Suwito_Motivasi Pendidikan
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Munculnya Aliran
Tagmemik.
Sebelum aliran Tagmemik lahir, telah ada aliran-aliran yang
lebih dulu berkembang. Berikut ini akan dideskripsikan karakteristik beberapa
aliran linguistik yang ada kaitannya dengan aliran Tagmemik terutama yang ikut
memotivasi lahirnya aliran Tagmemik. Aliran linguistik tertua adalah aliran
Tradisional (abad IV) dipelopori oleh Plato dan Aristoteles dengan menggunakan
dasar pemikiran filsafat. Tata bahasa mereka dinamakan tata bahasa Normatif.
Kriteria kegramatikalan ditetapkan berdasarkan kaidah secara ketat dan
konsisten. Aliran ini masih mencampuradukan bahasa dalam arti yang sebenarnya
dengan tulisan. Tokoh-tokoh diantaranya: Zaandvoort, C.A Mees, Van Ophuysen,
R.O Winstedt, Poedjawijatna, Tardjan Hadidjaja.
Selanjutnya pada awal abad XX lahir aliran Struktural yang
dipelopori oleh Ferdinan de Saussure berlandaskan pada pola pemikiran
behavioristik. Bahasa dirumuskan sebagai suatu sistem tanda arbriter yang
konvensional. Kegramatikalan ditetapkan berdasarkan keumuman. Level gramatikal
tertata secara pilah dari morfem, kata, frase, klausa dan kalimat. Tokoh-tokoh
diantaranya: Leonard Bloomfield, Eugine Nida, Charles F. Hockett, Ch. C. Fries,
Eduard Sapir, N.S. Trubetzkoy, Willem Francis Mackey, R. Jacobson, Martin Joos,
Anton Moeliono, M. Ramlan.
Berikutnya pada tahun 1967 muncul aliran Transformasi yang
dipelopori oleh N. Chomsky berdasarkan pada paham mentalistik. Bahasa merupakan
proses kejiwaan di lapis batin. Kriteria kegramatikalan ditetapkan berdasarkan
kaidah yang diterapkan secara kreatif. Dalam level gramatikal aliran ini tidak
mengakui adanya klausa. Tokoh- tokoh yang disebut antara lain P. Postal, J.A.
Fodor, M. Halle, R. Palmatier, L. Lyons, Y.P.B. Allen, P. Van Buren, R.D. King,
R.A. Jacobs, J. Greene.
Mengiringi perkembangan aliran Strukturalisme muncul aliran
Relasionalisme. Nama lain aliran ini ialah Stratifikasionalisme. Aliran ini
beranggapan bahwa bahasa merupakan suatu perangkat hubungan antar bagian yang
membangun satu seri tata urut tataran- tataran didalam suatu struktur yang
berkaitan satu sama lain. Tokoh- tokoh yang dapat disebut anntara lain
Hielmsev, S. Lamb, F. West, Geoffery Sampson.
Setelah itu, muncul aliran yang lain yakni Case Grammer.
Aliran ini memfokuskan kajiannya pada masalah peran (role). Peran adalah ciri atau penanda dalam struktur
gramatik yang merupakan pembawa fungsi suatu komponen didalam struktur. Tokoh-
tokoh yang dapat disebut antara lain J.M. Anderson, Ch. J. Fillmore, R.E.
Longacre, W.A. Cook.
Berdasarkan uraian di atas tampak ada perbedaan dan
pertentangan antara aliran yang satu dengan aliran yang lain. Apabila dinalar
dengan penuh kecermatan sebenarnya setiap aliran tidak perlu ada yang dicela
dan tidak perlu mencela satu dengan yang lain. Setiap aliran memiliki kelemahan
dan sekaligus memiliki keunggulan. Atas dasar argumentasi tersebut sudah
sepantasnya didukung adanya upaya untuk mengakomodasi setiap keistimewaan dari
setiap aliran-aliran tersebut untuk diwadahi dalam peta yang proporsional.
Aliran Tradisional mempunyai keunggulan dalam analisis
fungsi-fungsi kalimat, aliran Struktural mempunyai keunggulan dalam analisis
kategori-kategori gramatikal, aliran Case Gramar mempunyai keunggulan dalam
analisis peran dan aliran Relasionalis mempunyai keunggulan dalam analisis
hubungan antar bagian di dalam struktur. Inilah sebenarnya yang
melatarbelakangi munculnya aliran Tagmemik yang elektik dan eklektik yang
memilih unsur-unsur tertentu yang cocok untuk dipadukan menjadi satu kesatuan
di dalam model analisis.
Pada dasarnya aliran Tagmemik yang sebenarnya lahir tahun
1977 yang dipelopori oleh K.L. Pike dan E.G. Pike bersamaan dengan terbitnya
buku Gramatical Analysis. Sebelum itu memang pernah ada buku An Introduduction to Tagmemic
Analysis (Cook,
1969) namun belum dapat disebut sebagai aliran Tagmenik yang lengkap, sebab
baru melibatkan dua dimensi, yakni slot dan filler class.bahkan
jauh sebelum itu istilah tagmem pernah dipakai oleh Bloomfield dalam bukunya Language yang ditulis tahun 1933.
Dari munculnya istilah tagmen sampai menjadi nama sebuah
aliran linguistik ditempuh jalan yang sangat panjang. Awalnya tahun 1962
Benyamin Elson dan Velma Pickett merintis kearah aliran ini dalam bukunya yang
berjudul An Introduction to Morphology and Syntax. Selanjutnya rintisan itu dilanjutkan
oleh Rober E. Longarce dalam tulisannya yang berjudul An Anatomy of Speech Notion
pada tahun 1964. Setelah
danya rintisan itu tampaknya Walter A. Cook yang semula sangat giat mengakrabi
aliran Transformasi dan Case Grammer tergoda untuk terjun ke aliran
Tagmemik.Aliran Tagmemik menjadi sempurna setelah dikembangkan selama kurun
waktu 8 tahun sejak terbitnya An Introduction to Tagmemic Analysis (1969).
Alkisah sepasang suami istsri Keneth L. Pike dan Evelyn Gloria
Pike yang berkebangsaan Amerika melakukan liburan di Karibia. Pada kesempatan
itu Pike suami istri mencatat keanehan atau kekhasan pada bahasa yang dipakai
oleh masyarakat di daerah itu. Data yang diperoleh didiskusikan untuk menemukan
struktur dan kaidahnya namun tidak dapat tuntas. Untuk itu dibentuklah suatu
oraganisasi linguistic dengan nama The Summer Institute of Linguistics (SIL).
Di Indonesia penelitian dilakukan di Irian Jaya. Untuk itu
dibangunlah sebuah base camp di Danau Bira yang berlokasi di pedalaman Irian
Jaya di tepi sungai Mamberamo. SIL bekerja sama dengan Universitas Cedrawasih
dengan menyumbangkan pesawat terbang jenis Chesna dan sebuah helicopter agar
penelitian diizinkan oleh pemerintah Indonesia yang tidak memperbolehkan orang asing
melakukan penelitian dengan membawa kendaraan dari negaranya.
Setiap tahun Sil mengumpulkan seluruh anggota yang tersebar
di seluruh dunia untuk melaporkan hasil penelitian. Tahun 1976 pertemuan
diselenggarakan di Indonesia tepatnya di kampus Universitas Cenderawasih
Abepura Irian Jaya. Hasil seminar didokumentasikan dalam judul “From Baudi to
Indonesian”. Pada kesempatan yang sama Pike & Pike mempresentasikan hasil
pembaruan Teori Tagmemik dalam bentuk draf buku berjudul “Gramatical Analysis.
Atas rekomendasi para ahli buku itu diterbitkan tahun 1977.
Secara relatif usia teori ini memang masih dapat disebut
muda, namun embrionya sebenarnya sudah lama ada. Beberapa tokoh yang patut
disebut dalam sejarah perkembangan teori ini antara lain Benjamin Elson (1962),
Velma Pickett (1962), Robert E. Longacre (1964), dan Walter A. Cook (1969,
1970, 1971).
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang sebelumnya, rumusan masalah
dalam makalah ini sebagai berikut.
1.
bagaimana ciri aliran tagmemik?
2.
siapakah tokoh pencetus aliran tagmemik?
3.
bagaimana perkembangan dan penerus aliran tagmemik?
4.
bagaimana penerapan aliran tagmemik dalam menganalisis kalimat?
1.3
Tujuan
1.
mendeskripsikan ciri aliran tagmemik.
2.
memperkenalkan tokoh pencetus aliran tagmemik.
3.
mendeskripsikan perkembangan dan penerus aliran tagmemik.
4.
mendeskripsikan penerapan aliran tagmemik dalam menganalisis kalimat.
PEMBAHASAAN
2.1
CIRI-CIRI ALIRAN TAGMEMIK
1.
Setiap Stuktur Terdiri atas
Tagmen-tagmen
Seperti telah
dikemukakan di depan bahwa tagmen adalah bagian dari suatu konstruksi
gramatikal yang memiliki empat macam kelengkapan spesifikasi ciri slot, kelas,
peran dan kohesi.(Soeparno,2002:60)
A.
Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong
di dalam stuktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Dalam tataran klausa
fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran
lain umumnya fungsi tagmen berupa inti (nucleus) dan luar inti (margin).
B.
Kelas (Class)
Kelas merupakan ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari
slot. Wujud nyata slot tersebut berupa satuan-satuan lingual seperti morfem,
kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana.
C.
Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda tagmen yang merupakan
pembawa fungsi tagmen. Memang agak sulit membedakan fungsi dan peran. Pelaku
(actor) dan penderita (undergoer) adalah peran. Pelaku dan penderita tersebut
dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian, ada subjek dengan peran
penderita.
D.
Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmen yang merupakan
pengontrol hubungan antartagmen. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada
semua bahasa ialah kaidah ketransitifan pada klausa yang berlaku untuk klausa
transitif, klausa intransitif, dan klausa ekuatif.
2. Bersifat Eklektif
Teori tagmemik bersifat eklektif, yaitu merupakan perpaduan
dari aneka macam teori yang dirangkum sesuai dengan proposisi masing-masing.
Teori tradisional dan fungsional ditempatkan pada ciri slot, teori struktural
dan tagmemik ditempatkan pada ciri kelas, teori kasus(case grammar) ditempatkan pada
ciri peran, dan teori relasional ditempatkan pada ciri kohesi. Hal ini
tidak berarti bahwa teori tagmemik tidak memiliki corak yang khas. Dalam beberapa
hal teori tagmemik mempunyai kekhasan yang berbeda dengan teori-teori yang
lain.
3. Bersifat Universal
Teori tagmemik bersifat universal. Keuniversalan atau
kesemestaan dalam teori ini bukan saja kesemestaan dalam arti berlaku untuk
semua bahasa. Akan tetapi, juga kesemestaan dalam arti dapat berlaku untuk
semua bidang kehidupan manusia. Eduard Trawis(1980) telah berhasil menganalisis
makanan orang sunda dengan menggunakan teori ini. Hasilnya cukup meyakinkan.
4. Tiga Hierarki Linguistik
Menurut teori ini ada tiga hierarki linguistik, yaitu: (a)
hierarki referensial, (b) hirarki fonologikal, dan (c) hierarki gramatikal.
Hierarki referensial adalah hierarki dalam kawasan tata nama dan tata
makna. Hierarki fonologikal adalah
hierarki dalam kawasan bunyi bahasa. Hierarki gramatikal adalah hierarki
dalam kawasan tata bahasa(grammar). Morfologi dan sintaksis
tercakup dalam hierarki gramatikal ini, namun menurut teori ini tidak ada lagi
batas antara morfologi dan sintaksis.
5. Tataran pada Hierarki Gramatikal
Tataran terendah dalam hierarki gramatikal menurut teori
ini adalah morfem, sedangkan tataran tertinggi adalah wacana. Pike dan
pike(19977:24) membuat urutan tataran secara skematis sebagai berikut.
|
MEANING |
MINIMUM UNIT |
EXPANDED UNIT |
|
Social intreaction |
Excahange |
Conversation |
|
Theme develompent |
Paragraph /sentence cluster |
Monolog |
|
Proposition |
Clause |
sentence |
|
Term |
Word |
Phrase |
|
Lexical package |
Morpheme |
Morpheme cluster |
Di pandang
dari segi maknanya,morfem merupakan satuan gramatikal yang belum mempunyai
makna secara tegas sehingga boleh disebut bungkus leksikal. Kata dan frasa
mempunyai makna sebagai preposisi, oleh karena itu klausa dapat didefinisikan
sebagai satuan gramatikal terkecil untuk menyatakan proposisi.
Tata urutan
seperti yang tercantum pada skema di
atas semata-mata hanya berlaku untuk tatan normal(normal mapping).cook (1969;31) menunjukan adanya berbagai
kemungkinan tatanan sebagai berikut.
|
TAGMEMIK FILLERS |
LEVEL SKIPPING |
NORMAL MAPPING |
LAYERING AT A LEVEL |
BACK LOOPING |
|
Above the sentence |
Clause |
Sentence |
- |
- |
|
At sentences level |
Phrase |
Clause |
Sentence |
|
|
At clause level |
Word |
Pharase |
Clause |
Sentence |
|
At phrase level |
Morpheme |
Word |
Phrase |
Clause |
|
At word level |
- |
Morph |
Word |
Phrase |
Pada tatanan normal: unsur sebuah kalimat
berupa klausa, unsur klausa berupa frasa,unsur frasa berupa kata dan unsur kata
berupa morfem. Pada loncatan tataran(level
Skipping) unsur suatu struktur di
atas kalimat berupa klausa atau tataran lain yang dua jenjang atau lebih
dibawahnya unsur kalimat berupa frasa atau jenjang di bawah frasa unsur klausa
berupa kata atau morfem dan unsur frasa berupa morfem. Pada tataran layering atau recursive unsur sebuah kalimat beruapa kalimat juga, unsur kata
berupa kata juga. Oada hierarki terputar atau back looping unsur suatu klausa dan unsur suatau kata justru berupa
frasa. Pada hierarki terputar ini struktur yang jenjangnya lebih tinggi oleh
karena itu barangkali lebih tepat digunakan istilah hierarki terputar.
6. Slot pada Tataran Klausan
Slot pada tataran klausa subjek, predikat, objek, dan
adjung. Pada tataran kalimat tidak ada subjek dan tidak ada pula predikat.
Objek dan adjung pun sudah barang tentu tidak ada juga. Kesemuanya itu hanyalah
milik klausa, bukan milik kalimat. Slot pada tataran kalimat berupa inti
(nucleus) dan luar inti (margin) atau pokok dan sebutan, atau topic dan
comment.
7. Predikat Kata Kerja
Menurut teori tagmemik slot predikat harus kata kerja.
Selain kata kerja tidak mungkin menduduki slot predikat. Dengan demikian tidakn
ada istilah kalimat nominal. Bentuk-bentuk gramatikal seperti:” Ayahnya seorang
guru”, rumahnya di tengah kota”,” lukisan itu indah dan sebagainya sama sekali
bukan kalimat nominal melainkan klausa
ekuatif.
8. Ciri Etik dan Emik
Aliran ini mulai menegakkan eksistensi ciri -etik dan
–emik di dalam struktur. Ciri –etik adalah ciri yang tidak membedakan struktur,
sedangkan ciri –emik adalah ciri yang membedakan struktur. Ciri etik dan emik ini tidak hanya terbatas
pada penggunaan istilah fonetik dan fonemik saja akan tetapi berlaku untuk
semua struktur gramatikal. Bahkan berlaku pula untuk semua bidang kehidupan
manusia.
9.
Rumus di dalam Analisis
Di dalam analisis selau menggunakan rumus yang rapi,
rangkap, dan tuntas. Apabila dipandang perlu dapat menggunakan diagram pohon.
Akan tetapi, cara yang terakhir kurang disukai karena kurang praktis.
10. Analisis Dimulai dari
Klausa
Apabila aliran stuktural mengawali analisisnya dari kata,
teori transformasional mengawali analisisnya dari kalimat, maka teori tagmemik
mengawali analisisnya dari tataran klausa. Dengan demikian, tataran klausa
kedudukannya sangat penting.
11. Tidak ada batas antara
Morfologi dan Sintaksis
Morfologi dan sintaksis melebur menjadi satu hierarki,
yaitu hierarki gramatikal yang rentangan levelnya dari morfem sampai dengan
wacana.(morfem-kata-fraasa-kluasa-kalimat-alinea-monolog-dialog-percakapan-wacana).
Teori tagmemik memang secara formal belum pernah diterapkan
di dunia pengajaran bahasa. Akan tetapi berdasarkan beberapa ciri yang
dikemukakan tadi tampaknya teori ini mempunyai peluang besar untuk menjadi
ladasan bagi pengajaran bahasa)khusunya pengajaran bahasa indonesia).
1.3
TOKOH-TOKOH DALAM ALIRAN
TAGMEMIK
1.
Kenneth Lee Pike
Secara relative teori Tagmemik kini memang boleh dikatakan
masih cukup baru. Kebulatan dan kelengkapannya baru terwujud pada tahun 1977
dengan terbitnya buku “Grammatical Analysis” karangan
Keneth L. Pike dan Evelyn G. Pike. Mereka sepasang suami istri dari University
of Texas at Arlington dan sebagai direktur SIL (Summer Institusi of
Linguisticts)(Soeparno,2002:58)
1)
Generasi Pertama
Generasi ini sebenarnya belum dapat disebut teori tagmemik
yang sebenarnya.paling tepat disebut rintisan menuju tagmemik. Pada waktu itu
kelengkapan spesifikasi ciri tagmemik baru ada dua, yakni slot dan filler class
saja. Dengan demikian analisisnya masih agak sederhana. Sebagai missal ,
klausa”Kepalan Tyson telah mengenai rahang Spinks” dianalisis sebagai: S: NP+P:VP+O:NP.Ahli
bahasa yang terlibat pada generasi pertama ini antara lain: B. Elsen (1962), V.
Pickett (1962), R.E. Longacre (1964), W.A. Cook (1969), (1970), (1971).
2)
Generasi kedua
Pada geberasi kedua ini teori tagmemik baru mencapai
kesempurnaannya. Untuk melahirkan buku”Grammatical Analysis”
Pike suami istri memerlukan waktu sepuluh tahun. Salah satu tempat yang dipakai
untuk uji coba adalah Indonesia, yakni di daerah Irian Jaya atau lebih tepatnya
di danau Bira (1976). Ciri tagmen tidak lagi dua dimensi, melainkan empat
dimensi, yakni slot, class, role, dan cohesion. Sebenarnya
Verhaar pernah mengemukakan konsepnya tentang analisis kalimat/klausa yang
senada dengan teori tagmemik ini. Verhaar merupakan teori antara, dari tagmemik
generasi pertama ke generasi tagmemik kedua. Demikian pula, Eduard Travis
(1980) telah berhasil menganalisis makanan orang Sunda dengan menggunakan teori
ini.
1.3
BEBERAPA TEORI/ALIRAN
YANG LAIN.
A. Aliran Blomfieldian
Penamaan ini berangkat dari nama bloomfield, seorang tokoh dari
aliran struktural. Secara garis besar sebenarnya aliran ini termasuk dalam
aliran struktural. Buku karangan blommfield yang paling populer berjudul “language”. Buku ini sangat lengkap
karena mengungkapkan segala hal mengenai bahasa, sehingga apabila buku ini
dinamakan “babon-nya ilmu bahasa”. Buku setebal 566 halaman yang dikarang tahun
1933 itu dipakai sebagai pedoman dan sering dikutip para ahli bahasa yang lain
yang sepaham.mereka antara laian:F Boaz,E.sapir dan lain-lain.
B. Aliran Neo- Bloomfieldian
Aliran ini sebenarnya meruapakan pengembangan dari aliaran
bloomfileddian. Aliran ini disebut juga aliran post bloomfieldian, tata bahasa
segmentas. Walaupun masalah makna tetap diperhatikan,namun pengamatan
bentuk/struktur merupakan prioritas.
C. Aliran Stratifikasional
Aliran ini beranggapan bahwa bahasa merupakan suatu perangkat
hubungan antarbagian. Oleh karena itu, aliran ini biasa juga dinamakan aliran
relasional. Stratifikasi adalah penyusunan satu seri tata urut tataran-tataran
di dalam suatu struktur yang berkaitan
satu sama lain. Ada dua macam stratifikas,yakni stratifikasi vertikal dan
stratifikasi horisontal. Stratifikasi vertikal tampak pada bunyi dan pengalaman
atau bentuk dan makna. Stratifikasi horisontal
berupa hubungan antara fonem dengan fonem (fonotaktik), morfem dengan
morfem (morfotaktik), leksem dengan leksem (leksotaktik) dan sebagainya.
D. Aliran Kopenhagen
Aliran ini sebenarnya merupakan aliran yang mengilhami timbulnya
aliran stratifikasional. Perbedaan aliran stratifikasional melihat bahasa
sebagai satu sistem hubungan-hubungan baik secara praktis maupun secara
teoritis.
E. Aliran Praha
Aliran ini disebut juga aliran fungsional karena titik telaahnya
pada fungsi. Secara garis besar memang masih berada di dalam lingkup strukturalisme
walaupun tidak lagi strukturalisme tulen sebagaimana ajaran Saussure.
F.
Aliran London
Aliran yang dipelopori oleh J.R. Firth.Oleh karena itu sering pula
disebut aliran Firthians. Titik berat perhatriannya pada bidang fonetik dan fonologi.Istilah
fonologi menurut aliran Kontinental ini pada aliran Amerikadipakai istilah
fonemik. Apabila aliran Bloomfieldian disebut dengan nama strukturalisme
Amerika, maka aliran Firthians biasa digelari dengan StrukturalismeKontinental.
G. Aliran Neo-Firthians
Aliran ini sebenarnya aliran London atau Firthians yang kemudian
dikembangkan oleh M.A.K. Halliday. Aliran Neo-Firthians atau aliran Halliday
disebut juga aliran tata bahasa
sistematik (systematic grammar).
H. Aliran Case Grammar
Aliran ini lebih menitikberatkan pada peran. Oleh sebab itu biasa
juga disebut tata bahasa peran. Peran adalah pembawa fungsi suatu komponen di
dalam struktur.
1.4 ANALISIS KALIMAT
S
KG
P
KKt
O KB
Pel
Ak
Tuj
1. Ayah
pergi ke
luar kota
S:
FN P: FV O:
FN
S
KB P Kkt O
KB
Pel Ak Kpeng Tuj
2.
Tyo mengajak
Lingga mengerjakan tugas di perpustakaan
S:
FN P: FV S:
FN O: FV Ket: FN
S
KB P Kkt S
KB KB KB
Pel Ak Pel Ak Tuj
3. Ternyata
hatimu buta karena tabir
kepalsuan
S:
FN - - S:
FN -
S
KB Kki Kpeng KB Kki
4.
Rani belajar
matematika
S:
FN P: FV O:
FN
S
KB P Kkt O
KB
Pel Ak Tuj
5. Yang
tertusuk di hatimu berdarah di jantungku
P:
FV S:
FN FV FN
Kpeng - Kpeng KB - Kpeng KB
6. Aku
baik-baik saja
S:
FN P: FV
S
KB PKki
Pel
Keterangan:
S
: Subjek
P
: Predikat
O
: Objek
Ket
: Ketrerangan
FD
: Frase Depan
Pel
: Pelaku
Ak
: Aktif
Tuj
: Tujuan
KB
: Kata Benda
KG
: Kata Ganti
KKt
: Kata Kerja Transitif
Kki
: Kata Kerja Instransitif
Kpeng :
Kata Penghubung
FN
: Frase Nominal
FV
: Frase Verbal
1.5 KELEBIHAN DAN KEKURANGANALIRANTAGMEMIK
A. Kelebihan
Aliran Linguistik Tagmemik
1)
Aliran ini berwawasan eklektik sehingga prinsip-prinsip aliran pratagmemik
dihargai dan diperhitungkan sesuai karakteristiknya.
2)
Dengan konsep semesta, bahasa apapun dapat dianalisis dengan teori
tagmemik
3)
Level gramatikalnya sangat lengkap, dari morfem hingga wacana.
4)
Dalam pengajaran bahasa dapat digunakan dua pendekatan, yakni pendekatan
komunikatif dan pendekatan kontekstual.
5)
Fleksibilitas dalam analisis bahasa.
6)
Menempatkan subjek dan predikat pada klausa bukan pada kalimat.
7)
Mempertajam daya analisis; tidak sekedar menghafalkan prosedur dan menghafalkan
simpulan.
B. Kekurangan Aliran Linguistik
Tagmemik
1)
Tidak tampak kekhasan karena eklektik.
2)
Terjadi ketidakaturan pada hierarki gramatikal dalam kasus bahasa bertipologi
aglutinatif.
3)
Pada masyarakat konservatif prediket harus kata kerja dan tidak ada istilah
nominal belum berterima di semua msyarakat.
4)
Analisis menggunakan rumus-rumus rumit.
5)
Jika diterapkan dalam pembelajaran, khususnya paragraf, akan sulit
menganalis struktur bahasanya.
6)
Sebagai aliran yang bersifat eklektik, namun tidak terdapat cakupan mentalistik
yang digunakan dalam memahami sebuah perilaku bahasa.
1. 6. SIMPULAN
Aliran
tagmemik dapat dikatakan sebagai aliran yang paling muda. Aliran ini lahir pada
tahun 1977 yang dikecetuskan oleh Kenneth L. Pike. Terdapat dua belas cirri
yang membedakannya dengan aliran-aliran linguistik lainnya. Terdapat dua
generasi dalam perkembangan aliran tagmemik. Generasi pertama, aliran ini belum
sepenuhnya sempurna. Kemudian pada generasi kedua, setelah melewati beberapa
penelitian di berbagai daerah selama 8 tahun, akhirnya aliran ini mencapai
kesempurnaan. Negara Indonesia pun turut berperan dalam pencetusan aliran
tagmemik ini. Tokoh dari Indonesia yang ikut serta dalam peresmian aliran ini
adalah Dr. Soedaryanto (dari UGM
Yogyakarta). Analisis aliran tagmemik berpusat pada hubungan empat dimensi,
yakni slot, klas kata, peran, dan kohesi.
Tata bahasa Tagmemik merupakan tata bahasa yang muncul pada
periode Linguistik Strukturalis yang timbul akibat adanya ketidakpuasan atas
pemecahan masalah dalam pembahasan periode Tata Bahasa Tradisional yang melulu
merujuk pada Yunani dan Romawi sementara pada kasus-kasus tertentu ditemukan
ketidak sesuaian antara teori yang dirujuk pada Linguistik Tradisional terhadap
kasus baru.
Tata bahasa Tagmemik sendiri memiliki ciri bahwa suatu unsur
bahasa merupakan bagian dari hidup manusia, tingkah laku manusia. Maka
penerapannya akan selalu berkaitan dengan tingkah laku manusia. Beberapa contoh
yang telah kami paparkan pada poin analisis Tata Bahasa Tagmemik, contoh yang
kami paparkan merupakan salah satu kegiatan yang memang merupakan tingkah laku
manusia secara keseharian.
Melalui pembahasan Tata Bahasa Tagmemik ini, kami menyadari bahwa
memang linguistik sangat berpengaruh pada peradaban manusia karena linguistic
tidak pernah bisa lepas dari kehidupan manusia salah satu fakta konkretnya
adalah : komunikasi, dapat membuat suatu bangsa menjadi besar, karena mereka
sadar hal kecil yang kita lakukan jika dianalisis, dipelajari maka akan membuat
akibat yang besar.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
L.Pike, Kenneth. 1992. Terjemahan Konsep Linguistik Pengantar Teori Tagmemik.
Jakarta: PT
Gelora Aksara Pratama.
Soeparno.
2002. Dasar-Dasar
Linguistik Umum. Yogyakarta: PT Tiara Wacana.
Charlostf.wordpress.com/2011/07/03/aliran-tagmemik.html. (diakses, 2 januari 2016)
rezahadianto. Blogspot.com/2012/12/teori-aliran-tagmemik_3.html.
(diakses, 2 januari 2016)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar