Minggu, 15 Agustus 2021

OTAK DAN BAHASA PSIKOLINGUISTIK

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur saya ucapkan kepada AllAH SWT yang telah memberikan kesehatan dan kemudahan dalam membuat makalah ini, sehingga makalah ini disusun tepat pada waktunya.

Adapun penulisan makalah ini untuk memenuhi syarat tugas mata kuliah “Psikolinguistik”. Penulis menyadari akan ketidak sempurnaan makalah ini, saya mengharapakan kritik dan saran yang membangun.

Saya ucapkan terima kasih kepada bapak .........selaku dosen mata kuliah Psikolinguistik dan teman-teman.Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                          Denpasar, 01 Oktober 2020

                                                                                                           Tim Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman Judul......................................................................................................... I             

Kata pengantar........................................................................................................ II

Daftar isi.................................................................................................................... III

BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.2  Latar Belakang.................................................................................................... 2

1.3 Rumusan Masalah................................................................................................ 3

1.4 Tujuan Penelitian................................................................................................. 4

1.5 Manfaat ............................................................................................................... 4

BAB II PEMBAHASAAN...................................................................................... 5         

2.1  Struktur , fungsi dan pertumbuhan Otak............................................................ 5

2.2 Fungsi Kebahasaan Otak..................................................................................... 6

2.3 Kaitan Otak dengan Bahasa................................................................................. 7

2.4 Teori Lateralisasi.................................................................................................. 7

2.5 Teori Lokalisasi.................................................................................................... 8

2.6 Hamisfer yang Dominan...................................................................................... 9

2.7  Otak wanita......................................................................................................... 10

2.8 Peningkatan Kemampuan otak: Membaca dengan kedua belak Otak................ 11

 

BAB III PENUTUP................................................................................................. 19

3.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 19

3.2 Saran  .................................................................................................................. 19

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 20

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

                                                            PENDAHULUAN                                        

 

1.1  Latar Belakang

Bahasa memegang peranan yang penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa seperti halnya berjalan dan bernafas, padahal bahasa mempunyai pengaruh-pengaruh yang luar biasa dan termasuk keistimewaan yang dimiliki manusia yang membedakannya dengan mahluk lainnya.

Otak (serebrum dan serebelum) adalah satu komponen dalam system saraf manusia. Komponen lainnya adalah susmsum tulang belakang atau medulla spinalis dan saraf tepi. Yang pertama otak berada di dalam ruang tengkorak: medulla spinalis berada di dalam ruang tulang belakang; sedangkan saraf tepi (saraf spinal dan saraf otak) sebagian di luar kedua ruang tadi. Otak terdiri dari dua hemisfer (belahan), yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan, yang dihubungkan oleh korpus kalosum. Tiap Hemisfer terbagi lagi dalam bagian-bagian besar yang disebut lobus, yaitu lobus frontalis, lobus parientalis, lobus oksipitalis, dan lobus temporalis. Sedangkan permukaan otak yang disebut sebagai korteks serebri tampak berkelok-kelok membentuk lekukan (sulkus) dan benjolan (girus). Dengan adanya sulkus dan girus ini permukaan otak yang disebut korteks serebri itu menjadi luas. Korteks serebri ini mempunyai peranan penting baik fungsi elementer, seperti pergerakan, perasaan, dan pancaindera, maupun pada fungsi yang lebih tinggi dan kompleks yaitu fungsi mental, atau fungsi luhur atau fungsi kortikal.

Proses berbahasa dimulai dari enkode semantik,enkode gramatikal,enkode fonologi,yang dilanjutkan dengan dekode fonologi,dekode gramatika,dan diakhiri dengan dekode semantik. Proses enkode semantik dan dekode gramatika terjadi didalam otak penutur,sedangkan enkode fonologi dimulai dari otak penutur lalu dilaksanakan oleh alat ucap didalam rongga mulut penutur. Sebaliknya,dekode fonologi dimulai dari telinga pendengar dengan dilanjutkan ke dalam otak pendengar dengan lanjutannya berupa dekode gramatika dan berakhir pada dekode semantik. Bila alat-alat fisiologi penutur dan pendengar berada dalam keadaan sehat-normal,maka pesan semantik yang dikirimkan penutur dapat diterima dengan baik oleh otak pendengar. Artinya,proses berbahasa itu berjalan dengan baik.

Oleh karena proses berbahasa lebih bersifat dua arah,bersifat bolak-balik antara pentur dan pendengar,maka seorang penutur kemudian bisa menjadi pendengar dan seorang pendengar kemudian bisa menjadi penutur. Begitulah proses terjadi bergantian yang secara  teoretis berjalan terlalu lama dan panjang. Namun,sebenarnya dapat berlangsung dalam waktu singkat dan cepat. Semua proses ini dikendalikan oleh otak yang merupakan alat pengatur dan pengendali gerak semua aktivitas manusia.

1.2   Rumusan Masalah

1.       Bagaimana struktur,fungsi, dan pertumbuhan otak?

2.       Apakah fungsi dari kebahasaan otak ?

3.       Bagaimana kaitan otak dengan bahasa?

4.       Apakah yang dimaksud dengan teori lateralisasi dalam kajian bahasa dan otak?

5.       Apakah yang dimaksud dengan teori lokalisasi dalam kajian bahasa dan otak?

 

1.3    Tujuan Penulisan

1.       Mengetahui bagimana struktur,fungsi,dan pertumbuhan otak.

2.       Mengetahui kaitan otak dengan bahasa.

3.       Mengetahui maksud dari teori lateralisasi dalam kajian bahasa dan otak.

4.       Mengetahui maksud dari teori lokalisasi dalam kajian bahasa dan otak.

1.4    Manfaat Penulisan

Beberapa manfaat dalam penulisan makalah ini di antaranya :

1.       Manfaat secara teoris yaitu menambah pengetahuan, wawasan, dan referensi.

2.       Manfaat secara praktis yaitu secara langsung dirasakan penulis, bagi penulis sebagai bahan pelajaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1      Struktur,Fungsi,dan Pertumbuhan Otak

Otak (serebrum dan serebelum) adalah salah satu komponen dalam sistem susunan saraf manusia. Komponen lainnya adalah sumsum tulang belakang atau medula spinalis dan saraf tepi. Yang pertama,otak,berada didalam ruang tengkorak;medula spinalis berada didalam ruang tulang belakang;sedangkan saraf tepi(saraf tepi dan saraf otak) sebagian berada diluar kedua ruang tadi (kusumoputro,1981)

Otak seorang bayi ketika baru dilahirkan beratnya hanyalah kira-kira 40% dari berat otak orang dewasa;sedangkan makhluk primata lain seperti kera dan simpanse adalah 70% dari otak dewasanya (Menyuk,1971:31). Dari perbandingan tersebut tampak bahwa manusia kiranya telah dikodratkan secara biologis untuk mengembangkan otak dan kemampuannya secara cepat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama otak itu telah berkembang menuju kesempurnaannya. Sebaliknya,makhluk primata lain,sepeti kera dan simpanse,yang ketika lahir telah memiliki 70% dari otaknya itu dan yang tentunya telah dapat berbuat banyak sejak lahir,hanya memerlukan tambahan sedikit saja,yaitu sekitar 30%. Sewaktu dewasa manusia mempunyai otak seberat 1350gram,sedangkan sipanse dewasa hanya 450gram (slobin,1971:118). Memang ada manusia kerdil yang termasuk “nanocephalic” yang berat otaknya hanya 450 gram waktu dewasa,tetapi masih dapat berbicara seperti manusia lainnya,sedangkan makhluk lain tidak (Lenneberg:1964).

Perkembangan atau pertumbuhan otak manusia berlangsung dengan sangat cepat,sejak bayi hingga akhir masa remaja. Pengenalan terhadap lingkungan baru pada rentang usia tersebut,memicu lahirnya jutaan sel-sel baru dan pertumbuhan ini masih akan terus berlangsung pada usia dewasa,hanya agak sedikit lambat.

Perkembangan atau pertumbungan otak manusia menurut Volpe (1987) terdiri atas enam tahap,yaitu :

1.       Pembentukan tabung neural;

2.       Profilerasi selular untuk membentuk calon sel neoron dan glia;

3.       Perpindahan selular dari germinal subependemal ke korteks;

4.       Deferensasi selular menjadi neouron spesifik;

5.       Perkembangan akson dan dendrit yang menyebabkan bertambahnya sinaps (perkembangan dendrit tergantung fungsi daerah tersebut);

6.       Elimenisi selektif neuron,sinaps,dan sebagnya untuk spesifikasi.

Meskipun sel otak dapat tumbuh dengan cepat pada saat bayi dalam kandungan dan juga mampu memperbaharui diri ketika mengalami luka,namun adanya pertumbungan dianggap tidak masuk akal. Yang dianggap masuk akal justru kemerosotan mental secara gradual ketika seseorang bertambah tua. Hal ini terjadi karena ada beberapa sel otak yang mati dan tidak dapat diperbaharui lagi. Karena itu,pendapat yang mengatakan bahwa sel otak manusia terus berkembang sepanjang usia manusia sulit diterima oleh sejumlah pakar yang disebabkan oleh kerusakan otak manjadi bukti bahwa tidak ada lagi pertumbuhan sel otak pada manusia dewasa.

Namun pendapat ini mulai goyah ketika ekperimen yang dilakukan beberapa ilmuan terhadap seekor tikus menunjukkan adanya sel saraf baru yang lahir diderah otak hippocumpus,daerah yang menyimpan memori tentang tempat dan sesuatu untuk pertama kali. Setahun setelah pertemuan itu pada tahun 1966,para ilmuan menemukan adanya perpindahan indra penciuman.Penemuan ini kemudian diikuti oleh penemuan-penemuan serupa pada objek ekperimen lain seperti marmot,kelinci,kera,dan burung kenari.

2.2 Fungsi Kebahasaan Otak

Sudah dikemukakan bahwa kedua hemisfer otak mempunyai peranan yang berbeda bagi fungsi kortikal. Fungsi bicara-bahasa dipusatkan pada hemisfer kiri bagi orang yang tidak kidal (cekat tangan kanan,right handed). Hemisfer kiri ini disebut juga hemisfer dominan bagi bahasa,dan korteksnya dinamakan korteks dewasa. Hemisfer dominan atau superior secara mofologis memang agak berbeda dari hemisfer yang tidak dominan atau inferior. Hemisfer dominan lebih berat,lebih besar,girusnya dan lebih panjang,juga berperan untuk fungsi memori yang bersifat verbal. Sebaliknya,hemisfer kanan untuk fungsi emosi,lagu isyarat,baik yang emosional maupun verbal.

Hemisfer kiri memang dominan untuk fungsi bicara bahasa,tetapi tanpa aktivitas hemisfer kanan,maka pembicaraan seseorang akan menjadi menonton,tak ada prosodi,tak ada lagu kalimat;tanpa menampakkan adanya emosi dan tanpa disertai isyarat-isyarat bahasa.

Penentuan dan pembuktian daerah-daerah tertentu dalam otak dalam kaitannya dengan fungsi bicara-bahasa dan fungsi-fungsi lain pada awalnya dilakukan dengan penelitian terhadap orang-orang yang mengalami kerusakan otak atau kecelakaan yang mengenai kepala. Kemudian dilakukan juga dengan berbagai eksperimen terhadap orang sehat.

Pada tahun 1848 Phineas Gage, seorang pekerja jalan kereta api di negara bagian vermount,Amerika Serikat,akibat ledakan bagian depan kepalanya tekena lemparan balok bantalan rel,dan mencederainya (fromkin dan Rodman,1974). Saat itu dikabarkan,gage yang terkena lemparab balok itu tidak akan sembuh. Namun sebulan kemudian ternyata dia sembuh dan dapat bekerja kembali dan tidak terdapat kerusakan pada indra penglihatan maupun ucapannya. Dia tetap berbicara dengan lancar berdasarkan peristiwa yang dialami Phineas Gage ini dapat disumpulkan bahwa daerah kemampuan berbahasa tidak terletak dibagian depan otak. Hal ini membantah pendapat Franz Josep Gall (1758-1828) yang mengatakan bahwa kemampuan memori verbal mempunyai pusat dibagian depan otak (kusumoputro,1981)

Pada tahun 1861,seorang ahli bedah prancis, Paul Broca menemuan seorang pasian yang tidak dapat berbicara,hanya dapat mengucapkan “tan-tan”. Kemudian setelah pasian itu meninggal dan dibedah ditemukan kerusakan otak diderah frontal yang kemudian daerah itu disebut daerah Broca; sesuai dengan namanya sebagai penemu. Jadi, kerusakan pada daerah broca itu menyebabkan seseorang mendapatkan kesulitan dalam menghasilkan ujaran.

Hasil penelitian tentang kerusakan otak oleh Broce dan Wernicke serta penelitian Penfield dan Robert mengarah pada kesimpulan bahwa hemisfer kiri dilibatkan dalam hubungannya dengan fungsi bahasa. Krashen (1977) mengemukakan lima alasan yang mendasari kesimpulan itu. Kelima alasan itu adalah berikut ini :

1.       Hilangnya kemampuan berbahasa akibat kerusakan otak lebih sering disebabkan oleh kerusakan jaringan saraf hemisfer kiri dari pada hemisfer kanan.

2.       Ketika Hemisfer kiri dianestesia kemampuan berbahasa menjadi hilang; tetapi ketika hemisfer kanan dianestesia kemampuan berbahasa itu tetap ada.

3.       Sewaktu bersaing dalam menerima masukan bahasa secara bersamaan dalam tes dikotik,ternyata telinga kanan lebih unggul dalam ketepatan dan kecepatan pemahaman daripada telinga kiri. Keunggulan telinga kanan itu karena hubungan antara telinga kanan dan hemisfer kiri lebih baik daripada hubungan telinga kiri dengan hemisfer kanan.

4.       Ketika materi bahasa diberikan melalui penglihatan kanan lebih cepat dan lebih tepat dalam menangkap materi bahasa itu daripada penglihatan kiri. Keunggulan penglihatan kanan itu karena hubungan antara penglihatan kanan dan hemisfer kiri lebih baik daripada hubungan penglihatan kiri dan hemisfer kanan.

5.       Pada waktu melakukan kegiatan berbahasa baik secara terbuka maupun tertutup,hemisfer kiri menunjukkan kegiatan elektris lebih hebat daripada hemisfer kanan. Hal ini diketahui melalui analisis gelombang otak. Hemisfer yang lebih aktif sedikit dalam menghasilkan helombang alpha.

2.3   Kaitan Otak dengan Bahasa

Orang sudah lama sekali berbicara tentang otak dan bahasa. Aristoteles pada tahun 384-323 sebelum masehi elah berbicara soal hati yang melakukan hal-hal yang kini kita ketahui dilakukan oleh otak. Begitu pula pelukis terkenal Loenardo dan Vinci pada tahun 1500-an (Dingwall 1998:53). Namun titik tolak yang umum dipakai adalah setelah penemuan-penemuan yang dilakukan oleh Broca dan Wernicke pada tahun 1860-an.

Dari struktur serta organisasi otak manusia tampak bahwa otak memegang peran yang penting dalam bahasa. Apabila di input yang masuk adalah dalam bentuk lisan, maka bunyi-bunyi itu ditanggapi di lobe temporal, khususnya oleh korteks primer pendengaran. Disini input tadi diolah secara rinci sekali,misalnya apakah bunyi sebelum bunyi /o/ yang didengar itu memiliki VOT+60 milidetik, +20milidetik, atau diantara kedua angka ini.

Angka indek VOT ini penting karena kalau VOT-nya adalah +0milidetik, maka bunyi itu pastilah vois seperti /b/ atau /g/; kalau lebih dari +30 milidetik, pastilah itu bunyi tak-vois seperti /p/ atau /k/,dst. Korteks ini juga meneliti apakah urutan bunyinya adalah , misalnya /p/,/o/,/s/ (pos) atau /s/,/o/,/p/ (sop).

Setelah diterima, diolah, dan dicerna seperti ini maka bunyi-bunyi bahasa tadi “dikirim” le daerah Wernicke untuk diinterprestasikan. Didaerah ini bunyi-bunyi itu dipilah-pilah menjadi sukukata, kata, frasa, klausa, dan akhirnya kalimat. Setelah diberi makna dan dipahami isinya,maka ada dua jalur kemungkinan. Bila masukan tadi hanya sekedar informasi yang tidak perlu ditanggapi, maka masukan tadi cukup disimpan saja dalam memori. Suatu saat nanti mungkin informasi itu diperlukan. Bila masukan tadi perlu ditanggapi secara verbal, maka interprestasi itu dikirim ke daerah Broca melalui fasikulus arkuat.

Di daerah Broca proses penaggapan dimulai. Setelah diputuskan tanggapan verbal itu bunyinya seperti apa maka daerah broca “memerintahkan” motor korteks untuk melaksanakan nya. Proses pelaksanaan di korteks motor juga tidak sederhana. Untuk suatu ujaran ada minimal 100 otot dan 140.000 tentetan neuromuskuler yang terlibat. Motor korteks juga harus mempertimbangkan tidak hanya urutan kata dan urutan bunyi, tetapi juga urutan dari fitur-fitur pada tiap bunyi yang harus diujarkan. Ambillah perkataan dia pada kalimat.

(1)     Dia belum pulang

Karena bunyi /d/ mempunyai fitur [+vois], di samping fitur-fitur lain seperti [+konsonatal], [+anterior], [+alveolar], [-nasal], maka korteks motor harus memerintahkan pita suara untuk bergetar 30 milidetik lebih awal daripada perintah-perintah yang lain. Hal ini disebabkan karena pita suara letaknya paling jauh dibandingkan dengan alat-alat penyuara yang lain. Sebaliknya, untuk bunyi /p/ pada kata pulang di kalimat (1) di atas, pita suara harus diperintahkan untuk bergetar paling awal 25 milidetik setelah bunyi /p/ itu diucapkan. Ini untuk menjamin bahwa bunyi bilabial yang keluar itu benar-benar /p/,dan bukan /b/.

Perpindahan dari bunyi /d/ ke /i/ dan kemudian ke /a/ untuk kata dia juga memerlukan koordinasi yang sangat akurat. Ujung lidah yang menembel pada daerah alveolar di mulut untuk bunyi /d/ yang kemudian harus dengan tepat berubah bentuk menjadi lengkung dan tinggi-depan untuk /i/, misalnya harus dikoordinasi dengan rapi sekali sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan bunyi yang natif. Tanpa ketepatan ini maka pembicara akan mendengar seperti orang asing.

Bila input yang masuk bukan dalam bentuk lisan, tetapi dalam bentuk tulisan,maka pemrosesannya agak berbeda. Masukan tidak ditanggapi oleh korteks primer pendengaran, tetapi oleh korteks visual dilobe osipital. Masukan ini tidak langsung dikirim ke daerah Wernicke,tetapi harus melewati girus anguler yang mengkoordinasikan daerah pemahaman dengan daerah osipital. Setelah tahap ini,prosesnya sama,yakni, input tadi dipahami oleh daerha Wernicke, kemudian dikirim ke daerah Broca bila perlu tanggapan verbal. Bila tanggapannya juga visual,maka informasi itu dikirim ke daerah parietal untuk diproses visualisasinya.

 

2.4    Teori Lateralisasi

Banyak pakar psikologi yang meragukan teori lateralisasi,bahwa pusat-pusat bahasa dan ucapan berada pada hemisfer kiri. Mereka berpendapat bahwa seluruh otak bertanggung jawab dan terlibat dalam proses pemahaman dan produksi bahasa. Pendapat ini dalam psikologi disebut “holisme” (Simanjuntak,1990). Namun demikian,dari bukti-bukti experimental yang dilakukan terhadap otak yang normal (bukan otak yang rusak seperti yang dilakukan broca dan wernicke), kebenaran teori lateralisasi itu bisa dipertimbangkan. Berikut dikemukakan beberapa eksperimen yang pernah dilakukan untuk menyokong teori lateralisasi itu.

1. Tes Menyimak Rangkap (Dichtic Listening)

Tes ini pertama kali di perkenalkan oleh Broadbent (1954), lalu banyak dilakukan oleh Kimura (1963, 1964) dan Ling (1969). Tes ini didasarkan pada teori bahwa hemisfer kiri menguasai kerja anggota tubuh sebelah kanan dan hemisfer kanan menguasai kerja anggota tubuh sebelah kiri.

Tes ini dilakukan dengan memperdengarkan pasangan kata yang berbeda (misalnya boy and girl atau dog dan cat, atau apa saja) pada waktu yang betul-betul bersamaan di telinga kiri dan telinga kanan orang yang di tes dengan kenyaringan yang sama. Umpamanya pada telinga kiri orang yang di tes di perdengarkan kata girl dan pada telinga kanan di perdengarkan kata boy.

Ternyata pada kata boy yang diperdengarkan pada telinga sebelah kanan dapat di ulangi dengan baik dari pada kata girl yang diperdengarkan di telinga sebelah kiri. Tes yang dilakukan berulang-ulang terhadap orang-orang yang berbeda (baik anak-anak maupun dewasa) dan dengan pasangan kata-kata yang berbeda ternyata memberi hasil yang sama : kata yang diperdengarkan di telinga sebelah kanan dapat di ulang dengan baik sedangkan yang diperdengarkan pada telinga sebelah kiri tidak dapat. Hasil tes ini membuktikan bahwa telinga kanan (yang dilandasan oleh hemisfer kiri) lebih peka terhadap bunyi-bunyi bahasa dibandingan dengan telinga kiri (yang dilandasi oleh hemisfer kanan). Dalam hal ini kira nya kata girl yang diperdengarkan pada telinga sebelah kiri. Untuk bisa “dipahami” dan “diresapi” perlu diseberangkan dulu dari hemisfer kanan ke hemisfer kiri.

 

2.      Tes Stimulus Elektris (Electrical Stimulation of Brain)

Dengan tes ini pusat bahsa pada otak distimuluskan dengan aliran listrik melalui talamus lateral kiri (talamus = satu struktur jaringan jauh di dalam otak) sehingga menimbulkan anomia, dimana subjek yang diteliti tidak dapat menyebutkan nama benda yang ada di depannya, meskipun dia masih lancar bercakap-cakap. Stimulus Electris yang sama yang dilakukan terhadap hemisfer kanan melalui talamus lateral kanan tidak menyebabkan terjadinya anomia. Tes Stimulus Electris ini membuktikan bahwa lateralisasi hemisfer kiri untuk bahasa telah merupakan satu kenyataan yang tidak dapat di bantah.

3.       Tes Grafik kegiatan Electris (Electris-encephalo-Graphy)

Tes ini dilakukan untuk mengetahui adakah aliran listrik pada otak apabila seseorang sedang bercakap-cakap dan kalau ada bagian manakah yang giat mendapatkan aliran listrik ini. Tes ini pertama kali diperkenalkan oleh Schafer (1967); dan yang pertama kali yang menggunakan adalah whitaker (1971). Namun, yang pertama kali melaporkan setelah merekam grafik eletris itu adalah Mc.Adam dan Witaker. Kedua mencatat bahwa kegiatan elektris itu terdapat pada hemisfer kiri dan lokasinya terdapat pada medan Broca, yang mereka sebut sebagai daerah frontal ineferior hemisfer kiri otak. Grafik kegiatan elektris seperti ini tidak terdapat hemisfer kanan.

4.      Tes Wada (Tes Amysal)

Tes wada ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar Jepang bernama J.Wada (1959). Dalam tes ini obat sodium amysal di injeksikan kedalam sistem peredaran salah belahan otak. Belahan otak yang mendapatkan obat ini menjadi lumpuh untuk sementara. Jika hemisfer kanan yang dilumpuhkan sodium amysal ini, maka anggota-anggota badan sebelah kiri tidak berfungsi sama sekali, namun fungsi bahasa tidak terganggu sama sekali, dan orang yang diteliti ini dapat bercakap-cakap dengan normal seperti biasa. Apabila hemisfer kiri yang diberi sodium amysal, maka anggota badan sebelah kanan menjadi lumpuh, termasuk fungsi bahasa.

Jika, hasil tes ini membuktikan bahwa pusat bahasa berada pada hemisfer kiri.

5.       Teknik Fisiologi Langsung (Direct Physiologi Technique)

Teknik ini dilakukan oleh Chon (1971) untuk memperkuat hasil yang dilakukan dengan teknik psikopisologi, yaitu teknik menyimak rangkap seperti yang di terangkan pada bagian (a).pada tes menyimak rangkap menyangkut juga faktor psikologi karena subjek orang yang di tes ditanyakan oleh orang yang mengetes apa yang dia dengar. Teknik psiologi langsung ini merekam secara langsung getaran-getaran elektris pada otak dengan cara seperti yang di jelaskan pada (c) diatas, setelah ke telinga kiri dan di telinga kanan secara berturut-turut di perdengarkan dengan bunyi bising dan bunyi ujaran biasa. Ternyata suara bising terekam dengan baik hemisfer kanan sedangkan bunyi ujaran bahasa terekam dengan baik pada hemisfer kiri.

6.       Teknik Belah Dua Otak

Pada teknik ini kedua hemisfer sengaja di pisahkan dengan memotong organ yang menghubungkan kedua hemisfer kiri dan kanan, sehingga kedua hemisfer itu tidak mempunyai hubungan (Gazzaniga, 1970 dalam Simanjuntak 1990).  Kemudian pada tangan kiri pasien orang yang di teliti yang mata nya ditutup dengan kain diletakkan sebuah benda misalnya anak kunci ternyata subjek orang yang diteliti itu mengenal benda itu dengan melakukan gerak membuka pintu dengan menggunakan anak kunci itu, tetapi ia tidak dapat menyebutkan nama benda itu. Mengapa? Karena penyebutan nama benda di landasi oleh hemisfer kiri, sedangkan tangan kiri yang memegang benda itu dilandasi dengan hemisfer kanan. Dengan kata lain, hemisfer kiri tidak mengetahui apa yang di kerjakan oleh hemisfer kanan karena hubungan keduanya telah diputuskan.

Jadi dengan memutuskan korpus kalosum itu, pasien tidak lagi mempunyai satu akal melainkan mempunyai dua akal (Gazzaniga, 1973 dalam Simanjuntak, 1990).

E.      Teori Lokalisasi

Ada beberapa cara lain untuk menunjukkan teori lokalisasi ini, antara lain sebagai berikut :

a.       Teknik Stimulus Electrik

Teknik ini dilakukan dengan cara menstimulasi bagian-bagian tertentu permukaan korteks dengan aliran listrik seperti yang telah dilakukan dua ahli beda saraf, Penfield dan Robert (1959) pada waktu proses pengobatan beda saraf pasien-pasien otak. Semua permukan koteks hemisfer kiri secara bergiliran telah mereka stimulasi dengan aliran listrik.

Mereka menemukan pada tiga bagian saja yang terdapat kelainan-kelainan yang merusak bahasa. ketiga tempat itu adalah berikut ini.

1.       Bagian depan Girus tengan sebelah bawah Lobus depan kiri, yaitu bagian yang sekarang dikenal dengan daerah (Medan) Broca.

2.       Bagian atau medan Temporo – parietal posterior yaitu yang sekarang dikenal sebagi daerah( medan) Wernicke.

3.       Medan motor suplementer yang terdapat pada permukaan tengah belah korteks sebelah kiri, yaitu yang sekarang dikenal sebagi korteks motor.

b.      Teknik perbedaan Anatomi Otak

Dalam berbagai literatur mengenai teori lokalisasi muncul satu pertanyaan: jika pusat-pusat bahasa hanya berada pada hemisfer kiri, tentulah kedua hemisfer itu, kiri dan kanan, tidak simestris, hemisfer kiri tentu lebih besar dari pada hemisfer kanan. Benarkah?

Untuk menjawab pertanyaan ini Geschwind dan Levistsky (1968) telah menganalisis secara terperinci seratus otak manusia normal setelah mereka meninggal. Keduanya menemukan bahwa planun temporale yaitu daerah dibelakng Girus heschl (jadi daerah-daerah bahasa, Medan Wernicke) jauh lebih besr pada hemisfer kiri. Bahkan perbedaan ini dapat berlasung dilihat dengan mata.

c.       Cara Melihat Otak dengan PET (positron emission tomography)

Cara lain untuk membuktikan teori lateralisasi dan lokalisasi adalah dengan cara melihat otak secara langsung dengan menggunakan alat yang disebut PET. Dengan PET ini kita melihat bagian-bagian otak, terutama bagian-bagian korteks, pada waktu bagian-bagian itu sedang berfungsi. Caranya, setengah jam sebelum kepala pasien di masukkan kedalam PET, cairan glukosa beradio aktif di injeksikan ke lengannya. Jiak suatu bagian otak bekerja aktif, dia memerlukan glukosa yang banyak. Maka dengan pertolongan glukosa proses-proses pemikiran dalam otak yang bekerja dan memerlukan glukosa akan tampak bersinar, berwarna merah, dan bergerak-gerak.

F.      Hemisfer yang Dominan

Menurut Yule (1985) fungsi bagian tertentu pada satu daerah otak yang mengalami kerusakan akan digantikan oleh penggantinya pada bagian otak yang lain. Oleh karena itu, sangat diperlukan kecermatan untuk menyatakan hubungan-hubungan antara aspek-aspek prilaku linguistik dan letaknya dalam otak. Sejanalan dengan pendapat Yule serta serta pendapat ilmuan yang lain (1977) mengatakan bahwa meskipun terdapat keunggulan pada hemisfer kiri, tetapi tidak semua aspek bahasa di batasi oleh hemisfer kiri itu. Krashen lebih jauh mengatakan bahwa cara kerja hemisfer tertentu pada setiap orang dapat bervariasi dalam dua hal berikut.

a.       Sebagian orang kurang mendapat lateralisasi dari pada sebagian orang yang lain.maksud, untuk orang-orang tertentu kemampuan berbahsa dikendalikan oleh hemisfer kiri dan orang-orang tertentu lain oleh hemisfer kanan.

b.       Sebagian orang lebih cenderung pada penggunaan salah satu hemisfer, kiri atau kanan, secara lebih siap untuk fungsi kognitif.

Masih dalam pandangan tersebut, adanya kerja sama di antara bagian otak ditunjukan oleh cara otak mengubah kata mnejadi bahasa. sebuah teori menyatakan bahwa otak mempunyai daerah konvergensi bahasa.

Teori mengenai konvergensi bahasa itu antara itu mengatakan berikut ini.

a.       Setiap orang memiliki pola otak yang unik yang emndasari kemampuan berbahasa yang di milikinya. Hal ini dibuktikan dengan hasil temuan bahwa ternyata wanita memiliki pola otak yang membuat IQ verbalnya lebih besr di bandingkan pria.

b.       Bahasa pertama ( bahasa ibu) seseorang berkaitan erat dengan jaringan sel saraf sedangkan bahsa kedua berkaitan dengan otak. Ini dibuktikan dari hasil penelitian terhadap orang terserang stroke (gangguan pembuluh darah otak) yang dwibahsawan.Stroke yang menyerang salah sayu bagian otak dapat membuat hilangnya kemampaul puan bahasa pertama sedangkan bahasa kedua (yang sedang di pelajari) masih melekat atau dapat juga sebaliknya yang hilang bahasa kedua, sedangkan bahasa pertama masih tetap ada.

c.       Aspek-aspek lain dari kemampuan berbahasa seperti nomina dan verba ternaya di proses pada bagian otak yang berbeda.

G.     Otak Wanita

Paul Broca, ilmuan prancis yang namanya sudah kita sebut pada materi yang lalu, selain mengklaim adanya’ Medan Broca’ pada otak tempat produksi bahasa ujar, juga mengatakan bahwa otak pria lebih besar, mempunyai fungsi lebih baik, lebih cerdas, dan memiliki kelebihan lainnya bila dibandingkan dengan otak wanita (awuy, 1999). Temuan ini kemuduan di jadikan dasar atau pegangan parah ahli dalam berbagai bidang untuk memperlakukan wanita berbeda dari pada peria. Telah di buktikan bahwa otak wanita berfungsih secara berbeda dengan otak pria, dan dalam beberapa hal perbedaan itu membuat wanita lebih unggul. Dimanakah letak keunggulan otak wanita.

a.       Otak Wanita Lebih Seimbang

Dokter Raquel Gur, Psikiater dari universitas calivornia mengatakan bahwa memang tidak ada seorang ahlipun bisa menyodorkan kesimpulan apa arti perbedaan fisik otak pria dan wanita (dalam ukuran, struktur, dan kepekaan) itu. Namun, yang jelas meskipun otak pria dan wanita melakukan pekerjaan yang sama, tetapi cara kerja keduanya berbeda.

Asumsi adanya perbedaan cara kerja otak pria dan wanita itu terutama di kukuhkan oleh perbedaan kepadatan sel-sel, saraf, atau neuron pada sutu daerah di otak.  Hasil penelitian menunjukan bahwa lepas dari sial ukuran, daerah tertentu otak wanita lebih kaya neuron, dari pada otak pria. Perlu dicatat jumlah neuron di suatu daerah makin kuat fungsih otak disana. Umpamanya, kesan cerewet (dalam arti positif) yang melekat pada wanita, dalam arti memiliki kemampuan verbal yang tinggi, ternyata dapat di lacak ke otaknya. Daerah otak wanita yang mengurus kemampuan kognitif tingkat tinggi (antara lain kemampuan berbahasa) lebih banyak neuronnya di bandingkan dengan daerah yang ssama pada otak pria.

b.      Otak Wanita Lebih Tajam

Menurut dokter Thomas Crook dan sejumlah ahli (vemina, 17-23 juni 1999), setelah melakukan pengujian indra, bahwa penglihatan wanita lebih tajam dari pada pria, meski di akui bahwa lebih banyak wanita yang lebih dulu memerlukan bantuan kacamata dari pada pria. Penglihatan wanita lebih menurun sejak memasuki usia 35-44 tahun, sedangkan pria yang mulai 45-54 tahun. Pria juga relatif tidak tahan terhadap sinar terang.

Begitu juga pendengaran wanita lebih tajam dari pria, pendengaran wanita selain lebih tajam juga mendengar lebih banyak ragam bunyi dari pada pendengaran pria. Ketajaman otak wanita bukan hanya pada indrannya, tetapi pada peraasaannya.  Hal ini terbukti ketika di minta mengenang pengalaman emosionalnya deangan bantuan MRI, tampak lebih responsif dari pada pria hal ini terdeteksi pada perbedaan bagian menyala yang lebih luar pada daeran neuron yang mengaktifkan perasaan melankolois itu. Ini juga menjadi bukti wanita lebih banyak mendapat depresi dari pada pria.

c.       Lebih Awet dan Selektif

Dalam jurnal kedokteran Archieves of Neurology terbitan tahun 1998 (vemina, juni 1999) di ungkapan temuan bahwa otak pria menganut lebih cepat dari pada otak wanita. Menurut Ruben Gur, yang meneliti sendiri cara kerja otak pria menyusut 3 kali lebih cepat dari pada otak wanita. Penyusutan ini membawa akibat perubahan yang nyata. Antara lain, makin tua seorang pria daya ingatnya, konsentrasinya, dan kesabarannya ikut menyusut. Wanita meskipun juga mengalami penyusuta jaringan secara menyeluruh ketika bertambah tua tubuhnya punya kecendrungan untuk menghemat apa yang ada, termasuk otaknyaa. Ini pula, menurut Ruben, yang membuat harapan hidup wanita, rata-rata lebih panjang dari pada pria. Namun, lebih awet, belum tentu juga selalu lebih kuat karena wanita tua lebih rentan terhadap penyakit Alzheimer 3 kali lipat di bandingkan pria. Para peneliti mengaitkan kerentanan ini dengan turunnya hormon hesterogen pada wanita berusia lanjut.

H.     Peningkatan Kemampuan Otak : Membaca Dengan Kedua Belah Otak

Harian media indonesia 6 januari 2000, menurunkan 1 artikel berjudul “membaca dengan kedua belah otak”. Dan  artikel itu di katakan dalam era globalisasi dewasa ini agar tidak ketinggalan informasi yang sudah mengglobal orang harus membaca namun, pekerjaan membaca ini menjadi sukar bagi orang yang tidak bisa membaca di tempat yang bising, atau bagi orang yang tidak punya banyak waktu karena kesibukan dengan pekerjaannya. Meskipun demikian bagi orang yang mempunyai tingkat kecepatan baca yang tinggi tertentu tidak jadi masalah. Masalahnya, apakah kecepatan membaca itu bisa di latih. Penelitian yang dilakukan di amerika serikat menunjukan bahwa tingkat kecepatan baca ini bisa dilatih.

Menurut Diane Alexander, lambannya kecepatan baca dan minimnya daya ingat seorang terhadap yang di bacanya adalah karena tidak terfokusnya mata pada apa yanag di bacanya. Seringkali ketika menghadapi sebuah halam buku, mata lari ke deretan kata di seluruh halaman dan bukan pada satu deretan kalimat yang di baca. Begitu juga adanyaa kata asing, kata sukar, atau kalimat yang menarik menjadi tidak terfokusnya mata pada kalimat-kalimat yang harus di baca. Sedangkan membaca secara zigzag atau melafalkan kata di dalam hati pada saan yang bersamaman juga menjadi faktor penyebab memperlambat waktu baca.

Oleh karena itu, menurut Diani Alexander, langkah pertama yang harus di lakukan untuk mengubah kebiasaan itu adalah membaca dengan runtut dari samping kiri ke samping kanan halaman, dengan bantuan jari tangan yang di gunakan untuk mengikuti baris demi baris kalimat tersebut. Mata harus di biasakan untuk mengikuti rute ini secara tertib. Metode ini boleh di katakan sepenuhnya tergantung pada koordinasi mata, jari dan otak.

I.        Perbedaan bahasa manusia dan hewan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbedaan otak manusia dan otak makhluk lain,seperti kera dan simpanse,bukan hanya terletak pada besar dan beratnya otak itu,melainkan juga pada fungsinya. Pada otak manusia ada bagian-bagian yang sifatnya bisa disebut manusiawi,sedangkan pada otak hewan tidak ada. Karena ketidakadaan fungsi-fungsi yang disebut manusiawi inilah maka hewan-hewan tersebut tidak dapat berbicara atau berbahasa. Namun, dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat banyak hewan seperti kuda, anjing, gajah, dan sebagainya yang bisa melakukan perintah-perintah yang diberikan. Disamping itu,kita ketahui juga ada beberapa jenis burung,seperti beo,nuri,dan kakak tua,yang bisa diajar “ngomong”. Nah, bagimanakah persoalannya;benarkah hewan itu bisa diajar atau dilatih berbahasa.

Mengerti bahasa dan dapat berbahasa adalah dua hal yang berbeda. Hewan-hewan yang dilatih, seperti dalam sirkus, memang mengerti bahasa karena dia dapat melakukan perbuatan yang diperintahkan kepadanya, namun pengertiannya itu sebenarnya bukanlah karena dia mengerti bahasa, melainkan sebagai hasil dari respons-respons yang dikondisikan. Kemudian, kalau burung beo dan burung nuri dapat “ngomong” bukanlah karena burung-burung itu dapat menirukan ujaran manusia yang didengar atau dilatihkan. Kalau kita mengacu pada teori generatif transformasi Chomsky yang mengatakan bahwa kemampuan berbahasa adalah kemampuan untuk menghasilkan kalimat-kalimat baru yang belum pernah didengar atau diucapkan orang,maka bisa disimpulkan bahwa hewan-hewan itu tidak dapat berbahasa. Burung beo dan burung nuri itu hanya bisa mengucapkan kalimat yang pernah didengarnya,tetapi tidak dapat membuat kalimat-kalimat baru.

Meskipun demikian banyak pakar yang telah mencoba mengajarkan bahasa manusia pada hewan primata (hewan yang secara organis dekat dengan manusia), yakni simpanse. Diantara pakar itu adalah sebagai berikut.

 

 

a.       Keith J,Hayes dan Catherine Hayes

Keith dan Chatherine adalah sepasang suami istri yang memelihara seekor simpanse betina yang diberi nama Viki (Fromkin dan Rodman,1974,Clark et al 1981), Keith dan Chatherine membesarkan Viki di dalam rumah seperti orang membesarkan seorang anak (bayi) serta memberikan stimulasi sebagaimana yang diberikan kepada manusia. Kedua pasangan suami istri itu berharap Viki dapat menirukan kata-kata manusia yang didengarnya dan dapat menggunakannya dengan benar dalam keluarga tempat dia dibesarkan. Kedua psikolog ini mengajar viki untuk mengucapkan empat buah kata,yaitu mama,papa,up,dan cup. Agar Viki dapat menirukan kata-kata itu para pelatihnya harus menggerakkan bibir sedemikian rupa untuk memberikan contoh pengucapan yang benar. Pada akhirnya Viki memang dapat mempelajari posisi bibir dan mulut dengan dibantu kedua tangannya untuk menghasilkan kata-kata yang diminta oleh kedua orang tua angkatnya. Namun, meskipun Viki dapat mengucapkan kata-kata itu,belum berarti dia dapat memahami makna kata-kata itu.

 

b.      R. Allen Gardner dan Beatrice T.Gardner

Sama halnya dengan Hayes, Allen Gardner dan Beatrice Gardner adalah sepasang suami istri yang mencoba mengajarkan bahasa pada simpanse betina bernama Washoe. Berdasarkan pengamatan terhadap Viki yang tidak dapat mengucapkan kata-kata, Allen dan Beatrice Gardner mendapatkan gagasan untuk tidak mengajar Washoe dengan bunyi suara,melainkan dengan bahasa isyarat Amerika yang digunakan oleh para tunarungu di Amerika : dengan alasan simpanse lebih peka terhadap isyarat visual daripada isyarat verbal. Dengan bahasa isyarat itu konsep-konsep atau kata-kata bahasa inggris diwujudkan dengan isyarat yang dibuat dengan tangan. Kebanyakan lambang bahasa isyarat itu bersifat arbitrer,tetapi semua lambang dapat dipadukan menurut prinsip gramatika dan sintaksis bahasa inggris.

Dengan dibantu sejumlah asisten, Allen dan Beatrice Gardner mendidik Washoe secara bergantian sehingga tidak pernah terlepas dari perhatian manusia. Para asisten tidak diperkenalkan memakai bahasa lisan. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat dengan haraoan Washoe juga memperoleh kemampuan berbahasa isyarat itu. Hasilnya? Setelah dua tahun belajar Washoe telah dapat menggunakan 34 buah kata secara benar dalam situasi yang tepat,misalnya ia membuat isyarat “anjing” ketika dia melihat gambar anjing atai ketika mendengar suara anjing (tanpa melihat anjingnya). Dibandingkan dengan anak manusia, kepandaian Washoe memang belum apa-apa . pada usia lima tahaun anak manusia telah menguasai beratus-ratus kata serta telah dapat membuat kalimat yang lebih kompleks. Namun demikian, Washoe tercatat dalam sejarah sebagai simpense yang dapat berkomunikasi dengan katakata dalam bahasa (isyarat;bukan lisan) manusia.

c.       David Premack dan Ann Premack

David dan Ann adalah sepasang suami istri yang juga mencoba mengajarkan bahasa manusia pada beberapa simpanse,salah seekor di anataranya bernama Sarah,seekor simpanse betina. Sarah diajar untuk menguasai bahasa buatan yang disusun dari lempengan-lempengan plastik. Bentuk maupun warna lempengan itu berbentuk segitiga berwarna biru dan konsep sama berbentuk lempengan bergigi berwarna orange.

Proses pembelajaran berlangsung sebagai berikut. Sarah dan pengajarnya duduk dibangku secara terpisah. Sarah ditempatkan dalam kandang dan pengajarnya duduk di ujung bangku itu. Untuk mengajarkan nama makanan,musalnya,pengajar akan menukar makanan itu dengan lempengan plastik yang sesuai. Umpamanya,dalam mengajarkan kosep apel pengajar melatakkan sepotong apel diatas meja dalam jarak yang tidak dapat dijangkau Sarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1     Kesimpulan

       Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan berkomunikasi ditunjang dari proses pemerolehan kecakapakan berbahasa. Kompleksitas bahasa menuntut akumulasi pemerolehaan yang juga berkesinambungan dari tataran tersederhana hingga yang membutuhkan gabungan kemampuan berbahasa dan bersosialisasi.Perkembangan bahasa manusia terkait erat dengan perkembangan biologinya. Pertumbuhan bahasa pada manusia mengikuti jadwal perkembangan genetiknya sehingga munculnya suatu unsur bahasa tidak dapat dipaksakan. Perbedaan biologis antara organ manusia dengan organ binatang yang memungkinkan manusia dapat berbahasa dan binatang tidak. Serta faktor yang sangat mendukung dalam penguasaan bahasa adalah faktor neorologis, yakni kaitan antara otak manusia dengan bahasa.

3.2.     Saran

Dalam penulisan makalah ini penulis menyadari masih banya sekali kekurangan dan kekeliruan penulis dalam membuat makalah ini. maka dari itu penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk kritik dan sarannya yang bersifat membangun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Khaidir. 1985.Fungsi dan Peranan Bahasa. Yogyakarta : Gadjah Mada University press.

Brown, H. Douglas.2008. Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Pearson Education. .

Chaer Abdul 2009. Psikolinguistik Kajian Teoretik. Jakata : Rineka Cipta

Dardjowidjojo,Soejono.2010. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kusumoputro,Sidiarto.1981. “Bahasa dan Saraf Manusia” Forum Linguistik. Jakarta 26-28 Oktober 1981. Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Markam,Soemarmo. 1991.“Hubungan Fungsi Otak dan Kemampuan Berbahasa pada Orang   Dewasa” dalam Dardjowidjojo.

Padji .1995 .“Meningkatkan Keterampilan Otak Anak”. Bandung  : Pionir Jaya,.

Lazuardi,Samuel. 1991.“Perkembangan Otak Anak Sesuai dengan Kemampuan Bahasanya”. dalam Dardjowidjojo.

Dradjowidjojo,Seojono.2005. “Psikolinguistik : Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia” Yayasan Obor : Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Proposal penelitian diare yang terjadi dimasyarakat

                                                                      BAB I PENDAHULUAN ...