Rabu, 11 Agustus 2021

ALIRAN TAGMEMIK KENETH L.PIKE DAN EVELYN G.PIKE

 Suwito_Motivasi Pendidikan

PENDAHULUAN

 

1.1            Latar Belakang Munculnya Aliran Tagmemik.

Sebelum aliran Tagmemik lahir, telah ada aliran-aliran yang lebih dulu berkembang. Berikut ini akan dideskripsikan karakteristik beberapa aliran linguistik yang ada kaitannya dengan aliran Tagmemik terutama yang ikut memotivasi lahirnya aliran Tagmemik. Aliran linguistik tertua adalah aliran Tradisional (abad IV) dipelopori oleh Plato dan Aristoteles dengan menggunakan dasar pemikiran filsafat. Tata bahasa mereka dinamakan tata bahasa Normatif. Kriteria kegramatikalan ditetapkan berdasarkan kaidah secara ketat dan konsisten. Aliran ini masih mencampuradukan bahasa dalam arti yang sebenarnya dengan tulisan. Tokoh-tokoh diantaranya: Zaandvoort, C.A Mees, Van Ophuysen, R.O Winstedt, Poedjawijatna, Tardjan Hadidjaja.

Selanjutnya pada awal abad XX lahir aliran Struktural yang dipelopori oleh Ferdinan de Saussure berlandaskan pada pola pemikiran behavioristik. Bahasa dirumuskan sebagai suatu sistem tanda arbriter yang konvensional. Kegramatikalan ditetapkan berdasarkan keumuman. Level gramatikal tertata secara pilah dari morfem, kata, frase, klausa dan kalimat. Tokoh-tokoh diantaranya: Leonard Bloomfield, Eugine Nida, Charles F. Hockett, Ch. C. Fries, Eduard Sapir, N.S. Trubetzkoy, Willem Francis Mackey, R. Jacobson, Martin Joos, Anton Moeliono, M. Ramlan.

Berikutnya pada tahun 1967 muncul aliran Transformasi yang dipelopori oleh N. Chomsky berdasarkan pada paham mentalistik. Bahasa merupakan proses kejiwaan di lapis batin. Kriteria kegramatikalan ditetapkan berdasarkan kaidah yang diterapkan secara kreatif. Dalam level gramatikal aliran ini tidak mengakui adanya klausa. Tokoh- tokoh yang disebut antara lain P. Postal, J.A. Fodor, M. Halle, R. Palmatier, L. Lyons, Y.P.B. Allen, P. Van Buren, R.D. King, R.A. Jacobs, J. Greene.

Mengiringi perkembangan aliran Strukturalisme muncul aliran Relasionalisme. Nama lain aliran ini ialah Stratifikasionalisme. Aliran ini beranggapan bahwa bahasa merupakan suatu perangkat hubungan antar bagian yang membangun satu seri tata urut tataran- tataran didalam suatu struktur yang berkaitan satu sama lain. Tokoh- tokoh yang dapat disebut anntara lain Hielmsev, S. Lamb, F. West, Geoffery Sampson.

Setelah itu, muncul aliran yang lain yakni Case Grammer. Aliran ini memfokuskan kajiannya pada masalah peran (role). Peran adalah ciri atau penanda dalam struktur gramatik yang merupakan pembawa fungsi suatu komponen didalam struktur. Tokoh- tokoh yang dapat disebut antara lain J.M. Anderson, Ch. J. Fillmore, R.E. Longacre, W.A. Cook.

Berdasarkan uraian di atas tampak ada perbedaan dan pertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lain. Apabila dinalar dengan penuh kecermatan sebenarnya setiap aliran tidak perlu ada yang dicela dan tidak perlu mencela satu dengan yang lain. Setiap aliran memiliki kelemahan dan sekaligus memiliki keunggulan. Atas dasar argumentasi tersebut sudah sepantasnya didukung adanya upaya untuk mengakomodasi setiap keistimewaan dari setiap aliran-aliran tersebut untuk diwadahi dalam peta yang proporsional.

Aliran Tradisional mempunyai keunggulan dalam analisis fungsi-fungsi kalimat, aliran Struktural mempunyai keunggulan dalam analisis kategori-kategori gramatikal, aliran Case Gramar mempunyai keunggulan dalam analisis peran dan aliran Relasionalis mempunyai keunggulan dalam analisis hubungan antar bagian di dalam struktur. Inilah sebenarnya yang melatarbelakangi munculnya aliran Tagmemik yang elektik dan eklektik yang memilih unsur-unsur tertentu yang cocok untuk dipadukan menjadi satu kesatuan di dalam model analisis.

Pada dasarnya aliran Tagmemik yang sebenarnya lahir tahun 1977 yang dipelopori oleh K.L. Pike dan E.G. Pike bersamaan dengan terbitnya buku Gramatical Analysis. Sebelum itu memang pernah ada buku An Introduduction to Tagmemic Analysis (Cook, 1969) namun belum dapat disebut sebagai aliran Tagmenik yang lengkap, sebab baru melibatkan dua dimensi, yakni slot dan filler class.bahkan jauh sebelum itu istilah tagmem pernah dipakai oleh Bloomfield dalam bukunya Language yang ditulis tahun 1933.

Dari munculnya istilah tagmen sampai menjadi nama sebuah aliran linguistik ditempuh jalan yang sangat panjang. Awalnya tahun 1962 Benyamin Elson dan Velma Pickett merintis kearah aliran ini dalam bukunya yang berjudul An Introduction to Morphology and Syntax. Selanjutnya rintisan itu dilanjutkan oleh Rober E. Longarce dalam tulisannya yang berjudul An Anatomy of Speech Notion pada tahun 1964. Setelah danya rintisan itu tampaknya Walter A. Cook yang semula sangat giat mengakrabi aliran Transformasi dan Case Grammer tergoda untuk terjun ke aliran Tagmemik.Aliran Tagmemik menjadi sempurna setelah dikembangkan selama kurun waktu 8 tahun sejak terbitnya An Introduction to Tagmemic Analysis (1969).

Alkisah sepasang suami istsri Keneth L. Pike dan Evelyn Gloria Pike yang berkebangsaan Amerika melakukan liburan di Karibia. Pada kesempatan itu Pike suami istri mencatat keanehan atau kekhasan pada bahasa yang dipakai oleh masyarakat di daerah itu. Data yang diperoleh didiskusikan untuk menemukan struktur dan kaidahnya namun tidak dapat tuntas. Untuk itu dibentuklah suatu oraganisasi linguistic dengan nama The Summer Institute of Linguistics (SIL).

Di Indonesia penelitian dilakukan di Irian Jaya. Untuk itu dibangunlah sebuah base camp di Danau Bira yang berlokasi di pedalaman Irian Jaya di tepi sungai Mamberamo. SIL bekerja sama dengan Universitas Cedrawasih dengan menyumbangkan pesawat terbang jenis Chesna dan sebuah helicopter agar penelitian diizinkan oleh pemerintah Indonesia yang tidak memperbolehkan orang asing melakukan penelitian dengan membawa kendaraan dari negaranya.

Setiap tahun Sil mengumpulkan seluruh anggota yang tersebar di seluruh dunia untuk melaporkan hasil penelitian. Tahun 1976 pertemuan diselenggarakan di Indonesia tepatnya di kampus Universitas Cenderawasih Abepura Irian Jaya. Hasil seminar didokumentasikan dalam judul “From Baudi to Indonesian”. Pada kesempatan yang sama Pike & Pike mempresentasikan hasil pembaruan Teori Tagmemik dalam bentuk draf buku berjudul “Gramatical Analysis. Atas rekomendasi para ahli buku itu diterbitkan tahun 1977.

Secara relatif usia teori ini memang masih dapat disebut muda, namun embrionya sebenarnya sudah lama ada. Beberapa tokoh yang patut disebut dalam sejarah perkembangan teori ini antara lain Benjamin Elson (1962), Velma Pickett (1962), Robert E. Longacre (1964), dan Walter A. Cook (1969, 1970, 1971).

