Kamis, 12 Agustus 2021

DESAIN INSTRUKSIONAL

 

1.      Mastering The Instructional Design Process.

William J. Rothwell Dan H. C. Kazanas

 
Bidang desain instruksional dikaitkan dengan menganalisis masalah performansi manusia secara sistematis, mengidentifikasi akar penyebab masalah tersebut, mempertimbangkan berbagai solusi untuk mengatasi akar penyebab, dan menerapkan solusi dengan cara yang dirancang untuk meminimalkan konsekuensi yang tidak diinginkan dari tindakan korektif. Desain instruksional biasanya meliputi banyak hal bukan hanya persiapan kerja terkait instruksi tetapi juga pemilihan seperti noninstructional (manajemen) solusi untuk masalah performansi manusia sebagai persiapan dan penggunaan alat bantu kerja, desain ulang struktur organisasi dan hubungan pelaporan, desain ulang pekerjaan dan tugas, memfokuskan kembali metode seleksi karyawan, rekayasa ulang metode umpan balik pekerjaan dan tugas yang berhubungan, dan desain dan implementasi program penghargaan karyawan. (Edmonds, Branch, dan Mukherjee, 1990; Jacobs , 1987; Rothwell , 1996a , 1996b )

2.      Berikut Adalah Langkah Pengembangan Desain Instruksional

Dick Dan Carey

 

1.    Identifikasi Tujuan (Identity Instructional Goal(s)).

Tahap awal model ini adalah menentukan apa yang diinginkan agar pebelajar dapat melakukannya ketika mereka telah menyelesaikan program Instruksional. Tujuan Instruksional mungkin dapat diturunkan dari daftar tujuan, dari analisis kinerja (performance analysis), dari penilaian kebutuhan (needs assessment), dari pengalaman praktis dengan kesulitan belajar pebelajar, dari analisis orang-orang yang melakukan pekerjaan (Job Analysis), atau dari persyaratan lain untuk instruksi baru.

2.    Melakukan Analisis Instruksional (Conduct Instructional Analysis).

Langkah ini, pertama mengklasifikasi tujuanke dalam ranah belajar Gagne, menentukan langkah-demi-langkah apa yang dilakukan orang ketika mereka melakukan tujuan tersebut (mengenali keterampilan bawahan / subordinat). Langkah terakhir dalam proses analisis Instruksional adalah untuk menentukan keterampilan, pengetahuan, dan sikap, yang dikenal sebagai perilaku masukan (entry behaviors), yang diperlukan peserta didik untuk dapat memulai Instruksional. Peta konsep akan menggambarkan hubungan di antara semua keterampilan yang telah diidentifikasi.

3.    Analisis Pembelajar dan Lingkungan (Analyze Learners and Contexts).

Langkah ini melakukan analisis pembelajar, analisis konteks di mana mereka akan belajar, dan analisis konteks di mana mereka akan menggunakannya. Keterampilan pembelajar, pilihan, dan sikap yang telah dimiliki pembelajar akan digunakan untuk merancang strategi Instruksional.

4.    Merumuskan Tujuan Performansi (Write Performance Objectives).

Pernyataan-pernyataan tersebut berasal dari keterampilan yang diidentifikasi dalam analisis Instruksional, akan mengidentifikasi keterampilan yang harus dipelajari, kondisi di mana keterampilan yang harus dilakukan, dan kriteria untuk kinerja yang sukses.

5.    Pengembangan Tes Acuan Patokan (Develop Assessment Instruments).

Berdasarkan tujuan performansi yang telah ditulis, langkah ini adalah mengembangkan butir-butir penilaian yang sejajar (tes acuan patokan) untuk mengukur kemampuan siwa seperti yang diperkirakan dari tujuan. Penekanan utama berkaitan diletakkan pada jenis keterampilan yang digambarkan dalam tujuan dan penilaian yang diminta.

6.    Pengembangan Siasat Instruksional (Develop Instructional Strategy).

Bagian-bagian siasat Instruksional menekankan komponen untuk mengembangkan belajar pebelajar termasuk kegiatan praInstruksional, presentasi isi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan tindak lanjut kegiatan.

7.    Pengembangan atau Memilih Material Instruksional (Develop and Select Instructional Materials).

Ketika kita menggunakan istilah bahan Instruksional kita sudah termasuk segala bentuk Instruksional seperti panduan guru, modul, overhead transparansi, kaset video, komputer berbasis multimedia, dan halaman web untuk Instruksional jarak jauh. maksudnya bahan memiliki konotasi.

8.    Merancang dan Melaksanakan Penilaian Formatif (Design and Conduct Formative Evaluation of Instruction).

Ada tiga jenis evaluasi formatif yaitu penilaian satu-satu, penilaian kelompok kecil, dan penilaian uji lapangan. Setiap jenis penilaian memberikan informasi yang berbeda bagi perancang untuk digunakan dalam meningkatkan Instruksional. Teknik serupa dapat diterapkan pada penilaian formatif terhadap bahan atau Instruksional di kelas.

9.    Revisi Instruksional (Revise Instruction).

Strategi Instruksional ditinjau kembali dan akhirnya semua pertimbangan ini dimasukkan ke dalam revisi Instruksional untuk membuatnya menjadi alat Instruksional lebih efektif.

10.    Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif (Design And Conduct Summative Evaluation).

Hasil-hasil pada tahap di atas dijadikan dasar untuk menulis perangkat yang dibutuhkan. Hasil perangkat selanjutnya divalidasi dan diujicobakan di kelas/ diimplementasikan di kelas dengan evaluasi sumatif.

 

3.      Model Kemp

 

Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dari berbagai kendala yang timbul.

Model sistem instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Mengembangkan sistem instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model Kemp, dilihat dari kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.

Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:

a.       Hasil yang ingin dicapai;

b.      Analisis tes mata pelajaran;

c.       Tujuan khusus belajar;

d.      Aktivitas belajar;

e.       Sumber belajar;

f.        Layanan pendukung;

g.      Evaluasi belajar;

h.      Tes awal;

i.        Karakteristik belajar.

Kesembilan komponen itu merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik evaluasi sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioritas dan berbagai kendala yang muncul.

Merupakan jawaban dari pertanyaan :

1.      Apa yang harus dipelajari (tujuan)

2.      Prosedur dan sumber-sumber apa yang sesuai untuk mencapai tujuan (kegiatan dan sumber)

3.      Bagaimana kita tahu bahwa tujuan telah tercapai (evaluasi)

4.      Perencanaannya adalah sebagai berikut :

5.      Tentukan tujuan, daftar topic, rumusan tujuan umum dari setiap objek

6.      Daftarlah karakteristik siswa

7.      Rumuskan tujuan intruksional khusus

8.      Daftarlah isi materi yng menunjang tujuan

9.      Kembangkan pretes untuk mengetahui latar belakang pengetahuan siswa

10.  Seleksi kegiatan belajar mengajar dan sumber Pendidikan

11.  Koordinasi sarana yang mendukung

12.  Evaluasi hasil belajar

Kelebihan :

a.       Segala kegiatan telah terpeinci

b.      Dalam penyampaian materi akan bisa disesuaikan dengan kemampuan siswa karena adanya pre test

Kekurangan :

a.       Membutuhkan waktu yang lama dalam perencanaan

b.      Waktu untuk penyampaian materi berkurang untuk pemberian pre test

 

4.      BRIGGS

Pengembangan desain intruksional model Briggs ini berorientasi pada rancangan sistem dengan sasaran guru yang bekerja sebagai perancang atau desainer kegiatan intruksional maupun tim pengembang intruksional yang anggotanya meliputi guru, administrator, ahli bidang studi, ahli evaluasi, ahli media, dan perancang intruksional.

Model pengembangan intruksional Briggs ini bersandarkan pada prinsip keselarasan antara a) tujuan yang akan dicapai, b) strategi untuk mencapainya, dan c) evaluasi keberhasilannya. Langkah pengembangan dimaksud dirumuskan kedalam 10 langkah pengembangan yaitu :

1.      Identifikasi kebutuhan/penentuan tujuan

2.      Penyusunan garis besar kurikulum/rincian tujuan kebutuhan instruksional yang telah dituangkan dalam tujuan-tujuan kurikulum tersebut pengujiannya harus dirinci, disusun dan diorganisasi menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.

3.      Perumusan tujuan

4.      Analisis tugas/tujuan

5.      Penyiapan evaluasi hasil belajar

6.      Menentukan jenjang belajar

7.      Penentuan kegiatan belajar.

8.      Pemantauan bersama

9.      Evaluasi formatif

10.  Evaluasi sumatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...