TEORI SASTRA MARXIS
KARL MARX
Oleh Suwito
Marxisme
merupakan paham yang berasal dari pandangan Karl Marx. Marx
menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial
dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.
Teori ini
merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku
Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels.
Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme kaum borjui.
Ia menganggap bahwa kaum borjui mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum
proletar. Hal ini terdapat penindasan yang dilakukan oleh kaum borjui yang
memiliki banyak hal-hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia terhadap kaum
proletar yakni kaum yang tidak memiliki apa-apa dan demi mendapatkan apa yang
dibutuhkan mereka mau tidak mau harus bekerja kepada kaum borjui. Hal ini yang
membuat kaum borjui memanfaatkan dan menindas kaum ploretar.
A.
Sejarah
Teori
Marxisme
merupakan paham yang berasal dari pandangan Karl Marx. Marxisme adalah paham
yang bertujuan untuk memperjuangkan kaum Proletar untuk melawan kaum Borjuis.
Menurut
Marx dalam sebuah masyarakat terdapat dua kelas/kaum yaitu kaum yang memiliki
alat produksi (Borjui) dan kaum yang tidak memiliki alat produksi (Proletar).
Alat Produksi yang dimaksud dalam hal ini adalah segala hal yang dapat
menghasilkan sebuah komoditas yang merupakan barang-barang yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Karena telah menjadi kebutuhan kaum Proletar mau tidak mau mereka
akan tetap membelinya. Apabila melihat dari keadaan kaum Borjuis sebagai
pemiliki produksi atau memiliki kekayaan yang melimpah, kaum Borjuis memiliki
keuntungan tersendiri dari proses pemebelian tersebut. Melihat keadaan kaum
Proletar yang tidak memiliki apa-apa dan demi mendapatkan atau memperoleh
kebutuhan tersebut mereka harus bekerja pada kaum Borjuis dan pada saat itulah
kaum Borjuis memanfaatkan kelemahan dari kaum Proletar untuk menindasnya.
Dengan kata lain kaum Borjuis yang memiliki kekuasaan bisa menindas kaum
Proletar sesuka hati. Walaupun kaum Proletar bekerja ekstra untuk mendapatkan
alat produksi dari kaum Borjuis, alat produksi tersebut tidak sesuai dengan
keringat yang dikeluarkan oleh kaum Proletar. Disinilah peran dari teori
marxisme sebagai paham yang diciptakan oleh Marx untuk membela dan berpihak kepada
kaum Proletar dimana teori ini ada karena adanya perlakuan tidak adil yang
dialami oleh kaum Proletar. Marx berusaha mengangkat kaum Proletar dari
penindasan sehingga kaum Proletar bisa menjadi pemilik alat produksi.
Kondisi kaum
proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah
minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis atau kaum
borjui. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh.
Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan
pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk
mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti
dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar
akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.
B.
Konsep
dalam Teori
Marx
mengembangkan teori sosial sastranya dengan menyatakan bahwa kegiatan manusia
yang paling penting adalah kegiatan ekonomi (produksi unsur-unsur materi). Hal
ini menunjukkan kerangka kerja sosiologi yang bersifat material, yaitu ekonomi
menjadi faktor determinasi kehidupan manusia dalam relasinya dengan struktur
sosial masyarakat. Potensi manusia sebagai mahluk sosial adalah pada aktivitas
ekonomi atau produksi dari suatu masyarakat. Tentu saja, konkreatisasi
aktivitas ekonomi ini berwujud kerja, sebagai usaha manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. Manusia tidak bisa lepas dengan sifat dasar kerja karena
kerja merupakan objektivitas diri manusia dalam memosisikan tujuan-tujuan
hidupnya dalam bentuk materi. Marx kemudian meyakini bahwa situasi dan kondisi
sosial manusia sangat dipengaruhi oleh aspek yakni aspek material-produksi.
Implikasinya, Marx membagi masyarakat dalam dua struktur yaitu infrastruktur (dasar
ekonomi) dan superstrukutr (hasil pikiran dan perasaan).
Hubungan
keduanya itu bersifat determinasi, yaitu aktivitas-aktivitas produksi
(infrastruktur) akan selalu membawa perubahan pada superstrukturnya. (Faruk,
2012: 7). Dalam model Marx, dasar ekonomi (infrastruktur) ini terdiri atas
alat-alat, cara-cara, dan hubungan-hubungan produksi. Alat-alat produksi ini
dapat disamakan dengan bahan-bahan yang tersedia untuk proses produksi.
Cara-cara
produksi berkaitan dengan teknik-teknik yang ada, yaitu bentuk-bentuk kegiatan
yang digunakan untuk mengkomoditaskan alat-alat produksi. Sedangkan, hubungan
produksi dengan tipe pemilihan yang merata bersama-sama dengan pembagian sosial
antara pemilik alat-alat produksi dengan pekerja yang muncul bersamaan dengan
adanya masyarakat kelas (Faruk, 2012: 7).
Kenyataan
bahwa struktur sosial masyarakat dideterminasi oleh kegiatan produksi, maka
Marx mengidentifikasi struktur sosial masyarakat menjadi dua kelas, yaitu kelas
atas dan kelas bawah, kelas atas adalah kelas yang memiliki sarana produksi,
sedangkan kelas bawah adalah mereka yang tidak memiliki alat-alat produksi.
Relasi antarkelas ini yang kemudian menciptakan kelas dominan dengan
subordinat, majikan dengan budak, tuan tanah dengan pelayan, dan borjuis dengan
proletar. Menurut Marx, sejarah manusia adalah rangkaian
kontradiksi-kontradiksi yang terjadi antarkelas sosial. Perubahan sejarah
mengambil bentuk-bentuk yang sifatnya suksesi masyarakat yang didominasi oleh
berbagai mode produksi, misalnya feodalisme atau kapitalisme. Konflik dan
kontradiksi feodalisme melibatkan tuan tanah dengan buruh, sedangkan
kapitalisme adalah majikan dengan pekerja. Dua kelas sosial yang berbeda dalam
sejarahnya akan selalu terlibat konflik atau kontradiksi karena perbedaan kelas
ekonomi.
Marx
meyakini bahwa konflik terjadi karena adanya perbedaan ideologi kelas. Ideologi
ini tercipta karena, pada tingkatan ide, hubungan antara infrastruktur dengan
superstruktur jelas menonjolnya dalam hal keyakinan-keyakinan tertentu pada
setiap masa yang juga mendukung organisasi produksi. Oleh karena itu, bagi
Marx, ideologi selalu merepresentasikan sistem gagasan dan keyakinan. Marx pun
menggunakan istilah ideologi untuk merujuk kepada sistem-sistem aturan ide-ide
yang menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem. Dengan
demikian, ideologi menurut Marx merupakan kesadaran, keyakinan, ide, dan
gagasan yang dipercaya masyarakat yang menjadikan kontradiksi kelas itu tidak
tampak atau sebaliknya, ideologi menjadikan kontradiksi antarkelas itu tampak
nyata.
Dengan
demikian, ideologi adalah kesadaran bersama yang terdapat dalam kontradiksi
antarkelas. Ideologi sering disebut gagasan yang palsu bila ideologi menjadikan
relasi kontradiksi antarkelas tidak dipahami. Akan tetapi, di sisi lain,
ideologi juga menjadi kesadaran kelas yang menjadikan kontradiksi antarkelas
tampak jelas. Di sini ideologi memberikan pemahaman bahwa relasi antarkelas itu
berbeda, dan kelas dominan dipahami sebagai kelas yang selalu mengeksploitasi
eksistensi kelas subordinat.
Jika
konsep dasar teori sosial Marx di atas digunakan untuk menelaah fenomenal
material sastra, maka pokok yang bisa dirumuskan tentang teori sosial Marx
dalam relasinya dengan sastra adalah pertama, pengarang sebagai individu bagian
anggota masyarakat yang produksi pikiran dan kesadarannya ditentukan
(dideterminasi) oleh aktivitas material (ekonomi) sebagai infrastrukturnya,
sehingga kedudukan kelas sosial ekonomi pengarang menjadi faktor utama yang
menentukan produksi kesadaran dan pikiran pengarang. Kedua, dalam konteks ini,
sastra sebagai superstruktur merupakan artefak hasil produksi pikiran dan
perasaan manusia, sehingga sastra eksistensi ideologinya merepresentasikan
kelas sosial pengarangannya.
Menurut
Marx dan Engels (1845) sastra merupakan hasil produski ide, konsep-konsep, dan
kesadaran yang terkait erat bahwa yang dideterminasi oleh aspek kehidupan
material manusia. Oleh karena itu, menurut Marx, manusia harus hidup dahulu
sebelum berfikir. Hasil pikiran dan apa yang dipikirkan manusia bertalian erat
dengan bagaimana manusia hidup karena apa yang diekspresikan manusia dan
cara-cara pengekspresiannya tergantung pada apa dan bagaimana manusia hidup
(Faruk, 2012: 7). Teori sastra
Marxis didasarkan pada filsafat Marx, khususnya teorinya mengenai materialisme
historik dan dialektik.
1. Materialisme
Dialektika
Karl Marx sangat dipengaruhi oleh filsuf Jerman G.W.F.
Hegel (1821/1967). Ada dua konsep yang jadi inti filsafat Hegel, yakni dialektika dan idealisme. Dialektika adalah kerangka berfikir dan citra dunia. Di
sisi lain, dialektika adalah kerangka berpikir yang menekankan pentingnya
proses, hubungan, dinakmika, konflik, dan kontradiksi.
Ludwig Feuerbach (1804-1872) adalah jembatan penting
antara Hegel dan Marx. Feuerbach bersikap kritis terhadap Hegel. Penerapan
filsafat materialis oleh Feuerbach mendorongnya untuk berpendapat bahwa yang
dibutuhkan adalah pergeseran dari idealisme subjektif Hegel menuju fokus yang
tidak mengarah pada ide namun pada realitas material manusia (Ritzer: 2013:22).
Marx setuju dengan kritik Feuerbach terhadap Hegel
terkait dengan beberapa persoalan misalnya, materialisme dan penolakan teori
Hegel yang abstrak, namun Marx jauh dari puas terhadap pendapat Feuerbach
sendiri. Sebabnya adalah Feuerbach memfokuskan perhatiannya pada dunia religiu,
sementara Marx percaya bahwa yang harus dianalisis adalah dunia sosial,
khususnya ekonomi. Meskipun Marx menerima materialisme Feuerbach, Marx merasa
bahwa Feuerbach melangkah terlalu jauh dalam memfokuskan satu sisi saja, yakni
hanya pada dunia material dan tidak memakai dialektika. Akhirnya, Marx
mengambil dua elemen yang menurutnya paling penting dari kedua pemikir ini,
yaitu dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach, dan memadukan keduanya ke
dalam orientasi tersendiri, yaitu Materialisme
Dialektika, yang memfokuskan perhatian pada hubungan dialektis dalam dunia
material (Ritzer, 2013: 23).
Gagasan tentang filsafat dialektis telah ada selama
berabad-abad. Gagasan dasarnya adalah arti penting kontradiksi. Hegel
menggunakan ide tentang kontradiksi untuk memahami perubahan historis. Menurut
Hegel, perubahan historis digerakkan oleh pemahaman-pemahaman yang saling
berlawanam yang merupakan esensi dari realitas, usaha-usaha kita untuk
memecahkan kontradiksi-kontradiksi, dan kontradiksi-kontradiksi baru yang
berkembang (Ritzer, 2013: 46).
Marx juga menerima arti penting
kontradiksi-kontradiksi untuk perubahan historis. Kita bisa lihat hal ini di
dalam rumusannya yang terkenal seperti “kontradiksi kapitalisme” dan
“kontradiksi kelas”. Namun, berbeda dengan Hegel, Marx tidak percaya bahwa
kontradiksi-kontradiksi ini bisa dipecahkan di dalam pemahaman kita, yakni di
dalam pikiran kita. Bagi Marx, kontradiksi-kontradiksi ini ini benar-benar ada
dan tidak dapat dipecahkan tanpa adanya perjuangan hidup dan mati demi mengubah
dunia sosial, karya Marx sangat relevan untuk sosiologi, meskipun pendekatan
dialektika sangat berbeda dengan bentuk pemikiran yang digunakan kebanyakan
sosiolog. Dialektika lebih membawa kita kepada minat untuk mengkaji konflik dan
kontradiksi-kontradiksi yang terjadi di antara berbagai level realitas sosial,
ketimbang minat sosiologi tradisional terhadap level-level yang saling
berhubungan dengan teratur dengan suatu keseluruhan yang kohesif (Ritzer, 2013:
46).
Sebagai contoh, salah satu kontradiksi dalam
kapitalisme adalah hubungan antara pekerja dan para kapitalis pemilik
pabrik-pabrik dan sarana-sarana produksi lainnya yang digunakan untuk pekerja.
Kapitalis harus mengeksploitasi para pekerja untuk memperoleh keuntungan dari
para pekerja. Para pekerja berlawanan dengan para kapitalis, ingin memperoleh
setidaknya sedikit keuntungan untuk diri mereka. Kecenderungan mengingkatkan
eksploitasi melahirkan lebih banyak penolakan terhadap sebagian pekerja.
Penolakan tersebut menimbulkan lebih banyak eksploitasi dan penindasan, dan
mungkin menghasilkan konfrontasi antara dua kelas (Boswell dan Dixon, 1993
dalam Ritzer, 2013: 46).
a.
Fakta dan Nilai
Nilai
sosial tidak dapat dipisahkan dari fakta-fakta sosial. Fakta-fakta dan
nilai-nilai saling merangkai dengan cara yang tidak terelakkan, akibatnya studi
fenomena sosial sarat dengan nilai. Bagi Marx, mustahil dan seandainya pun
mungkin, tidak pantas bersikap tidak memihak dalam analisisnya terhadap
masyarakat kapitalis. Bahkan, dapat diargumenkan bahwa pandangan-pandangan Marx
yang penuh nafsu mengenai isu-isu itu memberinya wawasan yang tiada taranya
mengenai hakikat masyarakat kapitalis (Ritzer, 2013: 47).
b.
Hubungan-Hubungan Resiprokal (Timbal
Balik)
Bagi
pemikir dialektis, pengaruh-pengaruh sosial tidak pernah hanya mengalir satu
arah seperti yang sering dilakukan para pemikir sebab dan akibat. Sang
dialektis tidak pernah mempertimbangkan hubungan kausal di dalam hubungan
sosial. Pemikiran itu sungguh berarti bahwa ketika para pemikir dialektis
berbicara tentang kausalitas, mereka selalu menyesuaikannya dengan
hubungan-hubungan respkoral diantara faktor-faktor sosial dan juga totalitas
dialektis kehidupan sosial tempatnya tertanam (Ritzer, 2013: 47).
c. Masa
Lampau, Masa Kini, Masa Depan
Para
dialektisi tertarik bukan hanya kepada hubungan-hubungan fenimena sosial
didalam dunia kontemporer, tetapi juga didalam hubungan realitas-realitas
kontemporer dengan fenomena sosial masa lampau maupun fenomena sosial masa
depan. Pertama, berarti bahwa para sosiolog dialektis berhasrat untuk
mempelajari akara-akar historis dunia kontemporer seperti yang dilakukan Marx.
Kedua, banyak pemikiran dialektis menyesuaikan diri dengan tren-tren sosial
agar dapat memahami arah yang mungkin dan dalam masyarakat dimasa depan
(Ritzer, 2013: 48).
d. Tidak
Ada yang Tidak Terelakkan
Studi-studi
historis Marx menunjukan bahwa orang membuat pilihan-pilihan, tetapi
pilihan-pilihan itu terbatas. Contohnya, Marx percaya bahwa masyarakat terlibat
di dalam suatu perjuangan kelas dan bahwa rakyat dapat memilih untuk turut
serta baik dalam “rekontruksi revolusioner masyarakat secara luas, atau di
dalam keruntuhan umum kelas yang sedang berseteru. Fenomena sosial secara tidak
terelakkan akan menimbulkan bentuk yang menentangnya dan perbenturan di antara
keduanya secara tidak terelakkan akan menyebabkan bentuk sosial sintetik yang
baru (Ritzer, 2013: 48).
e. Aktor
dan Struktur
Para
pemikir dialektis juga tertarik pada hubungan dinamis antara para aktor dan
strukur-struktur sosial. Marx tentu saja sepaham dengan level-level utama
analisis sosial yang senantiasa memengaruhi. Inti pemikiran marx terletak di
dalam hubungan antara orang dan struktur-struktur berskala besar yang mereka
ciptakan (Ritzer, 2013: 49).
f.
Sifat Dasar Manusia dan Kerja
Bagi
Marx, suatu konsep mengenai sifat dasar manusia yang tidak memperhitungkan
faktor-faktor sosial dan historis keliru, tetapi memperhitungkan faktor-faktor
itu bukan berarti tidak mempunyai konsep mengenai hakikat manusia. Ketika
membicarakan potensi manusia secara umum, Marx sering menggunakan istilah species baing (sifat esensial spesies).
Yang dia maksud dengan hal itu adalah potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan
yang unik pada manusia yang membedakan manusia dari spesies-spesies lain
(Ritzer, 2013: 50—52).
Bagi
Marx, sifat esensial spesies dan potensi manusia terkait erat dengan
kerja, pertama-tama kerja adalah suatu proses ketika manusia dan alam
berpartisipasi dan manusia atas kemauannya sendiri memulai, mengatur dan
mengendalikan hubungan-hubungan material di antara dirinya dan alam. Pandangan
Marx mengenai hubungan antara kerja dan hakikat manusia. Pertama, apa yang
membedakan kita dari hewan-hewan lain, sifat esensial spesies kita, ialah bahwa
kerja kita menciptakan sesuatu di dalam kenyataan yang sebelumnya hanya
ada dalam imajinasi kita. Kedua, kerja demikian bersifat material. Ketiga, Marx
percaya bahwa kerja tidak sekedar mentransformasi aspek-aspek material alam,
tetapi juga mentransformasi kita termasuk kebutuhan-kebutuhan kita, kesadaran kita,
dan hakikat kita sebagai manusia. Penggunaan istilah kerja oleh Marx tidak
terbatas pada kegiatan-kegiatan ekonomi, ia meliputi seluruh tindakan produktif
yang mengubah aspek-aspek material alam sesuai dengan maksud manusia.
Bagi
Marx kerja adalah pengembangan kekuasaan-kekuasaan dan potensi-potensi
manusiawi kita yang sejati. Dengan mentransformasikan realitas material agar
sesuai dengan maksud kita, kita juga mentransformasikan dari kita sendiri.
Selain itu, Marx mengatakan kepada kita bahwa transformasi tersebut bahkan
meliputi kesadaran kita. Oleh karenay itu, kesadaran, sejak permulaan adalah
suatu produk sosial, dan tetap demikian selama manusia ada. Akibatnya,
transformasi individu melalui kerja dan transformasi masyarakat tidak dapat
dipisahkan (Ritzer, 2013: 52—54).
g. Alienasi
Alienasi
merupakan suatu contoh jenis kontradiksi yang menjadi pusat perhatian
pendekatan dialektis Marx. Ada suatu kontradiksi nyata di antara hakikat
manusia yang didefinisikan dan ditransformasikan oleh pekerjaan dan kondisi-kondisi
sosial aktual pekerjaan di bawah kapitalisme. Apa yang ingin di tekankan Marx
ialah bahwa kontradiksi seperti itu tidak dapat dipecahkan hanya di dalam
pikiran.
Meskipun
Marx percaya bahwa ada suatu hubungan yang melekat antara kerja dan hakikat
manusia dia menganggap bahwa hubungan itu disesatkan oleh kapitalisme. Marx
menyebutkan hubungan yang di sesatkan itu sebagai alienasi. Di dalam karyanya
yang belakangan mengenal hakikat masyarakat kapitalis, dia menjauhkan diri dari
suatu istilah filosofis yang berat seperti alienasi, namun alienasi tetap
merupakan salah satu keprihatiannya yang utama.
Walaupun
individu lah yang merasa teralienasi di dalam masyarakat kapitalis,
keprihatinan analitis mendasar Marx adalah pada struktur-struktur kapitalisme
yang menyebabkan alienasi. Marx menggunakan konsep alienasi untuk menyingkapkan
efek produksi kapitalis yang bersifat menghancurkan terhadap manusia dan
terhadap masyarakat. Yang sangat signifikan di sini adalah sistem dua kelas
yaitu kaum kapitalis mempekerjakan karyawan, dengan demikian mereka memiliki
waktu para pekerja dan para kapitalis memiliki alat-alat produksi dan juga
memiliki produk-produk hasil akhirnya. Agar dapat bertahan hidup, para pekerja
dipaksa menjual waktu kerja mereka kepada kaum kapitalis. Struktur-struktur
itu, khususnya pembagian kerja adalah dasar sosiologis alienasi (Ritzer, 2013:
54—57). Alienasi dapat dilihat mempunyai empat unsur dasar (Ritzer, 2013: 55),
yaitu:
1.
Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis
di alienasi dari kegiatan produktifnya.
2.
Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis
teralienasi bukan hanya melalui kegiatan-kegiatan produktif tetapi dari objek
kegiatan kegiatan-kegiatan produk.
3.
Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis
teralienasi dari para rekan kerjanya.
4.
Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis
teralienasi dari potensi manusianya sendiri.
h. Struktur-Struktur
Masyarakat Kapitalis
Di
Eropa pada zaman Marx, industrialisasi sedang meningkat. Pada 1840-an,
ketika Marx sedang memasuki periode yang paling produktifnya, Eropa
sedang mengalami perasaan krisis sosial yang tersebar luas. Pada 1848
serangkaian pemberontak melanda seluruh Eropa (segera sesudah penerbitan karya
Marx dan Engel Communis Manifesto). Pada permulaan abad ke sembilan
belas, barang-barang hasil pabrik yang murah dari Inggris dan Prancis mulai
memaksa para pengusaha pabrik yang kurang efisien di Jerman keluar dari
dunia bisnis. Analisis Marx atas alienasi adalah respon terhadap
perubahan-perubahan ekonomis, sosial, dan perubahan-perubahan politis yang
disaksikan Marx terjadi di sekitarnya.
Kapitalisme
adalah suatu sistem ekonomi dengan sejumlah besar pekerja yang menghasilkan
sedikit komoditi demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang memiliki
segala hal berikut ini: komoditi, alat-alat produksi komoditi, dan waktu kerja
kaum pekerja, yang dibeli melalui upah. Salah satu dari wawasan sentral
Marx ialah bahwa kapitalis jauh lebih dari sekedar sistem ekonomi. Kapitalis
juga adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalis ialah bahwa kekuasaan politis
telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Tujuan Marx ialah membuat
struktur-struktur sosial dan politis ekonomi lebih jelas dengan hukum
pergerakan ekonomi masyarakat modern.
i.
Modal, Kaum Kapitalis, dan Kaum
Proletariat
Marx
mengemukakan inti masalah kapitalis di dalam komoditas. Masyarakat yang
didominasi oleh benda-benda dengan nilai utama adalah pertukaran, menghasilkan
kategori-kategori manusia tertentu. Dua tipe utama yang diperhatikan Marx
adalah kaum proletariat dan kapitalis. Para pekerja yang menjual tenaga kerja
mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri adalah anggota kaum
proletariat. Mereka tidak memiliki peralatan sendiri atau pabrik-pabrik.
Orang-orang yang membayar upah atau kaum-kaum yang memiliki alat-alat produksi
adalah kaum kapitalis. Kapital (modal) adalah uang yang menghasilkan uang yang
lebih banyak lagi, modal adalah uang yang ditanamkan daripada digunakan untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan manusia. Marx mengatakan
hal yang lebih banyak daripada itu modal juga adalah suatu relasi sosial yang
khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial, di satu pihak kaum
proletariat yang melakukan pekerjaan dan harus membali produk dan di pihak lain
orang-orang yang telah menanamkan uang itu.
j.
Eksploitasi
Bagi
Marx, eksploitasi merupakan hal yang sangat penting. Setiap orang dapat
mengeksploitasi. Namun eksploitasi yang terjadi tidak termasuk ke dalam
kekuasaan. Eksploitasi cenderung mengarah kepada perekonomian. Paksaan yang
terjadi tidak dilakukan secara terang-terangan tetapi melalui para pekerja.
Para pekerja membutuhkan uang yang sebagai gantinya mereka harus menjual tenaga
mereka kepada kaum kapitalis sesuai dengan harga orang-orang kapitalis. Para
pekerja dipaksa untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan dari orang
kapitalis karena para pekerja tidak menghasilkan kebutuhan mereka sendiri.
Kapitalis
selalu membayar upah buruh lebih sedikit dari nilai yang mereka hasilkan dan
menyimpannya untuk dirinya sendiri. Kaum kapitalis dapat menggunakan keuntungan
yang mereka dapatkan. Tetapi mereka selalu menggunakan keuntungan mereka untuk
memperluas perusahaan-perusahaan mereka sehingga mereka dapat memperluas nilai
surplus yang didapatkan. Nilai surplus ini bukan hanya konsep ekonomi. Nilai
surplus, seperti modal merupakan suatu relasi sosial khusus dan suatu bentuk
dominasi karena tenaga kerja merupakan sumber nyata bagi nilai surplus.
Kapitalisme
selalu digerakkan oleh persaingan yang tidak kenal henti. Kaum kapitalis
mungkin selalu terlihat dalam keadaan aman tetapi mereka pun digerakkan oleh
persaingan-persaingan terus menerus di antara modal-modal yang ada. Berdasarkan
pandangan Marx bahwa tenaga kerja adalah sumber nilai. Para kapitalis terdorong
untuk memperhebat eksploitasi kaum proletariat sehingga itu akan menimbulkan
konflik dalam kelas.
k. Konflik
Kelas
Teori
konflik adalah teori
yang memandang bahwa perubahan sosial
tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai
yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik
yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori
ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok
pemisahan kelas dalam masyarakat.
Marx
mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx
tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa
dalam masyarakat, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja
miskin sebagai kelas proletar.
Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis
melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi.
Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false
consiousness) dalam diri proletar,
yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga.
Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong
terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi.
Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi
kaum borjuis terhadap mereka.
Ada
beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis
dari teori struktural fungsional,
dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan
dalam masyarakat. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya
berada pada keteraturan. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu
agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural
fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu
terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial
disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik
tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam
konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga
terciptalah suatu konsensus.
2. Materialisme
Historis
Marx mampu mengkritik kapitalisme dari persepektif
masa depannya karena kepercayaannya bahwa sejarah akan mengikuti arah yang
dapat diprediksi. Kepercayaan itu didasarkan pada konsep materialisnya atas
sejarah (materialisme historis).
Gambaran umum materialisme historis Marx ialah bahwa cara orang menyediakan
kebutuhan-kebutuhan materialnya menetukan atau secara umum membentuk
hubungan-hubungan orang-orang antara satu sama lainnya lembaga-lembaga
sosialnya dan bahkan ide-ide mereka yang lazim.
Di dalam produksi sosial yang dilakukan manusia,
mereka memasuki relasi-relasi nyata yang sangat diperlukan dan independen dari
keinginan mereka. Relasi-relasi produksi tersebut berkenaan dengan tahap yang
jelas dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Totalitas
hubungan-hubungan produksi itu merupakan struktur ekonomis masyarakat yang
merupakan fondasi nyata yang melandasi munculnya superstruktur legal dan
politis yang sesuai dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial yang tegas.
Ekonomi kapitalis menumbuhkembangkan relasi-relasi
unik di antara manusia dan menciptakan pengharapan-pengharapan,
kewajiban-kewajiban, dan tugas-tugas tertentu. Pandangan Marx atas sejarah
adalah suatu pandangan yang dinamis, sehingga dia percaya bahwa kekuatan-kekuatan
produksi akan berubah untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan material dengan
lebih baik.
Suatu revolusi sering dipermalukan untuk mengubah
relasi-relasi produksi. Sumber utama revolusi adalah kontradiksi material
antara kekuatan-kekuatan produksi dan relasi-relasi produksi. Akan tetapi,
revolusi juga dihasilkan oleh kontradiksi yang lain, antara pihak yang
mengeksploitasi dan pihak yang dieksploitasi. Menurut Marx, kontradiksi
demikian, yang selalu ada menyebabkan perubahan revolusioner bila pihak yang di
eksploitasi berbaris untuk mendukung suatu perubahan di bidang relasi-relasi
produksi yang lebih menyukai perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam
kekuatan-kekuatan produksi. Suatu revolusi yang efektif, menurut Marx akan
menyebabkan perubahan di bidang relasi-relasi penduduk, lembaga-lembaga, dan
ide-ide sehingga dapat mengesahkan relasi-relasi produksi yang baru. Selain
fokusnya pada stuktur-stuktur material kapitalisme, Marx juga berteori tentang
aspek-aspek kulturalnya.
a.
Ideologi
Bukan
hanya relasi-relasi produksi yang sudah ada yang cenderung mencegah
perubahan-perubahan yang diperlukan untuk perkembangan kekuatan-kekuatan
produksi, tetapi relasi-relasi, lembaga-lembaga pendukung, dan khususnya
ide-ide yang lazim pun cenderung mencegah perubahan-perubahan itu. Marx
menyebut ide-ide yang lazim yang melaksanakan fungsi tersebut sebagai ideologi.
Tampaknya Marx menggunakan kata itu untuk menunjukan dua jenis ide yang
berhubungan.
Pertama,
ideologi mengacu kepada ide-ide yang secara alamiah muncul dari kehidupan
sehari-hari di dalam kapitalisme, tetapi karena hakikat kapitalisme
mencerminkan kenyataan dengan cara yang terbalik. Yang kedua Marx menggunakan
istilah ideologi untuk mengacu kepada sistem-sistem ide penguasa yang sekali
lagi mencoba menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang ada di jantung sistem
kapitalis. Marx mengacu pada ekonom borjuis yang menggambarkan bentuk komunitas
sebagai hal yang universal dan alamiah.
b. Kebebasan,
Kesetaraan dan Ideologi
Menurut
Marx, ide-ide khusus kita atas kesetaraan dan kebebasan muncul dari
kapitalisme. Marx menganggap bahwa perubahan di bidang ide-ide kita itu dapat
dilacak lewat praktik-praktik kapitalisme sehari-hari. Tindakan pertukaran yang
merupakan dasar kapitalisme, menggadaikan kesetaraan manusia di dalam
pertukaran. Untuk komoditas-komoditas, perbedaan-perbedaan kualitatif yang
khusus mengenai nilai gunanya disembunyikan oleh nilai tukarnya.
Marx
menyimpulkan bahwa “kesetaraan dan kebebasan tidak hanya dihargai didalam
pertukaran yang didasarkan kepada nilai-nilai tukar tetapi pertukaran dari
nilai-niali tukar adalah dasar produktif yang nyata dari semua kesetaraan dan
kebebasan”. Namun demikian Marx percaya bahwa praktik-praktik kapitalis
menghasilkan suatu pandangan terbalik tentang kebebasan. Tampaknya kita bebas,
tetapi sebenarnya modal lah yang bebas dan kita lah yang diperbudak.
Marx
percaya bahwa sistem kapitalis secara alamiah tidak setara, para kapitalis
secara otomatis lebih diuntungkan dalam sistem kapitalis, sementara para
pekerja dirugikan secara otomatis. Dibawah kapitalisme, orang-orang yang
memiliki alat-alat produksi, orang-orang yang mempunyai modal, menghasilkan
uang dari uang mereka. Dibawah kapitalisme, modal memperankan modal yang lebih
banyak yakni, investasi-investasi menghasilkan suatu imbalan dan seperti yang
kita lihat di atas, Marx percaya bahwa hal itu berasal dari ekploitasi para
pekerja.
C.
Problematika
Teori
Dalam teori Marxis karl
Marx ini terdapat beberapa macam problematika, seperti :
1. Marxis
menjadikan segala hal bersumber dari materi
Terlihat logis memang
jika Marx dalam teori marxsisnya yang mencontohkan bahwa manusia hidup pertam
kali yang dibutuhkan adalah materi, seperti sandang, pangan, dan papan. Sandang
adalah keperluan sehari-hari seperti baju, celana, rumah dan sebagainya. Pangan
yakni makanan agar bisa bertahan hidup dan papan adalah pekerjaan. Tetapi, di
aspek yang lain seperti intelektualitaslah yang melahirkan materi, contoh
pedagang yang sukses dalam pekerjaanya hal ini bukan disebabkan oleh berapa
besar modalnya, namun, karena dia memiliki bekal yakni ilmu berdagang yang
benar. Petani, seandainya petani tidak mengetahui ilmu dalam bercocok tanam
atau ilmu bertani tentu mustahil mereka mampu bercocok tanam dengan baik.
Contoh lain nelayan, seandainya nelayan tidak mengetahui bagaimana cara
mendapatkan ikan yang benar atau megetahui cuaca yang bagus untuk berlayar
mencari ikan tentu tidak akan pernah bisa berhasil nelayan mendapatkan ikan
yang melimpah. Jadi, tidak selamanya segala hal bersumber pada materi,
terkadang materi bersumber dari akal (idealis),
2. Marx:
Tuhan diciptakan oleh manusia.
Seperti
halnya problematika yang pertama, problematika kedua menimbulkan banyak
kontrofersi baik di kalangan filsuf/akademisi maupun masyarakat umum di dunia.
Hagel dan Hegelian yang mengatakan bahwa ada entitas tunggal yang
melahirkan/mencipatkan materi-materi di dunia, dikritisi oleh Marx yang
notabene pengikutnya namun di poros kiri, bahwa Tuhan diciptakan oleh manusia,
bahkan Tuhan tidak ada. Alasan marx karena dengan adanya kebutuhan akan materi,
manusia mampu menciptakan segala hal. Oleh sebab itu, Marx mengandaikan manusia
sebagai Tuhan. Yang lebih keterlaluan, Marx menganggap Tuhan tidak ada, dari
sinilah lahir ekstrimis yang dikenal dengan istilah ateisme/komunis. Dari
pernyataan teologis Marx tersebut yang ditentang oleh filsuf dan masyarakat
khususnya yang percaya akan adanya Tuhan, sehingga muncullah problematika teori
dalam marxis.
D.
Cara
Penerapan Teori
Dalam memilih dan memanfaatkan teori sastra dalam
suatu kajian satra atau budaya, perlu memperhatikan beberapa komponen. Komponen
tersebut di antaranya adalah:
1.
Kesesuaian teori
dengan objek karya sastra yang akan dikaji atau dianalisis. Hal tersebut
berarti bahwa jangan sampai ada kesenjangan atau ketidakadanya hubungan antara
teori yang dipilih dengan karya satra yang akan dikaji. Analoginya adalah,
teori sastra adalah sebuah alat atau pisau yang digunakan untuk membedah dan
menganalisis karya satra. Jika alat yang kita pilih tidak sesuai atau tidak
tepat guna tentu tidak akan bisa menghasilkan sebuah analisis atau kajian yang
tepat dan mendalam.
2.
Dalam memilih dan
memanfaatkan teori sastra juga perlu memperhatikan kelebihan dan kelemahan dari
teori sastra yang akan kita gunakan. Hal ini dilakukan agar kita mengetahui
aspek mana saja yang harus diperkuat dan ditekankan dalam mengkaji sebuah karya
sastra. Dengan kata lain, dalam memilih dan memanfaatkan sebuah teori sastra
harus lebih selektif dan mengetahui dengan mendalam cara kerja serta aplikasi
dari teori sastra yang akan kita gunakan sebagai pisau analisis. Untuk meneliti karya sastra lewat teori ini, maka bukan hanya
disiplin ilmu sastra saja yang terlibat. Namun berbagai disiplin ilmu ikut
terlibat didalamnya. Seperti halnya filsafat, psikologi, sosiologi,
antropologi, hukum, sosial, budaya, dan agama.
Dengan
demikian dapatlah dipahami bahwa teori ini digunakan dengan penganggapan bahwa
karya sastra merupakan kreasi pengarang dengan meneladani realitas. Realitas
yang terjadi dalam teori ini berupa realitas sosial yang di dalamnya terdapat
kesenjangan.
Karya
sastra kemudian tercipta karena ada objek berupa realitas yang dipadukan dengan
kreasi. Secara sistematis teori marxis dapat diaplikasikan dengan cara berikut:
1.
Membaca karya sastra.
Langkah
pertama dan mutlak yang harus dilakukan jika ingin mengkaji karya sastra yakni
membaca karya sastra yang ingin dikaji sampai menguasai isi karya sastra
tersebut. Untuk memahami dan menguasai isi karya sastra biasanya diperlukan pembacaan
berulang-ulang. Jika semakin sering karya sastra tersebut dibaca, maka semakin
banyak pula hal-hal baru yang akan ditemukan.
2.
Menganalisis dan
membahas karya sastra.
Menganalisis
dan membahas karya sastra dengan menggunakan bahasa sendiri dilengkapi dengan
panduan teori sastra yang kuat. Hal itu sangat diperlukan untuk menghindari
plagiat dalam mengkaji karya sastra.
E.
Contoh
Kajian
Di bawah ini adalah contoh penerapan
marxisme dalam puisi berjudul Seorang
Tukang Rambutan pada Istrinya karya Taufik Ismail :
“Tadi siang ada yang mati.
Dan yang mengantar banyak
sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu.
Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua
ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun
harganya
Sampai kita bisa naik bis
pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas
bukan main
Tebakar muka di atas truk
terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat
rambutan kita, bu
Biarlah sepuluh ikat juga
Memang sudah rezeki mereka
Mereka berteriak-teriak
kegirangan dan berebutan
Seperti anak-anak kecil
“Hidup tukang rambutan! Hidup
tukang rambutan!”
Dan menyoraki saya. Betul bu,
menyoraki saya
Dan ada yang turun dari truk,
bu
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup pak rambutan!” sorak
mereka
Saya dipanggul dan diarak-arak
sebentar
“Hidup pak rambutan! Sorak
mereka
“Terima kasih, pak, terima
kasih!
Bapak setuju kami, bukan?
Saya mengangguk-angguk. Tak
bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Mereka naik truk kembali
Masih meneriakkan terima kasih
mereka
“Hidup pak rambutan! Hidup
rakyat!”
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu
jujurnya
Pada orang kecil seperti kita
1966
Dalam puisi di atas, pada bait
:
Tadi siang ada yang mati.
Dan yang mengantar banyak
sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu.
Anak-anak sekolah
Yang dulu berteriak: dua
ratus, dua ratus!
Sampai bensin juga turun
harganya
Sampai kita bisa naik bis
pasar yang murah pula
Mereka kehausan dalam panas
bukan main
Tebakar muka di atas truk
terbuka
Saya lemparkan sepuluh ikat
rambutan kita, bu
Penggunaan
kata “Hidup pak rambutan!” merupakan ralitas sosial yang menggambarkan kritik
atas penindasan terhadap rakyat. Menggambarkan protes atas penguasaan kaum
penguasa terhadap rakyat.
“Hidup pak rambutan! Sorak
mereka
“Terima kasih, pak, terima
kasih!
Bapak setuju kami, bukan?
Saya mengangguk-angguk. Tak
bisa bicara
“Doakan perjuangan kami, pak,”
Realitas
sosial dalam memperjuakan kelas selalu ada keterkaitan rakyat sebagai pihak
yang diperjuangkan. Puisi Taufik Ismail di atas “Seorang Tukang Rambutan Pada
Istrinya” menggambarkan sebuah perjuangan kelas oleh mahasiswa dan rakyat
merasa berterima kasih atas perjuangan yang berhasil, walaupun memakan korban.
Saya tersedu, bu. Saya tersedu
Belum pernah seumur hidup
Orang berterima-kasih begitu
jujurnya
Pada orang kecil seperti kita
Dalam
pandangan Lukacs, seorang sastrawan mempunyai tanggung jawab dan karenanya
harus terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi masyarakatnya; seorang
sastrawan, hendaknya adalah seorang realis, dan seorang realis hendaknya
seorang sosialis, dan sebagai seorang sosialis, sastrawan harus tahu dan
terlibat dalam masalah sosial masyarakatnya. Taufik Ismail, semasa demotrasi
menentang Orde Lama selalu melibatkan diri dalam proses demonstrasi. Mereka
selalu mencatat apa yang dilihat dan didengarnya.
“Tadi siang ada yang mati.
Dan yang mengantar banyak
sekali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu.
Anak-anak sekolah
Penggalan
puisi di atas, inilah bait yang menggabarkan meninggalnya Arief Rahman Hakim,
23 tahun, mahasiswa Fakultas Kedokteran UI tingkat IV yang meninggal ditembak
di depan Istana kemarin dimakamkan hari ini. Massa pelajar, pemuda, mahasiswa
dan rakyat yang mengantar jenazah berkilometer-kilometer panjangnya dari
Salemba 4 ke kuburan Blok P Kebayoran Baru.
F.
Simpulan
Teori Marxisme adalah teori yang memunculkan
adanya wacana untuk menyamakan status sosial dan ekonomi antara kaum
proletar dengan kaum borjuis. Secara garis besar dari ketiga pendapat
tokoh di atas, inti teorinya adalah menginginkan adanya kebebasan
sebebas-bebasnya untuk kaum proletar agar bisa menjadi manusia yang seutuhnya.
Dampak positif dan negatif akan muncul dari
penerapan teori marxisme ini. Dampak positifnya adalah adanya kesetaraan
status sosial, dimana kesempatan kaum marginal (proletar) untuk
memenuhi keinginan hidupnya dan hak kemanusiaannya akan terbuka sangat
lebar, selain itu kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup dalam hal
ekonomi juga akan terbuka lebar. Tetapi akan muncul juga adanya
kondisi masyarakat materialis yang egois-sentris.
Daftar
Pustaka
Faruk. 2012. Pengantar
Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas. 2013. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar