempati bagian yang
sama dalam otak. Keterampilan bahasa (berbicara, menyimak, membaca, dan menulis) dan
struktur linguistik (ciri sintaksis dan semantik, bentuk leksikal dan gramatikal)
memiliki daerah khas dalam otak,
bukti kedua ialah bahwa bahasa
semua orang menempati daerah yang sama dalam otak. Bukti ketiga ialah terdapat hubungan antara
kemampuan bahasa dengan belahan otak.
Otak terdiri dari dari dua
bagian, yaitu batang otak dan korteks serebral. Batang otak terdiri dari bagian-bagian
yang dinamakan mendulla, pons, otak tengah dan cerebellum. Bagian-bagian ini
terutama berkaitan dengan fungsinfisikal tubuh, termasuk pernafasan, detak
jantung, gerakan refleks, pencernaan dan pemunculan emosi (steinberg dkk
2001:312). Sedangkan korteks serebral menangani fungsi-fungsi intelektual dan
bahasa. Korteks serebral manusia terdiri dari
dua bagian: hemisfir kiri dan hemisfir kanan. Kedua
hemisfir ini dihubungkan oleh sekitar 200 juta fiber yang dinamakan korpus
kalosum (Dardjowidjojo, 2005:203).
Menurut Dardjowidjojo (2005:204) Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota
badan yang ada di sebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya
hemisfir kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Hemisfer
kanan mengontrol pemprosesan informasi
spasial dan visual (melihat, memperkirakan, atau memahami ruang atau benda secara tiga
dimensi). Sementara hemisfer kiri mengontrol kegiatan berbahasa disamping, tentu saja,
proses kognitif yang lain. Koordinasi diantara keduanya dimungkinkan karena
adanya struktur yang menyatukan kedua belah hemisfer ini, yakni korpus kalosum. Struktur
yang berbentuk mirip tulang rawan ini berperan dalam menyampaikan informasi
diantara kedua hemisfer.
Penemu pertama pusat bahasa di
hemisfer kiri otak ini ialah Carl Wernicke, seorang dokter Jerman, pada tahun
1874 menemukan kerusakan pada lobus temporal kiri (yang sekarang disebut
”Wernicke’s Area” = Medan Wernicke) yang mengakibatkan gangguan dalam memahami
ujaran yang disampaikan orang lain.
Pada tahun 1861 Paul Broca, seorang ahli
bedah otak Perancis, memulai pengkajian
hubungan afasia dengan otak. Broca meneliti kemampuan berbahasa pasien-pasien yang menderita himiflegia
sisi kanan badan dengan cara mengautopsi otak pasien ini. Sebelum
pasien-pasien ini meninggal Broca menemukan mereka tidak dapat berbicara tetapi memahami
ucapan orang lain. Setelah diotopsi
Broca menemukan keretakan
syaraf otak dibagian belakang lobus depan kiri (”left frontal lobe”) yang disebut ” Broca’s Area” =
Medan Broca. Jadi, Brocalah yang pertama kali membuktikan, bahwa afasia
berhubungan dengan keretakan otak yang spesifik dan juga menunjukkan bahwa
keretakan-keretakan ini terjadi di hemisfer kiri otak untuk memproduksi bahasa. Broca
membuktikan, bahwa terdapat lokalisasi khusus di hesmifer kiri otak untuk
memproduksi bahasa.(Simanjuntak, 2009:192).
Penemuan ini telah terbukti sebagai sebuah
penemuan yang paling baik yang telah berhasil menerangkan hakekat pusat bahasa
dibelahan kiri otak (Geschwind, Cohen dan Wartofsky) dalam
(Simanjuntak 2009 : 192).
Dari penemuan-penemuan para ahli kepada orang yang
mengalami kerusakan bagian hemisfer kiri pada otaknya yang menyebabkan orang
tersebut mengalami gangguan dalam berbahasa dapatlah disimpulkan bahwa bahasa
berada disebelah kiri belahan otak.
Jika terjadi kerusakan pada hemisfer kiri timbullah
gangguan wicara yang
dinamakan afasia.
Penderita afasia dibedakan atas ”
a. afasia broca yaitu gangguan pada daerah medan broca yang
mengakibatkan seseorang tidak dapat berujar.
b. afasia Wernicke yaitu gangguan pada daerah medan wernicke
yang mengakibatkan seseorang tidak dapat memahami lawan bicaranya berbahasa.
c. afasia konduksi yaitu kerusakan pada fasikulus busur yang
membuat pasien tidak dapat mengulangi
ujaran-ujaran yang didengarnya.
Teori Neurolinguistik Wernicke
Broca mengajukan tiga
rumusan mengenai hubungan otak dengan bahasa: 1) artikulasi bahasa diproses di
konvolusi depan ke tiga hemisfer kiri otak, 2) terdapat dominasi hemisfer kiri
dalam artikulasi bahasa ; 3) memahami bahasa merupakan tugas kognitif yang
berlainan dari memproduksi bahasa. (Simanjuntak, 2009 : 192).
Rumusan Broca ini telah
dikaitkan oleh Wernieke kepada bagian-bagian otak di hemisfer kiri. Wernieke
menemukan, bahwa medan Broca dan medan wernicke dihubungkan oleh sebuah lajur
syaraf yang besar yang disebut busur fasikulus. Dengan penemuan ini Wernieke
melahirkan sebuah model bahasa yaitu : pemrosesan bahasa terjadi di beberapa
bagian otak dan membuat prediksi yang benar, bahwa kerusakan pada fasikulus
busur membuat pasien tidak dapat mengulangi ujaran-ujaran yang didengarnya.
Kemudian pasien ini disebut menderita afasia konduksi.
Model Wernicke inilah
yang disebut teori neurolinguistik Wernicke atau model koneksionisme Wernicke.
10 bagian yang telah terpilih karena relevan untuk disejajarkan dengan teori
linguistik Chomsky. (Simanjuntak, 2009 : 193).
1. Medan Broca (Broca’s area) terletak di
depan daerah korteks di hemisfer kiril
2.
di dalam daerah korteks yang disebut medan Broca ini terletak representasi
motor untuk muka, lidah, bibir, langit-langit, lipatan vokal atau pita suara
dan lain-lain yang semuanya termasuk alat-alat ucap.
3. adalah masuk di akal kalau kita menganggap
bahwa medan Broca mengandung
rumus-rumus yang dapat mengubah atau mengkode
bahasa yang didengar ke dalam bentuk artikulasi, maksudnya untuk diucapkan.
4.
medan Wernicke (Wernicke’s Area) terletak dekat representasi korteks pendengaran
di belahan otak kiri.
5. adalah masuk diakal kalau kita menganggap
bahwa medan Wernicke ini terlibat dalam pengenalan pola-pola bahasa ucapan.
Proses pengenalan ini sangat rumit.
6.
medan Broca dan medan Wernicke dihubungkan oleh busur fasikulus yang mencerminkan
antar ketergantungan kedua medan ini.
7.
kerusakan pada medan Broca akan mengakibatkan kegagalan memproduksi bahasa
ucapan.
8. kerusakan pada medan Wernicke akan
mengakibatkan kegagalan untuk memahami bahasa ucapan (bahasa lisan)
9.
karena bahasa tulisan dipelajari melalui bahasa lisan, sebuah kerusakan pada
medan Wernicke akan menghilangkan juga pemahaman bahasa tulisan.
10.
kerusakan pada medan wernicke juga akan mengakibatkan kekacauan pada produksi
bahasa tulisan.
Dari teori Wernicke di
atas dapat dilihat dengan jelas bagian-bagian otak kiri yang bertugas yang
mendukung semua tindakan bahasa. Dan kerusakan –kerusakan tertentu yang terjadi
pada bagian-bagian tertentu pada otak tersebut dengan jelas dipaparkan. Teori
Wernicke selaras dengan teori Chomsky karena sama- sama mengatakan bahwa bahasa berada di
dalam otak.
Tahun 1965 Norman
Geschwind memperbaiki teori neurolinguistik koneksionisme Wernicke
dengan perincian anatomis yang menekankan setiap keluaran kognitif
harus dianalisis berdasarkan hipotesis yang eksplisit mengenai mekanisme syaraf
otak yang mendasarinya. Sehingga terdapat interaksi yang dinamis diantara masukan-masukan
dengan keluaran-keluaran daerah-daerah otak yang spesifik. Daerah daerah yang telah ditetapkan itu
adalah : 1) korteks pendengaran utama, 2) medan Wernicke, 3)fasikulus
busur, 4) medan Broca, dan 5) korteks motor. (Franca) dalam (Simanjuntak, 2009
: 194).
Simpulan
Otak terdiri atas dua bagian yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan,
yang dihubungkan oleh korpus kalosum.Dari penemuan-penemuan para ahli kepada orang
yang mengalami kerusakan bagian hemisfer kiri pada otaknya yang menyebabkan
orang tersebut mengalami gangguan dalam berbahasa dapatlah disimpulkan bahwa
bahasa berada disebelah kiri belahan otak.
Teori Neurolinguistik Wernicke melahirkan sebuah
model bahasa yaitu : pemrosesan bahasa terjadi di beberapa bagian otak dan
membuat prediksi yang benar, bahwa kerusakan pada fasikulus busur membuat
pasien tidak dapat mengulangi ujaran-ujaran yang didengarnya.
Dari teori Wernicke di atas dapat dilihat dengan jelas bagian-bagian otak kiri yang bertugas yang mendukung semua tindakan bahasa. Dan kerusakan –kerusakan tertentu yang terjadi pada bagian-bagian tertentu pada otak tersebut dengan jelas dipaparkan. Teori Wernicke selaras dengan teori Chomsky karena sama- sama mengatakan bahwa bahasa berada di dalam otak
Daftar Pustaka
Cahyono,
Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa .Surabaya : Airlangga
University Press.
Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahasa
Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dardjowidjojo,
Soenjono. 2005. Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Keraf, Gorys.
1993. Komposisi sebuah pengantar kemahiran
bahasa. Flores: Nusa Indah.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Simanjuntak,
Mangantar. 2005. Teori Linguistik Chomsky dan Teori Linguistik Wernicke.
Kearah satu teori bahasa yang lebih sempurna. Jakarta: Radar Jaya Offset.
Simanjuntak,
Mangantar. 2008. Diktat Linguistik. Bahasa. Pemerolehan Bahasa dan Gramatika
Generatif. Program Studi Magister Linguistik USU.
Simanjuntak,
Mangantar. Pengantar Neuropsikolinguistik. Menelusuri Bahasa,
pemerolehan
Bahasa dan Hubungan Bahasa dengan Otak.
Steinberg,
danny dkk. 20001. Psicholinguistics. Language, mind, and world. London:
longman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar