KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya ucapkan kepada AllAH SWT yang telah memberikan
kesehatan dan kemudahan dalam membuat makalah ini, sehingga makalah ini disusun
tepat pada waktunya.
Adapun penulisan makalah ini untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah
“Psikolinguistik”. Penulis menyadari akan ketidak sempurnaan makalah ini, saya
mengharapakan kritik dan saran yang membangun.
Saya ucapkan terima kasih kepada bapak .........selaku dosen mata kuliah
Psikolinguistik dan teman-teman.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Denpasar, 01 Oktober 2020
Tim Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Judul......................................................................................................... I
Kata pengantar........................................................................................................ II
Daftar isi.................................................................................................................... III
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.2 Latar Belakang.................................................................................................... 2
1.3 Rumusan Masalah................................................................................................ 3
1.4 Tujuan Penelitian................................................................................................. 4
1.5 Manfaat ............................................................................................................... 4
BAB II PEMBAHASAAN...................................................................................... 5
2.1 Struktur , fungsi dan
pertumbuhan Otak............................................................ 5
2.2 Fungsi Kebahasaan Otak..................................................................................... 6
2.3 Kaitan Otak dengan Bahasa................................................................................. 7
2.4 Teori Lateralisasi.................................................................................................. 7
2.5 Teori Lokalisasi.................................................................................................... 8
2.6 Hamisfer yang Dominan...................................................................................... 9
2.7 Otak wanita......................................................................................................... 10
2.8 Peningkatan Kemampuan otak: Membaca dengan kedua belak Otak................ 11
BAB III PENUTUP................................................................................................. 19
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 19
3.2 Saran .................................................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa memegang peranan yang penting dan
suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut
membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal
yang biasa seperti halnya berjalan dan bernafas, padahal bahasa mempunyai
pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk keistimewaan yang dimiliki
manusia yang membedakannya dengan mahluk lainnya.
Otak (serebrum dan serebelum) adalah satu komponen
dalam system saraf manusia. Komponen lainnya adalah susmsum tulang belakang
atau medulla spinalis dan saraf tepi. Yang pertama otak berada di dalam ruang
tengkorak: medulla spinalis berada di dalam ruang tulang belakang; sedangkan
saraf tepi (saraf spinal dan saraf otak) sebagian di luar kedua ruang tadi.
Otak terdiri dari dua hemisfer (belahan), yaitu hemisfer kiri dan hemisfer
kanan, yang dihubungkan oleh korpus kalosum. Tiap Hemisfer terbagi lagi dalam
bagian-bagian besar yang disebut lobus, yaitu lobus frontalis, lobus
parientalis, lobus oksipitalis, dan lobus temporalis. Sedangkan permukaan otak
yang disebut sebagai korteks serebri tampak berkelok-kelok membentuk lekukan (sulkus)
dan benjolan (girus). Dengan adanya sulkus dan girus ini permukaan otak yang
disebut korteks serebri itu menjadi luas. Korteks serebri ini mempunyai peranan
penting baik fungsi elementer, seperti pergerakan, perasaan, dan pancaindera,
maupun pada fungsi yang lebih tinggi dan kompleks yaitu fungsi mental, atau
fungsi luhur atau fungsi kortikal.
Proses berbahasa dimulai dari enkode semantik,enkode
gramatikal,enkode fonologi,yang dilanjutkan dengan dekode fonologi,dekode
gramatika,dan diakhiri dengan dekode semantik. Proses enkode semantik dan
dekode gramatika terjadi didalam otak penutur,sedangkan enkode fonologi dimulai
dari otak penutur lalu dilaksanakan oleh alat ucap didalam rongga mulut
penutur. Sebaliknya,dekode fonologi dimulai dari telinga pendengar dengan
dilanjutkan ke dalam otak pendengar dengan lanjutannya berupa dekode gramatika
dan berakhir pada dekode semantik. Bila alat-alat fisiologi penutur dan
pendengar berada dalam keadaan sehat-normal,maka pesan semantik yang dikirimkan
penutur dapat diterima dengan baik oleh otak pendengar. Artinya,proses
berbahasa itu berjalan dengan baik.
Oleh karena proses berbahasa lebih bersifat dua
arah,bersifat bolak-balik antara pentur dan pendengar,maka seorang penutur
kemudian bisa menjadi pendengar dan seorang pendengar kemudian bisa menjadi
penutur. Begitulah proses terjadi bergantian yang secara teoretis
berjalan terlalu lama dan panjang. Namun,sebenarnya dapat berlangsung dalam
waktu singkat dan cepat. Semua proses ini dikendalikan oleh otak yang merupakan
alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas manusia.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana struktur,fungsi, dan
pertumbuhan otak?
2. Apakah fungsi dari kebahasaan
otak ?
3. Bagaimana kaitan otak dengan
bahasa?
4. Apakah yang dimaksud dengan
teori lateralisasi dalam kajian bahasa dan otak?
5. Apakah yang dimaksud dengan
teori lokalisasi dalam kajian bahasa dan otak?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Mengetahui bagimana struktur,fungsi,dan
pertumbuhan otak.
2. Mengetahui kaitan otak dengan
bahasa.
3. Mengetahui maksud dari teori
lateralisasi dalam kajian bahasa dan otak.
4. Mengetahui maksud dari teori
lokalisasi dalam kajian bahasa dan otak.
1.4 Manfaat Penulisan
Beberapa manfaat dalam
penulisan makalah ini di antaranya :
1. Manfaat secara teoris yaitu
menambah pengetahuan, wawasan, dan referensi.
2. Manfaat secara praktis yaitu
secara langsung dirasakan penulis, bagi penulis sebagai bahan pelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Struktur,Fungsi,dan
Pertumbuhan Otak
Otak (serebrum dan serebelum) adalah salah satu komponen dalam sistem
susunan saraf manusia. Komponen lainnya adalah sumsum tulang belakang atau
medula spinalis dan saraf tepi. Yang pertama,otak,berada didalam ruang
tengkorak;medula spinalis berada didalam ruang tulang belakang;sedangkan saraf
tepi(saraf tepi dan saraf otak) sebagian berada diluar kedua ruang tadi
(kusumoputro,1981)
Otak seorang bayi ketika baru dilahirkan beratnya hanyalah kira-kira 40%
dari berat otak orang dewasa;sedangkan makhluk primata lain seperti kera dan
simpanse adalah 70% dari otak dewasanya (Menyuk,1971:31). Dari perbandingan
tersebut tampak bahwa manusia kiranya telah dikodratkan secara biologis untuk
mengembangkan otak dan kemampuannya secara cepat. Dalam waktu yang tidak
terlalu lama otak itu telah berkembang menuju kesempurnaannya.
Sebaliknya,makhluk primata lain,sepeti kera dan simpanse,yang ketika lahir
telah memiliki 70% dari otaknya itu dan yang tentunya telah dapat berbuat
banyak sejak lahir,hanya memerlukan tambahan sedikit saja,yaitu sekitar 30%.
Sewaktu dewasa manusia mempunyai otak seberat 1350gram,sedangkan sipanse dewasa
hanya 450gram (slobin,1971:118). Memang ada manusia kerdil yang termasuk
“nanocephalic” yang berat otaknya hanya 450 gram waktu dewasa,tetapi masih
dapat berbicara seperti manusia lainnya,sedangkan makhluk lain tidak
(Lenneberg:1964).
Perkembangan atau pertumbuhan otak manusia berlangsung dengan sangat
cepat,sejak bayi hingga akhir masa remaja. Pengenalan terhadap lingkungan baru
pada rentang usia tersebut,memicu lahirnya jutaan sel-sel baru dan pertumbuhan
ini masih akan terus berlangsung pada usia dewasa,hanya agak sedikit lambat.
Perkembangan atau pertumbungan otak manusia menurut Volpe (1987) terdiri
atas enam tahap,yaitu :
1. Pembentukan tabung neural;
2. Profilerasi selular untuk
membentuk calon sel neoron dan glia;
3. Perpindahan selular dari
germinal subependemal ke korteks;
4. Deferensasi selular menjadi
neouron spesifik;
5. Perkembangan akson dan dendrit
yang menyebabkan bertambahnya sinaps (perkembangan dendrit tergantung fungsi
daerah tersebut);
6. Elimenisi selektif
neuron,sinaps,dan sebagnya untuk spesifikasi.
Meskipun sel otak dapat tumbuh dengan cepat pada saat bayi dalam kandungan
dan juga mampu memperbaharui diri ketika mengalami luka,namun adanya
pertumbungan dianggap tidak masuk akal. Yang dianggap masuk akal justru
kemerosotan mental secara gradual ketika seseorang bertambah tua. Hal ini
terjadi karena ada beberapa sel otak yang mati dan tidak dapat diperbaharui
lagi. Karena itu,pendapat yang mengatakan bahwa sel otak manusia terus
berkembang sepanjang usia manusia sulit diterima oleh sejumlah pakar yang
disebabkan oleh kerusakan otak manjadi bukti bahwa tidak ada lagi pertumbuhan
sel otak pada manusia dewasa.
Namun pendapat ini mulai goyah ketika ekperimen yang dilakukan beberapa
ilmuan terhadap seekor tikus menunjukkan adanya sel saraf baru yang lahir
diderah otak hippocumpus,daerah yang menyimpan memori tentang tempat dan
sesuatu untuk pertama kali. Setahun setelah pertemuan itu pada tahun 1966,para
ilmuan menemukan adanya perpindahan indra penciuman.Penemuan ini kemudian
diikuti oleh penemuan-penemuan serupa pada objek ekperimen lain seperti
marmot,kelinci,kera,dan burung kenari.
2.2 Fungsi Kebahasaan Otak
Sudah dikemukakan bahwa kedua hemisfer otak mempunyai peranan yang berbeda
bagi fungsi kortikal. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi
orang yang tidak kidal (cekat tangan kanan,right handed). Hemisfer kiri ini
disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa,dan korteksnya dinamakan korteks
dewasa. Hemisfer dominan atau superior secara mofologis memang agak berbeda
dari hemisfer yang tidak dominan atau inferior. Hemisfer dominan lebih
berat,lebih besar,girusnya dan lebih panjang,juga berperan untuk fungsi memori
yang bersifat verbal. Sebaliknya,hemisfer kanan untuk fungsi emosi,lagu
isyarat,baik yang emosional maupun verbal.
Hemisfer kiri memang dominan untuk fungsi bicara bahasa,tetapi tanpa
aktivitas hemisfer kanan,maka pembicaraan seseorang akan menjadi menonton,tak
ada prosodi,tak ada lagu kalimat;tanpa menampakkan adanya emosi dan tanpa
disertai isyarat-isyarat bahasa.
Penentuan dan pembuktian daerah-daerah tertentu dalam otak dalam kaitannya
dengan fungsi bicara-bahasa dan fungsi-fungsi lain pada awalnya dilakukan
dengan penelitian terhadap orang-orang yang mengalami kerusakan otak atau
kecelakaan yang mengenai kepala. Kemudian dilakukan juga dengan berbagai
eksperimen terhadap orang sehat.
Pada tahun 1848 Phineas Gage, seorang pekerja jalan kereta api di negara
bagian vermount,Amerika Serikat,akibat ledakan bagian depan kepalanya tekena
lemparan balok bantalan rel,dan mencederainya (fromkin dan Rodman,1974). Saat
itu dikabarkan,gage yang terkena lemparab balok itu tidak akan sembuh. Namun
sebulan kemudian ternyata dia sembuh dan dapat bekerja kembali dan tidak
terdapat kerusakan pada indra penglihatan maupun ucapannya. Dia tetap berbicara
dengan lancar berdasarkan peristiwa yang dialami Phineas Gage ini dapat
disumpulkan bahwa daerah kemampuan berbahasa tidak terletak dibagian depan
otak. Hal ini membantah pendapat Franz Josep Gall (1758-1828) yang mengatakan
bahwa kemampuan memori verbal mempunyai pusat dibagian depan otak
(kusumoputro,1981)
Pada tahun 1861,seorang ahli bedah prancis, Paul Broca menemuan seorang
pasian yang tidak dapat berbicara,hanya dapat mengucapkan “tan-tan”. Kemudian
setelah pasian itu meninggal dan dibedah ditemukan kerusakan otak diderah
frontal yang kemudian daerah itu disebut daerah Broca; sesuai dengan namanya
sebagai penemu. Jadi, kerusakan pada daerah broca itu menyebabkan seseorang
mendapatkan kesulitan dalam menghasilkan ujaran.
Hasil penelitian tentang kerusakan otak oleh Broce dan Wernicke serta
penelitian Penfield dan Robert mengarah pada kesimpulan bahwa hemisfer kiri
dilibatkan dalam hubungannya dengan fungsi bahasa. Krashen (1977) mengemukakan
lima alasan yang mendasari kesimpulan itu. Kelima alasan itu adalah berikut ini
:
1. Hilangnya kemampuan berbahasa
akibat kerusakan otak lebih sering disebabkan oleh kerusakan jaringan saraf
hemisfer kiri dari pada hemisfer kanan.
2. Ketika Hemisfer kiri
dianestesia kemampuan berbahasa menjadi hilang; tetapi ketika hemisfer kanan
dianestesia kemampuan berbahasa itu tetap ada.
3. Sewaktu bersaing dalam menerima
masukan bahasa secara bersamaan dalam tes dikotik,ternyata telinga kanan lebih
unggul dalam ketepatan dan kecepatan pemahaman daripada telinga kiri.
Keunggulan telinga kanan itu karena hubungan antara telinga kanan dan hemisfer
kiri lebih baik daripada hubungan telinga kiri dengan hemisfer kanan.
4. Ketika materi bahasa diberikan
melalui penglihatan kanan lebih cepat dan lebih tepat dalam menangkap materi
bahasa itu daripada penglihatan kiri. Keunggulan penglihatan kanan itu karena
hubungan antara penglihatan kanan dan hemisfer kiri lebih baik daripada
hubungan penglihatan kiri dan hemisfer kanan.
5. Pada waktu melakukan kegiatan
berbahasa baik secara terbuka maupun tertutup,hemisfer kiri menunjukkan
kegiatan elektris lebih hebat daripada hemisfer kanan. Hal ini diketahui
melalui analisis gelombang otak. Hemisfer yang lebih aktif sedikit dalam
menghasilkan helombang alpha.
2.3 Kaitan Otak dengan Bahasa
Orang sudah lama sekali berbicara tentang otak dan bahasa. Aristoteles pada
tahun 384-323 sebelum masehi elah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal
yang kini kita ketahui dilakukan oleh otak. Begitu pula pelukis terkenal
Loenardo dan Vinci pada tahun 1500-an (Dingwall 1998:53). Namun titik tolak
yang umum dipakai adalah setelah penemuan-penemuan yang dilakukan oleh Broca
dan Wernicke pada tahun 1860-an.
Dari struktur serta organisasi otak manusia tampak bahwa otak memegang peran
yang penting dalam bahasa. Apabila di input yang masuk adalah dalam bentuk
lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks
primer pendengaran. Disini input tadi diolah secara rinci sekali,misalnya
apakah bunyi sebelum bunyi /o/ yang didengar itu memiliki VOT+60 milidetik,
+20milidetik, atau diantara kedua angka ini.
Angka indek VOT ini penting karena kalau VOT-nya adalah +0milidetik, maka
bunyi itu pastilah vois seperti /b/ atau /g/; kalau lebih dari +30 milidetik,
pastilah itu bunyi tak-vois seperti /p/ atau /k/,dst. Korteks ini juga meneliti
apakah urutan bunyinya adalah , misalnya /p/,/o/,/s/ (pos) atau /s/,/o/,/p/
(sop).
Setelah diterima, diolah, dan dicerna seperti ini maka bunyi-bunyi bahasa
tadi “dikirim” le daerah Wernicke untuk diinterprestasikan. Didaerah ini
bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa, dan
akhirnya kalimat. Setelah diberi makna dan dipahami isinya,maka ada dua jalur
kemungkinan. Bila masukan tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu
ditanggapi, maka masukan tadi cukup disimpan saja dalam memori. Suatu saat
nanti mungkin informasi itu diperlukan. Bila masukan tadi perlu ditanggapi
secara verbal, maka interprestasi itu dikirim ke daerah Broca melalui fasikulus
arkuat.
Di daerah Broca proses penaggapan dimulai. Setelah diputuskan tanggapan
verbal itu bunyinya seperti apa maka daerah broca “memerintahkan” motor korteks
untuk melaksanakan nya. Proses pelaksanaan di korteks motor juga tidak
sederhana. Untuk suatu ujaran ada minimal 100 otot dan 140.000 tentetan
neuromuskuler yang terlibat. Motor korteks juga harus mempertimbangkan tidak
hanya urutan kata dan urutan bunyi, tetapi juga urutan dari fitur-fitur pada
tiap bunyi yang harus diujarkan. Ambillah perkataan dia pada
kalimat.
(1) Dia belum pulang
Karena bunyi /d/ mempunyai fitur [+vois], di samping fitur-fitur lain
seperti [+konsonatal], [+anterior], [+alveolar], [-nasal], maka korteks motor
harus memerintahkan pita suara untuk bergetar 30 milidetik lebih awal daripada
perintah-perintah yang lain. Hal ini disebabkan karena pita suara letaknya
paling jauh dibandingkan dengan alat-alat penyuara yang lain. Sebaliknya, untuk
bunyi /p/ pada kata pulang di kalimat (1) di atas, pita suara
harus diperintahkan untuk bergetar paling awal 25 milidetik setelah bunyi /p/
itu diucapkan. Ini untuk menjamin bahwa bunyi bilabial yang keluar itu
benar-benar /p/,dan bukan /b/.
Perpindahan dari bunyi /d/ ke /i/ dan kemudian ke /a/ untuk kata dia juga
memerlukan koordinasi yang sangat akurat. Ujung lidah yang menembel pada daerah
alveolar di mulut untuk bunyi /d/ yang kemudian harus dengan tepat berubah
bentuk menjadi lengkung dan tinggi-depan untuk /i/, misalnya harus dikoordinasi
dengan rapi sekali sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan bunyi yang natif.
Tanpa ketepatan ini maka pembicara akan mendengar seperti orang asing.
Bila input yang masuk bukan dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk
tulisan,maka pemrosesannya agak berbeda. Masukan tidak ditanggapi oleh korteks
primer pendengaran, tetapi oleh korteks visual dilobe osipital. Masukan ini
tidak langsung dikirim ke daerah Wernicke,tetapi harus melewati girus anguler
yang mengkoordinasikan daerah pemahaman dengan daerah osipital. Setelah tahap
ini,prosesnya sama,yakni, input tadi dipahami oleh daerha Wernicke, kemudian
dikirim ke daerah Broca bila perlu tanggapan verbal. Bila tanggapannya juga
visual,maka informasi itu dikirim ke daerah parietal untuk diproses
visualisasinya.
2.4 Teori Lateralisasi
Banyak pakar psikologi yang meragukan teori lateralisasi,bahwa pusat-pusat
bahasa dan ucapan berada pada hemisfer kiri. Mereka berpendapat bahwa seluruh
otak bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pemahaman dan produksi bahasa.
Pendapat ini dalam psikologi disebut “holisme” (Simanjuntak,1990). Namun
demikian,dari bukti-bukti experimental yang dilakukan terhadap otak yang normal
(bukan otak yang rusak seperti yang dilakukan broca dan wernicke), kebenaran
teori lateralisasi itu bisa dipertimbangkan. Berikut dikemukakan beberapa
eksperimen yang pernah dilakukan untuk menyokong teori lateralisasi itu.
1. Tes Menyimak Rangkap (Dichtic Listening)
Tes ini pertama kali di perkenalkan oleh Broadbent (1954), lalu banyak
dilakukan oleh Kimura (1963, 1964) dan Ling (1969). Tes ini didasarkan pada
teori bahwa hemisfer kiri menguasai kerja anggota tubuh sebelah kanan dan
hemisfer kanan menguasai kerja anggota tubuh sebelah kiri.
Tes ini dilakukan dengan memperdengarkan pasangan kata yang berbeda
(misalnya boy and girl atau dog dan cat, atau apa saja) pada waktu yang
betul-betul bersamaan di telinga kiri dan telinga kanan orang yang di tes
dengan kenyaringan yang sama. Umpamanya pada telinga kiri orang yang di tes di
perdengarkan kata girl dan pada telinga kanan di perdengarkan kata boy.
Ternyata pada kata boy yang diperdengarkan pada telinga sebelah kanan dapat
di ulangi dengan baik dari pada kata girl yang diperdengarkan di telinga
sebelah kiri. Tes yang dilakukan berulang-ulang terhadap orang-orang yang
berbeda (baik anak-anak maupun dewasa) dan dengan pasangan kata-kata yang
berbeda ternyata memberi hasil yang sama : kata yang diperdengarkan di telinga
sebelah kanan dapat di ulang dengan baik sedangkan yang diperdengarkan pada
telinga sebelah kiri tidak dapat. Hasil tes ini membuktikan bahwa telinga kanan
(yang dilandasan oleh hemisfer kiri) lebih peka terhadap bunyi-bunyi bahasa
dibandingan dengan telinga kiri (yang dilandasi oleh hemisfer kanan). Dalam hal
ini kira nya kata girl yang diperdengarkan pada telinga sebelah kiri. Untuk
bisa “dipahami” dan “diresapi” perlu diseberangkan dulu dari hemisfer kanan ke
hemisfer kiri.
2. Tes Stimulus
Elektris (Electrical Stimulation of Brain)
Dengan tes ini pusat bahsa pada otak distimuluskan dengan aliran listrik
melalui talamus lateral kiri (talamus = satu struktur jaringan jauh di dalam
otak) sehingga menimbulkan anomia, dimana subjek yang diteliti tidak dapat
menyebutkan nama benda yang ada di depannya, meskipun dia masih lancar
bercakap-cakap. Stimulus Electris yang sama yang dilakukan terhadap hemisfer
kanan melalui talamus lateral kanan tidak menyebabkan terjadinya anomia. Tes
Stimulus Electris ini membuktikan bahwa lateralisasi hemisfer kiri untuk bahasa
telah merupakan satu kenyataan yang tidak dapat di bantah.
3. Tes
Grafik kegiatan Electris (Electris-encephalo-Graphy)
Tes ini dilakukan untuk mengetahui adakah aliran listrik pada otak apabila
seseorang sedang bercakap-cakap dan kalau ada bagian manakah yang giat
mendapatkan aliran listrik ini. Tes ini pertama kali diperkenalkan oleh Schafer
(1967); dan yang pertama kali yang menggunakan adalah whitaker (1971). Namun,
yang pertama kali melaporkan setelah merekam grafik eletris itu adalah Mc.Adam
dan Witaker. Kedua mencatat bahwa kegiatan elektris itu terdapat pada hemisfer
kiri dan lokasinya terdapat pada medan Broca, yang mereka sebut sebagai daerah
frontal ineferior hemisfer kiri otak. Grafik kegiatan elektris seperti ini
tidak terdapat hemisfer kanan.
