Rabu, 11 Agustus 2021

NEUROLOGI BAHASA DAN OTAK

 

BAHASA DAN OTAK

Pendahuluan

Salah satu kelebihan manusia jika dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya terletak pada bahasa yang dimilikinya. Bahasa memainkan peran penting dalam kehidupan manusia. Bahasa adalah system lambing bunyi yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa merupakan sebuah gabungan dari makna dan bunyi. Manusia memiliki bagian-bagian tubuh yang sangat kompleks salah satunya adalah otak. Otak terdapat di dalam kepala manusia yang berfungsi untuk mengendalikan semua gerak dan fungsi tubuh, termasuk berbahasa.

Bahasa dipelajari oleh tiap manusia secara berproses, yaitu sejak bayi antara usia 6-8 minggu anak mulai mendekut (coing), merupakan bunyi-bunyi yang tidak bisa diidentifikasikan karena menyerupai bunyi vocal dan konsonan. Kemudian sekitar umur 6 bulan anak mulai mampu berceloteh (babbling)dengan menuturkan bunyi yang berupa suku kata; lalu pada umur 1 tahun anak mulai mampu menuturkan bunyi yang sudah bisa diidentifikasi sebagai kata meskipun belum lengkap, misalnya untuk kata ikan hanya akan dilafalkan dengan kan; perkembangan selanjutnya anak akan mulai mampu berujar dengan ujaran satu kata (one word utterance), mulai menjelang umur 2 tahunbarulah anak mulai mampu berujar dengan ujaran dua kata (two word utterance); hingga pada sekitar umur 4-5 tahun anak akan mampu berkomunikasi dengan lancar. Kemampuan berujar anak dengan patokan-patokan di atas bersifat relative karena perbedaan faktor biologi pada setiap manusia. Gangguan bahasa adalah salah satu penyebab gangguan perkembangan yang paling sering ditemukan pada anak. Gangguan berbahasa terdiri dari artikulasi, masalah suara, masalah kelancaran berbicara yang biasa disebut dengan gagap; afasia, yaitu kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata-kata, biasanya akibat gangguan pmbuluh darah otak (stoke) dan keterlambatan berbicara atau berbahasa.

Untuk mengetahui hubungan antara bahasa dengan otak maka penulis merumuskan permasalahan, yaitu pada bagian manakah letak bahasa di dalam otak?. Pisau bedah untuk kajian ini adalah Ilmu Neurolinguistik. Neurolinguistik adalah satu sains baru sebagai kerjasama diantara Neurologi, Ilmu Kedokteran (perobatan) yang mengkaji sistem syaraf dan penyakit-penyakitnya, dengan linguistik, ilmu yang mengkaji bahasa secara alamiah. Kerjasama ini muncul karena ternyata penyakit bertutur adalah termasuk bidang kajian neurologi dan juga linguistik. Jadi neurolinguistik, sebagai sains baru, mengkaji struktur dalam bahasa dan ucapan dan mekanisme sereberum (struktur otak) yang mendasarinya. (Simanjuntak 1990: 21).

Bahasa dan Otak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:88) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbiter, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerjasama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan menurut Chaer (1998:1) bahasa merupakan suatu sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, digunakan oleh suatu masyarakat tutur untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Di sisi lain Keraf (1993:1) berpendapat bahwa bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Ketika seseorang ingin berinteraksi dengan orang lain, maka orang tersebut akan menggunakan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan. Bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama. (Dardjowidjojo Soenjono, 2005: 16).