 

 

 

 

 

 

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang sebelumnya, rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut.

1. bagaimana ciri aliran tagmemik?

2. siapakah tokoh pencetus aliran tagmemik?

3. bagaimana perkembangan dan penerus aliran tagmemik?

4. bagaimana penerapan aliran tagmemik dalam menganalisis kalimat?

 

 

1.3 Tujuan

1. mendeskripsikan ciri aliran tagmemik.

2. memperkenalkan tokoh pencetus aliran tagmemik.

3. mendeskripsikan perkembangan dan penerus aliran tagmemik.

4. mendeskripsikan penerapan aliran tagmemik dalam menganalisis kalimat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAAN

2.1  CIRI-CIRI ALIRAN TAGMEMIK

1.      Setiap Stuktur Terdiri atas Tagmen-tagmen

Seperti telah dikemukakan di depan bahwa tagmen adalah bagian dari suatu konstruksi gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri slot, kelas, peran dan kohesi.(Soeparno,2002:60)

A.    Slot

Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam stuktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin).

B.         Kelas (Class)

Kelas merupakan ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot tersebut berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana.

C.       Peran (Role)

Peran adalah ciri atau benda penanda tagmen yang merupakan pembawa fungsi tagmen. Memang agak sulit membedakan fungsi dan peran. Pelaku (actor) dan penderita (undergoer) adalah peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian, ada subjek dengan peran penderita.

D.         Kohesi

Kohesi adalah ciri atau penanda tagmen yang merupakan pengontrol hubungan antartagmen. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa ialah kaidah ketransitifan pada klausa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa intransitif, dan klausa ekuatif.

 

2.      Bersifat Eklektif

Teori tagmemik bersifat eklektif, yaitu merupakan perpaduan dari aneka macam teori yang dirangkum sesuai dengan proposisi masing-masing. Teori tradisional dan fungsional ditempatkan pada ciri slot, teori struktural dan tagmemik ditempatkan pada ciri kelas, teori kasus(case grammar) ditempatkan pada  ciri peran, dan teori relasional ditempatkan pada ciri kohesi. Hal ini tidak berarti bahwa teori tagmemik tidak memiliki corak yang khas. Dalam beberapa hal teori tagmemik mempunyai kekhasan yang berbeda dengan teori-teori yang lain.

3.      Bersifat Universal

Teori tagmemik bersifat universal. Keuniversalan atau kesemestaan dalam teori ini bukan saja kesemestaan dalam arti berlaku untuk semua bahasa. Akan tetapi, juga kesemestaan dalam arti dapat berlaku untuk semua bidang kehidupan manusia. Eduard Trawis(1980) telah berhasil menganalisis makanan orang sunda dengan menggunakan teori ini. Hasilnya cukup meyakinkan.

4.      Tiga Hierarki Linguistik

Menurut teori ini ada tiga hierarki linguistik, yaitu: (a) hierarki referensial, (b) hirarki fonologikal, dan (c) hierarki gramatikal. Hierarki referensial adalah hierarki dalam kawasan tata nama dan tata makna.  Hierarki fonologikal adalah hierarki dalam kawasan bunyi bahasa. Hierarki gramatikal adalah hierarki dalam  kawasan tata bahasa(grammar). Morfologi dan sintaksis tercakup dalam hierarki gramatikal ini, namun menurut teori ini tidak ada lagi batas antara morfologi dan sintaksis.

5.      Tataran pada Hierarki Gramatikal

Tataran terendah dalam hierarki gramatikal menurut teori ini adalah morfem, sedangkan tataran tertinggi adalah wacana. Pike dan pike(19977:24) membuat urutan tataran secara skematis sebagai berikut.

MEANING

MINIMUM UNIT

EXPANDED UNIT

Social intreaction

Excahange

Conversation

Theme develompent

Paragraph /sentence cluster

Monolog

Proposition

Clause

sentence

Term

Word

Phrase

Lexical package

Morpheme

Morpheme cluster

 

Di pandang dari segi maknanya,morfem merupakan satuan gramatikal yang belum mempunyai makna secara tegas sehingga boleh disebut bungkus leksikal. Kata dan frasa mempunyai makna sebagai preposisi, oleh karena itu klausa dapat didefinisikan sebagai satuan gramatikal terkecil untuk menyatakan proposisi.

Tata urutan seperti yang tercantum pada  skema di atas semata-mata hanya berlaku untuk tatan normal(normal mapping).cook (1969;31) menunjukan adanya berbagai kemungkinan tatanan sebagai berikut.

TAGMEMIK

FILLERS

LEVEL

SKIPPING

NORMAL MAPPING

LAYERING

AT A LEVEL

BACK LOOPING

Above the sentence

Clause

Sentence

-

-

At sentences level

Phrase

Clause

Sentence

 

At clause level

Word

Pharase

Clause

Sentence

At phrase level

Morpheme

Word

Phrase

Clause

At word level

   -

Morph

Word

Phrase

 Pada tatanan normal: unsur sebuah kalimat berupa klausa, unsur klausa berupa frasa,unsur frasa berupa kata dan unsur kata berupa morfem. Pada loncatan tataran(level Skipping) unsur suatu struktur  di atas kalimat berupa klausa atau tataran lain yang dua jenjang atau lebih dibawahnya unsur kalimat berupa frasa atau jenjang di bawah frasa unsur klausa berupa kata atau morfem dan unsur frasa berupa morfem. Pada tataran layering atau recursive unsur sebuah kalimat beruapa kalimat juga, unsur kata berupa kata juga. Oada hierarki terputar atau back looping unsur suatu klausa dan unsur suatau kata justru berupa frasa. Pada hierarki terputar ini struktur yang jenjangnya lebih tinggi oleh karena itu barangkali lebih tepat digunakan istilah hierarki terputar.

6.      Slot pada Tataran Klausan

Slot pada tataran klausa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran kalimat tidak ada subjek dan tidak ada pula predikat. Objek dan adjung pun sudah barang tentu tidak ada juga. Kesemuanya itu hanyalah milik klausa, bukan milik kalimat. Slot pada tataran kalimat berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin) atau pokok dan sebutan, atau topic dan comment.

7.      Predikat Kata Kerja

Menurut teori tagmemik slot predikat harus kata kerja. Selain kata kerja tidak mungkin menduduki slot predikat. Dengan demikian tidakn ada istilah kalimat nominal. Bentuk-bentuk gramatikal seperti:” Ayahnya seorang guru”, rumahnya di tengah kota”,” lukisan itu indah dan sebagainya sama sekali bukan kalimat nominal melainkan  klausa ekuatif.

8.      Ciri Etik dan Emik

Aliran ini mulai menegakkan eksistensi ciri  -etik dan –emik di dalam struktur. Ciri –etik adalah ciri yang tidak membedakan struktur, sedangkan ciri –emik adalah ciri yang membedakan struktur.  Ciri etik dan emik ini tidak hanya terbatas pada penggunaan istilah fonetik dan fonemik saja akan tetapi berlaku untuk semua struktur gramatikal. Bahkan berlaku pula untuk semua bidang kehidupan manusia.

 

 

 

9.      Rumus di dalam Analisis

Di dalam analisis selau menggunakan rumus yang rapi, rangkap, dan tuntas. Apabila dipandang perlu dapat menggunakan diagram pohon. Akan tetapi, cara yang terakhir kurang disukai karena kurang praktis.

10.  Analisis Dimulai dari Klausa

Apabila aliran stuktural mengawali analisisnya dari kata, teori transformasional mengawali analisisnya dari kalimat, maka teori tagmemik mengawali analisisnya dari tataran klausa. Dengan demikian, tataran klausa kedudukannya sangat penting.

11.  Tidak ada batas antara Morfologi dan Sintaksis

Morfologi dan sintaksis melebur menjadi satu hierarki, yaitu hierarki gramatikal yang rentangan levelnya dari morfem sampai dengan wacana.(morfem-kata-fraasa-kluasa-kalimat-alinea-monolog-dialog-percakapan-wacana).

Teori tagmemik memang secara formal belum pernah diterapkan di dunia pengajaran bahasa. Akan tetapi berdasarkan beberapa ciri yang dikemukakan tadi tampaknya teori ini mempunyai peluang besar untuk menjadi ladasan bagi pengajaran bahasa)khusunya pengajaran bahasa indonesia).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.3              TOKOH-TOKOH DALAM ALIRAN TAGMEMIK

1.      Kenneth Lee Pike

Secara relative teori Tagmemik kini memang boleh dikatakan masih cukup baru. Kebulatan dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977 dengan terbitnya buku “Grammatical Analysis” karangan Keneth L. Pike dan Evelyn G. Pike. Mereka sepasang suami istri dari University of Texas at Arlington dan sebagai direktur SIL (Summer Institusi of Linguisticts)(Soeparno,2002:58)

1)      Generasi Pertama

Generasi ini sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik yang sebenarnya.paling tepat disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu kelengkapan spesifikasi ciri tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class saja. Dengan demikian analisisnya masih agak sederhana. Sebagai missal , klausa”Kepalan Tyson telah mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai: S: NP+P:VP+O:NP.Ahli bahasa yang terlibat pada generasi pertama ini antara lain: B. Elsen (1962), V. Pickett (1962), R.E. Longacre (1964), W.A. Cook (1969), (1970), (1971).

2)      Generasi kedua

Pada geberasi kedua ini teori tagmemik  baru mencapai kesempurnaannya. Untuk melahirkan buku”Grammatical Analysis” Pike suami istri memerlukan waktu sepuluh tahun. Salah satu tempat yang dipakai untuk uji coba adalah Indonesia, yakni di daerah Irian Jaya atau lebih tepatnya di danau Bira (1976). Ciri tagmen tidak lagi dua dimensi, melainkan empat dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion. Sebenarnya Verhaar pernah mengemukakan konsepnya tentang analisis kalimat/klausa yang senada dengan teori tagmemik ini. Verhaar merupakan teori antara, dari tagmemik generasi pertama ke generasi tagmemik kedua. Demikian pula, Eduard Travis (1980) telah berhasil menganalisis makanan orang Sunda dengan menggunakan teori ini.

 

 

 

1.3   BEBERAPA TEORI/ALIRAN YANG LAIN.

A.    Aliran Blomfieldian

Penamaan ini berangkat dari nama bloomfield, seorang tokoh dari aliran struktural. Secara garis besar sebenarnya aliran ini termasuk dalam aliran struktural. Buku karangan blommfield yang paling populer berjudul “language”. Buku ini sangat lengkap karena mengungkapkan segala hal mengenai bahasa, sehingga apabila buku ini dinamakan “babon-nya ilmu bahasa”. Buku setebal 566 halaman yang dikarang tahun 1933 itu dipakai sebagai pedoman dan sering dikutip para ahli bahasa yang lain yang sepaham.mereka antara laian:F Boaz,E.sapir dan lain-lain.

B.     Aliran Neo- Bloomfieldian

Aliran ini sebenarnya meruapakan pengembangan dari aliaran bloomfileddian. Aliran ini disebut juga aliran post bloomfieldian, tata bahasa segmentas. Walaupun masalah makna tetap diperhatikan,namun pengamatan bentuk/struktur merupakan prioritas.

 

C.     Aliran Stratifikasional

Aliran ini beranggapan bahwa bahasa merupakan suatu perangkat hubungan antarbagian. Oleh karena itu, aliran ini biasa juga dinamakan aliran relasional. Stratifikasi adalah penyusunan satu seri tata urut tataran-tataran di dalam suatu struktur yang  berkaitan satu sama lain. Ada dua macam stratifikas,yakni stratifikasi vertikal dan stratifikasi horisontal. Stratifikasi vertikal tampak pada bunyi dan pengalaman atau bentuk dan makna. Stratifikasi horisontal  berupa hubungan antara fonem dengan fonem (fonotaktik), morfem dengan morfem (morfotaktik), leksem dengan leksem (leksotaktik) dan sebagainya.

D.    Aliran Kopenhagen

Aliran ini sebenarnya merupakan aliran yang mengilhami timbulnya aliran stratifikasional. Perbedaan aliran stratifikasional melihat bahasa sebagai satu sistem hubungan-hubungan baik secara praktis maupun secara teoritis.

E.     Aliran Praha

Aliran ini disebut juga aliran fungsional karena titik telaahnya pada fungsi. Secara garis besar memang masih berada di dalam lingkup strukturalisme walaupun tidak lagi strukturalisme tulen sebagaimana ajaran Saussure.

F.      Aliran London

Aliran yang dipelopori oleh J.R. Firth.Oleh karena itu sering pula disebut aliran Firthians. Titik berat perhatriannya pada bidang fonetik dan fonologi.Istilah fonologi menurut aliran Kontinental ini pada aliran Amerikadipakai istilah fonemik. Apabila aliran Bloomfieldian disebut dengan nama strukturalisme Amerika, maka aliran Firthians biasa digelari dengan StrukturalismeKontinental.

G.    Aliran Neo-Firthians

Aliran ini sebenarnya aliran London atau Firthians yang kemudian dikembangkan oleh M.A.K. Halliday. Aliran Neo-Firthians atau aliran Halliday disebut juga aliran tata  bahasa sistematik (systematic grammar).

H.    Aliran Case Grammar

Aliran ini lebih menitikberatkan pada peran. Oleh sebab itu biasa juga disebut tata bahasa peran. Peran adalah pembawa fungsi suatu komponen di dalam struktur.

 

 

 1.4   ANALISIS KALIMAT

          S      KG                P         KKt              O       KB

          Pel                             Ak                         Tuj

 

1.      Ayah   pergi    ke        luar kota

S: FN   P: FV               O: FN

S KB   P Kkt               O KB

Pel       Ak       Kpeng Tuj

 

2.      Tyo      mengajak         Lingga             mengerjakan   tugas    di         perpustakaan

S: FN   P: FV               S: FN               O: FV                                      Ket: FN

S KB   P Kkt               S KB               KB                                          KB

Pel       Ak                   Pel                   Ak                                           Tuj

 

3.      Ternyata hatimu          buta     karena tabir     kepalsuan

S: FN                           -           -           S: FN   -

S KB                           Kki      Kpeng KB      Kki

 

4.      Rani     belajar             matematika

S: FN   P: FV               O: FN

S KB   P Kkt               O KB

Pel       Ak                   Tuj

 

5.      Yang   tertusuk           di         hatimu                         berdarah          di         jantungku

P: FV                                       S: FN               FV                               FN

Kpeng -                       Kpeng KB                              -                       Kpeng KB

 

6.      Aku     baik-baik saja

S: FN   P: FV

S KB   PKki

Pel      

 

 

Keterangan:

S          : Subjek

P          : Predikat

O         : Objek

Ket      : Ketrerangan

FD       : Frase Depan

Pel       : Pelaku

Ak       : Aktif

Tuj       : Tujuan

KB      : Kata Benda

KG      : Kata Ganti

KKt     : Kata Kerja Transitif

Kki      : Kata Kerja Instransitif

Kpeng : Kata Penghubung

FN       : Frase Nominal

FV       : Frase Verbal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGANALIRANTAGMEMIK

A.      Kelebihan Aliran  Linguistik Tagmemik

1)      Aliran ini berwawasan eklektik sehingga prinsip-prinsip aliran pratagmemik dihargai  dan diperhitungkan  sesuai karakteristiknya.

2)      Dengan konsep semesta, bahasa apapun dapat  dianalisis dengan teori tagmemik

3)      Level gramatikalnya sangat lengkap, dari morfem hingga wacana.

4)      Dalam pengajaran bahasa dapat digunakan dua pendekatan, yakni pendekatan komunikatif dan pendekatan kontekstual.

5)      Fleksibilitas dalam analisis bahasa.

6)      Menempatkan subjek dan predikat pada klausa bukan pada kalimat.

7)      Mempertajam daya analisis; tidak sekedar menghafalkan prosedur dan menghafalkan simpulan.

B.       Kekurangan Aliran  Linguistik Tagmemik

1)      Tidak tampak kekhasan karena eklektik.

2)      Terjadi ketidakaturan pada hierarki gramatikal dalam kasus bahasa bertipologi aglutinatif.

3)      Pada masyarakat konservatif prediket harus kata kerja dan tidak ada istilah nominal belum berterima di semua msyarakat.

4)      Analisis menggunakan rumus-rumus  rumit.

5)      Jika diterapkan dalam pembelajaran, khususnya  paragraf, akan sulit menganalis struktur bahasanya.

6)      Sebagai aliran yang bersifat eklektik, namun tidak terdapat cakupan mentalistik yang digunakan  dalam memahami sebuah  perilaku bahasa.

 

1.    6.        SIMPULAN

Aliran tagmemik dapat dikatakan sebagai aliran yang paling muda. Aliran ini lahir pada tahun 1977 yang dikecetuskan oleh Kenneth L. Pike. Terdapat dua belas cirri yang membedakannya dengan aliran-aliran linguistik lainnya. Terdapat dua generasi dalam perkembangan aliran tagmemik. Generasi pertama, aliran ini belum sepenuhnya sempurna. Kemudian pada generasi kedua, setelah melewati beberapa penelitian di berbagai daerah selama 8 tahun, akhirnya aliran ini mencapai kesempurnaan. Negara Indonesia pun turut berperan dalam pencetusan aliran tagmemik ini. Tokoh dari Indonesia yang ikut serta dalam peresmian aliran ini adalah Dr. Soedaryanto (dari UGM Yogyakarta). Analisis aliran tagmemik berpusat pada hubungan empat dimensi, yakni slot, klas kata, peran, dan kohesi.

Tata bahasa Tagmemik merupakan tata bahasa yang muncul pada periode Linguistik Strukturalis yang timbul akibat adanya ketidakpuasan atas pemecahan masalah dalam pembahasan periode Tata Bahasa Tradisional yang melulu merujuk pada Yunani dan Romawi sementara pada kasus-kasus tertentu ditemukan ketidak sesuaian antara teori yang dirujuk pada Linguistik Tradisional terhadap kasus baru.

Tata bahasa Tagmemik sendiri memiliki ciri bahwa suatu unsur bahasa merupakan bagian dari hidup manusia, tingkah laku manusia. Maka penerapannya akan selalu berkaitan dengan tingkah laku manusia. Beberapa contoh yang telah kami paparkan pada poin analisis Tata Bahasa Tagmemik, contoh yang kami paparkan merupakan salah satu kegiatan yang memang merupakan tingkah laku manusia secara keseharian.

Melalui pembahasan Tata Bahasa Tagmemik ini, kami menyadari bahwa memang linguistik sangat berpengaruh pada peradaban manusia karena linguistic tidak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia salah satu fakta konkretnya adalah : komunikasi, dapat membuat suatu bangsa menjadi besar, karena mereka sadar hal kecil yang kita lakukan jika dianalisis, dipelajari maka akan membuat akibat yang besar.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

L.Pike, Kenneth. 1992. Terjemahan Konsep Linguistik Pengantar Teori Tagmemik.

Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Soeparno. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.

Charlostf.wordpress.com/2011/07/03/aliran-tagmemik.html. (diakses, 2 januari 2016)

rezahadianto. Blogspot.com/2012/12/teori-aliran-tagmemik_3.html. (diakses, 2 januari 2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...