4. Tes Wada (Tes
Amysal)
Tes wada ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar Jepang bernama J.Wada
(1959). Dalam tes ini obat sodium amysal di injeksikan kedalam sistem peredaran
salah belahan otak. Belahan otak yang mendapatkan obat ini menjadi lumpuh untuk
sementara. Jika hemisfer kanan yang dilumpuhkan sodium amysal ini, maka
anggota-anggota badan sebelah kiri tidak berfungsi sama sekali, namun fungsi
bahasa tidak terganggu sama sekali, dan orang yang diteliti ini dapat
bercakap-cakap dengan normal seperti biasa. Apabila hemisfer kiri yang diberi
sodium amysal, maka anggota badan sebelah kanan menjadi lumpuh, termasuk fungsi
bahasa.
Jika, hasil tes ini
membuktikan bahwa pusat bahasa berada pada hemisfer kiri.
5. Teknik
Fisiologi Langsung (Direct Physiologi Technique)
Teknik ini dilakukan oleh Chon (1971) untuk memperkuat hasil yang dilakukan
dengan teknik psikopisologi, yaitu teknik menyimak rangkap seperti yang di
terangkan pada bagian (a).pada tes menyimak rangkap menyangkut juga faktor
psikologi karena subjek orang yang di tes ditanyakan oleh orang yang mengetes
apa yang dia dengar. Teknik psiologi langsung ini merekam secara langsung
getaran-getaran elektris pada otak dengan cara seperti yang di jelaskan pada
(c) diatas, setelah ke telinga kiri dan di telinga kanan secara berturut-turut
di perdengarkan dengan bunyi bising dan bunyi ujaran biasa. Ternyata suara
bising terekam dengan baik hemisfer kanan sedangkan bunyi ujaran bahasa terekam
dengan baik pada hemisfer kiri.
6. Teknik
Belah Dua Otak
Pada teknik ini kedua hemisfer sengaja di pisahkan dengan memotong organ
yang menghubungkan kedua hemisfer kiri dan kanan, sehingga kedua hemisfer itu
tidak mempunyai hubungan (Gazzaniga, 1970 dalam Simanjuntak 1990). Kemudian pada tangan kiri pasien orang yang di
teliti yang mata nya ditutup dengan kain diletakkan sebuah benda misalnya anak
kunci ternyata subjek orang yang diteliti itu mengenal benda itu dengan
melakukan gerak membuka pintu dengan menggunakan anak kunci itu, tetapi ia
tidak dapat menyebutkan nama benda itu. Mengapa? Karena penyebutan nama benda
di landasi oleh hemisfer kiri, sedangkan tangan kiri yang memegang benda itu
dilandasi dengan hemisfer kanan. Dengan kata lain, hemisfer kiri tidak
mengetahui apa yang di kerjakan oleh hemisfer kanan karena hubungan keduanya
telah diputuskan.
Jadi dengan memutuskan korpus kalosum itu, pasien tidak lagi mempunyai satu
akal melainkan mempunyai dua akal (Gazzaniga, 1973 dalam Simanjuntak, 1990).
E. Teori
Lokalisasi
Ada beberapa cara lain
untuk menunjukkan teori lokalisasi ini, antara lain sebagai berikut :
a. Teknik
Stimulus Electrik
Teknik ini dilakukan
dengan cara menstimulasi bagian-bagian tertentu permukaan korteks dengan aliran
listrik seperti yang telah dilakukan dua ahli beda saraf, Penfield dan Robert
(1959) pada waktu proses pengobatan beda saraf pasien-pasien otak. Semua
permukan koteks hemisfer kiri secara bergiliran telah mereka stimulasi dengan
aliran listrik.
Mereka menemukan pada
tiga bagian saja yang terdapat kelainan-kelainan yang merusak bahasa. ketiga
tempat itu adalah berikut ini.
1. Bagian depan Girus tengan
sebelah bawah Lobus depan kiri, yaitu bagian yang sekarang dikenal dengan
daerah (Medan) Broca.
2. Bagian atau medan Temporo –
parietal posterior yaitu yang sekarang dikenal sebagi daerah( medan) Wernicke.
3. Medan motor suplementer yang
terdapat pada permukaan tengah belah korteks sebelah kiri, yaitu yang sekarang
dikenal sebagi korteks motor.
b. Teknik
perbedaan Anatomi Otak
Dalam berbagai literatur mengenai teori lokalisasi muncul satu pertanyaan:
jika pusat-pusat bahasa hanya berada pada hemisfer kiri, tentulah kedua
hemisfer itu, kiri dan kanan, tidak simestris, hemisfer kiri tentu lebih besar
dari pada hemisfer kanan. Benarkah?
Untuk menjawab
pertanyaan ini Geschwind dan Levistsky (1968) telah menganalisis secara
terperinci seratus otak manusia normal setelah mereka meninggal. Keduanya
menemukan bahwa planun temporale yaitu daerah dibelakng Girus heschl (jadi
daerah-daerah bahasa, Medan Wernicke) jauh lebih besr pada hemisfer kiri.
Bahkan perbedaan ini dapat berlasung dilihat dengan mata.
c. Cara
Melihat Otak dengan PET (positron emission tomography)
Cara lain untuk membuktikan teori lateralisasi dan lokalisasi adalah dengan
cara melihat otak secara langsung dengan menggunakan alat yang disebut PET.
Dengan PET ini kita melihat bagian-bagian otak, terutama bagian-bagian korteks,
pada waktu bagian-bagian itu sedang berfungsi. Caranya, setengah jam sebelum
kepala pasien di masukkan kedalam PET, cairan glukosa beradio aktif di
injeksikan ke lengannya. Jiak suatu bagian otak bekerja aktif, dia memerlukan
glukosa yang banyak. Maka dengan pertolongan glukosa proses-proses pemikiran
dalam otak yang bekerja dan memerlukan glukosa akan tampak bersinar, berwarna
merah, dan bergerak-gerak.
F. Hemisfer yang
Dominan
Menurut Yule (1985) fungsi bagian tertentu pada satu daerah otak yang
mengalami kerusakan akan digantikan oleh penggantinya pada bagian otak yang
lain. Oleh karena itu, sangat diperlukan kecermatan untuk menyatakan
hubungan-hubungan antara aspek-aspek prilaku linguistik dan letaknya dalam
otak. Sejanalan dengan pendapat Yule serta serta pendapat ilmuan yang lain
(1977) mengatakan bahwa meskipun terdapat keunggulan pada hemisfer kiri, tetapi
tidak semua aspek bahasa di batasi oleh hemisfer kiri itu. Krashen lebih jauh
mengatakan bahwa cara kerja hemisfer tertentu pada setiap orang dapat
bervariasi dalam dua hal berikut.
a. Sebagian orang kurang mendapat
lateralisasi dari pada sebagian orang yang lain.maksud, untuk orang-orang
tertentu kemampuan berbahsa dikendalikan oleh hemisfer kiri dan orang-orang
tertentu lain oleh hemisfer kanan.
b. Sebagian orang lebih cenderung
pada penggunaan salah satu hemisfer, kiri atau kanan, secara lebih siap untuk
fungsi kognitif.
Masih dalam pandangan
tersebut, adanya kerja sama di antara bagian otak ditunjukan oleh cara otak
mengubah kata mnejadi bahasa. sebuah teori menyatakan bahwa otak mempunyai
daerah konvergensi bahasa.
Teori mengenai konvergensi
bahasa itu antara itu mengatakan berikut ini.
a. Setiap orang memiliki pola otak
yang unik yang emndasari kemampuan berbahasa yang di milikinya. Hal ini
dibuktikan dengan hasil temuan bahwa ternyata wanita memiliki pola otak yang
membuat IQ verbalnya lebih besr di bandingkan pria.
b. Bahasa
pertama ( bahasa ibu) seseorang berkaitan erat dengan jaringan sel saraf
sedangkan bahsa kedua berkaitan dengan otak. Ini dibuktikan dari hasil
penelitian terhadap orang terserang stroke (gangguan pembuluh darah otak) yang
dwibahsawan.Stroke yang menyerang salah sayu bagian otak dapat membuat
hilangnya kemampaul puan bahasa pertama sedangkan bahasa kedua (yang sedang di
pelajari) masih melekat atau dapat juga sebaliknya yang hilang bahasa kedua, sedangkan
bahasa pertama masih tetap ada.
c. Aspek-aspek
lain dari kemampuan berbahasa seperti nomina dan verba ternaya di proses pada
bagian otak yang berbeda.
G. Otak Wanita
Paul Broca, ilmuan prancis yang namanya sudah kita sebut pada materi yang
lalu, selain mengklaim adanya’ Medan Broca’ pada otak tempat produksi
bahasa ujar, juga mengatakan bahwa otak pria lebih besar, mempunyai fungsi
lebih baik, lebih cerdas, dan memiliki kelebihan lainnya bila dibandingkan
dengan otak wanita (awuy, 1999). Temuan ini kemuduan di jadikan dasar atau
pegangan parah ahli dalam berbagai bidang untuk memperlakukan wanita berbeda
dari pada peria. Telah di buktikan bahwa otak wanita berfungsih secara berbeda
dengan otak pria, dan dalam beberapa hal perbedaan itu membuat wanita lebih
unggul. Dimanakah letak keunggulan otak wanita.
a. Otak
Wanita Lebih Seimbang
Dokter Raquel Gur, Psikiater dari
universitas calivornia mengatakan bahwa memang tidak ada seorang ahlipun bisa
menyodorkan kesimpulan apa arti perbedaan fisik otak pria dan wanita (dalam
ukuran, struktur, dan kepekaan) itu. Namun, yang jelas meskipun otak pria dan
wanita melakukan pekerjaan yang sama, tetapi cara kerja keduanya berbeda.
Asumsi adanya perbedaan cara kerja otak
pria dan wanita itu terutama di kukuhkan oleh perbedaan kepadatan sel-sel,
saraf, atau neuron pada sutu daerah di otak. Hasil penelitian menunjukan bahwa lepas dari
sial ukuran, daerah tertentu otak wanita lebih kaya neuron, dari pada otak
pria. Perlu dicatat jumlah neuron di suatu daerah makin kuat fungsih otak
disana. Umpamanya, kesan cerewet (dalam arti positif) yang melekat pada wanita,
dalam arti memiliki kemampuan verbal yang tinggi, ternyata dapat di lacak ke
otaknya. Daerah otak wanita yang mengurus kemampuan kognitif tingkat tinggi
(antara lain kemampuan berbahasa) lebih banyak neuronnya di bandingkan dengan
daerah yang ssama pada otak pria.
b. Otak
Wanita Lebih Tajam
Menurut dokter Thomas Crook dan sejumlah
ahli (vemina, 17-23 juni 1999), setelah melakukan pengujian indra, bahwa
penglihatan wanita lebih tajam dari pada pria, meski di akui bahwa lebih banyak
wanita yang lebih dulu memerlukan bantuan kacamata dari pada pria. Penglihatan
wanita lebih menurun sejak memasuki usia 35-44 tahun, sedangkan pria yang mulai
45-54 tahun. Pria juga relatif tidak tahan terhadap sinar terang.
Begitu juga pendengaran wanita lebih
tajam dari pria, pendengaran wanita selain lebih tajam juga mendengar lebih
banyak ragam bunyi dari pada pendengaran pria. Ketajaman otak wanita bukan
hanya pada indrannya, tetapi pada peraasaannya. Hal ini terbukti ketika
di minta mengenang pengalaman emosionalnya deangan bantuan MRI, tampak lebih
responsif dari pada pria hal ini terdeteksi pada perbedaan bagian menyala yang
lebih luar pada daeran neuron yang mengaktifkan perasaan melankolois itu. Ini
juga menjadi bukti wanita lebih banyak mendapat depresi dari pada pria.
c. Lebih
Awet dan Selektif
Dalam jurnal kedokteran Archieves
of Neurology terbitan tahun 1998 (vemina, juni 1999) di ungkapan
temuan bahwa otak pria menganut lebih cepat dari pada otak wanita. Menurut
Ruben Gur, yang meneliti sendiri cara kerja otak pria menyusut 3 kali lebih
cepat dari pada otak wanita. Penyusutan ini membawa akibat perubahan yang
nyata. Antara lain, makin tua seorang pria daya ingatnya, konsentrasinya, dan
kesabarannya ikut menyusut. Wanita meskipun juga mengalami penyusuta jaringan
secara menyeluruh ketika bertambah tua tubuhnya punya kecendrungan untuk
menghemat apa yang ada, termasuk otaknyaa. Ini pula, menurut Ruben, yang
membuat harapan hidup wanita, rata-rata lebih panjang dari pada pria. Namun,
lebih awet, belum tentu juga selalu lebih kuat karena wanita tua lebih rentan
terhadap penyakit Alzheimer 3 kali lipat di bandingkan pria. Para peneliti
mengaitkan kerentanan ini dengan turunnya hormon hesterogen pada wanita berusia
lanjut.
H. Peningkatan Kemampuan
Otak : Membaca Dengan Kedua Belah Otak
Harian media indonesia 6 januari 2000, menurunkan 1 artikel berjudul
“membaca dengan kedua belah otak”. Dan artikel
itu di katakan dalam era globalisasi dewasa ini agar tidak ketinggalan
informasi yang sudah mengglobal orang harus membaca namun, pekerjaan membaca
ini menjadi sukar bagi orang yang tidak bisa membaca di tempat yang bising,
atau bagi orang yang tidak punya banyak waktu karena kesibukan dengan
pekerjaannya. Meskipun demikian bagi orang yang mempunyai tingkat kecepatan
baca yang tinggi tertentu tidak jadi masalah. Masalahnya, apakah kecepatan
membaca itu bisa di latih. Penelitian yang dilakukan di amerika serikat
menunjukan bahwa tingkat kecepatan baca ini bisa dilatih.
Menurut Diane Alexander, lambannya kecepatan baca dan minimnya daya ingat
seorang terhadap yang di bacanya adalah karena tidak terfokusnya mata pada apa
yanag di bacanya. Seringkali ketika menghadapi sebuah halam buku, mata lari ke
deretan kata di seluruh halaman dan bukan pada satu deretan kalimat yang di
baca. Begitu juga adanyaa kata asing, kata sukar, atau kalimat yang menarik
menjadi tidak terfokusnya mata pada kalimat-kalimat yang harus di baca.
Sedangkan membaca secara zigzag atau melafalkan kata di dalam hati pada saan
yang bersamaman juga menjadi faktor penyebab memperlambat waktu baca.
Oleh karena itu,
menurut Diani Alexander, langkah pertama yang harus di lakukan untuk mengubah
kebiasaan itu adalah membaca dengan runtut dari samping kiri ke samping kanan
halaman, dengan bantuan jari tangan yang di gunakan untuk mengikuti baris demi
baris kalimat tersebut. Mata harus di biasakan untuk mengikuti rute ini secara
tertib. Metode ini boleh di katakan sepenuhnya tergantung pada koordinasi mata,
jari dan otak.
I. Perbedaan
bahasa manusia dan hewan
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbedaan otak manusia dan otak makhluk
lain,seperti kera dan simpanse,bukan hanya terletak pada besar dan beratnya
otak itu,melainkan juga pada fungsinya. Pada otak manusia ada bagian-bagian
yang sifatnya bisa disebut manusiawi,sedangkan pada otak hewan tidak ada.
Karena ketidakadaan fungsi-fungsi yang disebut manusiawi inilah maka
hewan-hewan tersebut tidak dapat berbicara atau berbahasa. Namun, dalam
kehidupan sehari-hari kita bisa melihat banyak hewan seperti kuda, anjing, gajah,
dan sebagainya yang bisa melakukan perintah-perintah yang diberikan. Disamping
itu,kita ketahui juga ada beberapa jenis burung,seperti beo,nuri,dan kakak
tua,yang bisa diajar “ngomong”. Nah, bagimanakah persoalannya;benarkah hewan
itu bisa diajar atau dilatih berbahasa.
Mengerti bahasa dan dapat berbahasa adalah dua hal yang berbeda.
Hewan-hewan yang dilatih, seperti dalam sirkus, memang mengerti bahasa karena
dia dapat melakukan perbuatan yang diperintahkan kepadanya, namun pengertiannya
itu sebenarnya bukanlah karena dia mengerti bahasa, melainkan sebagai hasil
dari respons-respons yang dikondisikan. Kemudian, kalau burung beo dan burung
nuri dapat “ngomong” bukanlah karena burung-burung itu dapat menirukan ujaran
manusia yang didengar atau dilatihkan. Kalau kita mengacu pada teori generatif
transformasi Chomsky yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa adalah kemampuan
untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru yang belum pernah didengar atau
diucapkan orang,maka bisa disimpulkan bahwa hewan-hewan itu tidak dapat
berbahasa. Burung beo dan burung nuri itu hanya bisa mengucapkan kalimat yang
pernah didengarnya,tetapi tidak dapat membuat kalimat-kalimat baru.
Meskipun demikian banyak pakar yang telah mencoba mengajarkan bahasa
manusia pada hewan primata (hewan yang secara organis dekat dengan manusia), yakni
simpanse. Diantara pakar itu adalah sebagai berikut.
a. Keith
J,Hayes dan Catherine Hayes
Keith dan Chatherine adalah sepasang
suami istri yang memelihara seekor simpanse betina yang diberi nama Viki
(Fromkin dan Rodman,1974,Clark et al 1981), Keith dan Chatherine membesarkan
Viki di dalam rumah seperti orang membesarkan seorang anak (bayi) serta
memberikan stimulasi sebagaimana yang diberikan kepada manusia. Kedua pasangan
suami istri itu berharap Viki dapat menirukan kata-kata manusia yang
didengarnya dan dapat menggunakannya dengan benar dalam keluarga tempat dia
dibesarkan. Kedua psikolog ini mengajar viki untuk mengucapkan empat buah
kata,yaitu mama,papa,up,dan cup. Agar Viki dapat menirukan kata-kata itu para pelatihnya
harus menggerakkan bibir sedemikian rupa untuk memberikan contoh pengucapan
yang benar. Pada akhirnya Viki memang dapat mempelajari posisi bibir dan mulut
dengan dibantu kedua tangannya untuk menghasilkan kata-kata yang diminta oleh
kedua orang tua angkatnya. Namun, meskipun Viki dapat mengucapkan kata-kata
itu,belum berarti dia dapat memahami makna kata-kata itu.
b. R.
Allen Gardner dan Beatrice T.Gardner
Sama halnya dengan Hayes, Allen Gardner
dan Beatrice Gardner adalah sepasang suami istri yang mencoba mengajarkan
bahasa pada simpanse betina bernama Washoe. Berdasarkan pengamatan terhadap
Viki yang tidak dapat mengucapkan kata-kata, Allen dan Beatrice Gardner
mendapatkan gagasan untuk tidak mengajar Washoe dengan bunyi suara,melainkan dengan
bahasa isyarat Amerika yang digunakan oleh para tunarungu di Amerika : dengan
alasan simpanse lebih peka terhadap isyarat visual daripada isyarat verbal.
Dengan bahasa isyarat itu konsep-konsep atau kata-kata bahasa inggris
diwujudkan dengan isyarat yang dibuat dengan tangan. Kebanyakan lambang bahasa
isyarat itu bersifat arbitrer,tetapi semua lambang dapat dipadukan menurut
prinsip gramatika dan sintaksis bahasa inggris.
Dengan dibantu sejumlah asisten, Allen
dan Beatrice Gardner mendidik Washoe secara bergantian sehingga tidak pernah
terlepas dari perhatian manusia. Para asisten tidak diperkenalkan memakai
bahasa lisan. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dengan
haraoan Washoe juga memperoleh kemampuan berbahasa isyarat itu. Hasilnya?
Setelah dua tahun belajar Washoe telah dapat menggunakan 34 buah kata secara
benar dalam situasi yang tepat,misalnya ia membuat isyarat “anjing” ketika dia
melihat gambar anjing atai ketika mendengar suara anjing (tanpa melihat
anjingnya). Dibandingkan dengan anak manusia, kepandaian Washoe memang belum
apa-apa . pada usia lima tahaun anak manusia telah menguasai beratus-ratus kata
serta telah dapat membuat kalimat yang lebih kompleks. Namun demikian, Washoe
tercatat dalam sejarah sebagai simpense yang dapat berkomunikasi dengan
katakata dalam bahasa (isyarat;bukan lisan) manusia.
c. David
Premack dan Ann Premack
David dan Ann adalah sepasang suami
istri yang juga mencoba mengajarkan bahasa manusia pada beberapa simpanse,salah
seekor di anataranya bernama Sarah,seekor simpanse betina. Sarah diajar untuk
menguasai bahasa buatan yang disusun dari lempengan-lempengan plastik. Bentuk
maupun warna lempengan itu berbentuk segitiga berwarna biru dan konsep sama
berbentuk lempengan bergigi berwarna orange.
Proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut. Sarah dan pengajarnya
duduk dibangku secara terpisah. Sarah ditempatkan dalam kandang dan pengajarnya
duduk di ujung bangku itu. Untuk mengajarkan nama makanan,musalnya,pengajar
akan menukar makanan itu dengan lempengan plastik yang sesuai. Umpamanya,dalam
mengajarkan kosep apel pengajar melatakkan sepotong apel diatas meja dalam
jarak yang tidak dapat dijangkau Sarah.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat
disimpulkan bahwa kemampuan berkomunikasi ditunjang dari proses pemerolehan
kecakapakan berbahasa. Kompleksitas bahasa menuntut akumulasi pemerolehaan yang
juga berkesinambungan dari tataran tersederhana hingga yang membutuhkan gabungan
kemampuan berbahasa dan bersosialisasi.Perkembangan bahasa manusia terkait erat
dengan perkembangan biologinya. Pertumbuhan bahasa pada manusia mengikuti
jadwal perkembangan genetiknya sehingga munculnya suatu unsur bahasa tidak
dapat dipaksakan. Perbedaan biologis antara organ manusia dengan organ binatang
yang memungkinkan manusia dapat berbahasa dan binatang tidak. Serta faktor yang
sangat mendukung dalam penguasaan bahasa adalah faktor neorologis, yakni kaitan
antara otak manusia dengan bahasa.
3.2. Saran
Dalam penulisan
makalah ini penulis menyadari masih banya sekali kekurangan dan kekeliruan
penulis dalam membuat makalah ini. maka dari itu penulis mengharapkan kepada
para pembaca untuk kritik dan sarannya yang bersifat membangun.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Khaidir. 1985.Fungsi dan
Peranan Bahasa. Yogyakarta : Gadjah Mada University press.
Brown,
H. Douglas.2008. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pearson
Education. .
Chaer Abdul 2009. Psikolinguistik Kajian
Teoretik. Jakata : Rineka Cipta
Dardjowidjojo,Soejono.2010.
Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor
Indonesia.
Kusumoputro,Sidiarto.1981. “Bahasa
dan Saraf Manusia” Forum Linguistik. Jakarta 26-28 Oktober 1981.
Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.
Markam,Soemarmo. 1991.“Hubungan
Fungsi Otak dan Kemampuan Berbahasa pada Orang Dewasa” dalam
Dardjowidjojo.
Padji .1995 .“Meningkatkan
Keterampilan Otak Anak”. Bandung : Pionir Jaya,.
Lazuardi,Samuel. 1991.“Perkembangan
Otak Anak Sesuai dengan Kemampuan Bahasanya”. dalam Dardjowidjojo.
Dradjowidjojo,Seojono.2005. “Psikolinguistik
: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia” Yayasan Obor : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar