Rabu, 11 Agustus 2021

TEORI SASTRA KARL MARX

 

TEORI SASTRA MARXIS

KARL MARX

Oleh Suwito

 

Marxisme merupakan paham yang berasal dari pandangan Karl Marx. Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial dan sistem politik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis.

Teori ini merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx dan sahabatnya, Friedrich Engels. Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme kaum borjui. Ia menganggap bahwa kaum borjui mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Hal ini terdapat penindasan yang dilakukan oleh kaum borjui yang memiliki banyak hal-hal yang dibutuhkan oleh setiap manusia terhadap kaum proletar yakni kaum yang tidak memiliki apa-apa dan demi mendapatkan apa yang dibutuhkan mereka mau tidak mau harus bekerja kepada kaum borjui. Hal ini yang membuat kaum borjui memanfaatkan dan menindas kaum ploretar.

A.      Sejarah Teori

Marxisme merupakan paham yang berasal dari pandangan Karl Marx. Marxisme adalah paham yang bertujuan untuk memperjuangkan kaum Proletar untuk melawan kaum Borjuis.

Menurut Marx dalam sebuah masyarakat terdapat dua kelas/kaum yaitu kaum yang memiliki alat produksi (Borjui) dan kaum yang tidak memiliki alat produksi (Proletar). Alat Produksi yang dimaksud dalam hal ini adalah segala hal yang dapat menghasilkan sebuah komoditas yang merupakan barang-barang yang dibutuhkan oleh masyarakat. Karena telah menjadi kebutuhan kaum Proletar mau tidak mau mereka akan tetap membelinya. Apabila melihat dari keadaan kaum Borjuis sebagai pemiliki produksi atau memiliki kekayaan yang melimpah, kaum Borjuis memiliki keuntungan tersendiri dari proses pemebelian tersebut. Melihat keadaan kaum Proletar yang tidak memiliki apa-apa dan demi mendapatkan atau memperoleh kebutuhan tersebut mereka harus bekerja pada kaum Borjuis dan pada saat itulah kaum Borjuis memanfaatkan kelemahan dari kaum Proletar untuk menindasnya. Dengan kata lain kaum Borjuis yang memiliki kekuasaan bisa menindas kaum Proletar sesuka hati. Walaupun kaum Proletar bekerja ekstra untuk mendapatkan alat produksi dari kaum Borjuis, alat produksi tersebut tidak sesuai dengan keringat yang dikeluarkan oleh kaum Proletar. Disinilah peran dari teori marxisme sebagai paham yang diciptakan oleh Marx untuk membela dan berpihak kepada kaum Proletar dimana teori ini ada karena adanya perlakuan tidak adil yang dialami oleh kaum Proletar. Marx berusaha mengangkat kaum Proletar dari penindasan sehingga kaum Proletar bisa menjadi pemilik alat produksi.

Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis atau kaum borjui. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya "kepemilikan pribadi" dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.

 

B.       Konsep dalam Teori

Marx mengembangkan teori sosial sastranya dengan menyatakan bahwa kegiatan manusia yang paling penting adalah kegiatan ekonomi (produksi unsur-unsur materi). Hal ini menunjukkan kerangka kerja sosiologi yang bersifat material, yaitu ekonomi menjadi faktor determinasi kehidupan manusia dalam relasinya dengan struktur sosial masyarakat. Potensi manusia sebagai mahluk sosial adalah pada aktivitas ekonomi atau produksi dari suatu masyarakat. Tentu saja, konkreatisasi aktivitas ekonomi ini berwujud kerja, sebagai usaha manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia tidak bisa lepas dengan sifat dasar kerja karena kerja merupakan objektivitas diri manusia dalam memosisikan tujuan-tujuan hidupnya dalam bentuk materi. Marx kemudian meyakini bahwa situasi dan kondisi sosial manusia sangat dipengaruhi oleh aspek yakni aspek material-produksi. Implikasinya, Marx membagi masyarakat dalam dua struktur yaitu infrastruktur (dasar ekonomi) dan superstrukutr (hasil pikiran dan perasaan).

Hubungan keduanya itu bersifat determinasi, yaitu aktivitas-aktivitas produksi (infrastruktur) akan selalu membawa perubahan pada superstrukturnya. (Faruk, 2012: 7). Dalam model Marx, dasar ekonomi (infrastruktur) ini terdiri atas alat-alat, cara-cara, dan hubungan-hubungan produksi. Alat-alat produksi ini dapat disamakan dengan bahan-bahan yang tersedia untuk proses produksi.

Cara-cara produksi berkaitan dengan teknik-teknik yang ada, yaitu bentuk-bentuk kegiatan yang digunakan untuk mengkomoditaskan alat-alat produksi. Sedangkan, hubungan produksi dengan tipe pemilihan yang merata bersama-sama dengan pembagian sosial antara pemilik alat-alat produksi dengan pekerja yang muncul bersamaan dengan adanya masyarakat kelas (Faruk, 2012: 7).

Kenyataan bahwa struktur sosial masyarakat dideterminasi oleh kegiatan produksi, maka Marx mengidentifikasi struktur sosial masyarakat menjadi dua kelas, yaitu kelas atas dan kelas bawah, kelas atas adalah kelas yang memiliki sarana produksi, sedangkan kelas bawah adalah mereka yang tidak memiliki alat-alat produksi. Relasi antarkelas ini yang kemudian menciptakan kelas dominan dengan subordinat, majikan dengan budak, tuan tanah dengan pelayan, dan borjuis dengan proletar. Menurut Marx, sejarah manusia adalah rangkaian kontradiksi-kontradiksi yang terjadi antarkelas sosial. Perubahan sejarah mengambil bentuk-bentuk yang sifatnya suksesi masyarakat yang didominasi oleh berbagai mode produksi, misalnya feodalisme atau kapitalisme. Konflik dan kontradiksi feodalisme melibatkan tuan tanah dengan buruh, sedangkan kapitalisme adalah majikan dengan pekerja. Dua kelas sosial yang berbeda dalam sejarahnya akan selalu terlibat konflik atau kontradiksi karena perbedaan kelas ekonomi.

Marx meyakini bahwa konflik terjadi karena adanya perbedaan ideologi kelas. Ideologi ini tercipta karena, pada tingkatan ide, hubungan antara infrastruktur dengan superstruktur jelas menonjolnya dalam hal keyakinan-keyakinan tertentu pada setiap masa yang juga mendukung organisasi produksi. Oleh karena itu, bagi Marx, ideologi selalu merepresentasikan sistem gagasan dan keyakinan. Marx pun menggunakan istilah ideologi untuk merujuk kepada sistem-sistem aturan ide-ide yang menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang berada di pusat sistem. Dengan demikian, ideologi menurut Marx merupakan kesadaran, keyakinan, ide, dan gagasan yang dipercaya masyarakat yang menjadikan kontradiksi kelas itu tidak tampak atau sebaliknya, ideologi menjadikan kontradiksi antarkelas itu tampak nyata.

Dengan demikian, ideologi adalah kesadaran bersama yang terdapat dalam kontradiksi antarkelas. Ideologi sering disebut gagasan yang palsu bila ideologi menjadikan relasi kontradiksi antarkelas tidak dipahami. Akan tetapi, di sisi lain, ideologi juga menjadi kesadaran kelas yang menjadikan kontradiksi antarkelas tampak jelas. Di sini ideologi memberikan pemahaman bahwa relasi antarkelas itu berbeda, dan kelas dominan dipahami sebagai kelas yang selalu mengeksploitasi eksistensi kelas subordinat.

Jika konsep dasar teori sosial Marx di atas digunakan untuk menelaah fenomenal material sastra, maka pokok yang bisa dirumuskan tentang teori sosial Marx dalam relasinya dengan sastra adalah pertama, pengarang sebagai individu bagian anggota masyarakat yang produksi pikiran dan kesadarannya ditentukan (dideterminasi) oleh aktivitas material (ekonomi) sebagai infrastrukturnya, sehingga kedudukan kelas sosial ekonomi pengarang menjadi faktor utama yang menentukan produksi kesadaran dan pikiran pengarang. Kedua, dalam konteks ini, sastra sebagai superstruktur merupakan artefak hasil produksi pikiran dan perasaan manusia, sehingga sastra eksistensi ideologinya merepresentasikan kelas sosial pengarangannya.

Menurut Marx dan Engels (1845) sastra merupakan hasil produski ide, konsep-konsep, dan kesadaran yang terkait erat bahwa yang dideterminasi oleh aspek kehidupan material manusia. Oleh karena itu, menurut Marx, manusia harus hidup dahulu sebelum berfikir. Hasil pikiran dan apa yang dipikirkan manusia bertalian erat dengan bagaimana manusia hidup karena apa yang diekspresikan manusia dan cara-cara pengekspresiannya tergantung pada apa dan bagaimana manusia hidup (Faruk, 2012: 7). Teori sastra Marxis didasarkan pada filsafat Marx, khususnya teorinya mengenai materialisme historik dan dialektik.

1.      Materialisme Dialektika

Karl Marx sangat dipengaruhi oleh filsuf Jerman G.W.F. Hegel (1821/1967). Ada dua konsep yang jadi inti filsafat Hegel, yakni dialektika dan idealisme. Dialektika adalah kerangka berfikir dan citra dunia. Di sisi lain, dialektika adalah kerangka berpikir yang menekankan pentingnya proses, hubungan, dinakmika, konflik, dan kontradiksi.

Ludwig Feuerbach (1804-1872) adalah jembatan penting antara Hegel dan Marx. Feuerbach bersikap kritis terhadap Hegel. Penerapan filsafat materialis oleh Feuerbach mendorongnya untuk berpendapat bahwa yang dibutuhkan adalah pergeseran dari idealisme subjektif Hegel menuju fokus yang tidak mengarah pada ide namun pada realitas material manusia (Ritzer: 2013:22).

Marx setuju dengan kritik Feuerbach terhadap Hegel terkait dengan beberapa persoalan misalnya, materialisme dan penolakan teori Hegel yang abstrak, namun Marx jauh dari puas terhadap pendapat Feuerbach sendiri. Sebabnya adalah Feuerbach memfokuskan perhatiannya pada dunia religiu, sementara Marx percaya bahwa yang harus dianalisis adalah dunia sosial, khususnya ekonomi. Meskipun Marx menerima materialisme Feuerbach, Marx merasa bahwa Feuerbach melangkah terlalu jauh dalam memfokuskan satu sisi saja, yakni hanya pada dunia material dan tidak memakai dialektika. Akhirnya, Marx mengambil dua elemen yang menurutnya paling penting dari kedua pemikir ini, yaitu dialektika Hegel dan materialisme Feuerbach, dan memadukan keduanya ke dalam orientasi tersendiri, yaitu Materialisme Dialektika, yang memfokuskan perhatian pada hubungan dialektis dalam dunia material (Ritzer, 2013: 23).

Gagasan tentang filsafat dialektis telah ada selama berabad-abad. Gagasan dasarnya adalah arti penting kontradiksi. Hegel menggunakan ide tentang kontradiksi untuk memahami perubahan historis. Menurut Hegel, perubahan historis digerakkan oleh pemahaman-pemahaman yang saling berlawanam yang merupakan esensi dari realitas, usaha-usaha kita untuk memecahkan kontradiksi-kontradiksi, dan kontradiksi-kontradiksi baru yang berkembang (Ritzer, 2013: 46).

Marx juga menerima arti penting kontradiksi-kontradiksi untuk perubahan historis. Kita bisa lihat hal ini di dalam rumusannya yang terkenal seperti “kontradiksi kapitalisme” dan “kontradiksi kelas”. Namun, berbeda dengan Hegel, Marx tidak percaya bahwa kontradiksi-kontradiksi ini bisa dipecahkan di dalam pemahaman kita, yakni di dalam pikiran kita. Bagi Marx, kontradiksi-kontradiksi ini ini benar-benar ada dan tidak dapat dipecahkan tanpa adanya perjuangan hidup dan mati demi mengubah dunia sosial, karya Marx sangat relevan untuk sosiologi, meskipun pendekatan dialektika sangat berbeda dengan bentuk pemikiran yang digunakan kebanyakan sosiolog. Dialektika lebih membawa kita kepada minat untuk mengkaji konflik dan kontradiksi-kontradiksi yang terjadi di antara berbagai level realitas sosial, ketimbang minat sosiologi tradisional terhadap level-level yang saling berhubungan dengan teratur dengan suatu keseluruhan yang kohesif (Ritzer, 2013: 46).

Sebagai contoh, salah satu kontradiksi dalam kapitalisme adalah hubungan antara pekerja dan para kapitalis pemilik pabrik-pabrik dan sarana-sarana produksi lainnya yang digunakan untuk pekerja. Kapitalis harus mengeksploitasi para pekerja untuk memperoleh keuntungan dari para pekerja. Para pekerja berlawanan dengan para kapitalis, ingin memperoleh setidaknya sedikit keuntungan untuk diri mereka. Kecenderungan mengingkatkan eksploitasi melahirkan lebih banyak penolakan terhadap sebagian pekerja. Penolakan tersebut menimbulkan lebih banyak eksploitasi dan penindasan, dan mungkin menghasilkan konfrontasi antara dua kelas (Boswell dan Dixon, 1993 dalam Ritzer, 2013: 46).

a.         Fakta dan Nilai

Nilai sosial tidak dapat dipisahkan dari fakta-fakta sosial. Fakta-fakta dan nilai-nilai saling merangkai dengan cara yang tidak terelakkan, akibatnya studi fenomena sosial sarat dengan nilai. Bagi Marx, mustahil dan seandainya pun mungkin, tidak pantas bersikap tidak memihak dalam analisisnya terhadap masyarakat kapitalis. Bahkan, dapat diargumenkan bahwa pandangan-pandangan Marx yang penuh nafsu mengenai isu-isu itu memberinya wawasan yang tiada taranya mengenai hakikat masyarakat kapitalis (Ritzer, 2013: 47).

b.         Hubungan-Hubungan Resiprokal (Timbal Balik)

Bagi pemikir dialektis, pengaruh-pengaruh sosial tidak pernah hanya mengalir satu arah seperti yang sering dilakukan para pemikir sebab dan akibat. Sang dialektis tidak pernah mempertimbangkan hubungan kausal di dalam hubungan sosial. Pemikiran itu sungguh berarti bahwa ketika para pemikir dialektis berbicara tentang kausalitas, mereka selalu menyesuaikannya dengan hubungan-hubungan respkoral diantara faktor-faktor sosial dan juga totalitas dialektis kehidupan sosial tempatnya tertanam (Ritzer, 2013: 47).

c.       Masa Lampau, Masa Kini, Masa Depan

Para dialektisi tertarik bukan hanya kepada hubungan-hubungan fenimena sosial didalam dunia kontemporer, tetapi juga didalam hubungan realitas-realitas kontemporer dengan fenomena sosial masa lampau maupun fenomena sosial masa depan. Pertama, berarti bahwa para sosiolog dialektis berhasrat untuk mempelajari akara-akar historis dunia kontemporer seperti yang dilakukan Marx. Kedua, banyak pemikiran dialektis menyesuaikan diri dengan tren-tren sosial agar dapat memahami arah yang mungkin dan dalam masyarakat dimasa depan (Ritzer, 2013: 48).

d.      Tidak Ada yang Tidak Terelakkan

Studi-studi historis Marx menunjukan bahwa orang membuat pilihan-pilihan, tetapi pilihan-pilihan itu terbatas. Contohnya, Marx percaya bahwa masyarakat terlibat di dalam suatu perjuangan kelas dan bahwa rakyat dapat memilih untuk turut serta baik dalam “rekontruksi revolusioner masyarakat secara luas, atau di dalam keruntuhan umum kelas yang sedang berseteru. Fenomena sosial secara tidak terelakkan akan menimbulkan bentuk yang menentangnya dan perbenturan di antara keduanya secara tidak terelakkan akan menyebabkan bentuk sosial sintetik yang baru (Ritzer, 2013: 48).

e.       Aktor dan Struktur

Para pemikir dialektis juga tertarik pada hubungan dinamis antara para aktor dan strukur-struktur sosial. Marx tentu saja sepaham dengan level-level utama analisis sosial yang senantiasa memengaruhi. Inti pemikiran marx terletak di dalam hubungan antara orang dan struktur-struktur berskala besar yang mereka ciptakan (Ritzer, 2013: 49).

f.        Sifat Dasar Manusia dan Kerja

Bagi Marx, suatu konsep mengenai sifat dasar manusia yang tidak memperhitungkan faktor-faktor sosial dan historis keliru, tetapi memperhitungkan faktor-faktor itu bukan berarti tidak mempunyai konsep mengenai hakikat manusia. Ketika membicarakan potensi manusia secara umum, Marx sering menggunakan istilah species baing (sifat esensial spesies). Yang dia maksud dengan hal itu adalah potensi-potensi dan kekuatan-kekuatan yang unik pada manusia yang membedakan manusia dari spesies-spesies lain (Ritzer, 2013: 50—52).

Bagi Marx, sifat esensial spesies dan potensi manusia terkait erat dengan kerja,  pertama-tama kerja adalah suatu proses ketika manusia dan alam berpartisipasi dan manusia atas kemauannya sendiri memulai, mengatur dan mengendalikan hubungan-hubungan material di antara dirinya dan alam. Pandangan Marx mengenai hubungan antara kerja dan hakikat manusia. Pertama, apa yang membedakan kita dari hewan-hewan lain, sifat esensial spesies kita, ialah bahwa kerja kita menciptakan sesuatu di dalam  kenyataan yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasi kita. Kedua, kerja demikian bersifat material. Ketiga, Marx percaya bahwa kerja tidak sekedar mentransformasi aspek-aspek material alam, tetapi juga mentransformasi kita termasuk kebutuhan-kebutuhan kita, kesadaran kita, dan hakikat kita sebagai manusia. Penggunaan istilah kerja oleh Marx tidak terbatas pada kegiatan-kegiatan ekonomi, ia meliputi seluruh tindakan produktif yang mengubah aspek-aspek material alam sesuai dengan maksud manusia. 

Bagi Marx kerja adalah pengembangan kekuasaan-kekuasaan dan potensi-potensi manusiawi kita yang sejati. Dengan mentransformasikan realitas material agar sesuai dengan maksud kita, kita juga mentransformasikan dari kita sendiri. Selain itu, Marx mengatakan kepada kita bahwa transformasi tersebut bahkan meliputi kesadaran kita. Oleh karenay itu, kesadaran, sejak permulaan adalah suatu produk sosial, dan tetap demikian selama manusia ada. Akibatnya, transformasi individu melalui kerja dan transformasi masyarakat tidak dapat dipisahkan (Ritzer, 2013: 52—54).

g.      Alienasi

Alienasi merupakan suatu contoh jenis kontradiksi yang menjadi pusat perhatian pendekatan dialektis Marx. Ada suatu kontradiksi nyata di antara hakikat manusia yang didefinisikan dan ditransformasikan oleh pekerjaan dan kondisi-kondisi sosial aktual pekerjaan di bawah kapitalisme. Apa yang ingin di tekankan Marx ialah bahwa kontradiksi seperti itu tidak dapat dipecahkan hanya di dalam pikiran.

Meskipun Marx percaya bahwa ada suatu hubungan yang melekat antara kerja dan hakikat manusia dia menganggap bahwa hubungan itu disesatkan oleh kapitalisme. Marx menyebutkan hubungan yang di sesatkan itu sebagai alienasi. Di dalam karyanya yang belakangan mengenal hakikat masyarakat kapitalis, dia menjauhkan diri dari suatu istilah filosofis yang berat seperti alienasi, namun alienasi tetap merupakan salah satu keprihatiannya yang utama.

Walaupun individu lah yang merasa teralienasi di dalam masyarakat kapitalis,  keprihatinan analitis mendasar Marx adalah pada struktur-struktur kapitalisme yang menyebabkan alienasi. Marx menggunakan konsep alienasi untuk menyingkapkan efek produksi kapitalis yang bersifat menghancurkan terhadap manusia dan terhadap masyarakat. Yang sangat signifikan di sini adalah sistem dua kelas yaitu kaum kapitalis mempekerjakan karyawan, dengan demikian mereka memiliki waktu para pekerja dan para kapitalis memiliki alat-alat produksi dan juga memiliki produk-produk hasil akhirnya. Agar dapat bertahan hidup, para pekerja dipaksa menjual waktu kerja mereka kepada kaum kapitalis. Struktur-struktur itu, khususnya pembagian kerja adalah dasar sosiologis alienasi (Ritzer, 2013: 54—57). Alienasi dapat dilihat mempunyai empat unsur dasar (Ritzer, 2013: 55), yaitu:

1.        Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis di alienasi dari kegiatan produktifnya.

2.        Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi bukan hanya melalui kegiatan-kegiatan produktif tetapi dari objek kegiatan kegiatan-kegiatan produk.

3.        Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari para rekan kerjanya.

4.        Para pekerja di dalam masyarakat kapitalis teralienasi dari potensi manusianya sendiri.

 

h.    Struktur-Struktur Masyarakat Kapitalis

Di Eropa pada zaman  Marx, industrialisasi sedang meningkat. Pada 1840-an, ketika Marx sedang memasuki  periode yang paling produktifnya, Eropa sedang mengalami perasaan krisis sosial yang tersebar luas. Pada 1848 serangkaian pemberontak melanda seluruh Eropa (segera sesudah penerbitan karya Marx dan Engel Communis Manifesto). Pada permulaan abad ke sembilan belas, barang-barang hasil pabrik yang murah dari Inggris dan Prancis mulai memaksa para pengusaha pabrik  yang kurang efisien di Jerman keluar dari dunia bisnis. Analisis Marx atas alienasi adalah respon terhadap perubahan-perubahan ekonomis, sosial, dan perubahan-perubahan politis yang disaksikan Marx terjadi di sekitarnya.

Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi dengan sejumlah besar pekerja yang menghasilkan sedikit komoditi demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang  memiliki segala hal berikut ini: komoditi, alat-alat produksi komoditi, dan waktu kerja kaum pekerja, yang dibeli melalui upah. Salah satu dari wawasan  sentral Marx ialah bahwa kapitalis jauh lebih dari sekedar sistem ekonomi. Kapitalis juga adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalis ialah bahwa kekuasaan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi. Tujuan Marx ialah membuat struktur-struktur sosial dan politis ekonomi lebih jelas dengan hukum pergerakan ekonomi masyarakat modern.

i.        Modal, Kaum Kapitalis, dan Kaum Proletariat

Marx mengemukakan inti masalah kapitalis di dalam komoditas. Masyarakat yang didominasi oleh benda-benda dengan nilai utama adalah pertukaran, menghasilkan kategori-kategori manusia tertentu. Dua tipe utama yang diperhatikan Marx adalah kaum proletariat dan kapitalis. Para pekerja yang menjual tenaga kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri adalah anggota kaum proletariat. Mereka tidak memiliki peralatan sendiri atau pabrik-pabrik. Orang-orang yang membayar upah atau kaum-kaum yang memiliki alat-alat produksi adalah kaum kapitalis. Kapital (modal) adalah uang yang menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, modal adalah uang yang ditanamkan daripada digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan manusia. Marx mengatakan hal yang lebih banyak daripada itu modal juga adalah suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial, di satu pihak kaum proletariat yang melakukan pekerjaan dan harus membali produk dan di pihak lain orang-orang yang telah menanamkan uang itu.

j.        Eksploitasi

Bagi Marx, eksploitasi merupakan hal yang sangat penting. Setiap orang dapat mengeksploitasi. Namun eksploitasi yang terjadi tidak termasuk ke dalam kekuasaan. Eksploitasi cenderung mengarah kepada perekonomian. Paksaan yang terjadi tidak dilakukan secara terang-terangan tetapi melalui para pekerja. Para pekerja membutuhkan uang yang sebagai gantinya mereka harus menjual tenaga mereka kepada kaum kapitalis sesuai dengan harga orang-orang kapitalis. Para pekerja dipaksa untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan dari orang kapitalis karena para pekerja tidak menghasilkan kebutuhan mereka sendiri.

Kapitalis selalu membayar upah buruh lebih sedikit dari nilai yang mereka hasilkan dan menyimpannya untuk dirinya sendiri. Kaum kapitalis dapat menggunakan keuntungan yang mereka dapatkan. Tetapi mereka selalu menggunakan keuntungan mereka untuk memperluas perusahaan-perusahaan mereka sehingga mereka dapat memperluas nilai surplus yang didapatkan. Nilai surplus ini bukan hanya konsep ekonomi. Nilai surplus, seperti modal merupakan suatu relasi sosial khusus dan suatu bentuk dominasi karena tenaga kerja merupakan sumber nyata bagi nilai surplus.

Kapitalisme selalu digerakkan oleh persaingan yang tidak kenal henti. Kaum kapitalis mungkin selalu terlihat dalam keadaan aman tetapi mereka pun digerakkan oleh persaingan-persaingan terus menerus di antara modal-modal yang ada. Berdasarkan pandangan Marx bahwa tenaga kerja adalah sumber nilai. Para kapitalis terdorong untuk memperhebat eksploitasi kaum proletariat sehingga itu akan menimbulkan konflik dalam kelas.

k.      Konflik Kelas

Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori ini didasarkan pada pemilikan sarana-sarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat.

Marx mengajukan konsepsi mendasar tentang masyarakat kelas dan perjuangannya. Marx tidak mendefinisikan kelas secara panjang lebar tetapi ia menunjukkan bahwa dalam masyarakat, terdiri dari kelas pemilik modal (borjuis) dan kelas pekerja miskin sebagai kelas proletar. Kedua kelas ini berada dalam suatu struktur sosial hirarkis, kaum borjuis melakukan eksploitasi terhadap kaum proletar dalam proses produksi. Eksploitasi ini akan terus berjalan selama kesadaran semu eksis (false consiousness) dalam diri proletar, yaitu berupa rasa menyerah diri, menerima keadaan apa adanya tetap terjaga. Ketegangan hubungan antara kaum proletar dan kaum borjuis mendorong terbentuknya gerakan sosial besar, yaitu revolusi. Ketegangan tersebut terjadi jika kaum proletar telah sadar akan eksploitasi kaum borjuis terhadap mereka.

Ada beberapa asumsi dasar dari teori konflik ini. Teori konflik merupakan antitesis dari teori struktural fungsional, dimana teori struktural fungsional sangat mengedepankan keteraturan dalam masyarakat. Teori konflik melihat bahwa di dalam masyarakat tidak akan selamanya berada pada keteraturan. Teori konflik juga mengatakan bahwa konflik itu perlu agar terciptanya perubahan sosial. Ketika struktural fungsional mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat itu selalu terjadi pada titik ekulibrium, teori konflik melihat perubahan sosial disebabkan karena adanya konflik-konflik kepentingan. Namun pada suatu titik tertentu, masyarakat mampu mencapai sebuah kesepakatan bersama. Di dalam konflik, selalu ada negosiasi-negosiasi yang dilakukan sehingga terciptalah suatu konsensus.

2.      Materialisme Historis

Marx mampu mengkritik kapitalisme dari persepektif masa depannya karena kepercayaannya bahwa sejarah akan mengikuti arah yang dapat diprediksi. Kepercayaan itu didasarkan pada konsep materialisnya atas sejarah (materialisme historis). Gambaran umum materialisme historis Marx ialah bahwa cara orang menyediakan kebutuhan-kebutuhan materialnya menetukan atau secara umum membentuk hubungan-hubungan orang-orang antara satu sama lainnya lembaga-lembaga sosialnya dan bahkan ide-ide mereka yang lazim.

Di dalam produksi sosial yang dilakukan manusia, mereka memasuki relasi-relasi nyata yang sangat diperlukan dan independen dari keinginan mereka. Relasi-relasi produksi tersebut berkenaan dengan tahap yang jelas dari perkembangan kekuatan-kekuatan produksi material mereka. Totalitas hubungan-hubungan produksi itu merupakan struktur ekonomis masyarakat yang merupakan fondasi nyata yang melandasi munculnya superstruktur legal dan politis yang sesuai dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial yang tegas.

Ekonomi kapitalis menumbuhkembangkan relasi-relasi unik di antara manusia dan menciptakan pengharapan-pengharapan, kewajiban-kewajiban, dan tugas-tugas tertentu. Pandangan Marx atas sejarah adalah suatu pandangan yang dinamis, sehingga dia percaya bahwa kekuatan-kekuatan produksi akan berubah untuk menyediakan kebutuhan-kebutuhan material dengan lebih baik.

Suatu revolusi sering dipermalukan untuk mengubah relasi-relasi produksi. Sumber utama revolusi adalah kontradiksi material antara kekuatan-kekuatan produksi dan relasi-relasi produksi. Akan tetapi, revolusi juga dihasilkan oleh kontradiksi yang lain, antara pihak yang mengeksploitasi dan pihak yang dieksploitasi. Menurut Marx, kontradiksi demikian, yang selalu ada menyebabkan perubahan revolusioner bila pihak yang di eksploitasi berbaris untuk mendukung suatu perubahan di bidang relasi-relasi produksi yang lebih menyukai perubahan-perubahan yang sedang terjadi di dalam kekuatan-kekuatan produksi. Suatu revolusi yang efektif, menurut Marx akan menyebabkan perubahan di bidang relasi-relasi penduduk, lembaga-lembaga, dan ide-ide sehingga dapat mengesahkan relasi-relasi produksi yang baru. Selain fokusnya pada stuktur-stuktur material kapitalisme, Marx juga berteori tentang aspek-aspek kulturalnya.

a.         Ideologi

Bukan hanya relasi-relasi produksi yang sudah ada yang cenderung mencegah perubahan-perubahan yang diperlukan untuk perkembangan kekuatan-kekuatan produksi, tetapi relasi-relasi, lembaga-lembaga pendukung, dan khususnya ide-ide yang lazim pun cenderung mencegah perubahan-perubahan itu. Marx menyebut ide-ide yang lazim yang melaksanakan fungsi tersebut sebagai ideologi. Tampaknya Marx menggunakan kata itu untuk menunjukan dua jenis ide yang berhubungan.

Pertama, ideologi mengacu kepada ide-ide yang secara alamiah muncul dari kehidupan sehari-hari di dalam kapitalisme, tetapi karena hakikat kapitalisme mencerminkan kenyataan dengan cara yang terbalik. Yang kedua Marx menggunakan istilah ideologi untuk mengacu kepada sistem-sistem ide penguasa yang sekali lagi mencoba menyembunyikan kontradiksi-kontradiksi yang ada di jantung sistem kapitalis. Marx mengacu pada ekonom borjuis yang menggambarkan bentuk komunitas sebagai hal yang universal dan alamiah.

b.      Kebebasan, Kesetaraan dan Ideologi

Menurut Marx, ide-ide khusus kita atas kesetaraan dan kebebasan muncul dari kapitalisme. Marx menganggap bahwa perubahan di bidang ide-ide kita itu dapat dilacak lewat praktik-praktik kapitalisme sehari-hari. Tindakan pertukaran yang merupakan dasar kapitalisme, menggadaikan kesetaraan manusia di dalam pertukaran. Untuk komoditas-komoditas, perbedaan-perbedaan kualitatif yang khusus mengenai nilai gunanya disembunyikan oleh nilai tukarnya.

Marx menyimpulkan bahwa “kesetaraan dan kebebasan tidak hanya dihargai didalam pertukaran yang didasarkan kepada nilai-nilai tukar tetapi pertukaran dari nilai-niali tukar adalah dasar produktif yang nyata dari semua kesetaraan dan kebebasan”. Namun demikian Marx percaya bahwa praktik-praktik kapitalis menghasilkan suatu pandangan terbalik tentang kebebasan. Tampaknya kita bebas, tetapi sebenarnya modal lah yang bebas dan kita lah yang diperbudak.

Marx percaya bahwa sistem kapitalis secara alamiah tidak setara, para kapitalis secara otomatis lebih diuntungkan dalam sistem kapitalis, sementara para pekerja dirugikan secara otomatis. Dibawah kapitalisme, orang-orang yang memiliki alat-alat produksi, orang-orang yang mempunyai modal, menghasilkan uang dari uang mereka. Dibawah kapitalisme, modal memperankan modal yang lebih banyak yakni, investasi-investasi menghasilkan suatu imbalan dan seperti yang kita lihat di atas, Marx percaya bahwa hal itu berasal dari ekploitasi para pekerja.

C.      Problematika Teori

Dalam teori Marxis karl Marx ini terdapat beberapa macam problematika, seperti :

1.      Marxis menjadikan segala hal bersumber dari materi

Terlihat logis memang jika Marx dalam teori marxsisnya yang mencontohkan bahwa manusia hidup pertam kali yang dibutuhkan adalah materi, seperti sandang, pangan, dan papan. Sandang adalah keperluan sehari-hari seperti baju, celana, rumah dan sebagainya. Pangan yakni makanan agar bisa bertahan hidup dan papan adalah pekerjaan. Tetapi, di aspek yang lain seperti intelektualitaslah yang melahirkan materi, contoh pedagang yang sukses dalam pekerjaanya hal ini bukan disebabkan oleh berapa besar modalnya, namun, karena dia memiliki bekal yakni ilmu berdagang yang benar. Petani, seandainya petani tidak mengetahui ilmu dalam bercocok tanam atau ilmu bertani tentu mustahil mereka mampu bercocok tanam dengan baik. Contoh lain nelayan, seandainya nelayan tidak mengetahui bagaimana cara mendapatkan ikan yang benar atau megetahui cuaca yang bagus untuk berlayar mencari ikan tentu tidak akan pernah bisa berhasil nelayan mendapatkan ikan yang melimpah. Jadi, tidak selamanya segala hal bersumber pada materi, terkadang materi bersumber dari akal (idealis),

2.      Marx: Tuhan diciptakan oleh manusia.

Seperti halnya problematika yang pertama, problematika kedua menimbulkan banyak kontrofersi baik di kalangan filsuf/akademisi maupun masyarakat umum di dunia. Hagel dan Hegelian yang mengatakan bahwa ada entitas tunggal yang melahirkan/mencipatkan materi-materi di dunia, dikritisi oleh Marx yang notabene pengikutnya namun di poros kiri, bahwa Tuhan diciptakan oleh manusia, bahkan Tuhan tidak ada. Alasan marx karena dengan adanya kebutuhan akan materi, manusia mampu menciptakan segala hal. Oleh sebab itu, Marx mengandaikan manusia sebagai Tuhan. Yang lebih keterlaluan, Marx menganggap Tuhan tidak ada, dari sinilah lahir ekstrimis yang dikenal dengan istilah ateisme/komunis. Dari pernyataan teologis Marx tersebut yang ditentang oleh filsuf dan masyarakat khususnya yang percaya akan adanya Tuhan, sehingga muncullah problematika teori dalam marxis.

 

D.      Cara Penerapan Teori

Dalam memilih dan memanfaatkan teori sastra dalam suatu kajian satra atau budaya, perlu memperhatikan beberapa komponen. Komponen tersebut di antaranya adalah:

1.    Kesesuaian teori dengan objek karya sastra yang akan dikaji atau dianalisis. Hal tersebut berarti bahwa jangan sampai ada kesenjangan atau ketidakadanya hubungan antara teori yang dipilih dengan karya satra yang akan dikaji. Analoginya adalah, teori sastra adalah sebuah alat atau pisau yang digunakan untuk membedah dan menganalisis karya satra. Jika alat yang kita pilih tidak sesuai atau tidak tepat guna tentu tidak akan bisa menghasilkan sebuah analisis atau kajian yang tepat dan mendalam.

2.    Dalam memilih dan memanfaatkan teori sastra juga perlu memperhatikan kelebihan dan kelemahan dari teori sastra yang akan kita gunakan. Hal ini dilakukan agar kita mengetahui aspek mana saja yang harus diperkuat dan ditekankan dalam mengkaji sebuah karya sastra. Dengan kata lain, dalam memilih dan memanfaatkan sebuah teori sastra harus lebih selektif dan mengetahui dengan mendalam cara kerja serta aplikasi dari teori sastra yang akan kita gunakan sebagai pisau analisis. Untuk meneliti karya sastra lewat teori ini, maka bukan hanya disiplin ilmu sastra saja yang terlibat. Namun berbagai disiplin ilmu ikut terlibat didalamnya. Seperti halnya filsafat, psikologi, sosiologi, antropologi, hukum, sosial, budaya, dan agama.

               Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa teori ini digunakan dengan penganggapan bahwa karya sastra merupakan kreasi pengarang dengan meneladani realitas. Realitas yang terjadi dalam teori ini berupa realitas sosial yang di dalamnya terdapat kesenjangan.

               Karya sastra kemudian tercipta karena ada objek berupa realitas yang dipadukan dengan kreasi. Secara sistematis teori marxis dapat diaplikasikan dengan cara berikut:

1.         Membaca karya sastra.

Langkah pertama dan mutlak yang harus dilakukan jika ingin mengkaji karya sastra yakni membaca karya sastra yang ingin dikaji sampai menguasai isi karya sastra tersebut. Untuk memahami dan menguasai isi karya sastra biasanya diperlukan pembacaan berulang-ulang. Jika semakin sering karya sastra tersebut dibaca, maka semakin banyak pula hal-hal baru yang akan ditemukan.

2.         Menganalisis dan membahas karya sastra.

Menganalisis dan membahas karya sastra dengan menggunakan bahasa sendiri dilengkapi dengan panduan teori sastra yang kuat. Hal itu sangat diperlukan untuk menghindari plagiat dalam mengkaji karya sastra.

E.       Contoh Kajian

Di bawah ini adalah contoh penerapan marxisme dalam puisi berjudul Seorang Tukang Rambutan pada Istrinya karya Taufik Ismail :

“Tadi siang ada yang mati.

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!

Sampai bensin juga turun harganya

Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula

Mereka kehausan dalam panas bukan main

Tebakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu

Biarlah sepuluh ikat juga

Memang sudah rezeki mereka

Mereka berteriak-teriak kegirangan dan berebutan

Seperti anak-anak kecil

“Hidup tukang rambutan! Hidup tukang rambutan!”

Dan menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya

Dan ada yang turun dari truk, bu

Mengejar dan menyalami saya

“Hidup pak rambutan!” sorak mereka

Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar

“Hidup pak rambutan! Sorak mereka

“Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju kami, bukan?

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

“Doakan perjuangan kami, pak,”

Mereka naik truk kembali

Masih meneriakkan terima kasih mereka

“Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!”

Saya tersedu, bu. Saya tersedu

Belum pernah seumur hidup

Orang berterima-kasih begitu jujurnya

Pada orang kecil seperti kita

                                    1966

 

Dalam puisi di atas, pada bait :

Tadi siang ada yang mati.

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Yang dulu berteriak: dua ratus, dua ratus!

Sampai bensin juga turun harganya

Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula

Mereka kehausan dalam panas bukan main

Tebakar muka di atas truk terbuka

Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita, bu

Penggunaan kata “Hidup pak rambutan!” merupakan ralitas sosial yang menggambarkan kritik atas penindasan terhadap rakyat. Menggambarkan protes atas penguasaan kaum penguasa terhadap rakyat.

“Hidup pak rambutan! Sorak mereka

“Terima kasih, pak, terima kasih!

Bapak setuju kami, bukan?

Saya mengangguk-angguk. Tak bisa bicara

“Doakan perjuangan kami, pak,”

Realitas sosial dalam memperjuakan kelas selalu ada keterkaitan rakyat sebagai pihak yang diperjuangkan. Puisi Taufik Ismail di atas “Seorang Tukang Rambutan Pada Istrinya” menggambarkan sebuah perjuangan kelas oleh mahasiswa dan rakyat merasa berterima kasih atas perjuangan yang berhasil, walaupun memakan korban.

Saya tersedu, bu. Saya tersedu

Belum pernah seumur hidup

Orang berterima-kasih begitu jujurnya

Pada orang kecil seperti kita

Dalam pandangan Lukacs, seorang sastrawan mempunyai tanggung jawab dan karenanya harus terlibat dalam masalah yang sedang dihadapi masyarakatnya; seorang sastrawan, hendaknya adalah seorang realis, dan seorang realis hendaknya seorang sosialis, dan sebagai seorang sosialis, sastrawan harus tahu dan terlibat dalam masalah sosial masyarakatnya. Taufik Ismail, semasa demotrasi menentang Orde Lama selalu melibatkan diri dalam proses demonstrasi. Mereka selalu mencatat apa yang dilihat dan didengarnya.

“Tadi siang ada yang mati.

Dan yang mengantar banyak sekali

Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Anak-anak sekolah

Penggalan puisi di atas, inilah bait yang menggabarkan meninggalnya Arief Rahman Hakim, 23 tahun, mahasiswa Fakultas Kedokteran UI tingkat IV yang meninggal ditembak di depan Istana kemarin dimakamkan hari ini. Massa pelajar, pemuda, mahasiswa dan rakyat yang mengantar jenazah berkilometer-kilometer panjangnya dari Salemba 4 ke kuburan Blok P Kebayoran Baru.


F.       Simpulan

Teori Marxisme adalah  teori yang memunculkan adanya wacana untuk menyamakan status sosial dan ekonomi antara  kaum  proletar dengan kaum borjuis. Secara garis besar dari ketiga pendapat tokoh  di atas,  inti teorinya adalah menginginkan adanya kebebasan sebebas-bebasnya untuk kaum proletar agar bisa menjadi manusia yang seutuhnya.  

Dampak positif dan negatif akan  muncul dari penerapan teori  marxisme ini. Dampak positifnya adalah adanya kesetaraan status sosial, dimana kesempatan  kaum  marginal (proletar) untuk memenuhi keinginan  hidupnya dan hak kemanusiaannya akan terbuka sangat lebar, selain itu kesempatan untuk memperbaiki taraf  hidup dalam hal ekonomi juga akan terbuka lebar. Tetapi akan   muncul juga adanya kondisi masyarakat materialis yang egois-sentris.

 

 

Daftar Pustaka

Faruk. 2012. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Ritzer, George dan Goodman, J. Douglas. 2013. Teori Sosiologi. Bantul: Kreasi Wacana.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...