Dari beberapa pendapat diatas dapat dikaitkan dengan Hipotesis Kenuranian Chomsky dalam (Simanjuntak, 2008:24) Hipotesis Kenuranian (”The innateness Hypothesis ”) satu hipotesis dalaman yang dibawa lahir, yang diwariskan secara alamiah, yang mengatakan bahwa manusia telah diperlengkapi secara alamiah dengan suatu fakultas yang khusus yang nurani (”innate”) yang memungkinkan manusia melahirkan dan memeroleh bahasa. Hipotesis ini menekankan bahwa setiap manusia melahirkan bahasa dari otaknya. Lieberman, dalam (Simanjuntak, 2008:25) mengatakan setiap masyarakat manusia mempunyai bahasa yang mereka lahirkan sendiri secara evolusi. Bahasa yang dilahirkan secara evolusi ini ialah bahasa linguistik, yaitu bahasa luaran. Dan bahasa luaran tersebut (linguistik) berasal dari bahasa nurani (bahasa dalaman) yang telah dimiliki manusia secara alami.

Menurut Whitaker, dalam (Cahyono, Bambang Yudi, 1995: 258) penentuan daerah-daerah tertentu dalam otak dalam hubungannya dengan bahasa itu didasarkan pada tiga bukti utama. Bukti pertama ialah unsur-unsur keterampilan berbahasa tidak menempati bagian yang sama dalam otak. Keterampilan bahasa (berbicara, menyimak, membaca, dan menulis) dan struktur linguistik (ciri sintaksis dan semantik, bentuk leksikal dan gramatikal) memiliki daerah khas dalam otak, bukti kedua ialah bahwa bahasa semua orang menempati daerah yang sama dalam otak. Bukti ketiga ialah terdapat hubungan antara kemampuan bahasa dengan belahan otak.

 

Otak terdiri dari dari dua bagian, yaitu batang otak dan korteks serebral. Batang otak terdiri dari bagian-bagian yang dinamakan mendulla, pons, otak tengah dan cerebellum. Bagian-bagian ini terutama berkaitan dengan fungsinfisikal tubuh, termasuk pernafasan, detak jantung, gerakan refleks, pencernaan dan pemunculan emosi (steinberg dkk 2001:312). Sedangkan korteks serebral menangani fungsi-fungsi intelektual dan bahasa. Korteks serebral manusia terdiri dari dua bagian: hemisfir kiri dan hemisfir kanan. Kedua hemisfir ini dihubungkan oleh sekitar 200 juta fiber yang dinamakan korpus kalosum (Dardjowidjojo, 2005:203).

Menurut Dardjowidjojo (2005:204) Hemisfir kiri mengendalikan semua anggota badan yang ada di sebelah kanan, termasuk muka bagian kanan. Sebaliknya hemisfir kanan mengontrol anggota badan dan wajah sebelah kiri. Hemisfer kanan mengontrol pemprosesan informasi spasial dan visual (melihat, memperkirakan, atau memahami ruang atau benda secara tiga dimensi). Sementara hemisfer kiri mengontrol kegiatan berbahasa disamping, tentu saja, proses kognitif yang lain. Koordinasi diantara keduanya dimungkinkan karena adanya struktur yang menyatukan kedua belah hemisfer ini, yakni korpus kalosum. Struktur yang berbentuk mirip tulang rawan ini berperan dalam menyampaikan informasi diantara kedua hemisfer.

Penemu pertama pusat bahasa di hemisfer kiri otak ini ialah Carl Wernicke, seorang dokter Jerman, pada tahun 1874 menemukan kerusakan pada lobus temporal kiri (yang sekarang disebut ”Wernicke’s Area” = Medan Wernicke) yang mengakibatkan gangguan dalam memahami ujaran yang disampaikan orang lain.

Pada tahun 1861 Paul Broca, seorang ahli bedah otak Perancis, memulai pengkajian hubungan afasia dengan otak. Broca meneliti kemampuan berbahasa pasien-pasien yang menderita himiflegia sisi kanan badan dengan cara mengautopsi otak pasien ini. Sebelum pasien-pasien ini meninggal Broca menemukan mereka tidak dapat berbicara tetapi memahami ucapan orang lain. Setelah diotopsi Broca menemukan keretakan syaraf otak dibagian belakang lobus depan kiri (”left frontal lobe”) yang disebut ” Broca’s Area” = Medan Broca. Jadi, Brocalah yang pertama kali membuktikan, bahwa afasia berhubungan dengan keretakan otak yang spesifik dan juga menunjukkan bahwa keretakan-keretakan ini terjadi di hemisfer kiri otak untuk memproduksi bahasa. Broca membuktikan, bahwa terdapat lokalisasi khusus di hesmifer kiri otak untuk memproduksi bahasa.(Simanjuntak, 2009:192).

Penemuan ini telah terbukti sebagai sebuah penemuan yang paling baik yang telah berhasil menerangkan hakekat pusat bahasa dibelahan kiri otak (Geschwind, Cohen dan Wartofsky) dalam (Simanjuntak 2009 : 192).

Dari penemuan-penemuan para ahli kepada orang yang mengalami kerusakan bagian hemisfer kiri pada otaknya yang menyebabkan orang tersebut mengalami gangguan dalam berbahasa dapatlah disimpulkan bahwa bahasa berada disebelah kiri belahan otak.

            Jika terjadi kerusakan pada hemisfer kiri timbullah gangguan wicara yang

dinamakan afasia. Penderita afasia dibedakan atas ”

a.       afasia broca yaitu gangguan pada daerah medan broca yang mengakibatkan seseorang tidak dapat berujar.

b.      afasia Wernicke yaitu gangguan pada daerah medan wernicke yang mengakibatkan seseorang tidak dapat memahami lawan bicaranya berbahasa.

c.       afasia konduksi yaitu kerusakan pada fasikulus busur yang membuat pasien tidak dapat mengulangi ujaran-ujaran yang didengarnya.

 

Teori Neurolinguistik Wernicke

Broca mengajukan tiga rumusan mengenai hubungan otak dengan bahasa: 1) artikulasi bahasa diproses di konvolusi depan ke tiga hemisfer kiri otak, 2) terdapat dominasi hemisfer kiri dalam artikulasi bahasa ; 3) memahami bahasa merupakan tugas kognitif yang berlainan dari memproduksi bahasa. (Simanjuntak, 2009 : 192).

Rumusan Broca ini telah dikaitkan oleh Wernieke kepada bagian-bagian otak di hemisfer kiri. Wernieke menemukan, bahwa medan Broca dan medan wernicke dihubungkan oleh sebuah lajur syaraf yang besar yang disebut busur fasikulus. Dengan penemuan ini Wernieke melahirkan sebuah model bahasa yaitu : pemrosesan bahasa terjadi di beberapa bagian otak dan membuat prediksi yang benar, bahwa kerusakan pada fasikulus busur membuat pasien tidak dapat mengulangi ujaran-ujaran yang didengarnya. Kemudian pasien ini disebut menderita afasia konduksi.

Model Wernicke inilah yang disebut teori neurolinguistik Wernicke atau model koneksionisme Wernicke. 10 bagian yang telah terpilih karena relevan untuk disejajarkan dengan teori linguistik Chomsky. (Simanjuntak, 2009 : 193).

1. Medan Broca (Broca’s area) terletak di depan daerah korteks di hemisfer kiril

2. di dalam daerah korteks yang disebut medan Broca ini terletak representasi motor untuk muka, lidah, bibir, langit-langit, lipatan vokal atau pita suara dan lain-lain yang semuanya termasuk alat-alat ucap.

3.  adalah masuk di akal kalau kita menganggap bahwa medan Broca mengandung

 rumus-rumus yang dapat mengubah atau mengkode bahasa yang didengar ke dalam bentuk artikulasi, maksudnya untuk diucapkan.

4. medan Wernicke (Wernicke’s Area) terletak dekat representasi korteks pendengaran di belahan otak kiri.

5.  adalah masuk diakal kalau kita menganggap bahwa medan Wernicke ini terlibat dalam pengenalan pola-pola bahasa ucapan. Proses pengenalan ini sangat rumit.

6. medan Broca dan medan Wernicke dihubungkan oleh busur fasikulus yang mencerminkan antar ketergantungan kedua medan ini.

7. kerusakan pada medan Broca akan mengakibatkan kegagalan memproduksi bahasa ucapan.

8.  kerusakan pada medan Wernicke akan mengakibatkan kegagalan untuk memahami bahasa ucapan (bahasa lisan)

9. karena bahasa tulisan dipelajari melalui bahasa lisan, sebuah kerusakan pada medan Wernicke akan menghilangkan juga pemahaman bahasa tulisan.

10. kerusakan pada medan wernicke juga akan mengakibatkan kekacauan pada produksi bahasa tulisan.

Dari teori Wernicke di atas dapat dilihat dengan jelas bagian-bagian otak kiri yang bertugas yang mendukung semua tindakan bahasa. Dan kerusakan –kerusakan tertentu yang terjadi pada bagian-bagian tertentu pada otak tersebut dengan jelas dipaparkan. Teori Wernicke selaras dengan teori Chomsky karena sama- sama mengatakan bahwa bahasa berada di dalam otak.

Tahun 1965 Norman Geschwind memperbaiki teori neurolinguistik koneksionisme Wernicke dengan perincian anatomis yang menekankan setiap keluaran kognitif harus dianalisis berdasarkan hipotesis yang eksplisit mengenai mekanisme syaraf otak yang mendasarinya. Sehingga terdapat interaksi yang dinamis diantara masukan-masukan dengan keluaran-keluaran daerah-daerah otak yang spesifik. Daerah daerah yang telah ditetapkan itu adalah : 1) korteks pendengaran utama, 2) medan Wernicke, 3)fasikulus busur, 4) medan Broca, dan 5) korteks motor. (Franca) dalam (Simanjuntak, 2009 : 194).

Simpulan

Otak terdiri atas dua bagian yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan, yang dihubungkan oleh korpus kalosum.Dari penemuan-penemuan para ahli kepada orang yang mengalami kerusakan bagian hemisfer kiri pada otaknya yang menyebabkan orang tersebut mengalami gangguan dalam berbahasa dapatlah disimpulkan bahwa bahasa berada disebelah kiri belahan otak.

Teori Neurolinguistik Wernicke melahirkan sebuah model bahasa yaitu : pemrosesan bahasa terjadi di beberapa bagian otak dan membuat prediksi yang benar, bahwa kerusakan pada fasikulus busur membuat pasien tidak dapat mengulangi ujaran-ujaran yang didengarnya.

Dari teori Wernicke di atas dapat dilihat dengan jelas bagian-bagian otak kiri yang bertugas yang mendukung semua tindakan bahasa. Dan kerusakan –kerusakan tertentu yang terjadi pada bagian-bagian tertentu pada otak tersebut dengan jelas dipaparkan. Teori Wernicke selaras dengan teori Chomsky karena sama- sama mengatakan bahwa bahasa berada di dalam otak

Daftar Pustaka

Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-Kristal Ilmu Bahasa .Surabaya : Airlangga University Press.

Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dardjowidjojo, Soenjono. 2005. Psiko-linguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Keraf, Gorys. 1993. Komposisi sebuah pengantar kemahiran bahasa. Flores: Nusa Indah.

 

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Simanjuntak, Mangantar. 2005. Teori Linguistik Chomsky dan Teori Linguistik Wernicke. Kearah satu teori bahasa yang lebih sempurna. Jakarta: Radar Jaya Offset.

Simanjuntak, Mangantar. 2008. Diktat Linguistik. Bahasa. Pemerolehan Bahasa dan Gramatika Generatif. Program Studi Magister Linguistik USU.

Simanjuntak, Mangantar. Pengantar Neuropsikolinguistik. Menelusuri Bahasa,

            pemerolehan Bahasa dan Hubungan Bahasa dengan Otak.

Steinberg, danny dkk. 20001. Psicholinguistics. Language, mind, and world. London: longman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...